Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 33. Memaafkan


__ADS_3

Wahai pembaca setia aku. Terimakasih atas dukungan kalian. 😍😍😍 Tetap dukung Author. Jangan lupa tinggalkan, Like, komentar, dan masukkan dalam daftar favorit kalian biar selalu dapat pemberitahuan up terbarunya. see You. 🥰🥰🥰🥰🥰


...****************...


Dengan pelan, Inayah membuka matanya, Inayah begitu terkejut sudah berada di rumah sakit. Inayah memegang kepalanya yang masih terasa sangat pusing. Setelahnya, kembali mata itu tertutup.


Samar-samar terdengar suara seorang ibu yang memanggilnya.


"Inayah, bangun, nak. Ini Ibu. buka matamu, nak," pinta Ibu Fatimah.


"Inayah, ini Ummi, nak. Buka matamu, Sayang. Jangan membuat kami cemas. Ayo, nak! buka matamu." Ummi Humaira terlihat begitu sedih melihat keadaan Inayah.


"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Aditia yang sedari tadi terlihat begitu cemas dengan


Inayah.


"Keadaannya baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya yang belum stabil akibat rasa ketakutan atau stres yang berlebihan," ujar Dokter tersebut. "Biarkan pasien beristirahat. Jangan khawatir."


"Baik, dokter. Terimakasih," ujar Aditia lagi melhat Inayah. Ada serpihan rindu menatap wanita bercadar itu terbaring lemah. matanya tertutup entah kapan terbuka.


Semenjak Inayah dan Adam bercerai, Inayah hanya berbicara bila perlu dan lebih banyak tinggal di kamar. Bahkan Inayah yang dulunya periang, kini sudah tidak. Di tambah lagi Aba Abdullah berpulang ke rahmatullah secara mendadak. Inayah sama sekali jarang berkomunikasi dan lebih banyak diam.


Penjelasan dari Ummi Humairah tentang Inayah, Membuat Aditia ikut tersakiti. Bagaimana mungkin Inayah menghadapi semuanya seorang diri?


'Inayah, kupikir kau sudah bahagia?' batin Aditia melihat orang-orang dekat Inayah terlihat begitu khawatir.


'kamu terlihat kuat. Namun sebenarnya, kamu terlalu rapuh, Inayah. Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan kegembiraan itu, Inayah? katakan padaku, Inayah?' batin Aditia lagi menatap Inayah dari jarak jauh.


Aditia pamit pada Ummi Humairah dan Ibu Fatimah. Aditia keluar dari ruangan Inayah menuju kamar tempat Adam di rawat.


Aditia dengan pelan masuk di ruang rawat Adam. Aditia menatap Adam. Ada begitu banyak alat medis melekat di tubuh pria tersebut yang menggelar sebagai dokter umum. Kini terbaring tidak berdaya.


'Adam, aku tidak menyangka kau mengorbankan semuanya. Aku tidak pernah meminta hal ini terjadi. Kau bahagia aku pun bahagia.' Aditia terus menatap Adam yang juga masih menutup matanya.


"Bangun Adam, ada banyak yang masih perlu kamu jelaskan padaku. Apakah kau mencintai, Inayah? jawab Adam. Jangan kau menutupi lagi dariku. bangun Adam! bangun!


Tuan Danu masuk dan mendapati Aditia diam sambil menundukkan kepalanya.


"Kami juga awalnya menyalahkan keputusannya. Dia benar-benar berhasil membuat kami salah paham. Adam melakukannya pasti sudah dia pertimbangkan dengan matang," kata Tuan Danu menepuk bahu Aditia.


"Apa ini, Om?"


"Buku catatan harian Adam. Dua hari yang lalu, dia memberikannya padaku dan berkata. 'Bila waktunya tiba, berikan ini pada Aditia. Setelah membacanya, semoga Aditia memaafkan aku.'

__ADS_1


Tuan Danu memberikan pada Aditia buku tersebut. "Bacalah buku itu bila ada kesempatanmu."


Tuan Danu tidak mampu lagi berkata-kata. Dirinya terlalu sedih dengan keadaan Adam yang sekarang.


"Lantas, apa kata dokter tentang Adam."


Diamnya tuan Danu membuat Ada berkesimpulan jika penyakit Adam sudah parah.


***


Ibu Hanum melihat Aditia pulang tampak tidak bersemangat. Melihat Ibu Hanum, Aditia pun angkat bicara.


"Mengapa ibu tidak mengatakannya padaku selama ini?" sesal Aditia pada ibunya.


Aditia duduk di sofa dan menarik rambutnya dengan kasar.


"Kami sengaja merahasiakan ini padamu, Adit. Karena, kami takut persahabatan kalian akan hancur. Dan untuk masalah inayah bercerai dengan Adam, Ibu tidak tahu."


