
Sore harinya, Aditia kembali dari kantor dan tidak menemukan Inayah dimana pun.
"Sayang, kamu di mana?"
Aditia mencari Inayah di dalam kamar bahkan sampai di kamar mandi juga tidak ada. Aditia melihat ada perubahan di kamarnya.
Penataan kamarnya tenyata sudah berubah. "Apa Ini ide Inayah. Boleh juga. Bahkan foto pernikahan mereka terpasang rapi di dinding kamar tersebut.
'Inayah, apa aku mampu suatu hari nanti berpisah darimu? Rasanya mungkin sulit. Satu bulan lagi Inayah kebersamaan kita.'
Tiba-tiba tangan mulus melingkar penuh di perutnya. Aditia menoleh dan Inayah membenamkan kepalanya di punggung sang suami.
"Sayang, kamu dari mana? Aku mencarimu sedari tadi."
"Aku dari kamar Ibu. Dan Ibu memberikan aku sesuatu."
"Sesuatu? Apa itu? Apa jampi-jampi agar kita cepat punya anak?"
"Apa Mas Adit sudah sangat mengharapkan itu?"
"Belum juga. Tetapi, jika aku diberi kesempatan mejadi seorang ayah, mengapa harus menolak. Bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Iya, memangnya aku punya istri berapa?"
Inayah diam.
"Inayah, ada apa?" tanya Aditia.
"Mas, aku mengetahui sesuatu tentang keadaanku."
"Ada apa, Inayah?"
Inayah tidak menjawab. Aditia berbalik. Aditia baru sadar jika Inayah sekarang tampil seperti sebelumnya saat di villa.
"Aku baru sangat sadar, Jika aku jatuh cinta pada seorang pria."
Wajahnya Aditia langsung berubah.
"Maafkan aku, Mas."
"Apa maksudmu, Inayah?"
"Aku ... Tidak bisa membohongi diriku, Mas. Aku mencintaimu!"
Inayah berlari dan memeluk Aditia hingga berjinjit. Aditia yang sebelumnya berubah kini membalas pelukan Inayah dengan erat.
Tiba-tiba Alina mengetuk pintu kamar mereka dan membukanya.
"Tidak! kalian menodai mataku!" Alina menutup matanya dan menyimpan sebuah buku di atas meja, lalu menutup pintu tersebut dan berteriak.
"Lanjutkan!"
Inayah dan Aditia tersenyum. Kembali Aditia mengulang hal romantis mereka.
"Mengapa kamu membuat aku takut, ha? Kamu harus diberi hukuman."
"Lho, memangnya aku buat salah apa, Mas. Makanya, sebelum lawan bicaranya berhenti bicara, jangan potong dulu, Mas." Inayah terkekeh ketika Aditia langsung mengangkat tubuh rampingnya.
__ADS_1
Ibu Hanum yang kebetulan lewat di depan kamar mereka mendengar canda dan tawa kedua insan itu setelahnya tidak mendengar lagi.
"Ibu, ngapain di situ? Seperti tidak pernah mudah saja," tanya Tuan Subari yang melihat istrinya seperti maling.
"Ayah jangan ribut."
"Ibu?" tegur Tuan subari lagi.
"Baiklah." Ibu Hanum mengikuti suaminya menuju taman belakang untuk bersantai di sore hari.
"Semoga saja kita cepat dapat cucu." Harapan Ibu Hanum senyum-senyum sendiri.
"Dulu, waktu Aditia belum kawin, Ibu berharap cepat putranya memberinya mantu. Giliran habis menikah, Sekarang minta cucu. Lalu, setelahnya nanti minta apa lagi dari putramu, Ibu?" Tuan Subari geleng kepala dengan pemikiran istrinya.
"Aku kan hanya berharap, Ayah. Apa tidak bisa?"
"Ya bisa. Tapi tidak usah di ucapkan. Cukup dalam hati ibu saja. Ini nih yang bikin menantu biasanya tidak betah serumah dengan Ibu mertuanya. Cerewet."
"Apa? Ayah bilang Ibu cerewet? Dulu, Ayah tidak pernah berkata seperti ini." Ibu Hanum merajuk. "Ayah puasa sebentar malam."
***
Kembali dengan Aditia dan Inayah. Inayah menatap lekat wajah suaminya yang sedang tertutup.
"Kenapa? kau mengagumi ketampanan suamimu? Atau kamu baru sadar jika suamimu tampan?"
"Barusan aku aku dapat pria begitu narsis," canda Inayah. Biasa saja."
"Kau tidak mau mengakui jika suamimu tampan?"
"Sepertinya anak tetanggaku lebih tampan, deh."
"Kenapa? anak tetanggaku memang lebih tampan."
"Siapa nama anak tetanggamu. katakan padaku, Sayang. Aku akan membuat perhitungan."
"Tuh, di samping rumah yang setiap malam menggonggong."
"Inayah, kau menyamakan aku dengan anjing?"
