Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 85. Tersampaikan


__ADS_3

"Maafkan aku, Sayang."


"Mas Adit, tidak ada yang perlu di maafkan. Apa salah suamiku. Mas sudah mempertangungjawabkan semuanya. Aku juga bukan manusia sempurna. Aku hanya kasihan padanya, Mas. Di mana anaknya sekarang?"


"Jagan mudah kasihan, Sayang."


"Biar bagaimana, Mas, Dia juga wanita. Wanita yang harusnya dilindungi. Bukan...."


"Sudah, Sayang. Pikirkan aku saja." Aditia meraih tangan istrinya dengan tangan yang satunya sambil menyetir kemudi mobil.


"Bagaimana bisa kamu ada di sana?" Aditia menatap lurus dengan tangan inayah masih dalam genggamannya yang kini tangan keduanya terpaut di atas paha aditia.


"Maaf Mas, Aku mengikuti dirimu. Aku takut akan tejadi sesuatu. Bukan aku tidak percaya."


"Aku percaya padamu," sela Aditia.


"Masih ada yang menghambat pikiranku sekarang. Zaki."


"Zaki? kenapa Tuan Zaki?"


"Tidak. Aku hanya berfikir ke sana. Bagaimana kabar Sifa dan Zaki?" Aditia segera merubah ucapannya. Rasa cemburunya tidak mungkin dia tampakkan pada Inayah sekarang.


"Kemarin, Sifa pernah pernah menelpon aku. Sepertinya Sifa baik-baik saja," jawab Inayah.


"Apa ada Zaki ... juga di samping Sifa?" Aditia terus menyetir. Sesekali terasa mobil itu sedikit laju.


Inayah merasa ada yang di sembunyikan oleh suaminya.


"Tidak ada. Tuan Zaki ada kerja."


"Kamu menayangkan Zaki kemarin?"


"Iya. Aku bertanya pada Sifa. karena sifa yang mengatakan di tinggal sendiri di rumahnya. Dan nenek Sofia juga pergi ke kantor. Seperti itu."


"Lain kali jangan tanyakan tentang Zaki. Aku tidak mau kamu bertanya padanya mengenai Zaki itu."


Inayah melihat ke arah suaminya dan tertawa. Hingga terdengar suara tawanya pada Aditia.


"Mas?" Suara lembut Inayah memanggil suaminya.


"Apa?" jawab cuek Zaki dengan wajah cemburu.


"Mas Adit?"


"Ham...?" jawab Aditia.


Inayah memposisikan dirinya dan melihat suaminya. Sehingga terlihat jelaslah Aditia di mata Inayah.


"Pangeran, Anda tampan dan lucu bila menampakkan rasa cemburunya, deh. Aku semakin jatuh cinta oleh suamiku." Inayah menggoda suaminya.


"Jangan menggodaku, Inayah putri Abdullah."


"Mas?" kembali Inayah memanggil dengan begitu lembut.


"Inayah, jangan memancingku. Ini di mobil. kita dalam perjalanan. Apa kamu mau, aku melakukannya di sini."


"Apa hubungannya, Mas. Tidak ada, lho?"


Aditia tiba-tiba berhenti. "Kita ke puncak."


"Mas, kita tidak punya pakaian ganti. Dan Rayyan?"


"Jangan pikirkan yang lain. pikirkan saja aku seorang." Terdengar egois.


Aditia melajukan mobilnya menuju puncak. Sebelum menuju puncak, Aditia singgah di pusat perbelanjaan.


"Ayo turun." Aditia membukakan pintu mobil untuk Inayah.


"Sekarang kita masuk dan membeli kebutuhan kita." lanjut Aditia.


"Mas serius? Kita akan ke puncak?"


"Ya... Aku ingin kepuncak. Aku ingin menikmati hidup ini bersamamu. Hanya kita berdua. Aku ingin mengajakmu pacaran di puncak."


Inayah tertawa mendengar ucapan Aditia. Aditia menyematkan jari jemarinya dengan Inayah masuk di pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Sebagai wanita, Inayah begitu bahagia. Bahagia dengan perhatian kecil yang diberikan Aditia untuknya.


"Jangan menatapku sepeti itu, Inayah. Ayo cepat ambil kebutuhan kamu. kita harus sampai kepuncak sebelum sore tiba.


