Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 87. Cucu Kedua


__ADS_3

Ibu Hanum mengangguk saat Inayah membantunya untuk tenang. Selang beberapa waktu terdengar tangis bayi memecahkan ruangan itu.


"Ibu, sepertinya Alina sudah melahirkan." Aditia berdiri dari tempatnya.


"Benarkah? Alhamdulillah. Akhirnya cucu keduaku lahir juga." Ibu Hanum terlihat begitu bahagia dan menemui dokter saat seorang dokter keluar dari ruang bersalin.


"Bagaimana dokter?" tanya Ibu Hanum terlihat girang.


"Semua baik. Walau awal persalinan Nona Alina sempat menyerah. Tapi berkat doa ibunya, Nona Alina selamat dengan bayinya. Anak Nona Alina sehat begitu juga dengan ibunya.


"Laki atau perempuan, Dok?" tanya penasaran Ibu Hanum.


Belum sempat dokter menjawab seorang suster keluar dan akan memindahkan bayi laki-laki Alina keruang bayi.


"Ini cucu saya? Oh lucunya." Ibu Hanum langsung memeriksa jenis kelamin putra Alina.


"Cowok? Aku salah prediksi. Sehat kamu, Nak." Ibu Hanum menggendong sebentar putra Alina. Lalu, mengecupnya. kemudian kembali meletakkan dalam boxnya.


"Sayang, semoga di sini sudah tinggal." bisik Aditia dan di dengar oleh Ibu Hanum.


"Hem... "Ibu Hanum berdeham.


"Aku hanya berusaha, Ibu. Siapa tahu cucu ketiga ibu perempuan, dan berlanjut cucu keempat dari Alina berikutnya adalah perempuan juga."


"Adikmu saja baru usai melahirkan, kamu sudah ngelantur disitu." Ibu Hanum geleng kepala dan Inayah tertawa begitu juga dengan perawat yang sedang lewat mendengar perkataan Aditia.


"Ayo Mas Adit, kita lihat Alina."


Inayah dan Aditia ikut di belakang Ibu Hanum menuju kamar rawat Alina setelah di pindahkan.


Alina terlihat bahagia setelah perjuangan sebagai seorang ibu selesai.


"Ibu, Maafkan Alina. Ternyata melahirkan itu antara hidup dan mati ibu. Betapa berdosa diriku selama ini kerap membantah ibu." ujar Alina penuh rasa bersalah.


"Ibu sudah memaafkan kamu, Nak. Sekarang tinggal fokus merawat anakmu dengan baik. Ayo ibu suap. Kamu harus banyak makan."


Inayah bisa melihat kebahagiaan terpancar di mata Alina juga Teo. Beda dengan dirinya dulu. Inayah berbalik melihat Aditia dan Teo tengah berbincang. Tidak sengaja tatapan itu bertemu.


Alina terus bercerita pada Inayah saat akan melahirkan apa yang tengah dirasakan. Aditia hanya menyimak.


Tiba-tiba ponsel Inayah berdering dan melihat panggilan video dari Sifa.


"Sifa? kau di mana ini?" Inayah menerima panggilan video Sifa dan Amina hanya bisa menyimak.


"Aku sekarang di rumah Ummi, Kak. kebetulan tu... eh ... maksud saya kak Zaki ada tugas keluar kota dan aku ikut kemari." Sifa sedikit mengangguk kata TUAN di depan Inayah.


"Baiklah, Nanti ada waktu aku ke situ." ujar Inayah.


"Kak Inayah di mana ini? Kok seperti di rumah sakit?" tanya Sifa penasaran.


"Coba tebak. Siapa yang melahirkan?"


"Alina? Benarkah? Putra atau putri."

__ADS_1


"Putra." jawab Inayah tersenyum kearah layar. Baiklah usai dulu, ya."


Panggilan video berakhir. Inayah dan aditia kembali ke rumah setelah pamit.


Rencananya Aditia akan pindah rumah lebih dekat dengan lingkungan pondok milik Almarhum Aba Inayah.


***


"Sifa, Ummi perhatikan kamu terlihat gemuk. Apa kamu mengandung?"


Deg!


Mendengar kata Mengandung, itu artinya Sifa harus siap kehilangan anaknya kelak. Setelahnya dia akan berpisah dengan Zaki.


Sifa menelan salivanya sambil mengaduk-aduk teh yang sedang diseduh olehnya.


"Nak, Kamu kenapa? terlihat tidak bahagia ibu tanya kamu mengandung. Apa kamu belum siap?" tanya Ummi Humairah.


"Aku takut saja ibu." ujar Sifa mengelak dari apa yang ada dalam pikirannya.


"Nak, tidak ada yang perlu kamu takutkan. Melahirkan itu merupakan jihad fisabilillah untuk kita kaum wanita. Itu sudah merupakan kodratnya." Ummi Humairah menepuk bahu putrinya.


'Bukan itu, Ummi. Jika misalkan benar aku hamil, tugasku hanya mengandung anak ini dan melahirkannya. Setelahnya, aku akan menyerahkannya dan kembali kepangkuan ummi dengan status yang berbeda.' batin Sifa mengelus perutnya yang rata.


