Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 8 Di lema


__ADS_3

Kata-kata Kak Aditia terus membekas dalam benakku. Rasa serba salah setelah mengetahui siapa Aditia. Aku tidak mengerti dan tidak paham.


"Ya Allah, mengapa harus dia?" Aku terus menatap bayanganku pada pantulan cermin. Sesekali aku memejamkan mata.


Aku berbalik dan beranjak tempat dudukku. Lalu, kubaringkan tubuh ini dibatas kasur. Sudah larut malam. Namun kedua mata ini masih tidak bisa terpejam.


"Ya Allah, ada apa denganku? mengapa jantungku berdegup setiap kali hamba teringat dengannya? Apakah ini Cinta? Jika memang dia yang terbaik untukku, agar Engkau senantiasa mendekatkanku dengannya. Akan tetapi bila dia bukan yang terbaik untukku, maka bantu aku melupakannya.


Aku berusaha sekuat mungkin menepis rasa itu tetap saja ada. Netraku tertuju pada sebuah bros hijab milikku yang diberikan oleh Aditia beberapa hari yang lalu.


kuhembuskan napas panjang. Cerita Kak Raka memenuhi kepalaku seputar masa lalu Kak Aditia.


...----------------...


'Bagaimana kamu mau memberikan hatimu pada pria yang tidak punya hati, Inayah! kamu tahu siapa Aditia?'


'Siapa Aditia, Kak? katakan dan jelaskan padaku mengapa kalian seperti sangat membenci pria itu?'


'Dia....' ucapan Kak Raka terhenti.

__ADS_1


'Dia siapa, Kak?'


'Dia adalah mantan tunangan Amira, kakak ipar kamu? Dan dia juga hampir saja merusak masa depan Amira, andai saat itu aku terlambat sedikit saja, Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada Amira, Inayah! dia pria yang tidak pantas untukmu! Mulai hari ini, jangan pernah bertemu dengan pria itu. titik.'


Deg!


Seluruh tubuhku seakan bergetar mendengar hal tersebut yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. begitu mengejutkan bagiku. Kak Raka menceritakan begitu sedetail mungkin hubungan Kak Amira dan Aditi sebelum kejadian itu terjadi.


'Andai bisa di syukuri dia hilang ingatan, itu lebih baik untuknya.'


Aku menoleh mendengar ucapan Kak Raka sebentar. Setelahnya aku kembali mematung di tempat mendengar dan menyimak setiap kalimat seputar masa lalu Kak Aditia.


Aku menoleh melihat Kak Amira. Bulir bening terlihat jelas di sana. Begitu pun aku, Aku hanya bisa mengusap tetesan air mata yang lolos begitu saja.


'Dengar Inayah, Kau adik aku satu-satunya. Kakak ingin yang terbaik untukmu.'


'Kak, Aku dan Adita hanya saling mengenal seperti itu tidak lebih.' ucapku pada Kak Raka hari itu.


'Matamu tidak bisa membohongi kakak Inayah, ada rasa di sana terukir. Bagaimana kau menyangkal perasaanmu. Apa pun itu, lupakan Aditia.'

__ADS_1


...----------------...


Lamunan panjangku berakhir dengan sebuah pesan masuk dalam ponsel milikku. Lagi-lagi Aditia.


Ini yang pertama bagiku tersiksa dengan perasaan. kuabaikan pesan itu. ini tidak benar bagiku. cinta tidak boleh mengalahkan akalku.


kuambil air wudhu dan melaksanakan shalat dua rakaat berharap hati dan jiwaku bisa mendapatkan ketenangan


...****************...


"Apa yang kamu lakukan Inayah? Mengapa kau menghindariku. Apa salahku?"


Suara ketukan pintu membuatku terkejut. aku meletakkan ponsel milikku di atas nakas dengan wajah Inayah memenuhi layar ponsel itu.


Aku membuka pintu kamar dan melihat ibu berdiri di depanku.


"Nak, ini." Ibu memberikan sebuah kotak besar entah apa isinya.


"Mungkin dengan ini akan membantu mengingat sesuatu padamu. Aditia, setelah kau mengingat semua tentang dirimu ibu harap kau selalu mejadi Aditia yang sekarang."

__ADS_1


"Apa maksud ibu?" tanyaku.


__ADS_2