Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab. 72 Rayyan vs Aditia


__ADS_3

Usai makan siang, Zaki pamit pada Ummi Humairah. Zaki melirik ke arah Sifa yang enggan melihatnya. Zaki tersenyum. Cara Difa memperlakukan dirinya di anggap adalah sebuah tantangan untuknya. Sifa pun mengantarkan Zaki hingga ke depan.


Sifa membalikkan telapak tangannya dan berkata, "Mana kertas yang tadi. Aku harus melihatnya."


Zaki memberikan pada Sifa. Sifa cukup terkejut dengan syarat poin tiga. Pihak kedua harus siap kapan pun saat pihak pertama meminta haknya sebagai suami.


"Apaan ini?"


"Kenapa? Semakin cepat kamu bisa memberiku keturunan, maka kamu semakin cepat bebas dari aku."


Lagi-lagi sifa kesal dan marah dengan bahasa Zaki yang menganggap pernikahan itu seperti mainan.


"Maaf Tuan, Saya tidak bisa melakukan ini." tolak Sifa dengan keras.


"Ok. Tidak jadi masalah. Kamu harus bayar denda padaku. Tidakkah kamu baca poin pertama.


Bila pihak kedua membatalkan kontraknya, maka pihak kedua harus bayar denda dengan senilai Satu Miliar. Bagaimana?"


"Tuan, anda keterlaluan. Anda sudah menipu saya, anda sudah menjebak saya!"


"Hus! Apa kamu mau Ummi dengar?" bisik Zaki dengan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Sifa.


"Jangan mendekat!" Sifa mundur beberapa langkah.


"Kenapa wajahmu merah?" tunjuk Zaki yang membuat Sifa semakin melebarkan netranya.


"Baiklah. Pikirkan baik-baik nona Sifa," kata Aditia.


"Tuan, Anda memang..."


Zaki memberi kode agar Sifa menurunkan volume suaranya.


Sifa menoleh kebelakang. Lalu kembali mengedarkan netranya menatap Zaki.


"Anda benar-benar keterlaluan, Tuan." suara Sifa terdengar seperti berisik, akan tetapi nada bicaranya menusuk.


"Nona, apa susahnya menjadi istriku. Aku menjanjikan hidup serba berkecukupan. Jika perlu kontrak kita diperpanjang, aku siap." nada bicara Zaki yang terdengar santai yang membuat Sifa makin kesal.


"Bersiaplah, aku akan membawa keluargaku meminang kamu." ujar Zaki melenggang pergi.


Sifa menyilangkan tangannya di dada dengan wajahnya merah padam karena menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.


***


Dan benar saja, Zaki membawa keluarga besarnya. Melihat nenek Sofia, Sifa semakin salah paham.


"Apa tidak ada seorang yang bisa dia bawah untuk menyamar sebagai keluarganya?" batin Sifa.


Begitu nenek Sofia berhadapan dengan Sifa, Nenek Sofia tersenyum. "Jadi kamu yang namanya sifa?"


Sifa mengangguk saat Zaki memberinya kode untuk menganggukkan kepala. Sifa pikir itu adalah bagaian drama Zaki agar Umminya semakin yakin dengan hubungan mereka.


Ummi Humairah menyambut kedatangan keluarga Zaki. Zaki dan rombongan pun menuju ruang tamu yang cukup sederhana.


Mereka tidak membuang waktu dan langsung membahas kapan pernikahan mereka terlaksanakan. Zaki tidak hentinya mengumbar senyum penuh kemenangan.


***

__ADS_1


Kabar tentang Sifa terdengar oleh Inayah. Inayah tidak menyangka kabar tersebut. Inayah sangat berharap bisa melihat Sifa menikah.


"Sayang, ada apa?" tanya Aditia yang barusan usai dengan kegiatan rutinitas mandinya. dia memeluk Inayah sehingga tercium aroma sabun begitu segar milik Aditia.


Aditia kini sudah dinyatakan sembuh dan harus tetap mengontrol kesehatannya rutin dalam setiap bulannya. Kembali ke kota asal belum ada kepastian. Namun, Tuan Subari dan Ibu Hanum sudah kembali lebih dahulu.


"Mas, kapan kita akan balik ke Indonesia. Aku sangat berharap Bisa mendapati Sifa menikah.


"Menikah? dengan siapa Sifa akan menikah?" tanya Aditia yang kini memasang bajunya dan Inayah membantu Aditia.


"Sifa dengan Zaki." ujar Inayah menatap suaminya yang terlihat jauh lebih baik. Hal tersebut sebuah kebahagiaan tersendiri melihat pasangan hidupnya kembali sehat walau masih perlu mengontrol setiap bulannya.


"Zaki?" ulang Aditia dan dianggukki oleh Inayah.


Mereka pun keluar dari kamar mandi menuju meja makan untuk menyantap makan siang.


"Benar Zaki akan menikah dengan Sifa?"


Inayah hanya mengangguk dan ikut duduk untuk makan bersama. Rayyan yang kini sudah hadir Ditengah-tengah mereka melengkapi kembali kebahagiaan keluarga kecil Aditia.


Siang menjelang Sore Aditia menemani Rayyan bermain bola di taman belakang dengan Inayah berdiri di pintu melihat senyum wajah suaminya kembali.


"Ya Allah, Ujian begitu panjang pada kami. Semoga ujian ini selalu menjadikan kami hamba-Mu yang tidak pernah berputus asa."


