Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 49. Perhatian


__ADS_3

Inayah terlihat pulas dalam tidurnya. Aditia tidak hentinya menatap wajah sendu kekasih halalnya hingga sisa air keramas Aditia menetes tepat di atas kelopak Inayah.


Inayah seolah dalam mimpi melihat seorang pria tepat diatasnya hanya berbalutkan kain pada pinggangnya. Aditia berbisik yang membuat Inayah kembali melebarkan mata indahnya.


"Sudah jam berapa, Mas?" Inayah mengalihkan perhatian Aditia karena Inayah terlalu malu membahas hal tersebut yang merupakan aib mereka berdua sebagai sepasang suami istri.


"Istriku sengaja menghindar? baiklah. Ini sudah subuh."


Inayah langsung melebarkan matanya. " Kenapa tidak bangunkan aku...." Suara manja itu kembali terdengar.


"Aku melihatmu pulas dan tidak tega membangun kamu. Apa lagi semalam kamu sudah... untuk aku." Aditia mengecup kening istrinya. "Terimakasih, Inayah."


"Jangan menatapku seperti itu, mas." Inayah mendorong tubuh suaminya beranjak dari tempat tidur.


"Apakah sakit? Apa perlu aku...."


"Aku baik saja, Mas." Inayah mengangkat tangannya untuk meyakinkan pada Aditia.


Namun, Aditia yang peka mengambil inisiatif sendiri dan mengangkat tubuh istrinya. Sekejap, tubuh Inayah seperti melayang.


"Mas, Turunkan aku!"


"Diamlah! bila perlu aku akan memandikanmu."


"Tidak perlu, Mas!" Inayah meronta. Inayah bisa menebak pikiran suaminya.


"Apa kamu pikir aku akan melakukannya di kamar mandi? Apa sudah tidak ada tempat yang layak?"


"Bisa saja, kan. Kamu khilaf."


"Oh, Jadi, kamu mau?" goda Aditia lagi yang terus mengangkat tubuh Inayah masuk kamar mandi.


"Tidak, Mas. Ini sudah subuh. lagian aku masih lelah dan masih... sakit, Mas," ujar Inayah pada akhirnya.


Wajah itu terlihat merona. Aditia pun tiba di dalam kamar mandi. Dengan pelan tubuh istrinya diturunkan.


"Sudah, Mas Aditia di luar saja," usir Inayah.


"Buat apa lagi di tutupi semua sudah aku jej...."


Inayah menutup mulut suaminya. "Mas, ayo keluar!"


"Baiklah. Aku akan keluar. Tapi, kamu baik-baik saja, kan?"


"Iya, Mas. Aku baik saja. Terimakasih perhatiannya." Inayah tersenyum penuh makna.


"Sudah seharusnya," timpal Aditia yang menhan pintu kamar mandi.


"Kalau mandi bersama. Bagaimana?"


"Mas, Adit. Sudah sana keluar!"


"Aku ingin mandi bersama denganmu."


"Mas?"


"Baiklah."


Aditia pun keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti. Hingga detik kemudian, Inayah keluar dengan memakai baju kimono sebatas lutut. Aditia tidak hentinya menatap leher putih itu yang terlihat kissmark buatannya.


Sadar dengan tatapan suaminya, Inayah segera mungkin masuk ke ruang ganti hingga pada akhirnya kedua insan itu melaksanakan kewajibannya sebagai hamba yang bertuhan.

__ADS_1


Hal tidak terduga kembali lagi hal semalam terjadi hingga beberapa kali yang membuat Inayah benar-benar hanya bisa pasrah memenuhi kewajibannya. Tidak ada lagi rasa canggung yang berikutnya. Semua sudah saling terbuka.


"Inayah, bolehkah aku bertanya?"


"Tanyakan saja. Apa yang ingin di tanyakan, Mas. Jika bisa aku jawab, aku akan menjawabnya."


"Bagaimana bisa kamu istri tidak tersentuh. Apakah Adam tidak melaksanakan kewajibannya?"


"Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya, Mas. Namun jika memang ini perlu aku jelaskan maka dengarkanlah."


