Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Ban 64. Pengharapan Aditia


__ADS_3

Setelah puas bercanda dan minum obatnya Aditia melepaskan inayah pergi ke rumah orang tuanya.


"Maaf, tidak bisa pergi bersamamu ke rumah ibu," ujar Aditia melihat Inayah bersiap.


"Tidak apa, Mas. Mereka pasti paham kondisi Mas Aditia. Baiknya Mas istirahat sekarang. Mungkin Sore aku pulang. Dan Rayyan aku bawah. Suster Ira akan menemani aku ke rumah Ibu."


"Baiklah. Aku sudah menelpon pak Mamat. Dia akan mengantarmu ke rumah ibu."


Inayah pun pamit. Namun, begitu akan berdiri Aditia menariknya. " Jangan lama."


"Aku sudah katakan, mungkin sore aku pulang, Mas." Suara lembut itu menjadi candi untuk Aditia.


"Mas, ini sangat menggelikan. Cukup, Mas."


Cukup lama adegan romantis itu hingga pada akhirnya, Aditia melepaskan Inayah, sang istri.


"Jika saja tenagaku kembali seperti dulu. Kamu tidak akan kelas dariku."


"Sabar, Mas. akan ada saatnya."


"Semoga saja." Aditia menatap kepergian Inayah. Ada rasa marah dalan dirinya. Dirinya seperti pria lumpuh dengan rasa sakit yang terkadang datang menyerang.


Kini Inayah dan suster Ira menuju rumah orang tuanya dengan Rayyan di pangkuan Inayah. Inayah kembali mengingat momen sebelum pergi.


***


"Maafkan kami tidak memberitahu tentang Aditia," Kata Raka setelah dari makam Aba Abdullah. keluarga itu kini duduk bersantai di ruang keluarga yang kebetulan Ummi Humairah datang berkunjung ke rumah Ibu Fatimah.


"Semua sudah jelas, kak. tidak usah lagi di bahas. Aku akui, sebelumnya aku sangat kecewa kalian merahasiakan dariku," ungkap Inayah.


"Besok setelah dari rumah sakit, aku dan Kak Aditia akan merencanakan keluar negri," lanjut Inayah.


"Semoga suamimu kembali seperti dulu, Nak." ucap Ibu Fatimah dan Ummi Humairah.


Amira tengah bermain dengan Rayyan karena Habibi sudah lincah bejalan dan berlari Sementara Rayyan masih belajar duduk.


Suasana keluarga jadi ramai dengan dua cucu Ibu Fatimah.


"Andai Aba masih ada, Dia akan bahagia melihat cucu-cucunya tampak begitu lincah," Ibu Fatimah mengenang kembali suaminya.


"Iya, Dia pasti sangat bahagia." Ummi Humairah terisak.


Inayah berdiri dari tempat duduknya dan memeluk dua wanita itu yang merupakan wanita paling dikasihi olehnya.


***


Entah sudah berapa kali Aditia melihat jam. Jam sudah menunjukkan 15.13. Namun, Sang istri belum juga kembali.


Alina yang baru pulang mendapati Aditia termenung di depan kolam yang berada di taman belakang.


"Kak Adit?" panggil Alina.


"Hei, Bagaimana kabarmu?"


"Justru aku yang harusnya menanyakan kabar kakak. Apa kakak baik-baik saja?" tanya Alina yang mengambil tempat duduk.


"Beginilah keadaanku sekarang. Setelah lepas dari amnesia, timbul lagi penyakit baru." Aditia menatap lurus.


Alina menggenggam tangan kakaknya dan berujar, "Kakak pasti bisa sembuh."


"Terimakasih doamu." Aditia menatap Alina.


"Ada apa denganmu? Apa ada masalah di kantor?"


"Tidak. Justru hari ini aku merasa terbantu dengan kembalinya Kak Teo."


"Jadi, karena Teo, Kau bisa pulang cepat? Apa jadinya jika Teo menikah."


"Teo mau menikah?" Alina menoleh menatap Aditia.


Aditia mengangguk dan melirik Alina. "Kenapa?"


"Jika dia menikah, apa itu artinya dia tidak lagi bekerja dengan kita, lalu siapa yang membantu aku di perusahaan?"


