
"Ingatlah, Allah selalu memberikan kelebihan di balik kekurangan. Allah juga selalu memberikan kekuatan di balik kelemahan."
***
Aditia
Satu tahun lamanya, aku akan kembali setelah kejadian waktu tidak mengenakkan dan menyakitkan. Saat aku kecewa, justru aku mendekatkan diri pada pemilik hati. Meratapi diriku hingga aku putuskan dan meninggalkan kotaku. Tapi, sekarang aku pahami, itu adalah cara Allah memperbaiki hamba-Nya, itulah cara Allah memanggil Hamba-Nya.
Saat itu, aku berusaha keras utuk ikhlas. Inayah, seorang wanita yang menjadi perantara hingga aku menemukan damai dalam hidup. bagaimanakah kabarmu, Inayah?
Aku sangat yakin, jika cinta sejati akan datang tepat waktu. Itulah sebabnya akan selalu berharap meskipun pernah merasa kecewa yang ketiga kalinya. Hingga aku takut untuk kembali mencintai.
***
"Iya Ibu, secepatnya aku kembali ke indonesia. Ibu tenang saja. duduk manis dan sambut putramu." tawaku di balik percakapan telepon dengan Ibu.
"Jangan lupa, siapkan dirimu bila sampai di sini," sahut ayah.
"Baik, Tuan Subari. Aku tidak perlu khawatir. Ada dewa penolong." tawaku lagi mendengar di ujung telepon Ibu merungut.
Sebenarnya aku tidak suka cara Ibu yang terus memaksaku terus ikut kencan buta dengan gadis-gadis pilihannya.
***
pesawat landing, aku mengedarkan pandanganku. Akhirnya aku tiba di kotaku. kupijakkan kaki di tanah kelahiranku.
wajah yang pertama terbayang. INAYAH.
"Sudahlah, Adit. lupakan Inayah. Inayah sudah bahagia,"
Teo menjemputku seperti biasanya dan mengambil koper dari tanganku.
"Tuan, selamat datang kembali."
"Bagaimana kabarmu? kau tampak gemuk sekarang," aku meledek sekretaris pribadiku.
"Tuan, gemuk darimananya? Nona Alina setiap hari menyiksaku dengan meminta di antar ke kampus. Bahkan saat kerja tugas di rumah temannya, aku diminta menunggunya sampai bosan. bayangkan saja tuan muda jika tuan muda di posisiku. Jika ada pilihan, lebih baik aku di minta menggantikan rapat di kantor."
Aku tertawa mendengar laporan Teo.
"Lalu, apakah Tuan Muda akan langsung ke rumah?"
Teo sepertinya tahu keinginanku.
"Kita ke suatu tempat," pintaku pada Teo.
Teo mengangguk dan benar saja dia tahu kemana arah tujuanku. Sepanjang perjalanan aku teringat kembali saat amnesia.
"Tuan, Apa aku sebaiknya di mobil saja. Aku akan menunggu Tuan Muda di sini."
"Baiklah."
__ADS_1
Perpisahan terakhir dengan Inayah, aku menunggunya hingga bodoh dan tidak kunjung tiba. kata terakhir ia katakan, 'carilah kebahagiaanmu. Berbuatlah karena memang kamu ingin berubah dan memperbaiki diri. Tidak ada manusia sempurna, kak. Aku yakin, suatu hari nanti kau menemukan yang tebaik. Percayalah! '
"Tuan?" aku menoleh siapa memanggilku.
"Tuan, mungkin ini milik anda?" seorang laki-laki berumur mengulurkan tangannya.
Aku melihat ditangannya. 'Mengapa bros Inayah yang dulu ada di sini?'
"Tuan, apakah itu milikmu?" tanyanya lagi menatapku.
"Biar aku simpan, terimakasih," ujarku.
"Oh baiklah. Sepertinya barang ini sengat berharga." ujar pria paruh baya itu.
Aku hanya tersenyum dan memasukkan benda itu di dalam saku. Begitu aku berbalik badan, aku melihat mirip seseorang.
"Inayah?" wanita itu berbalik dan aku malu sendiri.
"Astaghfirullah," gumamku. "Maaf aku salah orang."
"Inayah bagaimana kabarmu? bahagiakah dirimu? kamu pasti sudah bahagia? kamu pasti sudah memiliki anak-anak yang lucu." Aku bergumam sendiri.
lamunanku buyar dengan panggilan masuk di ponsel milikku.
"Iya Ibu."
"Di mana kamu. Apa Teo sudah menjemputmu?" suara Ibu dibalik telepon begitu keras.
