Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 17. Hari Bahagia


__ADS_3

Semakin hari pernikahan Inayah semakin dekat. Bahkan Hari itu Inayah dan Adam sudah melakukan banyak persiapan dan Undangan pernikahan mereka pun sudah tersebar.


Sementara Aditia sendiri di luar negri menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Aditia benar-benar berusaha melupakan Inayah. Selain ke Amerika ternyata Aditia juga ke Kairo mencari ilmu agama.


Aditia sadar diri jika selama hidupnya hanyalah sia-sia. Selama ini dirinya menyadari satu hal bahwa hanyalah sebuah keimanan yang mampu memberikan ketentraman dalam jiwa dan pikiran.


Hari itu, Aditia menyempatkan diri menghubungi Adam karena Aditia tahu jika Adam sekarang sudah mengambil cuti dari pekerjaannya untuk persiapan pernikahan mereka.


"Aku benar-benar turut bahagia atas hari bahagia kamu esok hari. Aku sudah menitipkan sebuah Kado untuk hari pernikahan kalian," ujar Aditia di balik percakapan telepon.


"Terimakasih," kata Adam. "lalu bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu sudah lebih baik? Tidak terasa keberadaan kamu di sana sudah masuk satu bulan," ungkap Adam lagi di balik percakapan telepon mereka.


"Aku sudah mengikhlaskan dia menikah dengan pria pilihannya."


"Kamu benar-benar bukan Aditia yang dulu lagi. dari kata-katamu, kamu tampak bijak dalam menghadapi segala hal. Sejujurnya, aku penasaran dengan gadis itu yang membuat sahabatku harus pergi jauh Sehingga di hari pernikahanku kamu tidak sempat hadir. Bukankah itu sahabat tidak setia?"


"Jaga bicaramu. Sejak dulu aku selalu memberimu support hingga sekarang. Aku berharap kamu dan istrimu bahagia selamanya." kekeh Aditia di ujung telepon


"Tentu saja aku bahagia dengannya. Calon istriku tidak hanya pandai menutup auratnya, tapi juga pandai dalam segala hal. Dari caranya berbicara dia wanita hebat."


"Wajar saja. Aku dengar calon istrimu seorang putri dari seorang pimpinan pesantren. Apakah itu benar?"

__ADS_1


"Iya, tepat sekali."


"Berarti kamu termasuk beruntung. kamu tidak lagi ikut bertanggung jawab sebagai suaminya masalah berpakaian." lanjut Aditia di balik percakapan telepon mereka


"InsyaAllah." ujar Adam lagi.


Begitu Aditia hendak menanyakan nama calon istri Adam, Ponselnya kehabisan baterei. Sehingga percakapan mereka pun berakhir.


"Belum rejekiku untuk tahu siapa nama calon istrimu, Adam." Omel Aditia yang kemudian mengambil Chager ponselnya.


...****************...


Esok harinya adalah merupakan hari ijab qabul antara Inayah dan Adam. Tampak sudah ramai oleh tamu undangan untuk menyaksikan ijab Qabul kedua mempelai.


Adam merupakan lulusan dari Mesir dan mengambil jurusan kedokteran setelahnya.


"Aba, Inayah merupakan sosok seorang istri yang InsyaAllah bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri yang baik. Jika pun ada kekurangan darinya, saya pun seorang pria penuh dengan banyak kekurangan. Namun dari kekurangan masing-masing semoga kami bisa saling menutupi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing."


Aba Abdullah kembali menepuk bahu Adam dan berkata, "Amin. Aba selalu doakan yang terbaik buat kalian berdua." Aba Abdullah menatap Adam.


"Nak Adam, aku percaya padamu. Aku menitipkan Inayah dan menyerahkan sepenuhnya tangung jawabku kepadamu. Aba pesan jangan pernah kamu sekali pun memukul putri Aba. Jika pun seandainya suatu hari kamu bosan pada putri Aba, pulangkan dia secara terhormat pada kami."

__ADS_1


"Aba, InsyaAllah. Aku akan selalu menjaga Inayah apa pun yang terjadi."


Aba Abdullah pun memeluk Adam hingga pada saatnya tiba ijab qabul pun dimulai dengan Bismillah. Suasana hari itu terlihat tegang. Apa lagi setelah Aba Abdullah mengambil alih untuk menikahkan keduanya. hingga terdengar suara.


SAH!


Jantung Inayah berdenyut hebat tidak percaya jika hari itu kini sudah menjadi seorang istri dari Adam.


Cinta adalah misteri yang sulit dimengerti. Cinta merupakan anugerah bagi insan manusia. Cinta adalah kebahagiaan yang terpancar dalam diri seseorang, meski terkadang cinta juga meninggalkan rasa sakit.


Terlihat rona mata yang indah, penuh gairah dan kedewasaan. Ramah kala menyapa, dan indah saat bertutur. Adam menatap Inayah tiada henti ketika Inayah di bimbing menuju tempat ijab Qabul. Adam pun menyambut Inayah dan duduk di sampingnya.


Adam memasangkan cincin di jari manis inayah. yang sebelumnya Inayah terlihat sedikit ragu hingga pada akhirnya cincin itu berhasil tersemat di jari manis Inayah.


Terdengar suara para tamu bersorak agar Adam memberikan satu kecupan di bagian kening Inayah. Adam pun pada akhirnya mengecup kening Inayah dan mendoakannya. Seketika, bulir bening jatuh. Entah apa yang membuat Inayah meneteskan air mata.


"Aku mencintaimu, Inayah." bisik Adam ditelinga kanan Inayah setelah Adam mendoakan Inayah.


Deg!"


"Apa jawabanmu?"

__ADS_1


melihat Inayah diam. kembali Adam berbisik. "Tidak usah dulu kamu jawab."


Inayah tersenyum setelah Adam menatapnya dan membantu Inayah berdiri untuk berganti menuju acara resepsi.


__ADS_2