Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 99. Mengapa Tidak Jujur


__ADS_3

Sore hari menjelang malam, Semua keluarga tampak hadir melihat kondisi Inayah.


"Ayah, bagaimana Bunda?" Rayyan melihat Bundanya tampak tak bersuara.


Rayyan memeluk Inayah dan mengusap perutnya. Inayah berbalik mengusap pucuk kepala Rayyan.


"Jadilah anak yang sholeh."


Rayyan mengangguk patuh.


Kondisi Inayah terlihat tidak stabil yang membuat Aditia meminta dokter merawat Inayah


"Lakukan yang terbaik buat istri saya."


Aditia menatap nanar Inayah yang kini kembali harus berhadapan dengan selan  infus lagi. Dia tahu betul, bagaimana Inayah menahan rasa takutnya melihat jarum suntik di dekatnya.


Seketika, teriakan Inayah membuat dokter Alea dan Aditia menoleh. Melihat Inayah, Seketika Aditia berlari.


"Sayang, kau tidak apa-apa. Aku yakin kau bisa!"


Aditia mendekat ke arah Inayah. Ibu Fatimah dan Ibu Hanum juga sudah di dekat Inayah. Melihat Inayah dirawat, Alina ingat bagaimana Inayah dulu saat melahirkan Rayyan.


Kembali Inayah terlihat merasakan sakit yang tidak bisa lagi ia gambarkan. Semua perawat mengambil bagian masing-masing untuk mengobservasi pasien. Dokter Alea pun memeriksa dan hasil masih sama. Kontraksi Inayah masih kontraksi bohongan. Belum ada sama sekali tanda-tanda, jika Inayah akan melahirkan.


"Bagaimana dokter?" Tanya Aditia dengan wajah gusar menatap Inayah terus merasakan sakit.


"Belum ada sama sekali pembukaan," jawab Dokter Alea menjelaskan.


"Lalu, apa yang harus kami perbuat? Apa tidak ada obat penahan sakit?"


Mendengarkan itu, Inayah meraih lengan Aditia dengan lembut. Aditia mendekat dan mengusap wajah istrinya yang berkeringat dengan menggunakan tangannya.


Ada rasa yang tak bisa Aditia utarakan. Bagiamana kuatnya Inayah menahan sakit, Inayah mencoba menenangkan dirinya yang juga dibantu oleh Aditia dengan terus mengusap lembut punggung Inayah dengan tangan satunya saling bertautan.


Melihat Inayah kembali tenang, Aditia pun menawarkan Inayah untuk makan. Dari pagi, Inayah belum pernah sama sekali mengkonsumsi makanan.


"Ayo, makan, Sayang. Takutnya mag kamu akan kambuh lagi. Biar cuma sedikit. Ini makanan kesukaanmu. Di masak-kan oleh Ibu. Kamu harus kuat." Kata mag mungkin itu tidak lagi dirasakan.


"Inayah, aku tidak minta lagi kamu melahirkan aku keturunan dengan melihatmu seperti ini, Sayang. Maafkan aku."


"Mas, ini mejadi kodrat kami sebagai wanita. Aku baik saja."


"Sayang, secar atau pun normal, tidak jadi masalah. Asalkan kamu baik-baik saja," Aditia mantap nanar wajah Inayah tampak terlihat matanya menyipit.

__ADS_1


"Jika boleh, aku ingin melahirkan normal."


Inayah membuka mulutnya. Tak sanggup melihat suaminya terlihat begitu menghawatirkan dirinya. begitu suapan kedua Inayah memegang tangan Aditia dan mengambil alih sendok itu, lalu mengarahkan ke mulut suaminya.


"Ayo, buka mulutmu, Mas! " pinta Inayah yang pada akhirnya di turuti oleh Aditia. "Kamu juga perlu banyak makan, Mas. Jangan cuma aku yang kau perhatikan  sementara kesehatan kamu sendiri terabaikan."


"Melihatmu, tersenyum seperti ini, aku sudah cukup bahagia, Sayang," kata Aditia. "Kuatlah demi anak kita, Sayang.


"Begitupun kamu, Mas," kata Inayah. Dan memberikan sebuah kalung yang pernah dulu Aditia berikan.


"Mas, jika aku melahirkan nanti, kalung ini untuk anak kita. Aku yakin, anakku pasti perempuan."


"Sayang, mengapa kau memberikan kalung ini padaku?"


"Mas, Terima saja." Inayah kembali merasakan sakit lagi. Akan tetapi, kali ini ia masih mampu menahannya.


Seorang suster datang dengan membawa alat suntik di tangannya.


"Permisi, Tuan, Nona. Keluarga pasien di panggil sebentar oleh dokter."


Inayah yang sedang makan, berhenti sejenak. Aditia pun angkat bicara. "Ada hal apa, ya Sus?"


"Kami tidak tahu, Tuan," jawab suster itu yang sedang mengecek selan infus Inayah karena sebelumnya mendapat laporan, jika infusnya tidak berfungsi.


