
eits! habis baca, beri komentar, ya kak. Jangan lupa terus ikuti perjalanan Inayah dan Aditia selanjutnya.
***🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Tiba di hotel, Aditia dan Inayah langsung menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya sebelum masuk acara resepsi malamnya.
Mata Inayah terpukau dengan dekorasi yang begitu cantik serba putih.
"Kau menyukainya?"
"Semua tampak mewah, Mas."
"Ini belum mewah," timpal Aditia di belakang Inayah.
"Maksudnya?" suara Inayah degan lembut.
Aditia berjalan kemudian dengan lembut meraih kedua pundak Inayah dan memintanya duduk di tepi ranjang.
"Ini tidaklah seberapa mewah Inayah, dibandingkan sekarang kau bersamaku. Aku sangat bahagia, Inayah. Terimakasih kekasih halalku. Ajari aku menjadi iman yang baik untukmu."
Mata keduanya kembali bertemu dengan jarak begitu dekat.
"Bolehkah aku melihat kembali wajah ini?"
"Bukankah sebelum lamaran kau menatap wajah ini?"
"Aku merindukannya. Terus menutup wajahmu. Cukup aku yang memandangnya." Aditia mulai melepaskan pengikat kain tersebut. Mata Aditia tidak berkedip sedikitpun. Lalu jari kokoh itu mengelus lembut wajah itu cukup lama hingga berakhir dibibir Inayah. Mengelus lembut bibir itu dan menatapnya.
"Aku akan membantumu melepaskan riasan ini." kata Aditia lagi.
Inayah mengangguk dan membantu Inayah melepaskan aneka aksesoris yang melekat di bagaian kepalanya.
"Ribet, ya, jadi pengantin wanita?" omel Aditia saat membantu Inayah melepaskan aksesorisnya.
Inayah terkekeh. Apa lagi Sampai Aditia menghitung jarum pentul yang melekat.
"Aku bayangkan bagaimana repotnya pengantin yang di sanggul."
"Dulu waktu masih kurang orang memakai hijab. Saudara ibu ada seperti itu," timpal Inayah. "Rambut mereka setelah usai acara di bantu dengan bedak tabur agar mudah di sisir. Katanya."
"Benarkah. untungnya aku laki-laki. Jadi tidak perlu repot seperti ini."
Inayah kembali tertawa hingga gigi putih yang berderet sangat jelas terlihat. Dan itu pertama kalinya Aditia melihat senyum itu.
"Ternyata, istriku sangat cantik bila tersenyum seperti itu."
Inayah tersipu mendengar pujian Aditia.
"Aku serius, Inayah."
"Pujilah sang Pencipta-Nya. Karena yang melekat dalam diri ini hanya titipan," ujar Inayah menimpali.
Aditia dan Inayah kembali diam dan saling tukar pandangan. Lamat-lamat Aditia kembali tangan terangkat dan berkata,
"Bolehkah aku membantumu membuka pengait hijab ini?"
Inayah mengangguk malu-malu.
Dengan pelan Aditia mulai membuka pengait hijab Inayah hingga penutup kepala tersebut lepas dari mahkota milik Inayah.
Tatapan Inayah melihat ke bawah dan berbicara pelan dan lirih. "Aku malu kamu menatapku seperti itu." Ingin rasanya Inayah bersembunyi di balik sesuatu
__ADS_1
"Apa yang membuat malu?" lirih balik Aditia dan mengangkat dagu Inayah."
"Aku... Aku... Aku... ke...." Inayah hendak menghindar.
Aditia menarik tangan Inayah ketika Inayah berdiri untuk menghindari tatapan Aditia. Sehingga tubuh Inayah tepat duduk dia atas pangkuan Aditia.
"kalungkan tanganmu disini," pinta Aditia meraih tangan Inayah kemudian membantu Inayah mengalungkan tangannya di lehernya.
"Tatap kedua mataku," bisik Aditia selanjutnya.
Dengan mendorong keberaniannya, Inayah pun menatap kedua bola mata itu. Jantung keduanya berpacu.
"Kenapa wajahmu memerah?" goda Aditia tersenyum. "Jangan di lepaskan. Biarkan sejenak seperti ini, biarkan aku memelukmu, Biarkan rindu ini terobati." Aditia mulai merangkul pinggang Inayah kembali.
Aditia pun melespaskan Inayah setelah merasa puas bermanja. dan meminta Inayah untuk berganti. Inayah berlari kecil masuk di ruang ganti. Menutup pintu itu dan memegangi dadanya serta memegang bibirnya.
Kembali kata Aditia terngiang. 'Aku akan menghapus jejak Adam di sini.'
"Astaghfirullah, Ya, Allah ada apa ini? mengapa jantung ini tidak hentinya berdebar." Inayah tersenyum dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sementara Aditia sendiri menyesal atas perbuatannya yang melakukan hal itu secara tiba-tiba pada Inayah. Padahal dirinya sudah berkata pada diri sendiri untuk bersabar pada waktu yang tepat. Namun, godaan bibir Inayah tidak bisa dielakkan olehnya.
"Apa dia marah?" pikir Aditia melihat pintu ruang ganti belum terbuka juga.
