
Terimakasih dukungannya. Karya ini tidak berarti apa-apa tanpa dukungan dari kalian. jangan lupa beri like, dan tambahkan dalam daftar favorit biar dapat up terbarunya. eits! tinggalkan komentar di bawah kolom komentar. Biar Author tahu seberapa gergetnya kalian dalam karya ini. jika ada saran Author Terima lapang dada. Author siap menerima saran koreksi dari
kalian. Salam manis dari Author buat pembaca setiaku. 😍😍😍🥰🥰🥰😘
***
Mendengar penjelasan Raka, Aba Abdullah terlihat diam. Sesal dalam diri sebagai seorang ayah. Aba Abdullah tidak sanggup melihat putrinya,Inayah. Tanpa satu kata terucap pun tidak. Aba Abdullah meninggalkan Inayah dan Raka serta Ibu Fatima dan Ummi Humairah.
Ibu Fatimah langsung memeluk putrinya yang terlihat menyedihkan. Sementara Ummi Humairah berdiri dan masuk menyusul Aba Abdullah.
Di belakang Raka, Amira meneteskan air mata melihat kesedihan Inayah. Amira akui Inayah benar-benar kuat dalam situasi.
"Ibu, aku baik-baik saja. Tenanglah, Ibu. Allah tidaklah memberiku Ujian, karena Allah tahu, bahwa aku mampu melewatinya. Mas Adam dan aku akan baik-baik saja."
Ibu Fatimah semakin memeluk putrinya dan Raka semakin di penuhi rasa sesal dan bersalah memilihkan jodoh untuk adiknya dan memaksa Inayah menerima perjodohan itu.
Walau kerap Inayah mengatakan bukan karena terpaksa. Akan tetapi, tetap saja Raka benar-benar menyesal.
"Cukup, Inayah!" kata Raka.
***
Di lain tempat, Aditia semakin gentar memperdalam ilmu agamanya. Selain itu, Aditia juga kembali memperluas bisnis sang ayah.
Dan Ibu Hanum, semakin ngotot menjodohkan Aditia dengan perempuan pilihannya dan lagi-lagi Aditia kembali menolak.
"Aditia, Ibu dan ayah jauh-jauh kemari untuk mempertemukan kamu dengan gadis itu. setidaknya, temui dulu dia."
"Ibu, jika ibu datang ke negara ini hanya untuk ini. percuma," kata Aditia memeluk ibunya.
Tuan Subari hanya asyik baca koran. Tidak ikut campur urusan ibu dan anak tersebut. Aditia menoleh melihat sang ayah dan bersyukur atas perubahan Ayahnya.
"Waktu shalat jumat masuk, ibu. biarkan anakmu shalat jumat dulu. Sebentar lagi diskusi jodohnya."
Ibu Hanum menoleh kearah suaminya.
"Ayah meledek Ibu?" tanya Ibu Hanum menatap serius suaminya.
"Ayah tidak meledek ibu. lihatlah jam di sana. ini sudah waktunya, kami laki-laki untuk shalat jumat," terang Tuan Subari menyimpan koran yang dibaca sebelumnya.
Aditia sendiri pun mengambil kesempatan untuk kabur. Dengan sangat pelan, Aditia meninggalkan tempat itu dan berlalu.
__ADS_1
"Gara-gara ayah, nih. lihatlah! Putramu sudah kabur. Apa anak itu mau jadi perjaka tua?"
"Bisa jadi," jawab Tuan Subari tersenyum dan meninggalkan istrinya yang masih mengomel.
"Ayah dan Aditia sama saja bercandanya kelewatan," Ibu Hanum merengut sendiri.
Di mobil, Aditia duduk menunggu sang ayah dan akan berangkat bersama menuju mesjid yang terkenal di Kairo.
Hal langka itu membuat Tuan Subari ataupun Aditia saling diam.
"Maafkan ayah selama ini," ungkap Tuan Subari.
"Tuan, Maaf anda akan aku terima, jika semua harta warisan anda jatuh ke tangan saya," canda Aditia pada ayahnya. Aditia seperti merindukan berdebat dengan ayahnya itu.
"Berikan aku cucu. Maka, harta warisanku akan jatuh ke tanganmu."
Aditia tertawa mendengar ujaran Tuan Subari.
"Besok akan aku bawakan kamu cucu dan sepuluh menantu."
"Dasar! istri saja belum punya. Bagaimana kamu mau bawakan saya cucu dan menantu." Tawa Tuan Subari meledek putranya.
"Menantu kontrak, mau?" lagi-lagi Aditia bercanda dengan ayahnya.
"Sepertinya, Ayah tertukar dengan ibu." Tawa Aditia sambil menyetir dengan serius.
"Orang tua mana tidak mengharapkan Anak perjakanya duduk bersanding. Jika kamu sudah punya pilihan sendiri, bawah ke hadapanku."
"Apa perlu seleksi dari bibit bobotnya?" Aditia kembali mengingatkan ayahnya.
