Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 43. Mendebarkan


__ADS_3

Ummi Humairah tidak percaya jika panti asuhan permata bundaku kini bebas dari ancaman akan di gusur.


Raka dan semua keluarga Inayah sangat bersyukur akan hal itu. Berkat bantuan langsung Aditia panti asuhan permata bundaku kini sudah aman.


kini saatnya penyerahan sertifikat tanah. Ummi Humairah maju mewakili. Anak-anak panti asuhan tidak risau lagi. semua masyarakat menyaksikan.


"Alhamdulillah, Semoga Tuan Subari dan keluarga selalu diberikan kemudahan dan selalu di mudahkan rezekinya," doa Ummi Humairah setelahnya.


"Sebelumnya, kami tidak tahu jika panti asuhan ini mengalami masalah. Kami hanya mendengar jika panti asuhan ini tengah di landa masalah," ucap Aditia.


Tuan Subari dan Ibu Hanum tersenyum. Aditia menuju mobil dengan mengeluarkan kantong kresek untuk di bagikan pada anak-anak panti asuhan.


Inayah yang baru datang dan melihat mobil Aditia terparkir. Inayah datang karena mendengar jika seseorang datang untuk membantu panti asuhan permata bundaku.


"Apa kau tidak ingin membantuku membagikan ini?" bisik Aditia ketika Inayah menutup pintu mobilnya.


Inayah melonjak kaget karena Aditia sudah di belakangnya. Jantung Inayah benar-benar berdebar hebat.


"Apakah bisa Anda berbicara dengan tidak mengagetkan orang lain?" Inayah merotasikan matanya sambil tangannya di letakkan di bagian dada dan menghembuskan napas kasar.


"Aku suka sekali melihat bola matamu seperti itu. Itu seperti menusuk jantungku hingga tembus kebelakang." Senyum Aditia ke arah Inayah.


"Turunkan pandanganmu. Berhenti menggodaku. Tidaklah baik kamu terus menggoda seorang wanita seperti itu."


"Baiklah. Kalau begitu bantu aku membagikan kantong-kantong kresek ini."


Inayah geleng kepala. Inayah melangkah ke arah mobil Aditia. Lalu, membagikan kepada anak-anak panti asuhan. Setiap anak mendapat satu kantong kresek yang isinya selain makanan juga pelengkapan sekolah.


Sangat jelas terlihat wajah anak-anak saat menerima barang tersebut begitu bahagia.


"Jika kelak aku menikah, aku ingin memiliki banyak anak. Biar rumahku terlihat ramai. Tapi, apa mungkin aku mampu mengurusnya, Ya?" Aditia berfikir.


"Mana aku tahu anda bisa mengurusnya atau tidak. Mengapa menanyakan sama aku?" Inayah membantu membuka snack salah satu anak yang mengalami kesulitan.


Aditia tersenyum. "Jelaslah aku bertanya padamu. Kan, kamu calon ibu dari anak-anakku nanti," cetus Aditia apa adanya.


Inayah menoleh melihat Aditia tanpa berdosa dengan ucapannya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Salahkah? Aku serius, Inayah."


Kembali lagi Inayah menatapnya. Ucapan Aditia membuat Inayah tidak tahu harus menjawab apa. Inayah terlihat serba salah.


"Aku bisa membayangkan wajahmu di balik kain itu. Wajahmu merona, kan?"


"Siapa bilang? itu hanya halusinasi anda."

__ADS_1


"Apa yang aku katakan barusan itu benar, Inayah," ungkap Aditia


Sekejap Jantung Inayah kembali berpacu dengan ucapan Aditia. Jantung Inayah berdebar hebat. Ada apa dengannya?


Kembali Aditia melanjutkan ucapannya. "Apa kamu melihat keluargaku dan keluargamu di sana?" tunjuk Aditia.


Inayah mengarahkan pandangannya.


"Mereka sedang membahas kita. Aku ingin membuktikan keseriusanku, Inayah. Aku sudah siap menerima konsekuensinya apa pun keputusanmu. Aku ingin melihat apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama?"


Inayah terdiam. "Apa anda sadar dalam berbicara?"


"Aku sangat sadar Inayah. Aku benar-benar sadar dengan ucapanku," timpal Aditia.


Kembali Inayah seperti dunianya berputar. Apa yang harus di jawab olehnya? Terlihat kedua tangan Inayah berkeringat dingin.


"Hei, aku tidak menakutimu. kenapa kau terlihat gugup?" Aditia merasa lucu dan itu merupakan hiburan tersendiri untuknya.


"Siapa yang gugup, biasa saja, Tuan," Elak Inayah.


Setelahnya, Inayah beranjak dari tempat duduknya setelah mendapat panggilan. Aditia geleng kepala melihat Inayah beranjak. Aditia pun dengan cepat mengikuti langkah Inayah sambil berujar di belakang Inayah.


"Akan kupinang kau dengan Bismillah, Inayah. Kubuka hatimu dengan Alfatihah hingga terbuka Al zalzalah. Karena kutahu, hatimu tidak sekeras Al hadid. Melainkan seperti Ar-Rahman."


