Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 58. Berjuang Tanpa Suami


__ADS_3

Waktu terus berjalan kehamilan Inayah semakin hari sudah semakin dekat akan melahirkan. Inayah juga sudah terbiasa dengan tempat tersebut.


Ibu mertua dan keluarga kerap mengunjungi Inayah. Inayah sudah terbiasa dengan hari-harinya walau terkadang tidak bisa dia pungkiri dia merindukan suaminya.


"Inayah, Aditia meminta pada kami membawa kamu ke sebuah rumah yang telah dia beli jauh sebelumnya ia menikah denganmu."


"Rumah?" tanya Inayah. tidak mengerti.


"Iya. Perumahan elit yang ada di kota ini. Kamu akan pindah ke sana bersama Bibi Sumi," ucap Ibu Mertua.


"Bibi, siapkan semua barang-barang. Hari ini kita akan pindah di perumahan Elit Mitra Len," perintah Ibu Hanum.


Inayah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Ibu mertuanya. Sesampainya di perumahan Mitra len Inayah cukup kagum melihat rumah yang cukup besar yang di siapkan Aditia untuknya.


"Ayo, Sayang. Apa kamu suka?" Inayah menoleh ke samping kiri dan kanan. Suara itu sekan ada di dekatnya.


"Inayah?" tegur Ibu Hanum pada Inayah yang melamun di depan pintu masuk.


"Iya, Ibu."


"Ayo, Nak! kita masuk."


"Inayah pun melangkahkan kakinya masuk dan melihat foto pengantin mereka sudah terpasang baik di sebuah ruang keluarga.


"Selamat datang, nyonya?" Sapa beberapa pekerjaan di rumah tersebut. "Kami akan melayani nona dengan baik," ujar beberapa pelayan yang sudah disiapkan untuk dirinya.


Inayah memahami keadaan Aditia membawanya jauh dari kota sebelumnya. Mengingat jika dirinya kembali ke kota sebelumnya, Orang-orang akan curiga dan pasti akan mempertanyakan Aditia. sebisa mungkin mereka menyembunyikan fakta tentang Aditia.


"Bagaimana menurut kamu rumah ini? Apa sesuai dengan keinginan kamu? Jika tidak, katakan saja yanga mana akan di rubah."


"Ini sudah sangat sesuai Ibu."


"Baiklah. Dan ini kamar calon buah hati kalian," lanjut Ibu Hanum membukakan pintu kamar dekat kamar Inayah


"Ibu, siapa yang memilih semua ini?"


"Semua pesanan suamimu," ujar Ibu Hanum.


Inayah menatap satu persatu perlengkapan buah hati mereka. Mulai dari lemari, pakaian bayi mereka sudah lengkap dengan isinya hingga perlengkapan mandi pun sudah siap. Juga Box bayi mereka dan lainnya semua sudah ada.


Inayah tersenyum. Ingin rasanya berteriak jika saja Inayah tidak mengendalikan perasaannya.


"Ibu, apa boleh aku bertemu Mas Adit." Inayah berharap.


"Semoga saja," ujar Ibu Hanum terlihat menyembunyikan sesuatu "Semoga pendirian suamimu berubah." Ibu Hanum juga sejujurnya marah dengan putranya.


"Mas, Kehamilan aku sekarang sudah memasuki umur 9 bulan. Selama mengidamkan anak kita aku seperti merasa mas Adit ada di dekatku." Inayah kembali mengusap perutnya yang makin hari kehamilannya semakin jelas.


Melihat wajah menantunya, Ibu Hanum tidak tega. Terlihat Inayah kembali mengelus lembut perutnya.


"Mas aku merindukanmu,' batin Inayah lagi.


Begitu pun juga dengan Aditia. Aditia juga bahagia. Hingga terdengar kabar jika Inayah rutin memeriksakan kehamilannya setiap bulan. Dan juga mengetahui Inayah sudah menempati rumah barunya.