"Mas, Bukankah Ini produk perusahaan kamu?" Inayah melihat Bra yang ada. Inayah ingat dirinyalah saat itu membuat desainnya."


"Iya. kenapa?"


"Kenapa mereknya beda?"


Aditia melihatnya, Itu merek orang lain.


"Tuan, ada yang bisa kami bantu?"


"Siapa pemilik ini?"


"Nona Marina, Tuan. Apa Tuan ada perlu?"


"Tidak ada." Aditia meletakkan kembali bra bermerek itu pada tempatnya.


"Kita nikmati dulu. Aku akan mengurusnya nanti. Aku tidak mau memikirkan hal ini. Aku ingin bersamamu, Inayah. Ayo kita berangkat."


Aditia merangkul istrinya. kembali berkata, "Ingat, pikirkan aku saja."


Inayah kembali merasa lucu dengan pria disampingnya yang serius mengemudi. Tidak ada bosannya Inayah menikmati wajah suaminya yang kembali datar.


Ibu Hanum dan lainnya menelpon lewat panggilan video. Inayah menjawabnya. "Kami baik. Kalian jangan khawatir. Mas Aditia juga sudah bersamaku."


"Kalian akan kemana? Dadar anak ini tidak ada berita kemari. Bagaimana khawatirnya kami," omel Ibu Hanum


"Kami akan ke puncak. Aku akan membawa istriku dari gangguan." jawab Aditia sambil menyetir.


Tampak Ibu Hanum maupun Ibu Fatimah geleng Kepala tanpa pemberitaan.


"Ibu, ini urusan anak muda. Ibu tunggu saja hasilnya." Seketika Aditia mendapat cubitan kecil dari Inayah.


Ibu Hanum serta Ibu Fatimah tertawa dibalik layar yang kebetulan akan bermalam di rumah tersebut. Ibu Fatimah tidak hentinya bersyukur dalam hati melihat Inayah begitu bahagia.


"Sayang, Mengapa mencubit aku. Ini namanya KDRT, lho..."


"Biarkan saja." terlihat merajuk. setelah panggilan telepon terputus.


"Program?" ulang Inayah.


"Ham..." jawab Aditia. "Program adiknya Rayyan," tawa Aditia. Dan mobil pun sampai di tujuan.


"Sayang, kamu masih ingat bahasaku dulu saat aku akan melamarmu?" Aditia mengingatkan pada Inayah. "Aku mengatakan bahwa aku mau punya banyak keturunan dari ibu sepertimu. Sepertinya aku bisa membantumu menjaga mereka."


Inayah hanya geleng kepala mendengarkan candaan suaminya.


***


Dilain lain kota, Sifa mendengar semua tentang Inayah, kakak tirinya. Dirinya begitu khawatir akan Inayah. Namun, rasa khawatirnya terobati setelah mendapat video call dari inayah.


"Kakak di puncak? sweet bangat, Kak." Sifa berbinar.


Zaki mendengar hal itu. Zaki bisa melihat kemesraan Aditia di balik layar memperlakukan Inayah.


"Sejak kapan kakak di puncak?"


"Ini barusan Sampai." Inayah terlihat begitu menikmati.


Sifa terkejut ketika tangan kokoh itu memeluknya dari belakang.


dibalik layar Aditia bisa melihat keberadaan Zaki dan meminta Inayah mengakhir panggilannya.


Namun, Sifa lebih dahulu memutus kontak mereka.


"Aku bisa membawamu kemana pun kamu pergi."


"Tidak perlu. Anda tidak pernah paham masalah hati."


Begitu akan beranjak Zaki berbisik dan memintanya untuk bersiap.


"Temani aku ke pesta malam ini."

__ADS_1


"Pesta? Tuan mengajak aku ke pesta. Aku tidak punya gaun? Aku tidak mau!" tolak Sifa.


"Ambillah ini. Aku sudah menyiapkannya untukmu. Dandan yang cantik. Jangan mempermalukan aku."


"Kalau tuan takut aku memperlakukan, kenapa ajak aku."


"Karena kamu istriku, Sifa."


"Istri kontrak, Tuan."


