Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 56. Cerita Alina


__ADS_3

Alina pulang dari kantor dengan wajah lesu dan mendapati ayah dan ibunya sudah tiba dari luar kota.


"Sejak kapan ayah dan ibu tiba? Bagaimana kabar kak Inayah? Dan kak Aditia bagaimana kabarnya?" tanya Alina yang langsung duduk di dekat ibunya.


"Mereka semua baik. Dan kabar lebih baiknya lagi. Kak Inayah hamil," ungkap Ibu Hanum tersenyum bahagia.


"Hamil? Kak Inayah hamil, kok bisa?"


"Kok bisa? Ya bisalah, kamu pikir Aditia Impoten?" Ibu Hanum menatap Alina sambil geleng kepala.


"Maksud saya, Bu, kenapa kabar Kak Inayah hamil saat kak Aditia tidak ada. Pasti kak Inayah merindukan suaminya. Drama Korea yang sering aku ikuti saat ngidam suaminya memanjakan istrinya. Apa ayah seperti itu?"


"Mana ada yang ada ayahmu...." Ibu Hanum diam. Mengingat masa lalu mereka saat hamilkan Alina.


Tuan Subari menoleh kearah Ibu Hanum. Lalu, Tuan Subari bergeser ke tempat duduk Ibu Hanum. Tuan Subari menggenggam tangan istrinya dan berkata,


"Maafkan ayah. Masa lalu ayah mungkin sangat menyakitimu." Tuan Subari memasukkan tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Baiklah. Lanjutkan drama kalian. bikin baper saja. Alina kan jomblo, Ayah." Alina berdiri.


Tuan Subari dan Ibu Hanum tersenyum.


"Alina, Ibu mau bicara," sahut Ibu Hanum menghentikan langkah Alina.


Alina berhenti. Berbalik badan melihat ayah dan ibunya. Terlihat Tuan Subari memberi kode pada Istrinya. Namun, Ibu Hanum tetap dalam pendiriannya.


"Ada apa, Ibu?"


"Ibu beri kamu kesempatan selama satu bulan. Dalam satu bulan kamu tidak bawa calon suamimu ke rumah, Maka kamu akan ibu nikahkan dengan pria pilihan Ibu."


"Apaan sih, Bu. kok Ibu seperti ini," Alina tidak terima. "Ayah, kok Ibu seperti ini, sih?"


"Ya... biar ada yang jaga kamu, Alina." ujar Ibu Hanum.


"Aku tidak mau di paksa seperti ini, Bu. Kenapa sih, sifat Ibu egois begini?" ujar Alina meninggalkan kedua orang tuanya.


"Pikirkan baik-baik Alina." Ibu Hanum tersenyum melihat putrinya terlihat kesal.


"Ibu, kok tega seperti itu pada putri kita. Kasihan dia, jika Ibu seperti ini. Ayah tidak mengerti dengan Ibu sekarang." Tuan Subari menikmati kopi hangatnya.


"Cukup ayah dukung Ibu. Siapa tahu Dia punya calon untuk dikenalkan ke pada kita. Kita ini sudah tua Ayah. Dan Alina sudah cukup matang untuk menikah," jawab Ibu Hanum.


Sementara Alina sendiri di kamarnya berkacak pinggang melihat dirinya di cermin.


"Menikah? dengan siapa?" Alina menatap dirinya di depan cermin.

__ADS_1


Alina mulai membuka pashmina miliknya dan bersiap mendinginkan badannya.


Alina kemudian ingat Arjuna. "Arjuna? Alina teringat Arjuna. "masa aku minta dia menikahi aku?" pikir Alina.


Alina kembali mengingat keluh Arjuna pada teman sejawatnya beberapa hari lalu. Saat di mana Alina sedang datang berkunjung memeriksa keuangan Restoran hotel hari itu. Tidak sengaja mendengar Arjuna tengah di pusingkan masalah keuangan untuk kuliah adiknya juga untuk pengobatan ayahnya.


Alina tersenyum. Sepertinya dia punya ide. Alina berguling-guling di atas kasur. Setelah itu Alina berniat melakukan vidio call dengan Inayah, sang kakak Ipar.


Cukup lama Alina menunggu hingga Inayah menjawab video Callnya. Terlihatlah Inayah di balik layar dengan tanpa mengenakan hijab. keduanya Saling menyapa. Inayah terlihat matanya sedikit basah.


"Kak Inayah habis menangis?" tanya Alina dalam video call mereka.


"Tidak kok, Cantik. Kakak habis shalat Ashar," ujar Inayah yang memang barusan selesai shalat ashar.


"Tapi, kak Inayah habis menangis, kan, dalam doanya? Aku pernah kok seperti itu."


"Kamu kenapa video call kakak. pasti ada apa-apa, kan?" tanya Inayah mengalihkan perhatian Alina."


"Selamat ya kak, atas kehamilan kakak. Kak Aditia pasti sangat bahagia istrinya hamil." Senyum Alina mengembang.


"Pastinya. InsyaAllah kami pasti akan kembali bersama suatu hari nanti," ucap Inayah di balik layar. Terlihat Inayah mengusap perutnya. Sebisa Inayah untuk bisa lebih baik.


"Lantas kamu sendiri, Kenapa? terlihat wajahmu sedang menggambarkan sesuatu hal sedang dipikirkan. Ada apa?" tanya Inayah menunjuk wajah Alina di balik layar.


