
Mata Tuan Danu berkilat tajam dan tubuh menegang, wajahnya merah padam dan alis hampir menyatu mendengar pengakuan putranya. menatap tajam ke arah Adam yang duduk di samping Inayah yang tengah diam kaku. Hingga suara bariton Tuan Danu terdengar jelas.
"Apa kamu waras? Apa kamu memikirkan perasaan Inayah, Adam!" geram Tuan Danu.
"Bagaiman bisa kamu akan poligami, Adam! Apa kekurangan Inayah, ha?" Tuan Danu berkacak pinggang dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Apa kekurangan Inayah? Jawab!" teriak Tuan Danu pada putranya. Adam. "Kurangnya, Kau kurang bersyukur, Adam! Itu kekuranganmu," lanjut Tuan Danu dan ikut duduk di sofa dengan penuh amarah.
"Bukankah sebelum menikah dengan Inayah, Aku sudah katakan pada ayah, jika aku bisa saja akan poligami," ungkap Adam dengan keputusannya tanpa melihat ke arah Inayah yang sedari tadi menahan segala kesedihan dan kekecewaan.
Terlihat tubuh Inayah bergetar menahan lara yang tertahan. hatinya hancur. Pengharapan Inayah, Adam sebagai imam yang baik untuknya hanya fatamorgana.
'Kesalahan apa yang pernah aku perbuat, Ya Allah,' batin Inayah mengasihani dirinya.
Tuan Danu kembali berdiri dan berkacak pinggang. Adam benar-benar telah memancing emosinya.
"Apa ayah lupa apa yang telah akun katakan pada ayah?"
"Adam! kamu...." Tangan Tuan Danu menggantung di udara.
Adam berdiri dan menjelaskan jika Inayah sudah memberi izin. Tuan Danu berbalik semakin geram menatap putranya, lalu beralih melihat Inayah yang sedari tadi Inayah hanya diam.
"Pakai otakmu, Adam! Berfikir yang jernih. Bagaimana bisa kamu mengambil kesimpulan keputusan istrimu, ha?" Mata Tuan Danu tidak berkedip menatap kedua bola mata putranya.
Begitu Tuan Danu hendak melayangkan tamparan di wajah Adam Inayah berdiri menghalangi.
"Apa yang dikatakan mas Adam benar, ayah. Aku sudah setuju, Ayah. Jika dia bahagia bersama Dr. Karin. Aku ikhlaskan suamiku," papar Inayah dengan menundukkan pandangannya berpura-pura tegar di depan ayah mertua. Demi kebahagiaan Adam jika itu pilihannya, Inayah tidak bisa Mencegahnya. Adam sudah memutuskan dengan matang.
"Apa maksudmu, Inayah?" tanya Tuan Danu. lalu beralih menatap Adam.
"Aku akan menikahi Karin dalam waktu dekat ini, Ayah," ungkap Adam.
Tuan Danu begitu terkejut mendengar pengakuan putranya. Wajah Tuan Danu kembali terlihat merah padam menatap tajam Adam yang duduk di samping Inayah yang tengah diam.
Tuan Danu tidak mengerti dalam pikiran Adam. terlihat Taun Danu menahan emosi yang semakin memuncak. Tuan Danu bisa melihat rasa sakit yang ditanggung Inayah atas keputusan Adam.
"Inayah, jelaskan pada ayah, apa Adam memenuhi kewajibannya sebagai suami? Apa dia memberikanmu nafkah lahir dan nafkah batin?"
Inayah diam, tidak ada jawaban. Tuan Danu sudah bisa menebak diamnya Inayah. lalu, berbalik ke arah Adam dan ibu mertua pun memeluk Inayah. Di balik cadar Inayah, terlihat begitu menyedihkan. Inayah semakin terisak dalam pelukan ibu mertua.
__ADS_1
"Apa Adam memberimu nafkah batin?" tanya ibu mertua lagi dengan lembut.
Inayah hanya bisa diam. Inayah tidak malu berkata-kata saat pertanyaan itu terlontar. Diamnya Inayah membuat Ibu mertua dan ayah mertua semakin geram. dan ibu mertua begitu tampak kecewa pada putranya sendiri. Jalan 6 bulan pernikahan Adam dan Inayah membuat Tuan Danu semakin tidak mengerti makna pernikahan mereka. Rumah tangga seperti apa yang mereka bangun? lalu, apa maksud putranya menerima perjodohan itu, jika tidak mencintai Inayah?
Rasa sesal dalam diri Tuan Danu memikirkan apa tanggapan keluraga Inayah. Tuan Danu ingat Aba Abdullah menerima kedatangan mereka saat itu dengan tangan terbuka. Apakah kurangnya komitmen di antara anak-anak mereka? Apa sebenarnya yang membuat Adam berubah drastis?
"Jelaskan apa sebenarnya yang terjadi, Adam?"
Inayah tidak mampu lagi mendengar jika Adam kembali mengulang penjelasannya. Hingga akhirnya Inayah angkat bicara.
"Akan saatnya ayah tahu apa yang terjadi. cukup, ayah."
Tuan Danu bisa menebak ada kesalahan terbesar yang Adam simpan.
