
Belum sempat Inayah menjawab pertanyaan Adam. Sebuah panggilan masuk dalam ponselnya dan itu dari teman Inayah. Inayah mengabaikan panggilan tersebut sebagai bentuk, Inayah menghargai Adam.
"Inayah, jika perjodohan ini membuatmu ragu, Tidak mengapa kamu batalkan. Jangan merasa terpaksa dengan keputusan ini," ujar Adam.
"Aku akan istikharah. Karena aku yakin, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya."
Inayah menundukkan pandangannya karena Adam terus menatapnya. keduanya diam dalam pikiran masing-masing.
...****************...
Sementara itu, Aditia yang mulai mengingat sesuatu terlihat sedang memegangi kepalanya. Melihat Aditia memegangi kepalanya membuat Ibu Hanum makin cemas.
"Nak, jangan kamu paksa untuk mengingat segala hal jika kamu belum mampu."
"Tidak ibu. Wajah seorang wanita terus terbayang. Wanita itu meminta tolong agr aku tidak melakukan sesuatu padanya. apa maksudnya ibu?"
Ibu Hanum terdiam mendengar penuturan Aditia.
"Jawab ibu. Jangan membuat aku terus berfikir. Kesalahan apa yang pernah aku perbuat." Aditia terdiam. "Amira?"
Ibu Hanum dan Tuan Subari langsung saling menatap. Begitu juga dengan alina yang baru datang. Mereka begitu terkejut mendengar Aditia menyebut nama AMIRA.
"Amira? Ya Amira. Dia—"Aditia mengingat sesuatu tentang Amira. Dia ingat cincin yang pernah Aditia beli kala itu saat akan mengajak Amira untuk menikah. Namun hari itu, Tuan subari merusak semuanya.
__ADS_1
"Adit, apa yang sedang kamu cari? stop Adit! Jangan terus mengingat yang tidak perlu kamu ingat!"
"Kenapa ibu? Kenapa ibu tidak membiarkan Aditia mengingat semuanya. Aku mengingat sebuah cincin."
"Tidak, nak. lupakan cincin itu!"
"Kenapa bu?"
"Karena ibu tidak ingin kamu sakit hati yang kesekian kalinya."
Aditia terdiam dan kembali mengingat semua tentang Amira. Hingga pada akhirnya wajah Inayah pun terbayang olehnya.
"Tidak ibu. Saya harus bertemu dengan Amira. dan menjelaskan pada Inayah."
Ibu Hanum tidak melanjutkan ucapannya tentang Inayah. "Tapi Amira sudah menikah dengan orang lain."
"Aku tahu. Aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini," imbuh Aditia.
"Kak Aditia mengingat semuanya?" Senyum tersirat di wajah Alina. Alina begitu bahagia.
Ibu Hanum meminta Alina untuk masuk di kamarnya. Sementara Tuan Subari semakin merasa bersalah pada putranya. Jika saja dulu dirinya merestui hubungan Aditia dan Amira. Hal buruk tidak akan terjadi. Bahkan putranya hampir saja masuk penjara jika saja saat itu Aditia tidak mengalami kecelakaan.
Aditia kembali memegangi kepalanya. Aditia ingat betul bagaimana dia hampir menghancurkan masa depan Amira kerena cemburu saat itu. Setelah kejadian itu, Aditia mengejar Amira yang di bawah pergi oleh Raka niat untuk meminta maaf atas perbuatannya yang harusnya tidak di lakukan pada wanita yang begitu dicintai olehnya.
__ADS_1
Namun naas, ketika di sebuah perempatan sebuah mobil melaju cepat dan menabraknya hingga mobil Aditia menabrak sebuah tiang lampu merah begitu keras dan mobilnya meledak. Beruntung saat itu Aditia sempat di selamatkan oleh warga sekitar sebelum mobil miliknya terbakar.
Melihat kondisi Aditia saat itu tidak sadarkan diri membuat Tuan Subari mengambil langkah membawa Aditia keluar negri untuk berobat. Dari kejadian itu, Tuan Subari menyesali semua pembuatannya atas tidak keadilannya sebagai ayah dari Aditia.
Melihat Aditia frustasi. Ibu Hanum langsung memeluk putranya itu.
"Mengapa aku mejadi pria begitu bejat, Ibu. Mengapa aku melakukan itu? Katakan padaku Ibu, mengapa?"
"Sayang, tidak ada manusia sempurna di muka bumi ini." Ibu Hanum terus mengusap punggung putranya itu.
"Ibu, mengapa nasib percintaanku tidak pernah berjalan mulus. Apa salahku?!"
"Jangan terus menyalahkan dirimu, nak!"
"Tapi ini faktanya ibu. Aku pria yang tidak pantas mendapat maaf!" Teriak Aditia dan melihat semua kenangannya bersama Amira dulu.
Tuan Subari meninggalkan kamar putranya dengan penuh rasa bersalah. Tuan Subari menganggap bahwa mungkin ini karama untuknya yang dulu seringnya mempermainkan perasaan wanita waktu masih muda. Istri keduanya pun mempermainkan dirinya setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Sebagain saham perusahaan miliknya diambil oleh istri keduanya dan setelahnya meminta cerai darinya.
"Aku harus pergi menemui Amira, ibu."
"Tidak Adit. kau akan mendapat masalah jika menemuinya!" Ibu Hanum mengejar Aditia.
"Adit! Kembali!"
__ADS_1