Alina pun mulai menceritakan Ibu Hanum memintanya mencari calon suami sehingga Inayah tertawa. Alina bahagia bisa melihat kakak iparnya tertawa.


Alina sedang berfikir. "Kenapa kakak menatapku seperti itu?"


"Kamu sedang mencintai seseorang?" tanya Inayah. Alis dan mata Alina mengingatkan Inayah pada suaminya.


"Tepatnya Aku mengaguminya, Kak," jujur Alina malu.


"Baiklah. Lalu?" lanjut Inayah.


"Aku ingin meminta dia menikahi aku. Aku serius kak!" Suara Alina terdengar bersemangat. "Aku tidak mau memendam perasaanku padanya. Jika dia menolak aku. Yang jelasnya aku sudah mengatakannya." kata Alina yang terdengar bar-bar.


"Baiklah. Aku cukup mendoakan kamu dari sini. Apa kamu yang akan melamar Arjuna?" ledek Inayah lagi.


"Dialah, Kak.Dia kan pria. Aku akan meminta dengan caraku. Yaitu, Aku akan membantu keluarganya dengan imbalan dia akan menikahiku. Beres, Kan?"


"Kamu yakin? Bagaimana jika seandainya cintamu bertepuk sebelah tangan. Apa kamu mau hidup bersama tanpa ada rasa cinta?" ucap Inayah dengan lembut.


Cukup lama Alina terdiam. lalu berujar, "Aku yakin dengan keputusanku."


"Pikirkan baik-baik. pernikahan itu bukan main-main."

__ADS_1


Alina mengangguk. Lalu kembali menyahut. "Kak Inayah, kak Inayah ngidam, tidak? misalkan seperti mau makan yang asam, begitu?"


"Iya, dan setiap aku katakan pada Bibi Sumi apa yang aku mau. Pasti ada. Aku juga heran. Dari mana Bibi Sumi dapatkan." Inayah baru berfikir di mana Bibi Sumi begitu cepat dia dapatkan setiap makanan yang ingin di makan olehnya.


"Apa Bibi Sumi tidak mengatakannya? Bisa saja, kan, Bibi Sumi minta pada satpam atau supir pribadi kakak di sana membelikannya," ujar Alina.


"Mungkin saja," kata Inayah lagi menanggapi perkataan Alina.


"Baiklah, kak. Kakak banyak istirahat, ya. Aku sayang kak Inayah."


Video call keduanya berakhir. Alina menatap layar ponselnya. Sebenarnya apa yang dikatakan Inayah ada benarnya.


Sementara Inayah sendiri menatap juga menatap foto pernikahannya dengan Aditia yang dijadikan sebagai wallpaper di ponselnya. Tidak sadar jika Bibi Sumi sedang mengintipnya.


"Mas Adit, seperti bagaimana wajahmu sekarang? ini sudah masuk tiga bulan kita berpisah. Seberapa lama lagi kita dipisahkan?" gumam Inayah mengecup foto sang suami.


***


Begitu juga dengan Aditia. Dirinya juga teringat dengan Inayah. Walau jauh dari Istrinya, Aditia tidak kehilangan akal memberi keamanan untuk sang istri. bahkan semua kegiatan Inayah Aditia mengetahuinya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji setelah keluar dari tempat ini, aku akan membalas penantianmu. Tunggu aku, nayah. walau aku tidak tahu kapan masanya." batin Aditia termenung."


"Hai bro?" Rudi teman Aditia ditempat itu menepuk bahunya. "Kamu pasti merindukan istrimu?"


"Tidak perlu dipertanyakan lagi. Ini menyiksaku."


"Itulah makanya aku tidak ingin menikah. Namun, seseorang memfitnah aku hingga berada di tempat ini. Dia menjebak aku."


"Bagaimana bisa kamu terjebak?" tanya Aditia melupakan sejenak tentang kerinduannya pada Inayah.


"Dia mencintaiku dan aku tidak suka padanya. Dia terus mengejar aku. Aku pusing dengan wanita itu. hingga hari itu aku tidak sadarkan diri dan sudah berada di dalam hotel bersamanya. karena aku tidak mau menikahinya dia melaporkan aku hingga aku berada di tempat ini." Rudi geleng kepala.


Aditia tersenyum."Wajar saja dia mengejar kamu. Kamu jomblo, lajang dan tidak beristri."


"Kau meledekku?" tanya Rudi.


"Nikmati saja masa lajang kamu sampai tua, bro." Aditia tertawa mentertawakan Rudi dan lainnya ikut tertawa hingga penjaga di sana ikut tertawa mendengar pembicaraan mereka.


"Bro, keluar dari sini nantinya, aku berharap menerima undangan pernikahan darimu?" lanjut Aditia kembali mentertawakan temannya.


"Mau menikah dengan siapa dia? Calon tidak ada. Mungkin jodohnya belum lahir kali.... "timpal teman satunya yang badannya cukup berotot.


Melihat teman-teman Aditia tertawa dirinya kembali teringat dengan senyum dan senda gurau Inayah.


"Bersabarlah, bro.' Rudi menepuk bahu Aditia.

__ADS_1


***


Terimakasih masih terus mendukung Author. Masukkan dalam daftar Favorit kalian biar terus dapat Up terbarunya. πŸ™πŸ™πŸ™β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ˜


__ADS_2