"Apa Teo begitu pentingnya dalam pekerjaanmu?" tanya Aditia.


"Menurut kakak? Kakak sendiri bagaimana?" tanya balik Alina.


"Teo memang banyak berjasa dalam keluarga kita. Pria itu sejak dulu sudah seperti keluarga sendiri."

__ADS_1


Alina ingat bagaimana Teo selalu mengantar dirinya pergi ke kampus. Bahkan pernah mengerjai Teo mengerjakan tugas kuliahnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Aditia melirik Alina.


"Tidak," elak Alina. "Kak, kakak tahu dengan siapa Teo menikah?"


"Tanya pada orangnya." Aditia berbalik untuk meraih ponselnya yang ada di atas meja.


"Aku yang tanya?" tunjuk Alina pada dirinya.


"Iya. kenapa?"


Alina berfikir. kembali Alina mengingat saat sebelumnya di kantor hampir memeluk Teo. Ada apa dengannya?


"Kak, kok aku tidak melihat kak Inayah?" Alina mengubah topik pembicaraannya. Dirinya takut dan malu jika Aditia bisa menebak perasaannya yang Alina juga belum tahu.


"Dia pergi ke rumah orangtuanya. mungkin juga dia pergi ke pondok. Kenapa?"


"Ada sesuatu. Ini masalah wanita." Alina berdiri. "Kakak belum mau masuk?"


"Tidak. Nanti saja."


"Baiklah. Aku duluan, kak. Aku sangat gerah, nih."


Begitu Alina akan masuk Inayah datang dengan Rayyan dalam gendongannya.


"Assalamu'alaikum, Ponakan Aunty. Rayyan dari mana, Nak?"


Rayyan terkekeh dan seakan minta di gendong oleh Alina.


"Rayyan mau sama bibi?"


"Ma... pa... burr."


Alina tertawa melihat Rayyan dan kini Rayyan sudah di gendongan Alina membawa Rayyan masuk bersamanya.


Aditia tersenyum menyambut kedatangan istrinya yang sedari tadi ditunggu olehnya


"Mas?" Inayah mencium punggung tangan suaminya.


"Kenapa lama, Sayang?" tanya Aditia.


"Dari Ibu. Salam Ibu dan Ummi, katanya," ujar Inayah dan mengambil sendok.


Aditia menerima salam Ibu mertuanya. lalu, mencoba kue puding buatan Ibu mertua.


"Enak." puji Aditia.


"Kenapa Alina?" tanya Inayah.


"Aku katakan padanya, Jika Teo akan menikah."


"Lantas, apa tanggapannya?" tanya Inayah penasaran.


"Kok aku merasa, jika Alina memiliki perasaan sama Teo. Apa Teo merasakan hal yang sama?"


"Tanyakan pada Teo, Sayang."


"Itu tidak mungkin. Tapi, Jika Teo menerima Alina, Itu artinya Teo juga memiliki perasaan yang sama pada Alina. Dia tidak mungkin akan menikah jika tidak memiliki perasaan."


"Sepertinya, Mas sangat pengalaman."


Aditia menelisik wajah istrinya. Begitu juga dengan Inayah. Aditia meraih tangan Inayah,


lalu mengecupnya.


"Ayo kita masuk. Apa yang dilakukan Rayyan di dalam. Sepertinya Rayyan sedang membuat konten lucu di dalam bersama kakek dan neneknya."


Inayah membantu mendorong kursi roda Aditia. Dan benar saja, Rayyan sedang asyik berguling-guling di atas karpet dengan Ibu Hanum duduk di dekat cucunya.


***


Esok harinya, Teo datang ke kantor dan langsung menemui Tuan Subari di ruangannya. Tuan Subari melihat siapa yang datang dan menjawab salam Teo, lalu mempersilahkan Teo untuk duduk.


"Bagaimana, Teo?"


"Sejujurnya, sejak dulu aku memiliki perasaan putri Tuan. Namun, aku tidak berani dan cukup mencintai dan dalam hati."


"Itu artinya, kau mau menikah dengan putriku?"

