
Aditia termenung di ruangannya memikirkan apa yang harus dia katakan pada Inayah. Teo datang dan mengetuk pintu. Namun, Tuannya ternyata dalam lamunan panjang.
'Apa yang terjadi dengannya?' batin Teo memutuskan masuk saja.
"Tuan?"
Teo melirik melihat layar laptop. Teo tersenyum. 'Ternyata Nona lagi.'
"Tuan, apa tuan baik-baik saja?"
"Apa aku mampu berpisah darinya?" Aditia berujar.
"Maksud Tuan?" Teo tidak paham.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Aditia memperbaiki jasnya. "Kalau masuk ketuk pintu dulu. kebiasaan."
"Tuan, sejak tadi aku mengetuk pintu. Akan tetapi, tuan tidak mendengarnya. Apa tuan baik-baik saja?"
"Aku sangat baik, Teo. Apa kamu tidak melihatnya?! kenapa kamu kemari?"
"Aku membawakan dokumen untuk ditandatangani. Namun, di periksa dulu, Tuan. Karena ini merupakan proyek besar."
"Aku mengerti. Bukankah aku orangnya teliti?" Aditia memeriksa dokumen tersebut sebelum menandatangani.
"Teo, panggilkan Alina kemari!" perintah Aditia pada sang asisten.
Beberapa menit kemudian Alina masuk. "Kakak memanggil saya?"
"Duduk!"
Alina melihat kakaknya begitu serius. Alina yakin ada hal penting yang pastinya akan di sampaikan.
"Alina, mulai besok, perusahaan aku serahkan padamu."
Teo dan Alina dikejutkan dengan ucapan tersebut.
"Besok pimpinlah perusahaan. Semua sudah aku atur. Berharap, dengan perusahaan di tanganmu, Kamu bisa lebih memajukannya. Kakak percaya padamu. Ada sebuah hal yang harus aku selesaikan."
"Kak, bagaimana bisa kakak mempercayakan ini padaku!" Alina berdiri dari tempatnya. Aditia menatapnya.
"Ada apa sih, kak? Kok tiba-tiba seperti ini?"
"Teo akan membantumu. Juga ada Asifa. Ada om hermawan. Aku yakin kamu bisa!"
"Lantas, kakak akan kemana?" Alina memang belum mengetahui hal tersebut.
"Baca ini." Aditia memberikan sebuah surat yang mengacu tentang hukum untuknya mengenai masa lalunya dengan Amira.
"Teo, Buat pemberitaan yang tidak menimbulkan perusahaan ini hancur karena perbuatanku. Semoga Allah menutup aibku." Aditia duduk di kursi kebesarannya. Terlihat jelas wajahnya di penuhi penyesalan.
Ini pertama kalinya Teo melihat Tuannya meneteskan air mata.
__ADS_1
"Apa kak Inayah tahu hal ini, Kak?"
"Dia belum tahu." Aditia kembali diam.
"Harusnya kakak mengatakan ini jauh sebelumnya, Kak!" Alina marah dalam dirinya.
"Dia akan mengerti! Aku akan meyakinkannya. Tenanglah. Aku harap kau bisa menghiburnya setelah aku tidak bersama kalian." Aditia juga marah pada dirinya.
"Teo, atur semuanya." perintah Aditia menoleh pada sang asisten yang selama ini mendampingi dirinya.
Teo pun mengangguk mengerti apa yang akan dilakukannya. Aditia menepuk bahu Teo.
***
Tiba di pondok, Aditia di sambut oleh para santri. Aditia datang untuk menjemput Inayah yang kini sudah kembali masuk mengajar.
Sebelum menemui Inayah, Aditia menemui Raka akan persiapannya dan sesuai dengan janjinya. Setelahnya, Aditia menuju tempat pondok putri dan bertemu dengan Inayah.
"Mas, sejak kapan di sini?" Inayah begitu terkejut masuk di ruangannya dan menutup pintunya karena ruang berAC.
Bukannya Aditia menjawab langsung menyambar istrinya hingga Inayah tidak bisa bernafas. Inayah berusaha mengimbangi Permainan Aditia, Suaminya. dan penutup wajah itu tergeletak di atas sofa tempat Aditia duduk.
"Maaf, aku merindukanmu." Aditia sadar harusnya tidak melakukan itu di ruang kerja Inayah.
Inayah mengusap bibirnya. Lalu, Aditia kembali mengambil penutup wajah istrinya.
"Sini aku pasangkan." pinta Aditia.
"Aku hanya sangat merindukan dirimu."
"Kalau begitu kita pulang. ini sudah jam pulang. Aku akan memasakkan makanan enak untukmu." Inayah mencoba menghibur dirinya atas rasa penasaran dengan apa yang dipikirkan suaminya.
Inayah paham. Mungkin Aditia akab bercerita nantinya di rumah. Namun, bukannya ke rumah, Aditia memutar mobilnya menuju sebuah pantai tempat saksi cinta pertama mereka bersemi.
"Ayo turun!" Aditia pun lebih awal turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Inayah.