"Ayo bunda, Main sama Rayyan!" Rayyan yang begitu lincah menarik tangan bundanya untuk ikut bermain bersama. Tawa Inayah terdengar dan Aditia menatap istrinya.


"Bunda kalah sama Rayyan! Ayah, kita menang!" Rayyan melompat bahagia karena merasa sangat bahagia telah mengalahkan bundanya, Inayah.


"Bunda memang selalu kalah sama ayah." Aditia mengedipkan mata kanannya seperti menggoda Inayah.


"Mungkin mata ayah sakit bunda?" Rayyan melihat mata Aditia yang membuat Inayah tidak bisa menahan tawa.


"Sayang, dosa lo mentertawakan suami." bisik Aditia bercanda dan Rayyan terus memainkan dagu milik ayahnya.


"Bunda, kapan Rambut ayah banyak rambutnya seperti Rayyan?" tanya Rayyan polos sambil menatap ayahnya yang kemudian bermain mengelompokkan mainan kayu berdasarkan warnanya.


Bukannya Inayah menjawab, Namun Aditia langsung memeluk Rayyan dan mengalihkan perhatian Rayyan. "Rayyan Suka makan apa?"


"Mm... Rayyan suka makan es krim, ayah."


"Rasa apa?" tanya Aditia lagi sambil menoleh ke arah Inayah yang terlihat diam menatap suaminya penuh iba.


"Mm... rasa apa, ya? Rasa semuanya," jawab Rayyan lagi.


Umur Rayyan memasuki 4 tahun tampak semakin anak yang begitu pintar. Kosakatanya yang semakin berkembang pun membuatnya ingin tahu lebih banyak dan mengembangkan dunianya.


"Rayyan ikut bunda mandi, ya?"


"Tidak, bunda. Rayyan dingin. Rayyan mau sama ayah di sini. Rayyan mau es krim."


"Tapi Sayang, ini sudah waktunya mandi, Rayyan." suara lembut Inayah yang kini berjongkok di depan Rayyan sambil mengelus lembut rambut lurus hitam itu."


"Ibu, ini apa?" Rayyan mengambil mainan bongkar pasang huruf hijaiyah.


"Sayang, sepertinya dia sedang menggodamu?" bisik Aditia pada Inayah.


Aditia merasakan lucu dan gemas pada Rayyan yang di ajak mandi oleh Inayah dan memberikan pertanyaan lain pada bundanya.

__ADS_1


"Itu sifat gombalnya turunan dari siapa?" lirik Inayah pada suaminya.


"Mungkin sifat ayahnya." jawab Aditia sambil menatap lekat Inayah dan merangkul pundak wanita itu.


"Bunda, ini apa?" tanya Rayyan merasa terabaikan dengan bundanya.


Inayah selaku ibu yang paling dekat terkadang kewalahan untuk menjawab pertanyaannya. Inayah berusaha sedemikian untuk menjawab dengan singkat dan manis, karena Inayah paham Rayyan belum membutuhkan jawaban yang detail.


"Ini namanya huruf, FA.


"Fa?" ulang Rayyan.


"Iya, FA." jelas Inayah.


"Ayo, kita mandi." Aditia langsung mengangkat tubuh Rayyan seperti bermain pesawat. Rayyan begitu suka dan tertawa.


"Pesawat terbang, Ayah!" teriak Rayyan. "Ayo ayah, lagi...!


Tawa mereka seakan memecahkan kesunyian di dalam rumah tersebut. Inayah tersenyum melihat Rayyan dan Aditia seolah tidak ada lelahnya mereka bermain.


"Dingin bunda." tolak Rayyan. Karena Rayyan tidak mau dimandikan oleh bundanya, Aditia pun maju.


"Mas, kamu akan nanti kelelahan."


"Tidak Sayang, Kamu yang harusnya istirahat. Kamu pasti sangat lelah. Biarkan aku memandikan Rayyan."


Suster Ira yang membantu Inayah, tidak ikut, karena harus kembali ke kampung halamannya untuk sementara.


Terkadang Rayyan akan menyatakan ketidaksukaannya terhadap sesuatu dengan jelas, termasuk makanannya. Walau begitu, Inayah tidak menyerah dalam mengenalkan makanan baru.


"Ok. kalau begitu ayah makan ini." kata Aditia lagi.


Inayah tidak putus asa. kembali membuat makanan baru untuk Rayyan.


"Mie buatan bunda. Pasti Rayyan suka." Inayah memasakkan Mie untuk Rayyan yang dibuat sendiri olehnya. Sehingga aroma makanan itu tercium oleh Rayyan.


"Mie? Rayyan suka, bunda!" Rayyan pun duduk di kursinya dan melahap habis mie buatan Inayah.


"Bunda memang serba bisa. Urus Rayyan bisa, Urus Ayah juga bisa." lirik Aditia pada Inayah.


"Apa, Mas?"


"Kalau kasih adik untuk Rayyan, sepertinya ayah juga bisa."


Rayyan berbalik dengan mulutnya penuh bekas makanan.


"Adik?" kata Rayyan.


Aditia mengangguk yang membuat Inayah memukul jidatnya dengan kelakuan suaminya.


"Mas?" tegur Inayah pada Aditia. melihat Aditia terlihat serius dengan Rayyan.


"Rayyan mau adik?" tanya Aditia sambil melirik Inayah yang terlihat. melebarkan matanya.


"Mas?!


"Apa, Sayang. Ayah kan tanya Rayyan."

__ADS_1


__ADS_2