Inayah pun mulai menceritakan bahwa pada saat dirinya sudah benar-benar siap menjadi istri seutuhnya, justru Adam malam itu menolaknya dan diam entah apa yang dipikirkan olehnya hingga esok harinya, sekembalinya dari kantor mengatakan akan menikah lagi. Inayah terus melanjutkan ceritanya.


Terlihat Aditia diam dengan posisi keduanya terlihat mesra. Aditia mengecup kening Inayah dan berkata, "Aku minta maaf. Jika bukan karena aku, Adam tidak akan menyakitimu. Aku dan Adam memang sering saling bertukar cerita. Kami bersahabat dari sejak kecil. Namun, mengenai pernikahan kamu dan Adam aku tidak tahu, jika sebenarnya kamulah istri Adam saat itu. Hari itu aku hanya sedikit bercerita padanya mengenai dirimu."


"Mas Adit, Aku dan Adam sudah takdir akan seperti itu. Jodoh dan rezeki sudah diatur. Bahkan skenario manusia tidak ada yang tahu akan seperti apa. Seperti Aku dan Mas Aditya sekarang. Kita tidak pernah tahu, kan, Jika ternyata Mas Adit dan aku berjodoh? Semua ada sebab akibatnya. Iya, Kan?" Inayah semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidan milik suaminya.


lalu, Inayah memposisikan tubuhnya dan berkata, "Ayo, Mas. kita kirimkan doa buat Almarhum."


***


Satu bulan penuh, Aditia dan Inayah menghabiskan waktu bersama hingga kembalilah mereka dari honeymoon. Ibu Hanum dan Tuan Subari menyambut penuh makna anak dan mantunya itu.


"Kenapa ibu senyum-senyum begitu?"


"Tidak. Ibu, kan, hanya bahagia melihat kalian bahagia. Ibu bersyukur akhirnya kalian bersatu juga. Ya sudah, baiknya kalian istirahat di kamar takutnya usaha kalian nanti akan sia-sia."


Inayah dan Aditia saling menatap satu sana lain. Mereka mengerti apa maksud dari perkataan Ibu paruh baya yang kini terus mengumbar senyum sejak mereka datang.


Aditia pun merangkul Inayah untuk menuju ke lantai atas dimana kamar Aditia berada. Begitu pintu kamar itu terbuka, bau parfum milik Aditia tercium di indra penciuman Inayah dengan jelas.


"Kenapa diam, Sayang? Ayo masuk! ini kamar kita." Aditia merapikan buku yang belum teratur. Entah siapa yang habis mengacak-acak tatanan buku tersebut.


"Menurutmu, itu apa?"


"Ini seperti gambar seorang wanita dan penutup wajahnya." Inayah menoleh ke arah Aditia yang tengah sibuk menyimpan buku-bukunya. "Ini gambar siapa, Mas?"


Aditia berdiri dan memeluk Inayah dari belakang. "Itu gambar seorang wanita yang selama ini membuatku hampir kehilangan arah."


"Apakah sebesar itu cintamu padaku, Mas?"


"Jangan tanyakan itu, Inayah. Namun, satu hal yang aku minta padamu. Bantu aku untuk mendapatkan semua ingatanku. Besok aku akan menemui prof. Jimmy."


"Jika seandainya Mas Adit menemukan ingatannya, Apa Mas...."


"Percayalah padaku Inayah. Kau adalah masa depanku. Aku tidak begitu sebenarnya untuk mengetahuinya masa laluku. Namun, itu sangat menyiksaku."


Inayah mengangguk.Inayah tidak sengaja membuka sebuah laci dan menemukan sepasang cincin.


"Mas, Ini cincin siapa?"


"Istrinya Raka," jawab Aditia apa adanya yang terlihat serius bergelut dengan laptopnya. Semenjak pulang dari honeymoon mereka, Aditia sibuk dengan laptopnya. Inayah paham hal itu.


"Lantas, kenapa tidak diberikan padanya, Mas. Sayang loh jika di buang."


"Menurut istriku, Apa aku harus memberikannya? Baiknya di jual saja. Jangan bahas lagi itu, Sayang. Entah mengapa aku di penuhi rasa bersalah."


