Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 48. Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Hai, Hai... Jangan lewatkan kata demi kata. Kamu akan terkejut dengan sebuah fakta. Terus berikan dukungan kalian dan bantu Author promosikan novel ini, Ya. 😍😍😍berharap pembaca setia Author mau bantu ... mempromosikan karya Author☺☺☺ tahu gak, Author bercita-cita suatu hari nanti bisa terbitkan buku juga. Amiin."


...****************...


"Atur semuanya. Jangan ganggu aku. Aku percaya padamu bisa menangani semuanya."


Bahasa itu mampu membuat Teo tidak berkutik lagi. Begitu berbalik Asifa datang dan menabraknya hingga jas miliknya ke tumpahan dengan air minum yang di bawah oleh Sifa.


Asifa terlihat merem dan juga menyesal. "Ma... maaf, Tuan. saya tidak sengaja. Sa... saya akan membersihkannya," Cakap Asifa terlihat serba salah.


Semua pengunjung kantin kantor melihat keduanya. Teo terlihat diam melihat jas miliknya terlanjur basah.


"Namun, bagaimana caranya aku membersihkannya? Apa iya aku membersihkannya seperti layaknya di drama-drama yang sering di nonton Alina, begitu?" lirih Asifa dengan tiga lembar tissue sudah ditangannya.


"Maaf Tuan, aku... aku... ti... tidak bisa melakukannya. Bersihkan sendiri." Asifa memberikan tissue tersebut pada Teo. Lalu meninggalkan Teo dengan mata melotot.


"Dasar gadis aneh! Benar-benar tidak bertanggung jawab!" Omel Teo melihat kepergian Asifa.


Teo lupa jika ponsel miliknya masih dalam keadaan masih tersambung dengan Sang direktur.


"Gawat." kata itu yang sempat keluar dari bibir Teo melihat ponselnya masih tersambung dengan Aditia dan segera dia matikan.


***


"Apa kamu bilang, Teo?" tanya Aditia yang kini sudah berada di tempat bulan madu mereka. sebuah villa yang cukup besar milik keluarga Aditia.


Inayah sendiri sangat menikmati pesisir pantai yang terbentang luas di depannya tidak jauh dari villa tersebut.


"Kenapa, Mas Adit? Ada masalah pekerjaan kantor?"


"Tidak, Sayang. Hanya saja, aku tidak tahu Teo sedang berbicara dengan siapa dibalik telepon. Marah tidak jelas! seperti suara seorang wanita," kata Aditia yang kemudian menarik tangan Inayah menuju pantai setelah memakaikan Inayah Boater hat  dan kacamata hitam sebagai pelindung dari sinar sang surya.


Dua insan tersebut benar-benar menikmati kebersamaan mereka. Hingga sampai di bibir pantai, Aditia kembali menarik tangan Inayah lagi dan duduk di tepi pantai menikmati hari mereka dengan penuh kasih.


"Apa Ini, Mas?" Inayah menerima kotak kecil dari Aditia.


"Bukalah! Sepertinya kita memang berjodoh. Bukankah benda itu sebelumnya sudah aku kembalikan?"


"Kok aksesoris hijab ini kembali sama Mas Adit?" Inayah heran setelah melihat isi dari kotak kecil itu yang terbungkus rapi. Inayah ingat hari di mana dirinya berkunjung usai bercerai dari Adam menghibur hatinya atas kekecewaannya dengan keputusan Adam meninggalkan dirinya ketika dirinya benar-benar sudah memilih Adam saat itu.


"Aku tidak tahu. Aku menemukannya di bibir pantai tempat awal kita bertemu hari itu.


Kembali dari Amerika hari itu, aku singgah di sana mengenang pertemuan kita."


"Lalu, Mas Adit menemukan ini?"


Aditia menoleh ke arah Inayah. tampak ujung hijab itu melambai-lambai. Aditia kembali membantu Inayah untuk berdiri.

__ADS_1


"Sini, aku bantu mengenakannya."


Aditia mengambil benda tersebut dan mengenakan di hijab milik Inayah.


Inayah menutup matanya ketika Aditia mulai memasang aksesoris hijab tersebut. Deru napa Aditia sangat jelas terdengar olehnya.


Inayah dan Aditia salah tingkah. keduanya seperti masih terlihat belum terbiasa. wajar saja keduanya masih masa pengantin baru. Semua akan terbiasa seiring waktu berjalan. Apa lagi Inayah yang tidak mengenal pacaran.


"Mari kita pacaran?"


Inayah tertawa mendengar penuturan kekasih halalnya. Aditia mengulurkan tangannya dan diraih oleh Inayah. Bukankah sebuah ibadah bagi suami istri setiap kali melakukan kontak fisik?


"Ketika suami istri saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka Allah memandang keduanya dengan tatapan kasih sayang." – Hadis


"Inayah, memilikimu adalah yang terbaik karena imanku seakan bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karena itu, InsyaAllah aku ingin kembali bertemu denganmu di surga. Harapanku seperti itu."


Inayah mengaminkan. Lalu menutup mata Aditia dan berkata, "Tutup mata kamu dengan rapat, Mas."


"Untuk apa, Inayah?"


"Tutup saja."


Aditia mulai menutup matanya. Inayah tidak hentinya memandang wajah tampan itu. Detik kemudian kaki Inayah terlihat berjinjit. kecupan singkat mendarat di pipi Aditia walau terhalang dengan kain penutup wajah Inayah, akan tetapi Aditia bisa merasakan dengan jelas hal tidak terduga itu. Cukup lama Aditia tercengang di tempatnya.


