Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 86. Klarifikasi


__ADS_3

Sifa terdiam ketika Zaki mengecup keningnya usia kegiatan yang yang tidak terlupakan dalam hidup Sifa.


Menatap punggung pria itu hingga tidak terlihat lagi oleh pandangan Sifa. Sifa tentu bertanya dalan hati. Apa maksud kecupan itu.


Sifa kembali terkejut ketika Suara Zaki membuyarkan lamunan Sifa. sambil berbisik dengan bahasa sangat dewasa yang membuat


Sifa merotasikan netranya dan segera beranjak. Namun karena rasa sakit, Sifa duduk kembali. Zaki tidak bertanya lagi dan langsung mengangkat tubuh Sifa.


"Tuan, turunkan aku! Anda tidak perlu seperti ini."


"Tentu aku harus baik padamu. Sesuai rencana awal kita. Bukankah seperti itu?" ujar Zaki.


"Apa perlu aku sekaligus memandikan kamu?"


"Tidak perlu. Sebenarnya tidak usah perlakukan aku seperti ini! Tenang saja aku akan memberitahu jika ini berhasil." Sifa mendorong tubuh Zaki agar keluar dari kamar mandi.


Zaki juga tidak paham perasaannya seperti apa pada Sifa.


Hingga pada akhirnya Zaki paham bahwa memang dirinya mencintai Sifa.


"Kenapa melihat aku seperti itu?" judes Sifa memperhatikan dirinya sendiri.


"Ternyata kecil-kecil, kamu cukup..."


"Cukup apa?"


Kembali Zaki berbisik ditelinga Sifa yang membuat Sifa merasa jijik dengan ucapan Zaki. Sifa melemparkan bantal pada Zaki yang membuat Zaki terpingkal akibat ulah Sifa.


***


Berbeda dengan pasangan Aditia dan Inayah yang kini tengah menikmati liburan mereka di puncak di tengah perusahaan sedang mengalami ke guncangan akibat berita tentang Aditia yang tersebar.


"Mas, mengapa kamu terlihat merenung. Bukankah kita kemari utuk menikmati hari libur kita."


"Inayah, aku tidak pernah melupakan kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan."


"Mas, semua sudah selesai. Kak Amira sudah menjelaskan seperti apa kronologinya hari itu. Kau tidak pernah menjamahnya atau melihat apa yang tidak perlu dilihat. Masa hukuman yang kamu Terima juga sudah kamu jalani atas pele** pada kak Amira." Inayah merasa nyesek membahas kembali hal tersebut.


"Apa yang dikatakan Marina itu benar, bahwa kau tidak pantas aku miliki Inayah. Aku terlalu kotor untuk dirimu!" Aditia kembali menyalahkan dirinya.


"Stop, Mas Adit! Mengapa kau tidak paham, Mas. Semua manusia punya kesalahan dalam hidupnya. Dan Kamu, Mas. Kamu sudah mempertanggung jawabkan semuanya. Sebenarnya, ini tidak perlu lagi kita bahas, Mas." Inayah terisak.

__ADS_1


"Biarkan waktu yang menyelesaikan masalah ini, Mas." Inayah mendekati Aditia dan memeluknya. "Ini bukan Mas Aditia yang aku kenal dulu. Dari sini, kita lupakan semuanya." kata Inayah.


"Bagaimana bisa kau mencintaiku, Inayah? Bagaimana bisa?"


"Cukup, Mas! Bahasamu sudah seperti orang yang berputus asa. Di mana salahnya?" Inayah terus memeluk suaminya.


Sepanjang doa Aditia berharap diberikan solusi tebaik. Aditia berharap kelak kembali semua masalah terselesaikan.


***


Kembalinya Aditia dari puncak dan kembali kekantor menyelesaikan semua problem yang ada. Masalah desain yang Inayah anggap tenyata itu salah. Semua karena memang ada kemiripan hasil desain miliknya dan milik Marina. Dari pemotongan kainlah yang membedakannya.


Hingga pada akhirnya Aditia bersedia untuk memberikan klarifikasi mengenai masalahnya dengan Amira.


Inayah duduk di tengah antara Amira dan Aditia. Inayah harus siap mendengar pahit manisnya Fakta tentang Amira dan Aditia.


Semua keluarga terlihat penasaran apa yang akan diungkapkan aditia ataupun Amira.


Sementara Raka sendri, Duduk di dekat Amira sambil menggenggam tangan Amira saat akan mulai bercerita didepan kamera. Sama halnya Inayah, Raka juga harus siap mendengar cerita masa lalu antara Aditia dan Amira.


