Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab. 77. Pernikahan Sifa


__ADS_3

"Mas, Apa kau ada di sana?" tanya Inayah yang tidak mendapat respon dari Aditia.


"Iya, aku masih disini. Ada apa, Sayang?" tanya Aditia di balik percakapan telepon tersebut.


"Mas segera pulang. Selesai ashar kita ke rumah ibu."


"Iya, aku sekarang sudah akan kembali," ujar Aditia yang masih melihat Zaki terlihat serius berbicara degan Arjuna.


"Baiklah, aku menunggumu, Mas." Inayah memutuskan kontak mereka.


"Ada apa dengan mas Aditia? apa yang sedang dipikirkan," gumam Inayah setelah panggilan telepon diputus olehnya.


Teo dan Alina kembali dari rumah sakit. Mendengar suara riuh di lantai bawah, Inayah jadi kepo.


Mendengar kata HAMIL. Inayah pun berteriak dari lantai atas.


"Benar kamu Hamil, dek?"


Alina melihat ke lantai atas dan tampak Inayah sedang berdiri menunggu jawaban darinya. Alina mengangguk penuh kebahagiaan diwajahnya.


Inayah menuruni anak tangga. Lalu, menghampiri Alina dan memeluknya. Adita tiba dan melihat apa yang terjadi.


"Ada apa ini? Seperti ada hajatan saja. Siapa yang hamil?" tanya Aditia melihat Alina terlihat memeluk Inayah.


"Sayang kamu yang hamil?" Aditia langsung mendekati Inayah.


"Siapa bilang aku hamil, Mas. Bukan aku," bantah Inayah.


" Lalu, siapa yang hamil?" tanya Aditia.


"Apa ibu yang hamil?" tanya Aditia.


Semua tertawa mendengar penuturan Aditia.


"Kalau ibu yang hamil, kalian siap memberikan ibu cucu lima satu orang. Bisa?" canda Ibu Hanum pada anak-anak dan menantunya.


"Ibu, ini bukan kucing," jawab tuan Subari.


"Lalu, siapa yang hamil, Ibu?" serius Aditia bertanya.


"Adik kamu yang hamil, Adit. Tidak lama lagi Rayyan punya teman bermain."


Aditia menoleh kearah Alina. "Selamat, dek. Kau akhirnya akan mejadi Ibu. Selamat Teo, akhirnya benih yang kamu tanam tumbuh juga." Aditia menepuk bahu Teo yang disambut senyum bahagia oleh Teo.


Keluarga itu di penuhi rasa bahagia. ibu dan Tian Subari meminta anak-anaknya untuk tetap tinggal satu atap dengan mereka walau sebenarnya Aditia ingin tinggal di rumahnya bersama keluarga kecilnya.


***


Tiba hari pernikahan Sifa yang terlihat Aditia menatap Inayah tampak begitu bahagia. Beberapa hari ini, Aditia meminta seseorang untuk mencari tahu tentang Zaki. Namun, Aditia tidak berhasil memecahkan rahasia tentang Zaki.


"Mas, Mas baik-baik saja? sedari tadi mas melihat Zaki, lho. Kenapa?"


"Aku hanya mengingat saat aku dulu melakukan ijab qabul. Kamu tahu, aku belajar mati-matian berharap tidak ada yang salah agar aku bisa secepatnya menghalalkan kamu." Aditia tersenyum. Senyum manis itu di dibalas oleh Inayah.


Hingga terdengar ijab qabul diucapkan degan lantang oleh Zaki. Semua keluarga tampak begitu bahagia. Berbeda dengan Sifa hanya dirinya yang tahu seperti bagaimana perasaannya sekarang.

__ADS_1


"Sungguh aku tidak percaya terjebak dalam pernikahan seperti ini," batin Sifa menatap Zaki yang yang tersenyum kearahnya.


Sifa pun duduk di dekat Zaki. Zaki meminta tangan Sifa untuk di uluran. Dengan cukup ragu tangan itu terulur. Sifa memberanikan diri. Ibu Fatimah berbisik agar Sifa mengulurkan tangannya. Pertama kalinya Sifa bersentuhan dengan pria tersebut.


"Kenapa tanganmu dingin?" bisik Zaki saat Sifa mengulurkan tangannya.


Zaki pun menyematkan cincin itu di jari manis Sifa. Setelahnya, Sifa menyematkan cincin kawin ditangan Zaki.


Inayah terlihat bahagia melihat hal tersebut. Aditia bisa melihat senyum istrinya dibalik cadarnya.


"Kau bahagia, Sayang?"


"Siapa tidak bahagia melihat mereka, Mas," ujar Inayah yang tangannya digenggam oleh Aditia dan Rayyan berada di samping Aditia.


"Semoga mereka bahagia," ucap Aditia penuh makna melihat Zaki.


Tidak ada malam resepsi. Hanya sebatas Ijab qabul dan dihadiri oleh keluarga dekat dan kerabat. Semua karena keinginan Sifa sendiri.


"Sifa, selamat, ya... akhirnya kamu menemukan juga pasangan hidupmu," ujar Alina.


"Selamat juga untukmu. Akhirnya tidak lama lagi kamu akan punya baby," ujar Sifa memeluk Alina.


"Tuan, Zaki. Bahagiakan temanku."


"Tentu, Nona, Alina," jawab Zaki melirik Sifa sambil tersenyum. Sifat terlihat berusaha untuk tersenyum.