"Setiap kesalahan yang kita lakukan sebenarnya mengajarkan kita sebuah kebaikan, Mas. Kebaikan agar kita tidak terjerumus kembali pada hal yang sama. Namun, ada juga orang tidak menyadari hal tersebut. Dari kesalahan itu kita harusnya bisa menjadi pribadi yang lebih baik."


Inayah duduk tepat di depan suaminya dan melihat jari jemari itu terus mengetik. Inayah tidak mengerti masalah perkantoran. setelah cukup istirahat, Inayah kembali beranjak. Berguling-guling tidak jelas di atas kasur Inayah pun berganti dengan pakaian rumah.


Tanpa Aditia sadari, Inayah keluar dan menemukan Bibi Sumi dan pembantu lainnya tengah menyiapkan makan siang.

__ADS_1


"Nona, ada yang bisa kami bantu?"


"Tidak Bibi, aku sekadar hanya mau melihat apa yang sedang Bibi masak," kata Inayah.


Sementara, pembantu lainnya tengah memperhatikan istri majikannya itu. mungkin mereka sedikit penasaran seperti bagaimana wajah istri tuan mudanya.Bagi Inayah, hal terlihat sudah biasa baginya.


Namun, Bibi Sumi sudah pernah melihat wajah Inayah saat dulu Inayah belum memakai cadar di mana Inayah saat itu mengantarkan tuan mudanya pulang waktu tuan mudanya masih hilang ingatan.


"Nona, sebaiknya nona tidak usah bantu Bibi. Ini pekerjaan Bibi, Nona. jika tuan muda lihat Bibi bisa kena marah."


"Tidak apa-apa, Bibi. Bibi tenang saja."


"Bagaimana Bibi mau tenang, Nona. Tuan sudah berpesan pada kami agar jangan sampai Nona terkena bau Bumbu dapur."


"Maksudnya?" tanya Inayah kurang paham.


"Pokoknya seperti itu, Nona," kata Bibi Sumi lagi.


"Apa yang di katakan Bibi itu benar, Sayang," sahut Aditia meraih pinggang istrinya. Aditia tidak peduli dengan tatapan para pekerja yang melihatnya.


Inayah begitu malu pada Bibi Sumi serta yang lainnya dengan perilaku Aditia terhadapnya yang tiba-tiba memeluk nya seperti tidak ada orang lain di depan mereka.


"Mas, lepaskan!"


"Kenapa kamu meninggalkan aku sendiri di kamar, hm?"


"Aku bosan saja di kamar, Mas."


"Bibi, tutup matanya. Istriku sangat malu."


"Mas, justru Mas Adit berhenti seperti ini."


"Biarkan saja. Itu urusan Bibi," ucap Aditia tanpa malu. Aditia terus memeluk Inayah dan Inayah terlihat tidak enak degan yang lainnya.


Inayah kehabisan kata-kata. "Kalau begitu ayo kita keluar, Mas. Aku mau melihat sekeliling rumah ini." Inayah pun meninggalkan dapur.


Bibi Sumi serta lainnya hanya tersenyum sendiri melihat kemesraan Tuan Mudanya dan istrinya.


Di taman belakang, Aditia menerima telepon dari seseorang dan terlihat Aditia mengerutkan keningnya.


"Aku akan ke kantor," kata Aditia dan menoleh melihat Inayah tanpa asik memberi makan pada ikan piaraan ayah mertua.


"Mas Adit yang memelihara ikan ini?"


"Bukan. Itu milik Tuan Subari, ayah mertua kamu."


Inayah menoleh menatap suaminya.


"Kenapa, Sayang. Ikan ini memang milik ayah mertua kamu. Apa kamu tahu, dulu Tuan Subari begitu angkuh dan mau menang sendiri," Cetus Aditia.


"Baiklah, aku hanya bercanda," lanjut Aditia. "Aku harus ke kantor. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan."


"Kalau begitu, mas makan dulu."


"Kamu akan ke kantor, Adit?" tanya Ibu Hanum yang tiba-tiba datang."


"Inya ibu. Sebentar Sore aku akan menjemput Inayah ke rumah Ibu mertua."


***


Jangan lupa tinggalkan hadiah buat Author. Yang tidak suka baca cerita Author karena kurang menarik tidak apa-apa. ☺☺☺ Terimakasih sudah intip-intip cerita Author.

__ADS_1


__ADS_2