"Aku akan memulai bercerita agar semua jelas. Amira, Adalah masa lalu saya dan yang duduk di sampingku adalah masa depan saya... adik dari suami dari seorang wanita masa lalu saya. Sebelum bertemu dengan Nona Amira, aku mencintai seorang wanita yang ternyata tidak mencintai aku dengan tulus. Hingga pernikahan itu batal." Aditia terus menggenggam erat tangan Inayah.


ketika di ingatkan itu, Aditia ingin rasanya memaki dirinya sebagai pria breng*** di muka bumi ini. Apalagi melihat Inayah wanita yang paling berharga dalam hidupnya sekarang. Inayah menganggukkan kepalanya pada Aditia untuk menjawab.


"Aku gelap mata. Hatiku dibutakan oleh cinta. Hingga aku hampir saja melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi. Namun, aku sama sekali tidaklah sampai melakukan sesuatu pada Nona Amira."


"Aku mengerti mengapa nona Amira memberikan keterangan jauh dari hal yang yang tidak sesuai kenyataan," lanjut Aditia.


"Nona Amira, apa perasaan itu masih ada?" tanya salah satu wartawan.


"Iya, perasaan itu masih ada untuknya. Dulu. Cinta suamiku lebih berharga dan tulus. Menerima apa adanya diriku. Hubungan aku dan Aditia sekarang tidak lain sudah seperti keluarga," ujar Amira menatap Raka.


"Gosip tentang aku pernah dalam bui, itu benar. Aku menyerahkan diriku atas pertanggung jawaban yang telah aku perbuat terhadap Nona Amira. Saya kira cukup dan jelas. Aditia meninggalkan tempat itu dengan wajah yang tidak bisa ia gambarkan dalam dirinya.


Begitu juga dengan Amira dan Raka. Mereka meninggalkan tempat itu. Pemberitaan itu harus terkuak kembi kerena Marina yang dipenuhi dendam pada Tuan Subari, ayah Aditia.


***


Sementara Alina, kini tengah merasa ada yang tidak beres. Perutnya mulai sakit seperti orang yang akan melahirkan.


Nona, ada apa?"

__ADS_1


"Bibi, Mengapa perutku seperti sakit tiba-tiba."


Bibi Sumi tampak cemas melihat Alina memegangi perutnya yang semakin hari makin membesar.


"Apa Nona akan melahirkan?" timpal bibi Sumi.


"Kalau begitu cepat telepon semua orang Bibi. mungkin saja. Dari tadi pagi aku merasakan sakit Bibi. Dan semakin kesini perasaan semkin sering sakit," ungkap Alina yang berjalan pulang balik karena rasa sakit yang dirasakan olehnya.


Bibi Sumi segera menelpon semua orang. Namun, krena rasa sakit, Alina memanggil supir pribadi untuk segera membawanya ke rumah sakit.


Belum sempat Alina masuk dalam mobil, Teo datang karena memiliki firasat. Sedari tadi dirinya ingin pulang.


"Bibi, cepat ambil pakaian nona di kamar!"perintah Teo panik.


"Alin, bertahanlah. kita akan segera sampai."


"Kak Teo!" teriak Alina ketika rasa sakit itu datang lagi.


"Alin, kita akan segera sampai." ujar Teo yang terus melajukan mobilnya dengan cepat.


***


Ibu Hanum sendiri sebagai ibu Alina kini lebih dahulu tiba di rumah sakit menunggu Alina dan Teo sepulang dari kantor mengatasi masalah Aditia.


Melihat mobil Teo datang, Ibu Hanum pun segera menjemput putrinya dengan dua perawat laki-laki membawa bad pasien.


Alina langsung dibawah ke ruang bersalin untuk di evakuasi. Teo tidak pernah luput dan terus mendampingi Alina.


Aditia dan Inayah juga tiba di rumah sakit. Aditia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Alina adiknya akan melahirkan dengan Teo terus di sisiNya.


"Mengapa kamu menangis, Mas?"


"Sayang, Maafkan aku. Saat kamu melahirkan Rayyan dulu, aku tidak di sisimu."


Inayah tersenyum. "Tapi, aku merasa kau ada di sisiku saat itu, Mas."


"Kau pandai sekali menghiburku, Inayah." Aditia dan Inayah saling melempar pandangan. Lalu, Inayah beranjak menenangkan ibu Hanum yang begitu gelisah.


"Semua akan baik-baik, Ibu."


✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️

__ADS_1


__ADS_2