Tuan Subari menanggapi tidak serius dan berkata, "Hartaku sudah banyak. Aku tidak butuh menantu miskin atau kaya." Tuan Subari menoleh ke arah Aditia.
"Ayah tidak takut hartanya habis? bagaimana jika menantumu hanya mencintai putramu karena hartanya?" tanya Aditia lagi yang ketagihan berdebat dengan ayahnya.
"Maka aku akan adakan seleksi menantu terbaik dengan memberikannya sebuah pertanyaan yang harus mereka jawab. Juga, aku akan memberikannya tantangan. Yaitu, Aku akan memberinya sebagian hartaku jika calon menantu ku mampu melahirkan 12 cucu dalam setahun." Tawa Tuan Subari.
Adit geleng kepala dan juga mengakui jika ayahnya memang benar-benar jago debat.
"Aditia, Apa kau masih mencintai Inayah?"
Aditia tersenyum dan berkata, "Aku bahagia bila Inayah bahagia. Aku berharap kelak aku kembali bisa melihat anak-anak Inayah yang lucu dan akan berteman dengan keturunanku kelak nanti."
__ADS_1
Tuan Subari tersenyum dan berkata, "Bagaimana jika dia jodohmu."
Aditia semakin tertawa dan merasa lucu dengan ayahnya.
"Apa ayah pikir putra ayah perebut istri orang? Tidak ayah. Aku bukan pria yang hanya mengandalkan cinta. Tapi, Aku akan berjalan di muka bumi ini karena Fillah. InsyaAllah, jodoh terbaik bagiku Allah sudah siapkan." Aditia menatap ayahnya dengan serius apa yang di ucapkan olehnya.
"Aku akan menemui wanita yang dimaksud ibu. Jika aku merasa cocok, aku akan menerimanya Namun, aku harus berkomitmen dengan gadis itu dengan baik. Karena perinsipku menikah sekali saja seumur hidupku. Dan itu yang aku minta dalam doa-doaku. Aku ingin membangun rumah tangga bukan karena terpaksa karena pernikahan itu suci. Akan tetapi, aku ingin membangun rumah tangga dengan Cinta dan kasih."
Tuan Subari terdiam menyimak setiap kata yang terlontar dari Aditia, putranya. Tuan Subari semakin kagum dengan putranya itu. Begitu banyak perubahan dalam diri Aditia. Ada begitu banyak hikmah dibalik kejadian sebelumnya.
"Maafkan ayah sekali lagi, Nak."
pertama kalinya Kembali terdengar kata Anak di mulut tuan Subari untuknya. Aditia bersyukur dalam hati atas perubahan sang ayah.
Hingga sampailah mereka di sebuah mesjid yang tampak ada begitu banyak pengunjung jamaah yang akan melaksanakan ibadah jumat hari itu.
Tuan Subari meneteskan air mata begitu kakinya menginjakkan di mesjid tersebut. Hatinya bergetar mendengar suara azan dilantunkan dengan suara yang begitu merdu.
Usai shalat Jumat, Aditia pun dan Tuan Subari mencari angin di sebuah tempat terkenal di kota itu.
"Kali pertamanya aku menemukan kedamaian dalam diriku, Adit," ujar Tuan Subari. "Selama ini, aku menganggap bahwa uang adalah segalanya."
Aditia dan Tuan Subari terus menyusuri kota itu dengan banyak berbincang.
"Apa ayah tahu keinginan terbesarku saat itu? Aku ingin memiliki keluarga yang damai," ungkap Aditia.
"Maka dari itu, ayah pesankan. kelak kau menikah jangan sia-siakan keluargamu. Ibumu adalah orang yang sabar mendampingiku. Andai dia wanita lemah, mungkin sudah lama menyerah dalam pernikahan kami. Aku berselingkuh di belakangnya dan memiliki anak. Namun, ibumu tetap bertahan karena kalian adalah penyemangatnya." Tuan Subari menepuk bahu Aditia.
"Lantas, kapan kamu akan kembali?" tanya Tuan Subari.
"Setelah semua urusanku selesai di negara ini. Aku janji akan kembali mengolah bisnismu. Sudah saatnya ayah pensiun."
"Ya, Pensiun menunggu cucu darimu," tawa Tuan Subari menggoda putranya.
"Tenang saja, Ayah. Jika masanya sudah tiba, aku akan memaksamu menikahkan aku dengan perempuan yang aku suka."
"Dasar kamu!" Tuan Subari melirik Aditia yang terus berjalan menyusuri kota itu dengan senyum di wajahnya.
"Kamu benar-benar menikmati hidupmu, Aditia."
"Ya, hidup harus di nikmati dan di syukuri bukan diratapi.
__ADS_1
"Benar. Ayo kita kembali. Ibumu pasti sudah keriting menunggu kamu. Temuilah gadis pilihannya. Setidaknya jangan kecewakan ibumu. Jika kamu tidak suka, itu urusan belakangan."