
Inayah yang masih tinggal bersama orang tuanya tepat di hari kedua setelah pernikahan mereka. Raka datang bersama Amira berkunjung di rumah orang tua mereka.
Terlihat Raka mengerutkan keningnya mendapati Inayah menghayal di depan wastafel.
"Dek, air kamu tumpah, tuh!" tegur Raka tiba-tiba.
"Astaghfirullah." Inayah segera mengambil tindakan dan malu sendiri atas perbuatannya.
"Kenapa Inayah?" tanya Ibu Fatimah yang melihat Inayah begitu sibuk mengambil kain pel dan melihat air kran sudah merembes ke lantai.
"Lihat pengantin baru, Ibu. Wajar saja." ledek Raka pada Inayah.
"Apaan sih, kak! tegur Inayah tidak Terima dengan ledekan Raja terhadap dirinya. "Tidak kok, Bu," Inayah paham maksud ledekan Raka.
"Sudah, stop kalian bertengkar! sudah punya suami dan istri masih saja mau bertengkar," kata Ibu Fatimah meninggalkan Keduanya setelah meletakkan piring.
"Habis, Kak Raka ngeselin, Ibu."
"Kenapa kamu marah? Ya wajar saja pengantin baru. kan?"
"Apa maksud Kak Raka ledekin Inayah."
Raja terus ledek Inayah hingga Inayah kembali meneriaki Raka.
"Kak!" Inayah mengancam Raka dengan kain pel. Adam masuk dan melihat hubungan adik dan kakak tersebut.
__ADS_1
"Tuh istrimu. Ajarkan sopan santun menghargai tamu." ledek Raka lagi yang berbisik pada Adam dan sangat jelas di dengar oleh Inayah.
"Kak, awas ya!" teriak Inayah. dan Ibu Fatimah sedari tadi meninggalkan dapur. begitu Inayah hendak mengejar Raka, Inayah sedikit terpeleset dan untungnya Adam siap siaga menangkap tubuh Inayah.
Tatapan keduanya kembali bertemu.
"Kamu tidak mengapa?" kata Adam.
Adam pun membantu Inayah untuk berdiri.
"Terimakasih," kata Inayah.
"Sudah sepantasnya. Bukankah aku suamimu?" jawab Adam.
Inayah baru sadar jika Adam adalah suaminya. Inayah masih seakan tidak percaya jika dirinya sudah bersuami. Setelahnya Inayah kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. melihat Adam diam, Inayah pun angkat bicara.
"Aku ingin bicara denganmu. Sebelumnya aku minta maaf jika keputusan ini begitu cepat. Hari ini kita akan pindah. Karena sebentar malam aku harus masuk rumah sakit."
Mendengar kata pindah membuat Inayah menghentikan pekerjaannya. selanjutnya Inayah kembali menyelesaikan cucian piringnya sambil berkata,
"Pindah?" ulang Inayah. "Kita akan pindah?"
"Kalau kamu belum siap tidak mengapa. kita bisa tunda, aku akan mengatur ulang waktu yang tepat."
"Tidak. Aku akan ikut. Bukankah tempatmu bekerja jarak dari di sini sangat jauh?" Aku akan bersiap. kata Inayah pada akhirnya dan Adam sangat bahagia Inayah mau mengikutinya.
__ADS_1
Adam pun mengikuti Inayah menuju kamar mereka untuk bersiap. Sebelumnya Adam sudah membicarakan hal tersebut pada Aba Abdullah dan Ibu Fatimah selaku orang tua Inayah.
"Kita akan tinggal di rumah pribadiku." lanjut Adam.
"Itu artinya hanya kita berdua di sana?"
"Apa kamu tidak keberatan?"
"Bukan seperti Itu," ujar Inayah.
"Lantas?"
Pikiran Inayah sudah menyebar kemana-mana. Ada rasa tidak ingin malam segera tiba.
"Inayah?" panggil Adam melihat Inayah sedari tadi berdiri mematung memegang kopernya.
"Tidak apa-apa. Aku akan segera menyiapkan pakaianku."Inayah pun berbalik.
Begitu Inayah berbalik hendak membuka lemarinya, Adam memeluknya dari belakang. Tentunya perlakuan Adam itu membuat jantung Inayah berdebar hebat. perlakuan itu merupakan kali pertamanya bagi Inayah. namun hati dan pikiran Inayah belum bisa menerima.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" bisik Adam.
"Kak, Adam. Maafkan aku yang belum bisa menjalankan peranku. Inayah berharap, Kak Adam mengerti posisiku saat ini. Aku tahu ... ini salah. Setidaknya, Kak Adam mau mengerti. Kelak waktunya aku sudah siapa, Aku akan menjalankan peranku dengan baik. InsyaAllah. Maafkan aku sekali lagi Kak Adam."
"Aku mengerti, inayah."
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf, Kak. Biarkan aku menyiapkan diriku. Izinkan aku untuk lebih menenangkan hatiku."