Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 68. Harapan Inayah


__ADS_3

"Nona," bisik Zaki di tengah Sifa sedang menuju tempat parkiran untuk mengambil mobil.


"Apa hal anda terus mengikuti aku, Tuan?" Sifa tiba di dekat mobilnya dan terlihat masih banyak mobil berdesakan.


"Aku akan menemanimu di sini?" Zaki tersenyum melipat tangannya dan bersandar di mobil milik Sifa.


"Tuan, bukankah itu mobil milik, tuan?"


"Ya. Lalu aku harus apa? Tidakkah melihat mobil antrian di depan, Nona Asifa putri Abdullah."


Sifa menginjak sepatu Zaki dan memilih masuk mobilnya karena kesal dengan Zaki yang tidak ada hentinya menawarkan pekerjaan gila itu. Dan Zaki meringis kesakitan akibat kegilaan sifa padanya.


"Ini sangat sakit, Nona!" rintihan Zaki dam Sifa tidak menghiraukan Zaki.


"Sakit? sepertinya tidak," ledek Sifa yang kini tengah membuka pintu mobilnya. Dan kembali Zaki sedikit kejepit pintu mobil milik Sifa.


"Aku heran pada kamu, Nona. Seorang datang mengajak kamu menikah, malah kamu tolak," ujar Zaki lagi.


"Malas aku berurusan denganmu, Tuan. Kehidupan anda terlalu ribet. Saya mau punya suami menerima dan mencintaiku sepenuhnya bukan dengan memproduksi anak untukmu, lalu ditinggal cerai."


Sifa benar-benar tidak paham jalan pikiran pria bertubuh tinggi itu. Hingga pada akhirnya mobil Sifa sudah bisa keluar dari tempat parkiran.


"Nona, bila saya tidak bisa jalan akibat ulah anda, maka anda akan harus menikah degan saya!" teriak Zaki melihat kepergian Asifa. dan Asifa hanya melambaikan tangan pada Zaki.


***


Tiba hari, Aditia dan Inayah terbang menuju luar negri untuk berobat. Rasa berat meninggalkan Rayyan, Namun apa boleh buat.


Kondisi Aditia sampai di sana benar-benar membuat Inayah takut. Apa lagi tubuh Aditia tiba-tiba saja langsung drop. Inayah tidak berharap suaminya seperti sekarang. Inayah terus berharap kondisi Aditia akan kembali seperti dulu.


"Mas! Kamu jangan seperti ini?" panik Inayah. "Apakah karena obat yang dikonsumsi suamiku?!" protes Inayah.


Dokter Zain yang ikut menemani Aditia mencoba untuk memberi pengertian pada Inayah.


"Nona jangan khawatir, Tuan Aditia pria yang kuat."


"Bagaimana aku tidak khawatir, Dokter. Dia suamiku! "


Menurut pemeriksaan, ada pembekuan darah di sel otaknya akibat benturan keras di masa lalu.


"Sembuhkan suamiku." Inayah tidak bisa menahan tangisnya. seorang datang menepuk bahunya.


Ibu Hanum tiba bersama Tuan Subari. Tidak terasa Aditia menjalani pengobatan sudah enam bulan. Tiba-tiba Inayah tak bisa menahan dirinya dan pingsan.


"Inayah!" ibu Hanum berteriak. Tuan Subari segera mengangkat tubuh sang menantu.


Wajar saja tubuh Inayah tiba-tiba Drop. Selain suaminya yang terpikir olehnya nasib putranya Rayyan juga di pikirkan olehnya.


***


Alina kini harus menjadi ibu pengganti dari Inayah untuk Rayyan ponakannya. Alina tidak lagi mengurus urusan Kantor. umur Rayyan sudah masuk satu tahun satu bulan.

__ADS_1


Selama enam bulan menjadi ibu pengganti Rayyan, Alina cukup berpengalaman menjadi seorang ibu.


Bentuk kenakalan lainnya dari anak Rayyan adalah melempar, mendorong, dan memukul-mukul benda yang ada di dekatnya. Rayyan juga dengan senang hati membuka lemari hanya untuk mengeluarkan semua benda di dalamnya untuk kemudian dijadikan mainan.


Hal itu membuat Alina benar-benar Tidak habis pikir dengan kelakuan Rayyan yang makin hari semakin gesit dalam segala hal.


"Bagaimana ponakanmu, Alina? apa dia baik saja?" Video call Inayah pada putranya di suatu hari.


"Dia baik, kak. kakak jangan terlalu khawatir dengan Rayyan. Sifa dan semua neneknya sering kemari bahkan tiap hari mereka mengunjungi Rayyan." kata Alina kala itu.


Usai percakapan saat itu, Alina termenung mengingat kondisi dan kabar Aditia dan Inayah, Sementara Rayyan sudah dalam penanganan oleh suster Ira.


"Nona, ada apa?" tanya Bibi Sumi.


"Bibi, pernikahan aku ini sebenarnya seperti apa, sih?" tanya Alina.


"Maksud Nona?" Bibi Sumi tidak mengerti.


"Tidak apa-apa, Bibi. Aku ke kamar dulu." Alina berdiri meninggalkan kamar Rayyan.


Di kamar, Alina termenung. Selama 6 bulan pernikahan mereka, Teo masih terlihat kaku dengannya. Alina pun menari baju yang pas untuknya, berharap Teo mau meliriknya.