__ADS_1


Teo hanya mengangguk. Entah mengapa di depan Tuan Subari, Teo tidak berani banyak bicara. Berbeda saat dirinya bersama Aditia atau Alina.


"Baiklah, setelah menemui tuan Zaki, jemput Alina di kampus. Dan malam ini aku akan berbicara pada Alina."


"Tapi, Tuan. Apa Alina tidak...."


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja."


"Baiklah, Tuan. Saya dan Sifa pergi menemui tuan Zaki sekarang."


"Oke. Sampaikan salamku pada Tuan Zaki."


Teo pun langsung keluar dan menuju di mana Sifa terlihat serius dalam pekerjaannya.


"Sifa, ayo kita berangkat!"


"Baik, Bos."


***


Terlihat dari belakang Zaki duduk sedang menunggu kedatangan Teo. Teo menyapa Zaki.


"Tuan, Zaki?"


Begitu Zaki berbalik, Jantung Sifa berdenyut dan tidak berharap ternyata Zaki yang sama. Bagaimana bisa?


"Hai, anda Tuan Teo?"


"Iya. Dan perkenalkan ini Sekretaris saya. Dia bidannya dalam desainer.


Zaki tersenyum melihat Sifa. " Hai, Nona. Akhirnya kita berjumpa lagi."


"Kalian saling mengenal?" tanya Teo.


"Ya. Aku mengenalnya." Zaki terus mengumbar senyum melihat ke arah Sifa yang melihat ke arah lain.


"Dia cowok resek." lirih Sifa.


Teo tertawa dan merasa lucu mendengar perkataan Sifa.


"Baiklah kita bahas pertemuan kita. Silahkan Nona Sifa." Teo mempersilahkan Sifa untuk memperlihatkan hasil desain yang akan mereka luncurkan. Terlihat, Zaki terus menatap wajah mulus Sifa.


Usai pembahasan tersebut mereka pun makan siang bersama. Melihat Sifa tidak makan sayur Zaki pun menyendokkan tumis kangkung di piring Sifa.


"Kangkung memiliki vitamin A dan C yang dapat melindungi sel-sel imun dari kerusakan Radikal bebas. Ini enak loh."


Teo tertawa melihat Sifa dan Zaki.


"Tuan, Sepertinya anda sedang menggoda sekretaris saya."


"Dia memang tuan resek." jawab Sifa semakin kesal dengan Zaki.


Usai makan siang, Teo meminta Sifa naik taksi karena ada urusan yang harus di urus olehnya.


"Apa? Naik Taksi?"


"Pergilah! Dia akan ikut bersamaku. Tenang saja. Aku pastikan sekertarismu aman bersamaku," ujar Zaki cuek dengan kondisi.


"Ok, aku pamit." Teo pun berlalu.


Melihat Teo sudah pergi, Sifa menoleh ke arah Zaki. "Apa aku setuju, Tuan?"


"Aku tidak meminta persetujuan darimu. Namun, kamu harus ikut denganku. Jika tidak, Tuan Subari akan kecewa denganmu."


Zaki memberikan ponselnya pada Sifa. Sifa pun mendengar perintah agar Sifa mengantar Zaki menuju pusat perbelanjaan untuk melihat hasil produksi perusahaan mereka yang kini tengah di pasarkan.


"Baiklah, tuan, mari kita pergi." Sifa mendahului Zaki. Zaki terus tersenyum melihat Sifa mendahuluinya. Terlihat hijab yang dikenakan Sifa melambai terkena angin saat sudah diparkiran.


"Di mana mobilmu, Tuan?"


Sifa mengikuti langkah pria itu. Dan terlihat mobil mewah berwarna silver. Setelah mobil itu terbuka, Zaki kembali berujar.


"Ayo masuk!" Zaki memakai kaca mata hitamnya. Sifa akui, Zaki terlihat mempesona dengan memiliki poster tubuh ideal.


'Astaghfirullah,' batin Sifa segera menepisnya."


"Saya memang tampan, Nona."


"Terlalu pede. Dasar cowok resek."

__ADS_1


Zaki tertawa. Zaki juga heran dengannya, saat bersama Sifa dirinya merasa terhibur. Masalah permintaan neneknya minta cucu terlupakan sejenak olehnya.


__ADS_2