Aditia sangat bahagia setelah mengetahui jika Inayah sangat suka rumah yang di siapkan untuknya. Bahkan Inayah meminta kamarnya di renovasi sedikit.


****


Pagi tiba, Bibi Sumi menemani Inayah jalan pagi. Seorang pria yang merupakan tetangga Inayah sedikit penasaran mengenai Inayah.


"Kemana suaminya? Bagaimana bisa suaminya tidak berada di sisi istrinya salama keadaan hamil." gumam pria itu yang merupakan seorang CEO di sebuah perusahaan ternama di kota itu.


"Martin, cari tahu wanita di samping rumah. Aku sedikit penasaran."

__ADS_1


"Tuan, mengapa Tuan begitu penasaran dengan wanita bercadar itu. Bukankah Tuan tidak lama lagi juga akan menikah?"


"Siapa yang mau menikah? Aku belum memutuskan untuk menemui wanita itu."


"Apa tuan...."


"Aku hanya penasaran, Martin. Sudah satu minggu setelah kepindahannya aku tidak melihat suaminya," ujar Zaki.


"Bisa saja suaminya sedang bekerja, Tuan," jawab Martin.


"Aku tidak meminta pendapatmu. cari tahu saja." perintah Zaki lagi.


"Tunggu dulu. Mengapa aku seperti mengenal wanita itu." kata Zaki yang melihat Inayah dari lantai atas kemudian mengambil album foto masa kuliah mereka.


"Benar, bukankah dia mirip Inayah?" batinnya.


"Tuan Zaki, Apa tuan mengingat sesuatu?" tanya Martin yang tidak mendapat respon.


Zaki langsung melipir turun ke lantai bawah dan keluar dari rumah dan membuka pintu pagar dan berlari menuju di mana Inayah dan Bibi Sumi sedang duduk beristirahat.


"Bibi, apa bibi bawa air minum?"


Tiba-tiba seseorang memberinya satu botol air minum. Inayah. mengangkat kepalanya dan melihat siapa pria di depannya.


"Zaki?" lirih Inayah.


"Tenyata benar kau adalah Inayah. Aku tidak percaya ini. Ternyata tebakanku benar," Zaki tersenyum.


"Bagaimana bisa Anda di sini? Apa anda juga tinggal di sini?" tanya Inayah heran.


"Rumah kita bersebelahan," jawab Zaki.


Inayah hanya mengangguk. Tiba-tiba Inayah merasakan sakit bagian belakangnya.


"Bibi, aku sepertinya ingin melahirkan." Inayah merasakan. sangat sakit tiba-tiba.


"Apa sebaiknya aku membawamu ke rumah sakit, Inayah." tawar Zaki ikut panik.


"Jangan," tolak Inayah.


"Tapi, kamu kesakitan Inayah." kata Zaki yang ikut panik dan cemas melihat Inayah memegangi perut buncitnya.


"Tidak, terimakasih," kata Inayah dengan tegas.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan Inayah. Suruhan Aditia yang Sudah diketahui oleh


Bibi Sumi tersenyum.


"Ayo, Nona. kita ke rumah sakit."


"Kamu siapa?"tanya Inayah melihat seorang turun dari mobil dan menghampiri dirinya dan Bibi Sumi.


"Mari Nona." Nona sebaiknya ke rumah sakit," kata suruhan Aditia yang bernama Marno.


"Ayo nona. Ini suruhan tuan muda." sahut Bibi Sumi membantu Inayah yang masih mampu berjalan.


Inayah tidak lagi menimpali pertanyaan pada Bibi Sumi walau sebenarnya dirinya butuh penjelasan karena punggungnya sudah terasa sangat sakit. Rasa sakit yang terus datang menyerang membuat Inayah tidak mampu bertanya pada Bibi Sumi selanjutnya. Inayah pun masuk dalam mobil setelah pintu mobil terbuka yang di bantu oleh Zaki.


Zaki hanya mematung di tempat melihat Inayah masuk di dalam mobil dan berlalu.


