Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 30. Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Terimakasih dukungannya. Karya ini tidak berarti apa-apa tanpa dukungan dari kalian. jangan lupa beri like, dan tambahkan dalam daftar favorit biar dapat up terbarunya. eits! tinggalkan komentar di bawah kolom komentar. Biar Author tahu seberapa gergetnya kalian dalam karya ini. jika ada saran Author Terima lapang dada. Author siap menerima saran koreksi dari


kalian. Salam manis dari Author buat pembaca setiaku. 😍😍😍🥰🥰🥰😘


...****************...


Raka datang bertamu ke rumah Tuan Subari. Awalnya Raka ragu untuk masuk dan pada akhirnya memutuskan bisa melupakan sejenak masa lalunya.


Aditia yang kebetulan baru kembali mendapati Raka dengan satpam berbicara di depan pintu gerbang.


Bunyi klakson mobil Aditia membubarkan percakapan Raka dengan Pak Udin sebagai satpam rumah mewah tersebut.


Setelah memarkirkan mobilnya, Aditia datang menghampiri Raka.


Terlihat keduanya tidak tahu harus memulai dari mana.


"Saya datang kemari untuk bertemu dengan Tuan Subari," cakap Raka pada akhirnya.


Raka melihat banyak perubahan dalam diri Aditia jauh dari sebelumnya. Aditia terlihat lebih banyak diam dan tidak banyak bicara.


"Masuklah. Tuan Subari ada di dalam."


Aditia mempersilahkan Raka masuk. Raka pun mengikuti Aditia dari belakang.


"Gembul, bagaimana kabarmu?"


Raka cukup heran siapa Gembul? Raka pikir Gembul adalah seorang anak. Ternyata seekor kucing berbulu tebal.


"Kau suka seekor kucing?" tanya Raka yang melihat Aditia menggendong seekor kucing berwarna putih yang diberi nama Gembul.


"Ya, kau mau menggendongnya?"


"Tidak. Saya alergi bulu kucing," jawab Raka melihat Aditia terlihat menikmati kebersamaannya dengan si Gembul.


"Aku pernah membaca sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa Semasa hidupnya, Rasulullah SAW diketahui memiliki seekor kucing jenis ras anggora yang diberi nama Muezza. Kucing kesayangan Rasul itu selalu menemani Rasul dalam banyak kegiatannya.


Bahkan, diceritakan bahwa suatu hari, Rasul pernah hendak mengambil jubah yang sedang ditiduri Muezza. Namun, karena tidak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Rasul lalu memotong belahan lengan jubahnya agar Muezza tidak terbangun.


Sikap Rasul terhadap Muezza menjadi bukti bahwa Rasul sangat mencintai hewan peliharaannya. Kucing pun menjadi hewan kesayangan Rasulullah SAW karena beberapa alasan," terang Aditia yang membuat Raka tertegun.


Raka benar-benar tidak menyangka dengan perubahan Aditia yang sudah banyak. Bukan Aditia yang dulu lagi.


"Alasan pertama yaitu, Karena kucing merupakan hewan yang selalu memanjatkan Doa. Alasan kedua kucing memiliki naluri dan kecerdasan. Alasan yang ketiga salah satu jl hewan yang suci dari najis. Alasan keempat mampu merawat dirinya sendiri. Alasan kelima bisa mendatangkan Rahmat Allah. Alasan keenam baik untuk kesehatan mental. Alasan lucu dan menggemaskan," lanjut Aditia panjang lebar.


"Seorang wanita memberiku buku dan membacanya hingga aku termotivasi merawat si gembul. Namun, wanita itu bukan jodohku," ujar Aditia melirik Raka yang sedari tadi memperhatikan dirinya bermain dengan si Gembul, kucing anggora Aditia yang menggemaskan.


Raka paham siapa yang di maksud Aditia. Siapa lagi kalau bukan Inayah, adiknya. Raka tersenyum mengerti.

__ADS_1


"Jodoh tidak ada yang pernah tahu. Ada kalanya jodoh itu datang tanpa kita harapkan. Jodoh menurut Islam adalah salah satu misteri, sebab hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan jodoh untuk setiap hamba-Nya.


Apakah seseorang sudah bertemu dengan jodohnya atau belum, selalu ada rahasia Allah. ketika menikah dan pada akhirnya berpisah itu berarti hanya jodoh sementara," imbuh Raka yang teringat dengan Inayah.


Setiap kali mengingat Inayah yang gagal dalam pernikahannya, Raka ingin rasanya menebus kesalahannya. Namun, dengan cara apa?


"Bagaimana kabar Inayah?" tanya Aditia pada akhirnya yang sedari tadi ingin bertanya seputar Inayah.


Pertemuan sebelumnya dengan Raka, wajah Inayah langsung terbayang di benaknya. Sekeras bagaimana pun Aditia ingin melupakan Inayah tetap saja, nama Inayah terus terukir.


Belum sempat Raka menjawab pertanyaan Aditia, Tuan Suabari berdeham.