"Apa ayah tahu semua ini?" Aditia mengangkat wajahnya dan melihat kearah Tuan Danu.


Tuan Danu hanya diam.


"Mengapa ayah merahasiakan ini padaku? kenapa ayah!"


"Tidak ayah. Aku sudah mengikhlaskan Inayah. Bahkan jika aku tahu siapa suami Inayah, aku akan mendukung mereka. Karena Adam pria yang memang pantas untuk Inayah," ungkap Aditia penuh kekecewaan mengetahui keputusan Adam.


"Justru keputusan Adam, membuat aku tersakiti degan melihat Inayah tersiksa, Ayah!"


"Maafkan kami," ujar Tuan Danu menepuk bahu putranya. "Jika kau mencintai Inayah. Perjuangkan sekarang!"


Aditia menoleh ke arah Tuan Danu.


"Pikirkan apa yang ayah katakan."


***


Inayah sudah sadarkan diri. melihat inayah membuka matanya, Ibu Fatimah tampak begitu bahagia.


Inayah mencoba mengingat apa yang terjadi dan bertanya. "Mengapa aku ada disini? Inayah terus mencoba mengingatnya. Siapa yang membawa aku ke rumah sakit?"


"Aditia yang membawamu ke rumah sakit," sahut Raka yang baru datang.


Inayah terdiam. Kembali mengingat kejadian sebelumnya. "Bagaimana keadaan Mas Adam?

__ADS_1


"Adam masih kritis," sahut Raka lagi. Raka juga sudah mengetahui alasan faktanya tentang Adam."


"Antar aku melihat Mas Adam, kak."


"Untuk apa Inayah. Itu kebodohannya. Harusnya dia mempertahankan kamu, jika memang dia mencintaimu. Apa lagi pedulimu dengannya? Kau masih belum sehat dan dokter menyarankan kamu banyak istirahat."


Inayah kembali menangis. Inayah tidak mengerti mengapa dirinya begitu mudah mengeluarkan air mata. "Aku membenci air mata ini, kak."


"Istighfar, Inayah. Harusnya kamu bisa lebih kuat dengan keadaanmu yang sekarang. Bukan meratapinya," ujar Raka. "Harusnya yang di salahkan itu adalah aku, inayah, aku."


"Tidak, kak. Kau tidak salah. Berhenti menyalahkan dirimu."


Raka memeluk adiknya. Dan berkata. "Maafkan aku, Inayah."


***


Raka mengantar Inayah dan meminta Raka membiarkan dirinya sendiri. Setiap kali Inayah melihat Adam ingin rasanya berteriak.


"Apa kamu pikir ini lelucon, Mas Adam? Kau tega padaku, Mas. Namun, andai kau sadar dan meminta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu," ujar Inayah.


Inayah tertunduk menatap wajah pria yang pernah hadir dalam hidupnya, pria yang pernah inayah harapkan dan berharap mampu memberinya sandaran di kala hati di penuhi lara. Namun, justru pria tersebut yang memberinya duka yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


"Yang aku sesalkan sekarang, mengapa setelah perpisahan, aku mengetahui semuanya, Mas Adam. Harusnya aku tidak mengetahui semua ini. Kini aku mengerti, Mas. kau tidak benar-benar mencintaiku. Apa yang kau katakan padaku hari itu, hanya ucapan belaka untuk menghiburku." Inayah mengusap air mata itu yang lolos begitu saja.


"Mulai sekarang, Aku tidak akan lagi menangisi ini. Terimakasih, Mas Adam, aku pernah mengenalmu."


Aditia mendengar semua keluh kesah Inayah di balik pintu masuk. Hatinya ikut terhanyut dalam perasaan. Mata Adam masih terpejam, seakan dia ikut merasakan rasa sakit dan kekecewaan Inayah.


Melihat Inayah memegang kepalanya, Aditia segera masuk dan menahan tubuh itu.


"Kenapa kau tidak istirahat? Kesehatanmu lebih penting, Inayah. Jangan banyak berfikir."


Inayah segera melepaskan diri dari Aditia. Inayah sangat sadar, jika dirinya bukan Inayah yang dulu.


Ketika Inayah akan keluar dari ruangan itu. Inayah kembali memegang kepalanya. begitu Inayah melangkah, Inayah hampir saja terjatuh dan Aditia langsung mengangkat tubuh Inayah keluar dari ruangan itu menuju ke kamar inap Inayah.


"Tuan, turunkan aku. Kamu siapa berani memperlakukan aku seperti ini." Inayah memberontak dan Aditia tidak peduli dengan Inayah yang memukul dadanya.


"Diamlah."


Kembali Inayah merasakan sakit di kepalanya.


"Sudah akun katakan padamu, kamu harus banyak istirahat, Nona."

__ADS_1


"Apa pedulimu, denganku."


__ADS_2