
Kabar angin terdengar oleh Inayah jika Aditia terbang jauh ke luar negri.
"Kak, kenapa kakak diam? Apa sifa salah ucap?"
"Tidak, dek," ujar Inayah berusaha untuk tidak terus terbawa perasaan setiap kali terdengar nama Aditia.
"Jujur ya, kak. Alina sahabat aku sangat sedih melihat kakaknya sangat terpuruk. Katanya wanita itu akan menikah dengan pria pilihan keluarganya. nyesek gak, kak," lanjut Asifa tanpa tahu masalahnya. Asifa kembali menatap Inayah dan kembali berkata, "Kak, jika kakak misalkan di posisi seperti itu, apa yang kakak akan lakukan?"
"Sifa, Cinta tidak selamanya untuk saling memiliki. kadang kita di hadapkan dengan berbagai masalah sebagai bentuk ujian. Jika aku di posisi itu, aku akan berusaha untuk menerimanya degan ikhlas. walau kata Ikhlas itu tidaklah semudah yang kita ucapkan."
"Maafkan aku, kak Adit." batin Inayah kembali terdiam.
"Kalau aku, kak. mungkin akan menolak perjodohan itu. Tapi harusnya Kakak Alina berjuang dong!"
__ADS_1
"Sudahlah, Sifa, stop bicarakan orang. Itu masalah pribadi mereka. Tidak baik kita membahasnya." Kata Inayah lagi pada adik tirinya. Inayah berusaha untuk mengalihkan perhatian Asifa dari pembicaraan mereka tentang Aditia.
Sementara Ummi Humaira menatap sendu Inayah. Ummi Humaira paham perasaan Inayah sekarang.
"Inayah, boleh bantu Ummi?" panggil Ummi Humaira pada akhirnya.
"Iya Ummi." Inayah pun meninggalkan Asifa di kamarnya.
"Inayah, Ummi tahu nak. Tidak mudah melupakannya. Akan tetapi Ummi Harap Adam bisa memberikan Cinta tulus untukmu."
Inayah diam di tempat. Inayah ingat saat di rumah sakit akan meneguk temannya yang sakit, Inayah tidak sengaja melihat Seorang wanita berbicara serius dengan Adam. Dari cerita yang di dengar oleh Inayah, Wanita itu bernama Dr. Karin yang merupakan wanita yang pernah mengisi hati Adam. Namun karena cinta tidak direstui, Adam pun memilih melupakan masa lalunya.
"Nak, Inayah, apa kamu mendengar Ummi?"
__ADS_1
"Iya, Ummi. Inayah juga berharap, Adam bisa menjadi imam yang tepat untuk Inayah."
"Amin. Ummi harap pernikahan kalian kekal hingga maut memisahkan. Pernikahan itu adalah suatu bentuk keseriusan dalam sebuah hubungan. Selain merupakan bentuk cinta, pernikahan dalam agama kita merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Bahkan, disebutkan bahwa pernikahan adalah menggenapkan setengah agama," kata Ummi Humaira.
"Penyatuan dua insan, laki-laki dan perempuan ini diharapkan menjadi media dan tempat yang sempurna untuk mendapatkan pahala dan ridho dari Allah SWT. Oleh karena itu, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, jadi sebisa mungkin harus dijaga bahkan hingga maut memisahkan. Allah SWT memberikan keterangan mengenai keutamaan menikah. Bahkan, Allah SWT akan memberikan karunia-Nya kepada laki-laki dan perempuan yang menikah karena-Nya. Dalam salah satu ayat di dalam Alquran, Allah berfirman:
“Dan nikahkan lah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32)."
"InsyaAllah Ummi. Doakan Inayah bisa menjaga pernikahan Inayah bersama Kak Adam."
"Ummi selalu mendoakan kamu, nak. Ummi harap kamu selalu ikhlas menerima segala ketetapan nya. Allah tidak pernah menguji seorang hamba di batas kemampuannya. Yakinlah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Dan semoga Adam adalah pilihan yang terbaik untukmu, nak."
Inayah dan Ummi Humaira saling berpelukan.
__ADS_1