"Iya, Teo sudah menjemputku. sekarang kami sudah dalam perjalanan, Ibu."
"Baiklah. Hati-hati dijalan." panggilan Ibu berakhir.
kumelenggang pergi meninggalkan bibir pantai tempat pertemuan pertamaku dengan Inayah sekadar mengenang masa lalu yang tidak pernah mungkin bisa kembali terulang.
"Tuan sudah kembali?"
"Ya, seperti kamu lihat, aku sudah di dalam mobil. Jalan! kita kesuatu tempat. Taman kota," perintahku pada Teo.
"Baik, Tuan." Teo pun melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mobil kami sampai di tujuan. Aku turun dari mobil dan berjalan seorang diri dan duduk di mana tempat pernah aku dan Inayah bertemu saat amnesia dulu.
"Inayah, doaku untukmu, kau bahagia."
Masih ingat tempat berteduh ketika hujan turun. Mata indah itu menatap kasihan dan peduli dengan keadaanku saat itu. Dengan sabarnya, Inayah menjawab semua pertanyaanku hari itu.
"Tuan, nyonya sudah menelpon."
Teo menyerahkan ponselku yang tertinggal di mobil.
"Tidak usah di jawab, Teo. Ayo kita kembali!"
__ADS_1
***
Inayah.
"Bagaimana kabar Aba?" apa kata dokter, kak?" entah mengapa siang itu aku merasa ketakutan. Sedari tadi aku merasakan firasat buruk hingga aku menelpon kak Raka.
"Aba kritis. cepatlah kembali!"
"Apa?"
"Tenangkan dirimu. jemput Ibu dan Asifa. Tadi siang, Ibu kembali untuk berganti."
"Baiklah, aku segera kembali."
Seluruh tubuhku seakan tidak mampu lagi untuk digerakkan mendengar kabar buruk Aba.
Sebelumnya, Aba sudah terlihat baik dan sudah makan banyak. Bahkan sudah rutin membaca Al-Quran seperti biasanya. Namun malam itu usai shalat subuh, Aba kembali drop.
Segera bergegas dan menancap gas mobil di atas rata-rata. Pesan Aba terngiang di benakku.
"Inayah, jangan takut memulai hidup baru. kelak seorang lelaki datang padamu karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Jadikan peristiwa sebelumnya pelajaran berharga dalam kehidupanmu, Nak." Aba menatapku. Terlihat wajah aba bersinar.
"Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan. Layani ia dengan kehangatanmu Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu. Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu. Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu. Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu. Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu. Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar’atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia."
Tiba di rumah sakit, kudapati Aba menarik napas berulang kali. Ustadzah Makmur sudah berada di samping Aba menuntunnya. Aku tidak sanggup untuk menatap Aba.
'Aku belum siap Aba pergi. Aku belum sanggup. Aku masih membutuhkan Aba.' batinku.
Terlihat seluruh tubuh Aba mengeluarkan biji keringat degan mata tak berkedip sama sekali. pandangan Aba terus tertuju melihat ke atas.
Kak Raka memberiku kode untuk tetap bersabar. ku tundukkan pandanganku ketika Aba mulai menarik napas begitu lama hingga Aba akhirnya mengehembuskan nafas terakhirnya. Ustadz Makmur menoleh melihat kami.
Aku berdiri di tempat melihat ustadz Makmur mengusap wajah Aba.
"Ini tidak mungkin. Aba! Aba! teriakku. "secepat inikah Aba pergi?"
Seketika tubuhku ambruk. Aku tidak sadarkan diri. Aku belum bisa menerima kenyataan yang menimpaku secara beriring.
"Inayah, sadarlah, Nak! Jangan seperti ini. Inayah, lihat Ibu, Nak. ingat pesan Abamu." suara Ibu terdengar di telingaku. Namun aku tidak mampu untuk membuka mataku.
Bahkan suara Asifa sangat jelas memanggil Aba.
"Aba! bangun Aba. Jangan pergi! Jangan tinggalkan kami, Aba! Sifa belum sarjana. Aba belum melihat Sifa menyandang sarjana, Aba."
Suara isak Sifa membuatku benar-benar kehilangan sosok ayah. Sosok ayah yang selalu memberikan dorongan semangat dan panutan bagi keluarganya.
"Aba?" panggilku dalam keadaan masih mata tertutup.
BERSAMBUNG!
Terus berikan dukungannya, buat Author semangat terus up up up... jangan lupa ya like, komen dan beri vote.... 😍😍🥰🥰🥰
__ADS_1