"Ternyata Anda pintar juga bikin syair. Foto copy dari mana itu?" tanya Inayah berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


Aditia menggaruk kepalanya. "Aku akan buktikan padamu. Lihat saja nanti. Apa kamu pikir aku bermain dengan ucapanku?"


Inayah tidak lagi menghiraukan Aditia. Hingga pada akhirnya mereka sampai di mana para keluarga berkumpul.


"Duduk, nak." pinta Ummi Humairah. Raka dan Ibu Fatimah hanya diam.


"Sebelumya kami minta maaf atas hal tidak terduga ini. Sebelumnya kami memang berniat dengan hal ini dan tiba-tiba kami mendengar kabar tentang panti asuhan ini. Jadi, jangan salah paham. Niat awal kami memang datang Untuk meminang Inayah untuk putra kami, Aditia," ungkap Tuan Subari dengan lantang.


Jantung Inayah kembali berdebar hebat. Mengapa jantungnya tidak bisa berhenti berdebar. Dulu saat almarhum Adam datang melamarnya sangat berbeda perasaannya. Apa lagi Aditia terus menatapnya.


"Aditia?" tegur tuan Subari yang terus menatap Inayah tidak berkedip."


"Bagaimana, Inayah?" Tanya Ummi Humairah.


Inayah terlihat menundukkan pandangannya. Kembali Aditia buka suara. "Sepanjang waktu, doa terucap untukmu, Inayah. Aku pernah mengikhlaskan dirimu. Namun ternyata, Takdir kembali mempertemukan kita walau sudah berbeda. Namun, hati ini tidak pernah berubah. Tidak yang berbeda bagiku, Inayah," kata Aditia lagi.


"Inayah, apa salahnya dengan statusmu. Aku tidak peduli. Kenapa mesti minder dengan statusmu yang sekarang. Memangnya salahnya di mana? Apakah keinginan kamu menjadi janda? tidak, kan? Inayah, sampai detik ini aku masih memiliki perasaan padamu." Aditia berharap Inayah akan mengerti dan mau membuka pikirannya.


Ucapan Amira kembali terngiang di telinganya. "Kau berhak menentukan kebahagiaanmu, Inayah. Jangan membohongi dirimu sendiri. Jangan menyiksa dirimu yang membuat kamu akan menyesal.'

__ADS_1


Semua orang cukup tegang. Termasuk Aditia. Terus berdoa dalam hatinya.


"Inayah?" tegur Ummi Humairah lagi.


Ibu Hanum juga terlihat tegang. Do'anya hanya satu. Aditia menemukan kebahagiaannya.


"Aku... Aku...." Ucapan Inayah terhenti. Inayah berusaha menenangkan dirinya.


Sementara Aditia sendiri sudah tidak sabar menunggu keputusan Inayah.


"Aku kenapa, Inayah? Jawablah! Aku terima apa pun keputusanmu hari ini. Aku tidak akan memaksamu." Terlihat Aditia mulai menyerah.


"Aku tahu, perasaanmu sekarang, Inayah. Tapi, kamulah yang terbaik di mata aku, kamulah yang aku pilih," jawab Aditia yang membuat Inayah diam.


"Inayah, Aku cukup tahu diri. Namun, sejak pertemuan pertama kita. Kau telah merebut semuanya. Aku tidak peduli kata orang. Bukan mereka yang menjalani rumah tanggaku, akan tetapi kita berdua, Inayah. Menikahlah denganku."


Inayah kembali mengangkat wajahnya. Ummi Humairah mengusap punggung Inayah. Inayah dengan keberanian pun menjawab.


"Aku menerimanya, Ummi." Inayah menutup matanya.


"Kau bersedia, Inayah? Alhamdulillah. Ibu, Inayah menerimaku." Aditia tidak tahu lagi harus bagaimana saking bahagianya. Ibu Hanum memeluk putranya.


Inayah berdiri dari tempatnya. Dirinya sangat malu mengakui di depan Aditia.


"Kenapa bisa?" lirih Inayah yang berdiri melihat anak-anak tampak sedang bermain.


"Terimakasih," bisik Aditia ditelinga Inayah dan kembali mengambil jarak setelahnya.


Inayah tidak berani lagi menoleh ke arah Aditia. Entah kemana keberaniannya?


"Kau tidak ingin pergi bersamaku?" Goda Aditia lagi. Ok. aku tidak lagi mengganggumu. Aku pamit, Inayah. Persiapkan dirimu." bisiknya lagi. Inayah benar-benar ingin rasanya menarik rambut pria itu.


"Fitting baju," lanjut Aditia terkekeh dan pergi.


Inayah malu sendiri.


...BERSAMBUNG...


Hidup adalah ujian


ikhlas akan membawa sebuah kenikmatan bersabar adalah kunci kesuksesan. Mencintai dan dicintai adalah sudah menjadi kodrat manusia


takdir seseorang baik itu hidup mati dan jodoh serta rezekinya sudah menjadi ketentuan rabb-Mu yang tertulis di kitab lauhul Mahfudz.


...Hai, maafkan Author baru Up lagi. Author sebisanya up. Maaf ya, author kurang sehat, nih. sekali lagi Author minta maaf baru Up. Terimakasih sudah bersabar. β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2