"Cepat Bibi. Saya sudah tidak tahan!" keringat mulai bercucuran di kening Inayah.


"Ayo Marno cepat sedikit! Dan jangan lupa telepon nyonya di rumah."

__ADS_1


"Baik, Bibi." kata Marno.


"Bibi, ini sangat sakit!" rintihan Inayah sepanjang jalan. lebih cepat lagi Bibi!"


"Nona, teruslah berzikir dan tenangkan hati dan pikiran nona."


"Iya Bibi," jawab Inayah seperti menahan sakit.


Tiba di rumah sakit, Inayah langsung di jemput dan tubuhnya diangkat langsung naik di bad pasien. Inayah langsung di rujuk ke ruang bersalin.


"Mas, ini sakit!" Inayah memanggil Aditia. Air mata itu kembali jatuh di tengah dirinya akan berjuang.


Ranjang pasien Inayah terus di dorong menuju ruang bersalin. Tiba di ruang bersalin, Inayah kembali diperiksa.


'Mas, Aku kesakitan.' batin Inayah.


"Bagaimana putri saya, dokter. Sudah pembukaan berapa?" tanya Ibu Fatimah yang tiba-tiba sudah datang bersama Ibu Hanum.


Sebelumnya Ibu Fatimah memang sudah dalam perjalan sebelum Inayah akan melahirkan.


"Maaf, Suaminya ada? sedari tadi Ibu Inayah memanggil suaminya.


"Maaf suaminya tidak ada suaminya dalam dinas. Aku Ibunya," Ibu Fatimah menyahut.


"Ibu, ini sakit. Maafkan Inayah, Ibu."


"Ibu sudah memaafkan dirimu, Sayang."


Sekujur tubuh Inayah dipenuhi keringat berjuang tanpa seorang suami.


"Ibu Inayah, apa Ibu mendengar kami." Seorang suster tengah memanggil Inayah yang sedang diam.


"Nak, sadarlah," bisik Ibu Fatimah.


"Ibu aku mengantuk," ujar Inayah yang berusaha untuk memulihkan kesadarannya.


"Nak, anakmu akan tersiksa jika kamu lemah seperti ini, Sayang. Ayo, Inayah, berjuang, nak!"


"Ayo, Ibu! Saat kami minta untuk mendorongnya ibu dorong, ya...." pinta dokter Eka yang menangani langsung Inayah.


Namun sedari tadi Inayah sudah berjuang. yang membuat dokter cukup terkejut karena kepala bayi sudah nampak di jalan lahir.


"Ayo ibu... lagi!"


Namun, Inayah kembali berhenti. sejenak menarik napas. Dan Ibu Fatimah terus berzikir di dekat telinga Inayah. Sesekali ibu Fatimah memberikan support pada Inayah dan mengingatkan Inayah untuk selalu meyebut.


"Iya, Ayo Ibu. Satu... dua... Dorong....!" pinta bidan di sana.


"Ayo Ibu Inayah, sedikit lagi....!"


Inayah kembali menarik napas. dan kembali berjuang semampunya.


Dokter Eka kembali bersuara, "Ayo Ibu Inayah, sedikit lagi! Satu... dua... ya... terus... Ibu Inayah! Sedikit lagi."


"Alhamdulillah," ujar Ibu Fatimah. Inayah berhasil dalam jihadnya. lahirlah seorang putra yang begitu tampan dan putih bersih.


Tangis bayi memecahkan keheningan ruangan Itu. Seketika Inayah meneteskan air mata melihat putranya kini di atas dadanya tampak sedang mencari sesuatu."


'Mas, aku sudah berjuang melahirkan putra kita. dia mirip denganmu, Mas Aditia,' batin Inayah. air mata bahagia itu terus menetes.


***


Selamat Untukmu Inayah. Hadiah 🎁 untuk author mana. Komentar juga sepi...

__ADS_1


Jagan lupa masukkan ke daftar favorit kalian biar dapat Up terbaru Author.


__ADS_2