"Sebaiknya aku lebih dahulu masuk mandi." Aditia mengambil handuk melangkah masuk kamar mandi menuntaskan sesuatu yang tertunda karena perlakuan sebelumnya pada sang istri yang cukup lama.
Begitu Aditia keluar dari kamar mandi Inayah keluar dari ruang ganti dan menemukan Aditia hanya memakai handuk.
Segera mungkin Inayah berbalik badan. "Mas Adit, lain kali masuk kamar mandi bawa baju."
"Maafkan aku yang tadi," bisik aditia di belakang Inayah.
"Bagaimana caranya aku keluar? tidak mungkin, kan, tanpa penutup bagian dada? Masa iya, aku langsung pakai baju lalu menutupinya menggunakan handuk?" tidak mungkin?
"Inayah? Apa kau melupakan sesuatu?" tanya Aditia di luar pintu kamar mandi sambil mengetuk pintu.
"Ambillah." kata Aditia lagi.
'Apa? dia memegangnya?' pikir Inayah yang belum melihat ke luar.
Dengan pelan Inayah membuka pintu kamar mandi. Barang tersebut berada di dalam tas kecil.
"Kau menegang ini menggunakan apa?"
"Pakai tanganlah, Sayang. Memangnya aku memasukkan barang itu ke dalam tas kecil menggunakan bibir?"
"Apa?!" pekik Inayah mengambil cepat barang tersebut dari tangan Aditia dan menutup pintu kamar mandi.
Sebelumnya Aditia menemukan barang milik Inayah di atas tumpukan pakaian di atas koper. Aditia bisa menebak jika itu akan di pakai oleh istrinya melihat yang lainnya ada dalam tas kecil.
beberapa menit kemudian,
Inayah keluar dari dalam kamar mandi dan tidak menemukan Aditia, suaminya.
"Ke mana dia?" tanya Inayah yang kemudian menuju meja rias. Inayah tidak sadar jika sedari tadi Aditia memperhatikan dirinya dari luar tempat bersantai.
Melihat Inayah berbaring dan menutup matanya. Aditia pun memutuskan masuk beristirahat. terdengar suara pulas Inayah Aditia memeluknya dari belakang.
Kembali Aditia mendokumentasikan momen itu tanpa sepengetahuan Inayah. Dia akan menunjukkan momen itu pada waktunya tiba.
***
__ADS_1
Malam resepsi di gelar, Inayah kembali kagum dengan pesta yang begitu mewah di siapkan untuknya.
"Mas Aditia, mengapa kamu menyiapkan semewah ini?"
"Aku sengaja. Agar momen ini tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kita. Inayah."
Aditia pun menyambut tangan Inayah untuk memasuki pelaminan. Inayah dengan keberaniannya menggandeng tangan Aditia atas permintaan Aditia sendiri.
Sambutan pun terdengar ketika kedua mempelai memasuki ruangan. Para tamu undangan pun berdiri menyambut kedatangan mereka dan di iringi dengan musik.
Ada begitu banyak tamu undangan hadir untuk menyaksikan pernikahan dari putra seorang pengusaha terkenal di kota tersebut.
Sebagian kaum wanita banyak yang iri dan protes dengan pakaian Inayah yang serba tertutup.
"Seperti bagaimana, sih, wajah istrinya?"
seperti itulah kira-kira ucapan mereka.
"Jangan tanggapi ucapan mereka." Kata Aditia pada Inayah setelah sampai di atas pelaminan.
Waktu terus berjalan, Entah kapan acara itu usai. Inayah sudah terlihat lelah berdiri.
"Aku menyiapkan sendal ini untukmu." Aditia memperlihatkan sendal sepatu karakter doraemon.
"Kenapa kamu tertawa?" suara tawa Inayah hanya terdengar di telinga Aditia.
"Mas Adit, apa tidak ada yang lain?"
"Kata Sifa dan Alina, kamu suka memakai sendal begini di rumah."
"Apa?!"
"Iya. Mereka yang bilang," tukas Aditia.
Untungnya gaun yang dikenakan Inayah sangat panjang. Sementara Alina dan Sifa tertawa di bawah pelaminan.
"Mas Adit, Apa kamu melihat wajah mereka?" bisik Inayah. "Itu tidak benar."
Aditia menatap tajam ke arah Alina dan Asifa yang terus tertawa.
Begitu Alina berbalik, Seorang pria memakai seragam pelayan menabraknya dan hampir saja terjatuh. untungnya pria itu secepat mungkin menahan tubuh Alina.
"Maaf, Nona. Apa Nona baik-baik saja?"
Alina akui pria itu begitu tampan.
"Nona?" tegur pria itu.
Sifa datang dan melambaikan tangannya di depan Alina. "Kenapa, Sih?"
Alina baru sadar. "Pria tadi mana?"
"hmm... katanya hijrah."
"Iya, sih. Tapi jujur, pria tadi mana?" tanya Alina penasaran.
"Pria yang mana?" tanya Asifa ikut mencari.
"Kamu menghayal pastinya, nih? makanya, Jangan terlalu baper saat nonton film Korea. ini, nih."
Sementara pria yang menabrak Alina sebelumnya tengah menatapnya dari jarak jauh. Pria itu tersenyum melihat Alina asyik berbincang dengan Sifa.
__ADS_1