Aditia pun menuju ruang dokter Alea setelah pamit dengan Inayah. Cukup lama di ruangan Dokter Alea. Wajah Aditia menampakkan sebuah raut yang tidak bisa diungkapkan.


Dokter Alea mengatakan hal sebenarnya, Jika Inayah mengidap kanker rahim. Itulah alasan Dokter Alea memberikan begitu banyak obat untuk di konsumsi Inayah. Inayah meminta dokter Alea untuk tidak mengatakan sebelumnya, karena Inayah paham, perusahaan suaminya hari itu masih dalam keadaan tidak stabil.


Inayah yang usai makan setelah disuap oleh Ibu Hanum tampak tidak baik terlihat wajah Aditia.


"Aditia, ada apa?" Ibu Hanum heran dengan putranya.


"Mengapa kau merahasiakannya padaku, Inayah! mengapa!"


"Apa maksudmu, Mas. Aku tidak paham."


Aditia menceritakan pada semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.


"Inayah, mengapa kamu merahasiakan ini? mengapa Inayah! Kau bahkan tidak pernah sedikitpun memperlihatkan tanda-tanda menyatakan kamu sakit, Sayang. Kenapa!" Aditia memeluk Inayah.


Namun sebisa mungkin, Inayah harus kuat. "Mas, Kenapa kamu begitu khawatir. Wajahmu begitu kusuk? aku baik-baik saja, kok."


"Tidak, Sayang. Aku tidak bisa berbohong. Aku betul-betul khawatir melihat kondisimu seperti ini, Inayah. Dengan kamu seperti ini sama saja kau pelan-pekan membuatku pria paling lemah, Inayah."

__ADS_1


Ibu Fatimah mendekat. "Nak, ada apa ini? apakah itu benar?"


"InsyaAllah aki akan baik, Bu. Jagan khawatirkan aku," Inayah menahan air matanya.


"Apakah ini kau balas dendam padaku, Inayah. Dimana hari itu aku menyembunyikan diri dari sakitku?"


"Jangan katakan seperti itu, Mas. Itu tidak benar."


"Kita sabar saja. Dokter hanya bisa memprediksi! Aku tidak akan pernah percaya anggapan dokter. Memangnya siapa dia?" Sahut Raka.


"Apa maksudmu, Raka? Katakan padaku yang jelas? Katakan, Raka!"


Paksa Aditia.


"Semua prediksi dokter, Aditia. kamu harus bisa menenangkan dirimu." Raka mencoba memenangkan suasana. Terlihat Ibu Fatimah mengusap air matanya dan Inayah sebisa untuk kuat.


"Dokter mengatakan, jika calon bayi kita kondisinya saat ini sangat kemah, Inayah dan...."


"Aku akan kuat Mas," timpal Inayah memotong ucapan Aditia. Aku yakin, aku mampu, Mas?"


"Tentu saja, Sayang. Kau wanita kuat." Aditia memeluk Inayah.


***


Malam tiba, entah sudah berapa kali dalam sehari ini Inayah merasakan sakit. Hingga detik sekarang. satu jam kemudian rasa sakit kembali lagi.


Aditia yang tak mampu melihat Utami terus-terusan meringis, Aditia pun melaporkan seputar kondisi Inayah. Hingga pada akhirnya Inayah diminta pindah di ruang observasi.


"Maaf, Nona. Bisakah Nona menjelaskan berapa jam kemudian rasa sakit itu datang lagi?" tanya Suster yang bagian sif malam.


"Siangnya, sekitar  satu setengah jam datang lagi, hingga tadi sore seperti itu. Dan malam ini, aku perhatikan Setiap setengah jam kemudian datang lagi rasa sakit itu. Iya seperti itu." papar Inayah mengingat dengan baik.


"Baiklah, Nona. Selamat beristirahat. Hanya itu pertanyaan dari kami untuk memastikan kondisi Nona.


Inayah menatap langit-langit. Kehamilan ini seakan memberinya begitu banyak pengalaman hidup. Inayah benar-benar merasa bersalah. Baik pada orangtunya dan lainnya, maupun pada suaminya sendiri.


'Sayang, kamu masih bisa tenang. di saat dirimu dalam kondisi seperti ini. kamu terlihat ikhlas dalam menjalani ujian yang kamu hadapi sekarang.' batin Aditia


Aku berharap anak kita baik-baik saja. aku yakin Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuanku.' batin Inayah.


'jika garis takdirku sampai disini aku ridho, Mas. satu pengharapan


Berharap anak ini lahir dengan selamat. ya rabb, izinkan aku berjihad di jalanmu merasakan kembali bagaimana perjuangan seorang ibu dalam memperjuangkan hidup dan matinya hingga anak ini terlahir dengan selamat dan pada akhirnya tunduk dengan segala perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.' Inayah meneteskan air mata menatap Rayyan sidah tidur dalam pangkuan Ibu Hanum.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aditia melihat Inayah tampak sedang gelisah.


__ADS_2