Zaki memeluk pinggang Sifa yang membuat Sifa terkejut dengan perbuatan Zaki.


"Jangan memelukku seperti ini." bisik Sifa.


"Apa salahnya. Bukankah kita harus terlihat mesra di hadapan mereka?"


Sifa meminta agar Zaki melepaskannya. Namun, Zaki semakin mengeratkan tangannya merangkul pinggang Sifa.


"Memangnya apa yang salah? Bukankah kita sudah sah sebagai suami istri? Lalu, salahnya di mana," bisik Zaki.


"Apa kamu lupa poin 4 dalam kontrak kita?" bisik Zaki lagi yang membuat Sifa tampak diam.


Sifa ingat bahwa pihak kedua atau pun pihak pertama harus saling mengasihi di depan keluarga.


Zaki melepaskan Sifa ketika Aditia datang menghampiri keduanya.


"Selamat, Tuan Zaki, Semoga pernikahan ini anda hargai. Jernihkan pikiran anda," bisik Aditia sambil Aditia merangkul bahu Zaki.


"Terimakasih, Tuan Aditia. Tenang saja. Adik ipar anda akan baik-baik saja bersamaku. Dia istriku sekarang. SAH." Zaki menepuk bahu Aditia. kemudian Tersenyum.


Raka dan Amira melihat Zaki dan Aditia, merasa ada yang tidak beres. Ada apa?


"Mungkin saja keduanya membahas sedikit pekerjaan, Mas?" bisik Amira pada Raka.


"Bisa saja," jawab Raka yang kemudian ikut bergabung dengan Teo dan lainnya.


Dan terlihat Ummi Humairah begitu bahagia. Sifa menatap semua keluarganya. Hingga saat ini Sifa masih bertanya mengenai nenek Sofia.


Usai acara selesai, Zaki mau pun Sifa beristirahat. Sebagian tamu telah kembali. Tampak Zaki tengah melihat-lihat Kamar Sifa yang ternyata penggemar doraemon.

__ADS_1


"Kenapa anda melihat kamarku? Apa tidak seluas dengan kamar anda, Tuan?" Sifa melipir meraih handuk di lemari.


"Ini handuk untukmu. kalau mau mandi, silahkan. Tuan Martin menitipkan ini pada anda." Sifa memberikan paper bag pada Zaki.


"Aku suka diperhatikan seperti ini." goda Zaki.


"Tapi sayangnya, ini bukan bentuk perhatian, Tuan," Sifa menatap Zaki. Sebenarnya Sifa sangat kecewa karena hanya untuk mendapatkan anak darinya. Itulah perjanjian mereka.


Zaki melangkah hingga tubuh sifa mendarat di atas kasur karena Zaki terus maju tubuh Sifa pun terbaring. Terlihat Sifa begitu gugup. Zaki tertawa.


Sifa mendorong tubuh Zaki begitu kuat dan menginjak kaki Zaki.


"Aw...! Sifa, ini sakit!" rintih Zaki.


"Rasakan itu, Tuan." Tawa Sifa


"Kamu.... "


"Apa. Minggir! Aku mau keluar!" Sifa kembali mendorong tubuh Zaki.


Kembali Zaki menangkap Sifa dari belakang. "Kamu harus tangung jawab."


"Tidak akan!" tolak Sifa berusaha lepas dari Zaki.


Kembali Sifa menyiku perut Zaki dengan kuat. Seketika, Sifa lepas dari Zaki dan tertawa melihat Zaki kesakitan.


"Sifa, Kamu...!" rintih Zaki kembali.


"Selamat menikmati, Tuan." Tawa Sifa begitu puas melihat Zaki kesakitan.


Zaki geleng kepala melihat Sifa yang keluar degan masih baju pengantinnya. Sangat terlihat Sifa begitu bahagia setelah memberinya dua kali pelajaran.


Zaki membuka buku album foto yang sebelumnya dirinya sangat penasaran. Sebuah Foto mengejutkan Zaki.


Sementara di luar, Sifa bertemu dengan Nenek Sifa yang akan pamit bersama Martin.


"Sifa, nenek akan pulang. Sebentar sore kamu akan menyusul dengan Zaki. Nenek menunggumu di rumah."


"Maksudnya? Saya akan meninggalkan ibu sendiri?"


"Bukan seperti itu, Sifa. Nenek hanya memintamu beberapa hari." timpal Ummi humaira.


"Ummi tidak mengapa di sini?"


"Nak, kamu harus ikut dengan suamimu. Ibu akan tinggal di panti asuhan. Ibu sudah putuskan. Jangan pikirkan ibu. kamu sekarang sudah punya suami. Berbaktilah pada suamimu."


"Andai ibu tahu bahwa hanya satu tahun aku akan kembali pada ibu," batin Sifa memeluk Ummi Humaira.


Sifa mengantar nenek Sofia dan berkata pada Sifa, "Sifa, buat Zaki bahagia. Nenek tahu hubungan kalian. Tapi nenek percaya, kamu anak yang baik."


"Apa maksud nenek? Jadi benar nenek Sofia adalah nenek Zaki?" batin Sifa.


"Sifa, berjanjilah pada nenek. Nenek pamit. Ayo Martin, kita pulang."


"Mari Nona Sifa, kami pulang." Martin pamit pada Sifa yang terlihat mematung.

__ADS_1


**


Maaf, Author baru up lagi. Ada kesibukan. Terimakasih masih setia dengan cerita author. 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2