Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 22. Salah Menilai


__ADS_3

Melihat buku-buku yang di maksud Husna, Justru mengingatkan Inayah pada Adam. Ketika sudah Ikhlas menerima kenyataan sebelumnya justru dihadapkan problem yang lain.


"Ustazah Inayah? Apa ibu Ustazah baik-baik saja?" tegur Ustazah Ana melihat Inayah terdiam sambil memegang dan meremas buku yang di maksud Husna. Buku yang berjudul Kumenemukan Hatiku Yang Hilang.


"Jangan-jangan Ustazah Inayah sakit baik, ya?" bisik Ustazah menggoda Inayah.


Mendengar godaan itu, Inayah semakin sakit mendengarnya. Bagaimana mau berharap untuk hamil sedangkan suami sendiri tidak memberinya nafkah batin. Adam terlihat seperti jijik untuk menyentuhnya.


'Astaqfirullah. Ya Allah, aku ridho.' batin Inayah.


"Bagaimana keadaan pondok selama saya tidak masuk Ustazah? dan bagaimana perkembangan Kayla? Apa Kayla sudah memiliki minat belajar?" Inayah mengalihkan perhatian ustazah Ana.


Kayla merupakan siswa tingkat Aliah duduk di bangku kelas 3A. Kayla memiliki perilaku menyimpang dalam hal minat belajar yang kurang baik setelah naik ke kelas 3 Aliah. Tugas yang diberikan jarang sekali untuk di kumpul. Bukan hanya itu, Kayla juga jarang sekali absen dan hal itulah yang dicari tahu oleh Inayah sebelum inayah menikah. Inayah belum pernah bertemu dengan orang tua Kayla sama sekali.


Menurut gosip yang beredar, Kayla menentang keras perjodohan yang di rencanakan oleh kedua orang tuanya.


"Itulah yang kami belum pastikan, Ibu Ustazah. Sebaiknya kita cari tahu permasalahan ini dengan cepat mengingat anak-anak tidak lama lagi akan semester."


"Aku akan mencari tahu faktanya. Jika hal tersebut benar adanya, aku akan bicara dengan kedua orang tua Kayla. Kayla sebelumnya termasuk anak pintar."


"Benar sekali," ujar Ustazah Ana melihat Inayah kembali diam.


"Ustazah Inayah? Apa Ibu ustazah baik-baik saja? Aku perhatikan, Ustazah banyak melamun.


'Astaghfirullah. Apa terlihat jelas?' batin Inayah lagi.


Inayah tersenyum ke arah Ustazah Ana. Setelahnya, Inayah pun bergegas berkunjung ke asrama putri.


Dalam perjalanan menuju Asrama, Inayah melihat ponselnya dan tidak ada satu pun pesan Adam masuk.

__ADS_1


"Apa aku terlalu berharap?"


Inayah terus melangkah kaki menuju Asrama putri. sampai di sana, Inayah sedikit terhibur dengan bermacam gurauan anak santrinya. Berbagai macam model para santri menghafal. Bahkan ada yang sengaja membuat rumah pohon untuk di tempati belajar yang aman, juga terdapat salah satu santri menghafal di tengah mereka mencuci pakaian.


Inayah merindukan kembali untuk mondok. Tepat Inayah masuk di dalam Asrama, Inayah menemukan ada yang makan nasi panas dan hanya sebutir telur dengan sambel dan kecap sebagai bumbunya.terlihat begitu nikmat mereka menikmati makanan apa adanya karena dibarengi dengan rasa syukur.


"Terimakasih," kata Inayah saat mereka para santri menawarkan untuk makan. "Ibu Ustazah merindukan kalian," ujar Inayah yang disambut riang oleh para santri hingga ada yang menawarkan untuk makan kue.


Di saat Inayah berbincang dengan salah satu santri, dua orang santri sedang berlari mengejar temannya.


"Ziya, awas ya kamu. berani kamu sebar gosip? Wal fitnatu asyaddu minal qatli”, yang berarti 'dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan'. Kedua, pada ayat 217 berbunyi, “Wal fitnatu akbaru minal qatli”, yang artinya 'sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan'.


Inayah geleng kepala melihat perilaku mereka. Begitu mereka sadar dengan kehadiran Inayah keduanya pun berhenti dan meminta maaf.


"Ziya? apa yang kamu pegang?" tegur Inayah pada santrinya.


"Ziya, ayo! kembalikan buku harian Mala. Jika yang lain pada baca apa yang tertulis di dalamnya itu bisa menjadi Fitnah untuk Mala. Apa yang di tulis Mala di dalamnya kita tidak tahu sebenarnya. Bisa saja kita salah mengartikan." Inayah tersenyum


Ziya pun mengembalikan milik Mala sambil kembali bercanda. Usai kunjungan asrama. Inayah pun pamit untuk pulang.