"Apa yang dikatakan Sifa benar, bisa saja Teo masih belum terbiasa dengan keadaan ini." Alina akan memberi kejutan buat Teo setelah pulang kerja.


Cukup lama menunggu kehadiran Teo hingga sudah sangat Sore Tapi Teo belum juga tiba.


***


"Kenapa setelah menikah dengan nona Alina semua keberanianku pada hilang. Mengajaknya saja untuk bercanda tidak ada?" Teo termenung di ruangannya seperti biasanya.


"Pulang tidak, ya." Teo semakin bingung dengan pernikahannya. selama 6 bulan ini, Teo dan Alina belum pernah sama sekali terlihat seperti suami istri lainnya.


Hingga pada akhirnya, Teo memutuskan untuk kembali. Tiba di rumah, Bibi Sumi melihat Teo termenung di dalam mobilnya.


Bibi Sumi semakin bingung dengan anak dan mantu dari majikannya. Apa yang terjadi?


"Tuan?"


Teo melihat Bibi Sumi mengetuk pintu mobilnya.


"Ada apa Bibi?" tanya Teo yang kini turun dari mobilnya dan mengambil tas kerjanya.


"Apa tuan Teo sakit?" tanya Bibi Sumi menghilangkan rasa penasarannya. tidak istri tidak suami terlihat uring-uringan.


"Tidak apa-apa, Bibi? Bagaimana kabar Rayyan, Bibi? Apa dia baik hari ini?" tanya Teo yang sudah terbiasa dengan Rayyan bersamanya.


"Sepertinya, Tuan sudah cocok menjadi ayah, ya?" ledek Bibi Sumi.


'Ayah apa, Bibi. Bagaimana mau jadi ayah, Melihat atau mengajak nona Alina saja aku seperti tidak berani,' batin Teo yang sebenarnya tidak memiliki keberanian mengungkapkan perasaannya pada Alina.


Sementara Alina, merasa gengsi untuk mengutarakan perasaannya lebih dahulu. Takutnya Teo tidak memiliki perasaan pada dirinya.

__ADS_1


Teo masuk kamar pribadinya untuk berganti sebelum menuju kamar Alina. Bibi Sumi setiap hari memberi laporan pada Tuannya mengenai perkembangan Teo dan Alina. Seperti sekarang, Bibi Sumi tengah memperhatikan sikap Teo saat akan masuk ke kamar Alina.


Cukup lama Teo terlihat berfikir. "Apa Alina sudah tidur?"


Hingga pada akhirnya Teo memutuskan membuka pintu kamar Alina. Dan benar saja, Alina terlihat pulas di sofa bad.


Teo berusaha menahan diri melihat pakaian yang dikenakan Alina terlalu pendek. Teo dengan perhatiannya meningkat tubuh mungil istrinya berpindah.


Begitu Teo mengangkat tubuh Alina, Alina menatap Teo. "Kak Teo sudah pulang?"


Alangkah terkejutnya Teo dengan suara itu. Alina tahu seperti apa Teo dan Alina mengalungkan tangannya dileher Teo.


"Maaf, Jika saya berani... saya hanya ingin memindahkan Nona ke tempat tidur."


Alina tersenyum dengan bentuk perhatian Teo padanya. Dengan pelan, Teo menurunkan tubuh Alina di atas kasur. Namun, Alina tidak melepaskan tangannya.


"Nona, beristirahatlah."


"Kak Teo, kenapa sih masih memanggil aku Nona. Memangnya aku ini siapanya kamu?"


Teo melepaskan tangan Alina dan beranjak dari tempat sebelumya. Alina menarik tangan Teo yang tidak ingin melihatnya.


"Kak, Teo. jawab aku? Tatap aku, Kak Teo!"


"Nona, saya...."


"Aku istrimu. Apakah pernikahan kita seperti ini?"


Teo berbalik badan, Alina langsung memukul Tubuh pria itu dari belakang. Selama 6 bulan ini, Alina ingin memeluk suaminya, akan tetapi rasa gengsinya terlalu besar.


mendengar saran dari Sifa dan Inayah, Alina pun mendahulukan dirinya.


"Apa kau tidak ingin memulai kehidupan baru bersamaku?" Alina masih setia memeluk tubuh pria berwajah maskulin itu.


Teo memperbaiki kacamatanya dan berkata, "Nona, aku tidak tahu, mengapa ayah Subari memilihkan nona, aku sebagai suamimu. Sejujurnya, aku... "Kata Teo terhenti dan berbalik badan menatap Alina yang kini juga menatapnya.


'Ayo, ungkapkan,' batin Alina penuh harap.


Keduanya saling menatap. Alina seakan menunggu lanjutan ucapan Teo sebelumnya.


'Apa nona juga mencintai saya?' batin Teo.


***


Selamat Membaca. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰Salam manis dari Author buat pembaca setia aku....


Ini cerita Author berjalan langsung begitu saja. tumbuh dengan ide Author sendiri. mengalir apa adanya.


Maaf, ya, Author masih uji kemampuan dalam berhalusinasi. πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Oh Teo, sungguh luar biasa dirimu. wajar ya, Teo gak percaya diri. Majikan ama anak buah nikah. jelaslah, gimana gitu....☺☺☺🌹

__ADS_1


__ADS_2