Setelah Aditia membuka matanya, wanita yang dicari olehnya entah pergi kemana. Aditia tidak hentinya memegang pipinya. Bekas kecupan dari Inayah, istrinya masih Aditia ingat dengan jelas.


Sementara Inayah sendiri, kini merutuki keberaniannya melakukan hal tersebut yang dulunya haram kini halal untuknya. Hingga Inayah tidak sadar tangan kokoh Aditia sudah melingkar penuh di bagian perutnya.


"Mas Adit pasti lapar, kan? Aku sudah buatkan makan siang untukmu," kata Inayah untuk menghindari tatapan Aditia.


"Kenapa kau meninggalkan aku seorang diri di pantai, ha? Jika ada orang yang menculikku bagaimana?" bisik Aditia sangat romantis dan sengaja menggoda Inayah lagi.


"Ya, mas cukup lari saja... beres, kan?" cakap Inayah sangat malu makna dari sorot mata Aditia.


"Seperti itu? lantas, Yang tadi kecup pipi aku siapa?" goda Aditia lagi. Sambil terus memperhatikan jari jemari Inayah yang begitu lincah mengerjakan pekerjaan dapur.


"Siapa? kenapa melihatku seperti itu?"


"Kamu harus tanggung jawab. Karena telah meruntuhkan tembok pertahananku."


"Mas Adit, lepaskan aku! Masakan aku bisa hangus."


Namun, Aditia tidak melepaskan juga. Inayah terus meminta dilepaskan dan menunjuk ke arah masakan yang hampir gosong.


Aditia pun akhirnya melepaskan Inayah setelah melihat sesuatu telah menimbulkan asap putih di dapur.


"Gosong, Kan?" Inayah bersedih melihat masakan terakhirnya gosong.

__ADS_1


"Biar aku memasak untukmu." Aditia meminta Inayah untuk duduk dan mulai memasang apronnya.


"Memang bisa?" tanya Inayah melihat Aditia terlihat serius.


"Aku kok tidak percaya, ya. Seorang direktur akan memasak untukku. setahuku seorang direktur perusahan terkenal ini hanya duduk manis menyelesaikan tanda tangan dokumen." senyum Inayah mengembang.


"lihat saja nanti. Istriku cukup menikmati masakan suaminya. Dan aku yakin istriku akan ketagihan dengan hasil masakanku," kata Aditia dengan sombongnya dan juga begitu percaya diri.


Tangan-tangan kokoh itu terlihat begitu lincah memotong sayur dan lainnya hingga Inayah terlihat senyum-senyum sendiri. Sesekali Inayah membantu Aditia menyeka keringatnya dan sesekali keduanya saling menatap satu sama lain. lewat pandangan itu seakan menyampaikan perasaan masing-masing.


"Selesai."


Inayah tercengang melihat beberapa macam jenis makanan di atas meja tersaji. Inayah pun mulai mencobanya.


"Bagaimana?" tanya Aditia menunggu penilaian dari Istrinya.


"Enak. Ternyata suamiku pintar juga memasak. Di mana belajar memasaknya?" tanya Inayah mulai mengambil piring dan menyediakan nasi untuk Aditia.


"Dari Nyonya Hanum," jawabnya dengan terlihat gigi putihnya. "Dan juga karena sudah biasa tinggal sendiri."


Inayah tersenyum dan tidak lagi melanjutkan obrolan mereka. Terlihat keduanya menikmati momen tersebut. Sesekali Aditia menatap diam Inayah.


'Apakah aku mampu jauh darimu kelak nanti, Inayah.' batin Aditia melihat senyum itu terus terpancar.


"Kenapa memandangku seperti itu, Mas?"


"Kamu cantik memakai baju seperti itu. Lain dari pada biasanya. Namun, jangan pernah memperlihatkan ini pada siapa pun kecuali hanya di depanku." Ungkap Aditia.


Inayah menggunakan pakaian terbuka selepas pulang dari pantai dan sebelumnya Aditia menyangka itu bukan Inayah. Sungguh kejutan untuknya.


"Kau sangat cantik, Inayah."


Seorang suami memang kadang memuji istrinya lewat cara mereka masing-masing. Bahkan ada suami yang mungkin malu mengatakan hal tersebut secara langsung. Namun, Aditia tidak. Syukuri kelebihannya dan bersabar atas kekurangan pasangan masing-masing.


Tiba malam, Inayah dan Aditia kembali romantis. Aditia pun meminta sesuatu pada Inayah.


"Kita shalat sunnah dulu ya, Mas."


Sejujurnya Inayah sangat gugup. Entah apa reaksi Aditia, sang suami jika mengetahui fakta tentang dirinya. Doa pun terucap diakhir shalat dua rakaat mereka dengan khusuk.


Cukup lama keduanya saling memandang dan saling mentransfer dan memadu kasih. Tembok pun seakan menutup mata. Lilin romantis dan kelopak bunga mawar menjadi ikut bersaksi dalam peraduan dua insan tersebut.


Seketika Aditia terdiam. Diamnya Aditia membuat Inayah juga diam. Aditia menatap dua manik mata indah itu dan berkata,


"Inayah, ka... ka... kamu masih... gadis?"


Inayah mengangguk pelan. Aditia benar-benar dikejutkan dengan hal tersebut. Ingin bertanya banyak. Namun diurungkannya. Aditia benar-benar tidak percaya dengan istrinya. Bagaimana bisa Inayah mantan istri dari Adam, sahabatnya merupakan Istri tidak tersentuh.

__ADS_1


"Maafkan bila aku menyakitimu, Inayah. Aku mencintaimu, Inayah." bisiknya dalam peraduan.


__ADS_2