"Ada tamu?"


Raka dan Aditia berbalik.


"Aditia kenapa tamunya tidak di persilahkan masuk?" tanya Tuan Subari.


"Tuan, saya kemari ada perlu degan anda," ujar Raka.


"Maaf ayah, aku tadinya Akan masuk. Namun kami asyik dengan si Gembul." Senyum Aditia yang kembali mengelus lembut bulu si Gembul yang begitu tebal.


Raka pada akhirnya dipersilahkan masuk oleh Tuan Subari.


"Bibi, buatkan minuman," perintah Tuan Subari pada pembantunya. "hangat atau dingin, Tuan Raka?" tanya Tuan Subari.


"Tidak sama sekali merepotkan. anda tamu saya, dan saya berhak memuliakan tamu saya."


Raka tersenyum dan melihat ke arah Tuan Subari. Dan Aditia seakan pura-pura tidak memperhatikan interaksi ayahnya dengan Raka.


"Bibi, buatkan minuman hangat tiga," perintah Aditia pada akhirnya.


"Begini Tuan, saya kemari ingin menyampaikan wasiat Aba. Sebelum meninggal, Aba berpesan kepada saya agar menyampaikan rasa terimakasih yang sedalamnya atas bantuan Tuan di pondok Al Hikmah. Bantuan tersebut sudah kami gunakan sebaik mungkin. Semoga rezeki Tuan dan keluarga dimudahkan."


Tuan Subari tersenyum dan mengaminkan. Lalu berujar, "ya semoga saja. Akan tetapi, kamu sepertinya melupakan satu doa untuk saya, Tuan Raka."


"Doa apa itu, Tuan?"


"Semoga anak saya mendapatkan jodohnya."


"Aku sudah menemukan jodohku, ayah," imbuh Aditia.


Raka menoleh ke arah Aditia dan berkata, "Selamat, Tuan."


Tuan Subari tertawa mendengar kata Raka yang membuat Raka cukup bingung.


"Anda benar serius menanggapinya ternyata." Tawa Tuan Subari.

__ADS_1


Bibi Sumi datang membawa 3 gelas minuman hangat hingga pembicaraan mereka terhenti.


"Ayo, diminum. Jangan sungkan. Anda adalah tamu saya," pinta Tuan Subari.


"Terimakasih, Tuan," kata Raka.


Hingga beberapa menit kemudian, Raka pamit dan di antar oleh Aditia.


"Aditia, kami juga berterimakasih atas kiriman buku-buku satu tahun yang lalu. Santri sangat suka dengan bukunya."


Aditia tersenyum. Sejujurnya Aditia sangat penasaran dengan kabar Inayah. Namun, Aditia mencegah dirinya untuk bertanya. Takutnya Raka salah paham hingga akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.


Begitu Raka akan masuk di dalam mobilnya, Aditia menyahut pada akhirnya.


"Raka, maukah kau menerima maafku yang dulu." Melihat Raka diam Aditia kembali berujar. "Aku mengerti."


"Aku menerima maaf darimu. Amira juga sudah memaafkannya." kata Raka pada akhirnya.


Aditia bersyukur dengan Raka mau memaafkannya. kembali Aditia berujar, "Selamat atas kelahiran anak pertamamu. Tidak sengaja kemarin aku mendengarnya."


"Terimakasih," jawab Raka.


"Kamu dan Amira pasti sangat bahagia dengan hadirnya buah hati kalian yang melengkapi."


Raka tersenyum. "Tentunya. Saya pamit. Mari, Tuan."


Aditia membalas dengan senyum. ketika berbalik Ibu Hanum sudah di belakangnya.


"Siapa tadi?"


"Raka."


"Kakaknya inayah?" tanya Ibu Hanum.


"Iya," jawab Aditia dan menjelaskan tujuan kedatangan Raka bertemu dengan ayahnya.


Aku mandi, Ibu. Saya masih ada urusan sebentar."


"Adit, kapan kamu akan menemui wanita yang ibu maksud? Dia anak sahabat Ibu. Sekolah di pesantren. kamu pasti suka. Tahun depan akan tamat. Kamu bisa menikah dengannya sebelum tamat. atau menunggunya tamat juga tidak mengapa."


Aditia tidak menghiraukan perkataan ibunya.


"Ibu yakin, setelah bertemu kamu pasti akan melupakan Inayah," lanjut Ibu Hanum mengejar Aditia.


Aditia berbalik. "Ibu, aku dan Inayah sudah tidak ada hubungan. Bahkan, aku tidak pernah sama sekali bertemu lagi dengan Inayah. Jadi, Jangan ibu terus menerus mengungkit dan menyangkut pautkan Inayah dengan penolakanku atas keputusan Ibu. Aku tidak suka saja Ibu terus seperti ini."


"Tapi, Adit. Setidaknya temui dulu."

__ADS_1


"Ok, Ibu, aku akan menemuinya." Aditia terlihat sedikit kecewa dengan sikap Ibunya.


__ADS_2