Cukup lama Aditia dan Inayah menatap lautan lepas di depannya. Aditia pun memeluk Inayah dari belakang dan berkata,
"Inayah, jangan pernah menyalahkan siapa pun setelah kau mengetahui sesuatu."
Terlihat mata Indah itu seakan tidak berkedip sama sekali. Inayah berbalik badan hingga terlihat keduanya saling menatap dengan kedua tangan Aditia melingkar di pinggang istrinya.
"Apa maksudnya, Mas? Katakan yang sejelas-jelasnya."
"Sebelum aku menikahi dirimu, Inayah, aku mengikrarkan sebuah janji pada Raka tentang masa laluku. Aku akan menyerahkan diri pada pihak hukum." Aditia langsung memeluk Inayah dengan sangat erat setelah mengatakannya.
Inayah melepaskan pelukan itu dengan paksa. Namun, Aditia tidak melepaskannya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku mengikatmu dalam sebuah pernikahan dan akan meninggalkanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu, Inayah! Itu alasanku!"
Inayah semakin terisak mendengar kata-kata Aditia hingga penutup wajah itu basah.
__ADS_1
"Apa kau tahu Inayah, Aku sangat tersiksa dan ini pantas untukku, Inayah. Ini keadilan untukku. Berpisah darimu hal yang begitu berat, Inayah. Aku mencintaimu." Aditia dan Inayah sama-sama dalam luka.
Inayah membalas pelukan suaminya. Seakan jari jemari pelukannya itu mewakili perasaan Inayah jika dirinya juga sama. Berat untuk berpisah. walau itu hanya sementara. Namun, Siapa yang tahu akan umur.
"Aku berharap... Allah memberiku kekuatan. Aku berharap... Allah menjagaku. Aku berharap... Allah memberiku keikhlasan dalam ujian ini, Mas. Aku juga sangat mencintaimu, Mas." Inayah semakin terisak.
Hati Aditia begitu sakit mendengar lara itu. Tidak tahan dan semakin memeluk istrinya. Setelah keduanya merasa tenang Aditia pun melepaskan pelukan itu.
"Inayah, berjanjilah padaku untuk tidak bersedih. Karena aku tidak mampu melihat hal itu." Kedua tangan Aditia memegang kedua wajah istrinya.
Mata Inayah tertuju menatap dua manik mata hitam milik suaminya. Inayah mengangguk walau hatinya tidak bisa di pungkiri.
"Ayo kita pulang, Mas. kita ke rumah Ibu dulu."
***
Tiba di rumahnya, Inayah langsung memeluk Ibu Fatimah. Ummi Humairah datang bersama Asifa yang sebelumnya di telepon oleh Raka.
"Kamu harus mengikhlaskannya, Nak. Ini ujian untukmu.
"Kau akan faham makna dibalik semua ujian yang ada ketika kamu mampu melewatinya." sambung Ummi Humairah.
Inayah semakin terisak. Berat rasanya untuk melepaskan. Tubuh Inayah terlihat gemetar menahan tangis. Aditia tidak sanggup melihat hal itu dan merutuki dirinya dalam hati.
"Nak, keputusanmu sudah benar. Maafkan dirimu sendiri. Tenanglah, Inayah akan baik-baik saja. Jalani hukuman kamu dengan tenang." kata Ibu Fatima pada anak mantunya. Aditia mengangguk. usai berkunjung mereka pun pulang.
***
Seakan itu merupakan malam perpisahan untuk sepasang suami istri. Aditia menghabiskan malamnya dengan istri tercinta.
"Sayang, jaga dirimu baik-baik. Ibu Sumi akan ikut bersamamu di Villa. Maafkan aku."
Sebagai pengusaha sukses tentu keluarga berusaha menyembunyikan skandal yang terjadi pada Aditia. Karena hal itu bisa mempengaruhi nama baik perusahaan. Aditia di beritakan pergi berobat atas penyakit yang di deritanya. Untuk itu Inayah terpaksa ikut di mana Aditia akan menjalani hukuman atas perbuatannya yang tuntut oleh Raka dan Amira.
Jauh hari sebelumya Inayah pernah mengantarkan Aditia menemui prof Jimmy. Hingga beberapa kali dan berhasil menemukan semua ingatannya. Aditia meyakinkan pada Inayah, jika masa lalunya bersama Marina sudah tidak ada lagi.
"Mas, Apa bisa nanti aku menemuimu?"
"Sayang, cukup aku yang tahu seperti apa bui itu. Tidak perlu mengunjungi aku. Aku akan lebih sakit jika melihat mata indah ini menjatuhkan lara."
"Bagaimana jika aku nanti merindukanmu, Mas."
"Aku tidak akan merindukanmu."
"Benarkah?" Inayah mengikuti candaan suaminya.
"Iya, aku akan melupakanmu." kata Aditia yang tidak sesuai dengan fakta.
"Maka aku akan merindukanmu."
"Jangan merindukanku."
__ADS_1
Aditia kembali memeluk istrinya. Ujian cinta itu kembali lagi. "Ya Allah, aku titip istriku pada-Mu. Ampuni aku."