"Sudah, Jangan dipikirkan." ujar Ummi Humairah. Dan terdengar ketukan suara pintu diluar.


"Biar aku yang buka, Ummi." Sifa dengan segera keluar dan melihat siapa yang datang.


"Kak!" pekik Sifa memeluk Inayah, lalu beralih mengecup pipi Rayyan yang sudah cukup besar.


Inayah memperhatikan Sifa. Sama seperti penilaiannya dengan Ummi Humairah sebelumnya.


"Sepertinya, Ada yang akan pakai baju XL, nih." ledek Inayah.


"Ih, oga, aku, kak. Mana ada. Aku tuh, masih pakai ukuran M."


"M? benar saja kamu. Coba kakak lihat." Inayah ingin memeriksa ukuran baju Sifa yang membuat Aditia geleng kepala dan langsung masuk ke dalam bersama Rayyan meninggalkan dua wanita tersebut.


"Ini apa, pakai ukuran L. Besok-besok pasti pakai ukuran xl." Inayah mentertawakan Sifa.


Keduanya menyusul masuk ke ruang keluarga di mana Rayyan dan Aditia sudah tampak asik menikmati es buah Alpokat buatan Ummi Humairah.


"Tuan Zaki tugas di mana, Sifa?" tanya Aditia.


"Mas, kamu sepertinya rindu, deh dengan Tuan Zaki." ledek Inayah pada Aditia.


"Ya Iyalah, dia sohib saya. Saya mau ajak dia bergelut. Ada bisnis." canda Aditia.


"Kak Zaki ada kerja, kak. Katanya juga mau menyelesaikan kerjasamanya dengan kak Aditia. mungkin tiga hari kemudian akan kembali."


"Kenapa tidak ikut Sifa?" tanya Inayah.


"Malas aku ikut, kak."

__ADS_1


Inayah mendekat dan berbisik. "Kamu tidak habis bertengkar, kan?"


"Tidak, Kak. Tuan Zaki baik, kok. Eh maksud saya kak Zaki baik." Sifa berusaha menepis perasaannya pada Zaki. Selama ini Zaki berbuat manis pada Sifa. Sifa anggap itu karena Zaki sangat berharap darinya memberinya keturunan secepatnya.


"Kak, waktu mengidamkan Rayyan, ada sebuah tanda tidak?" Sifa mulai bertanya seputar mengidam. Sifa tidak tahu apakah benar dirinya hamil atau tidak.


"Dulu, aku hanya mual bila waktu pagi. Aku tahu jika aku hamil setelah satu bulan tidak dapat haid. Kenapa?"


Sifa terlihat berfikir dan bergumam. "Apa benar aku hamil?"


"Sifa, kamu kenapa? kok bengong?"


"Saat kakak hamilkan Rayyan, Apa yang kakak inginkan?"


Inayah menatap Aditia di depannya. "Ingin dipijit oleh suami, di peluk oleh suami."


Aditia mengangkat wajahnya. Lalu Inayah tersenyum. "Tapi, sebisa aku menepisnya. Hanya satu kali keinginan itu muncul."


Inayah duduk di samping Aditia dan berbisik. " Love You."


Rayyan menoleh. "Bunda, kalau mau goda ayah jangan disini."


Aditia mengusap kepala Rayyan. Rayyan berbalik mengacak rambut Aditia.


"Sudahlah, aku mau keluar. cari angin." ujar Rayyan menarik tangan Sifa.


"Bibi, kenapa orang dewasa sering sedih, ya?"


"Siapa yang sering sedih?" tanya Sifa.


"Aku bisa memprediksi wajah tante terlihat sedih." kata Rayyan santai.


Sifa berusaha menghibur dirinya. "Sok tahu kamu. Kenapa sih Rayyan begitu cerewet?"


"Mungkin turunan dari ayah." tawa Rayyan.


Entah mengapa Sifa merasakan ada rasa lain dalam dirinya. Dirinya teringat dengan Zaki.


***


Begitu juga dengan Zaki di sebuah perusahaan miliknya. dirinya melihat seorang hampir mirip dengan Sifa.


"Apa aku sudah gila? Bisanya aku melihat Sifa ada di mana-mana." gumam Zaki dan melihat layar ponselnya. Berharap ada pesan atau panggilan dari Sifa.


"Tuan baik-baik saja?" tanya Martin.


"Baiklah. Apa wajahku terlihat tidak baik, Martin?"


"Baik sekali, Tuan."


"Martin, Kapan selesai urusan di sini. Aku sudah bosan disini? Sampai kapan kita di sini. Apa nenek tidak punya hati memberiku tugas seberat ini?"


"Tuan, inilah mungkin juga alasan nenek ingin cucu. Dia ingin ada penerus."

__ADS_1


'Kenapa wanita ini tidak menghubungiku sama sekali. Apa aku saja yang memikirkan kondisinya?' batin Zaki menatap foto masa kecil Sifa. dirinya tidak menghiraukan perkataan Martin.


__ADS_2