Zaki mendekat. "Walau kau istri kontrak, pernikahan kita sah. Aku sudah membuat surat nikahnya."


Sifa terdiam. Zaki keluar dari kamar menuju dapur. Sifa mengikutinya dari belakang.


"Mau apa?"


"Aku lapar." jawab Zaki masih dengan kemeja kantornya.


"Biarkan aku memasak. Bukankah di surat kontrak menyiapkan makanan adalah tugasku saat kamu ingin?" Sifa akan merebut alat penggorengan dari tangan Zaki.


Justru Zaki mengangkat tubuh kecil Sifa duduk di atas meja dapur.


"Diam saja di situ!" Zaki mengikat kedua tangan Sifa ke belakang dengan tali rafia yang ada agar Sifa tidak menganggnya.


"Lepaskan ini, Tuan Zaki! aku akan jatuh!"


"Kau akan jatuh jika banyak bergerak. jadi, diamlah!" tegas Zaki.


"Tuan, ini namanya penganiayaan...."


"Penganiayaan kasih sayang. biarkan aku memasak untukmu. Dilarang baper," jawab Zaki.


"Ih, siapa yang baper tuan Zaki terhormat."


"Kamu." lirik Zaki dan kembali Zaki merasa lucu dengan muka judes Sifa. "Memangnya di sini ada berapa orang? cuma kita berdua, Kan?" Zaki terlihat serius dan cekatan memotong sayur.


Sifa terus mengamati Zaki terlihat serius memasak. Ada perasaan aneh kembali muncul. Begitu dirinya menoleh Sifa berteriak.


"Kecoak!" teriak Sifa yang membuat Zaki ikut terkejut. Hingga pada akhirnya tubuh Sifa jatuh dan segera Zaki menyelamatkan Sifa.


Buk!


Tubuh keduanya jatuh tepat ke lantai dan Sifa berada di atas Zaki dengan wajah keduanya saling menyatu.


Hingga Zaki tidak bisa elak. Jantungnya berdebar. Bukannya melepaskan Sifa, Zaki memperdalam tanpa izin dari Sifa yang masih berada di atasnya.


Cukup lama. kemudian Zaki melepaskan dan juga melepaskan ikatan Sifa. Sifa segera berdiri memperbaiki posisinya dan di susul oleh Zaki.


"Rasa manis." ucapan Zaki begitu santai.


Sementara Sifa tidak percaya dengan barusan Zaki lakukan padanya.


"Aku akan mandi." Sifa berlalu.


Zaki tersenyum melihat wajah merah Sifa dan kembali melanjutkan kegiatannya. Usai memasak, Zaki membawa makanan itu masuk kamar.


"Sifa!" Kau masih dikamar mandi?" Zaki tersenyum melihat handuk Sifa ketinggalan. "Sepertinya kamu melupakan sesuatu. Apa mau aku bantu? Jangan sampai kamu kedinginan di dalam Sifa."


Zaki meletakkan makanan itu dan kemudian membawa handuk Sifa. Terlihat pintu Kamar mandi terbuka sedikit.


"Mana handuk aku?" mengulurkan tangannya.


"Zaki membuka pintu kamar mandi itu dengan lebar dan seketika, menarik tangan Sifa dan langsung menutupi tubuh molek itu yang belum pernah terlihat olehnya dan adrenalin Zaki seketika mendorongnya untuk meminta haknya pada Sifa.


"Aku menginginkannya sekarang." kata Zaki meletakkan Sifa dengan pelan.


***


✍️✍️✍️✍️✍️✍️ Terus berikan dukungan buat Author. Terimakasih pembaca setia


KU MENEMUKAN HATIKU YANG HILANG. 🥰🥰🥰🥰


Zaki akhirnya minta juga haknya 🤭🤭🤭 dilarang menghayal, Author gak tangung jawab. Hanya suami istri boleh baper ya... khusus cerita ini untuk yang suami istri.


"Ciptakan kebahagiaan itu bersama kekasih halalmu. Karena sesungguhnya, kebahagiaan itu terletak dalam diri kita sendiri."

__ADS_1


Untuk kekasih halalku... 😍😍😍


ku ungkapkan lewat tulisan ini. Aku SAYANG KAMU🤭🤭🤭 uhibbuka.


__ADS_2