"Siapa yang menyamakan, Mas. Masa sama. yang satunya, kan manusia, sedangkan yang satunya binatang. Samanya di mana, Mas?" Inayah kembali tertawa melihat wajah kesal suaminya."
Puas bercanda, Inayah dan Aditia bersiap-siap menuju rumah ibunya. Inayah begitu merindukan ibu yang telah melahirkannya.
***
Kedatangan Inayah dan Aditia di sambut hangat oleh Ibu Fatimah, Amira dan Raka.
"Bagaimana kabarnya, Ibu?" tanya Inayah.
Ibu Fatimah melihat jelas jika Inayah begitu bahagia. "Apa kamu bahagia, nak?"
Raka juga bisa melihat, Jika Aditia memang bisa membahagiakan adiknya. Namun, bukan berarti Aditia akan bebas dari hukuman akibat perbuatan sebelumnya.
"Alhamdulillah. Seperti yang Ibu lihat. Apa Ibu juga merindukan Inayah?"
"Tidak ada seorang Ibu yang tidak merindukan buah hatinya, Inayah. Selama Seorang Ibu itu masih memiliki hati dan perasaan."
Amira melihat Ibu dan anak itu ikut merasakan kerinduan pada sosok Ibunya. Sudah cukup lama Amira tidak berkunjung ke makam kedua orang tuanya.
__ADS_1
Melihat Amira menangis, Ibu Fatimah pun meraih tubuh anak menantunya dan berkata, "Ibu paham perasaanmu, Nak. Jangan bersedih. Kami adalah keluargamu."
Dua pria tersebut hanya sebagai penonton drama secara Live antara cinta kasih anak, mantu, dan mertua.
"Mas Raka, Boleh kita bicara sekarang?" Aditia menatap Raka.
"Baiklah. Ayo kita ke ruang kerjaku!" Aditia dan Raka meninggalkan mereka.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Raka.
"Seperti yang kamu lihat. Namun, aku tidak tahu apa Inayah akan bisa menerima semua ini. Aku titip Inayah kelak nanti. Berharap kamu memberinya terus semangat. Dan jaga istriku selama aku dalam proses hukum."
"Ternyata kau begitu takut. Kau takut kehilangan atau takut tidak bisa lagi berdua dengannya?" ledek Raka pada adik iparnya."
"Mungkin dua-duanya," jawab Aditia. "Inayah adalah candu untukku bahkan setiap malam kami menghabiskan waktu," kata Aditia tanpa jedah.
"Selamat menikmati masa pengantin barumu. Sebelum kamu akan tersiksa," balas Raka dengan nada ledekan.
"Jangan berkata seperti itu. Apa kamu sengaja meledek aku. Atau kamu memang bahagia dibatas penderitaanku?"
"Kamu baru akan merasakan. Aku merasakan bagaimana Amira hampir gila karena perbuatanmu. Seakan di dunia ini hanya satu wanita."
"Maaf, Hari itu aku masih sangat bodoh. Aku benar-benar menyesal." Aditia menundukkan kepalanya.
"Itulah kebodohanmu. Makanya, sebelum bertindak dipikir dulu. Jangan memperlihatkan wajah sedihmu itu di hadapanku. Janji adalah janji dan hukuman tetap hukuman. Berani berbuat maka berani pula mempertanggung jawabkannya."
Raka memberikan surat pernyataan yang harus Aditia tanda tangani agar kelak Inayah bertanya dirinya tidak disalahkan sepenuhnya.
Usai menandatangani surat tersebut. Raka kembali berujar. "Selamat menikmati kehidupanmu yang baru, Aditia."
"Kamu akan bahagia, istriku akan menderita," timpal Aditia.
"Dia akan muda menerima semuanya. Jika bukan karena Inayah, Sejak dulu sudah aku tuntut dirimu. Hanya saja, Aku tidak bisa melihat adikku terpuruk dengan terpaksa aku menyetujui pernikahan ini."
"Aku mengerti perasaanmu, karena aku juga punya adik perempuan. Semoga saja cukup aku yang yang menerima ini jangan ada karma untukku."
"Maka bertaubatlah," kata Raka dan mendengar Inayah mencari Aditia.
"Mas, di sini? lagi bisnis apa dengan Kak Raka?"
Aditia merangkul istrinya lalu, mengecup keningnya dan berkata, "Tidak. Hanya perbincangan biasa sebagai pria sejati."
Raka sudah bisa membayangkan kekecewaan Inayah nantinya.
'Maafkan kakakmu, Inayah.'
Begitu juga dengan Aditia. Ada rasa tidak mampu untuk berpisah.
"Ternyata kamar kamu sangat rapi," puji Aditia. "Apa sebelumnya Adam pernah tidur di sini?"
"Iya,"
"Besok aku akan mengirimkan Bantal banyak kemari. Minta Amira mengganti semua bantal yang ada dalam kamarmu. "
Inayah hanya diam dengan sikap posesif suaminya.
***
Astaga. Author juga minta di kirmkan bantal empuk ya, mas Adit.
__ADS_1