***


"Inayah?" Ibu Fatimah terkejut melihat Inayah datang tanpa Adam. "Di mana Adam?" Ibu Fatimah mencari Adam.


"Kak Adam di rumah sakit, Ibu," melihat ibunya terus mencari menantunya hingga di luar. "Mas Adam sibuk," lanjut Inayah sambil membantu Ibu Fatimah di dapur.


"Kamu tidak habis bertengkar, kan?"


Inayah terdiam. kembali Inayah mengingat pengakuan Adam malam sebelumnya.

__ADS_1


"Sebuah janji yang yang pernah terlontar dari bibirku untuk menikahi karin. Dan hal itu membuat aku tidak bisa melupakannya, Inayah. Namun, janji itu di tentang keras oleh kedua orang tuaku karena perjodohan ini dan karena status Karin sebagai anak yang lahir... di luar ... nikah," kata Adam. "Hal itulah yang membuat kedua orang tuaku tidak bisa menerima Karin."


Inayah menatap Adam dengan lamat-lamat. Setelahnya Inayah terdiam mendengar pengakuan Adam.


"Pertemuan pertama denganmu membuatku jatuh cinta dan ingin memilikimu. Namun, aku sadar bahwa ... aku tidak bisa melupakan karin. Setiap kali aku mencoba melawan perasaanku dan akan menyentuhmu, wajah karin yang terlintas dalam benakku, Inayah. Bagaimana aku menyentuhmu, Inayah. Maafkan aku. Aku ingin menikahi Karin, Inayah."


Duar!


Entah seperti apa perasaan Inayah mendengar pengakuan Adam yang meminta akan menikah lagi.


"Kau mau menikah lagi?" Inayah tidak menyangka dengan pengakuan Adam.


"Inayah, bukan dalam agama kita poligami tidak di larang?" imbuh Adam tanpa memikirkan perasaan Inayah.


"Aku tidak menentang poligami ataupun membencinya, Mas. Sebab, poligami yang diatur dalam kitab suci atau syari'at bukanlah kewajiban atau paksaan. Poligami hanyalah opsi yang bersifat solutif bagi orang-orang yang terbentur masalah yang mengharuskannya menambah istri dalam bahtera rumah tangga," ujar Inayah.


"Bahkan, jikalau memang mampu, laki-laki tetap diperbolehkan jika memang mampu. Namun yang menjadi pertanyaannya, mas. Atas dasar apa sesungguhnya kamu ingin poligami? Aku tidak menyalahkan atau membenci poligami, akan tetapi perlakunya yang salah dalam menyikapi poligami," jawab Inayah malam itu.


"Jika memang bisa bertahan dengan satu istri, mengapa harus poligami? Jika memang hanya mampu menafkahi satu istri secara lahir dan batin, mengapa harus poligami? Jika menambah istri justru memunculkan problem baru dalam kehidupan, mengapa harus poligami? Jika pria merasa tak bisa adil dan mampu membimbing istri lebih dari satu, mengapa harus poligami?Jawabannya, poligami tidak diperlukan dalam kondisi tersebut. Seorang pria seharusnya mampu mengukur kemampuannya dalam segala aspek untuk menambah perempuan ke daftar keluarga. Poligami hadir sebagai solusi, bukan keinginan sesuka hati," jawab Inayah lagi.


"Sekarang aku tanya, mas. Apakah mas Adam mampu untuk berlaku adil? Apa kamu jamin bisa adil? sementara aku masih mampu melayanimu, Mas. Namun, kamu yang tidak siap untuk memberikan nafkah batin padaku. Sekarang aku ulangi, Mas. Silahkan poligami, jika kamu mampu untuk adil antara aku dan dia." lanjut Inayah malam itu. Perasaan Inayah malam itu benar-benar hancur dengan pendirian Adam.


"Jika bukan karena janjiku pada Karin akan menikahinya, Inayah...." Adam tidak mampu lagi berkata-kata.


"Lantas apa tujuanmu menikahiku, mas. katakan!" selama satu bulan pernikahan, Inayah sudah tidak bisa untuk tidak menanyakan pada Adam.


"Awalnya aku sempat tidak menyetujui perjodohan ini. karena... kupikir calon istriku..."


"Berarti kau menikahiku bukan karena Fillah, Mas. Bukan!" Inayah benar-benar merasa tertipu dengan Adam. Adam yang dianggap mampu membina rumah tangga bersama ternyata bukanlah pilihan yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2