"Kenapa kau berpura-pura tegar, nak? Semua keputusan ada di tanganmu. Ayah mendukung segala keputusanmu. Laki-laki seperti ini pantas mendapatkan ganjarannya!"
Mendengar perkataan ayahnya, Adam mengangkat kepalanya. "Apa maksud ayah? Ayah ingin aku dan Inayah berpisah? Tidak ayah! Aku tidak akan melepaskan Inayah begitu saja. Bagaiman bisa ayah menginginkan perceraian?"
Ayah mertua tersenyum meledek mendengar kalimat Adam. "Masih bisanya kamu mengatakan tidak mudah. Tapi, menyakiti istrimu sangat mudah kamu lakukan. Semua akan mudah jika Inayah mau."
"Semua terjadi di luar kendaliku, ayah. Aku terjebak." Adam membela dirinya.
"Ayah tidak Terima alasan! Pengetahuan agama yang ada dalam dirimu, kamu kemanakan, Adam? kemana, ha? Tidakkah kau malu pada Tuhanmu?"
Ayah Adam semakin geram. "Apa kamu paham maksud dari hadits itu, Adam! geram Tuan Danu. "Sungguh ayah benar-benar kecewa padamu, Adam!" Tuan Danu memijit kepalanya.
"Ya Allah, Apa salahku?" Tuan Danu terdengar menyalahkan dirinya.
Ibu mertua kembali memeluk Inayah dan berkata sama seperti yang di katakan suaminya sebelumnya.
"Kenapa kau berpura-pura tegar, nak? Semua keputusan ada di tanganmu. Ayah dan ibu akan mendukung segala keputusanmu. Laki-laki seperti itu pantas mendapatkan apa yang pantas menurutnya dan akan sadar suatu saat nanti bila sesal sudah tiba." ungkap ibu mertua pada menantunya.
Mendengar perkataan ibunya Adam menoleh melihat Inayah dalam pelukan sang ibu. mengangkat kepalanya. "Apa maksud ibu? apa ibu juga ingin aku dan Inayah berpisah? Tidak ibu! Aku tidak akan melepaskan Inayah." tolak Adam masud dari ucapan sang Ibu.
Tuan Danu geleng kepala. mendengar kalimat Adam lagi. "Kamu egois Adam sungguh ayah tidak pernah mendidikmu seperti itu." Kau Cinta pada istrimu, akan tetapi, kau menghancurkan perasaannya tanpa pertimbangan. Sekali lagi ayah katakan, semua akan mudah jika Inayah mau."
Tuan Danu kembali menatap Inayah. "Apa keputusanmu, nak?"
Inayah mengedarkan netranya menatap Adam, lalu kembali melihat Tuan Danu.
__ADS_1
Raka yang sedari mendengar percakapan mereka tidak tahan dan muncul di dibelakang mereka. sebelumnya, Raka datang ke rumah Tuan Danu untuk menyampaikan terimakasih perwalian dari Aba Abdullah atas bantuan yang diberikan pada pondok pesantren yang dikelola oleh Aba Abdullah.
Dengan langkah cepat, dan tangan Raka mengepal sempurna menghampiri Adam secara tiba-tiba dan terlihat begitu geram.
Buk!
Satu pukulan tepat mengenai perut Adam atas amarah dan kekecewaan Raka mendengar semua pengakuan Adam.
"Aku sudah menyesal memilih kamu sebagai suami untuk adik saya. Bagaimana kamu Menyia-nyiakan adik perempuan saya dengan akan poligami tanpa alasan yang jelas," ungkap Raka sangat kecewa.
Kedatangan Raka membuat Inayah dan semua yang ada di tempat itu begitu terkejut. Raka menatap Inayah. Raka pun memeluk adik perempuannya hingga tangis Inayah pecah seketika.
Raka pamit dan membawa Inayah pulang. Tuan Danu tidak tahu lagi apa yang harus dia perbuat.
"Inayah!" teriak Adam mengejar Raka yang membawa istrinya pergi.
Hingga sampai di depan, Raka berhenti dan berbalik melihat Adam melemparkan tatapan kekecewaan.
"Tidaklah cukup dan bersyukurnya kamu memiliki satu istri?" geram Raka.
"Asal kamu tahu, kamulah pria yang akan menyesal telah menyia-nyiakan Inayah. Seharusnya awal pernikahan, kamu tidak melakukan ini jika tidak menyukai adik saya, Adam. Dan aku adalah orang paling menyesal telah percaya denganmu. Sungguh tidak pernah terpikir olehku kau menyakiti adik saya seperti ini. Berfikirlah yang jernih sebelum kamu menemui Inayah!" kata Raka.
"Akulah orang pertama yang akan menghadapi suatu hari atas semua kejadian ini. Aku tidak akan membiarkan kau kembali mengemis pada Inayah. Cukup!" Raka menarik paksa Inayah ikut dengannya.
Inayah menoleh melihat Adam yang juga menatapnya. Inayah berharap Adam menghentikan Raka. Namun ternyata, Adam hanya diam di tempat.
Sekali lagi Inayah kembali berharap agar Adam menghentikan mobil Raka. dan lagi-lagi pengharapan itu sirna setelah mobil Raka yang membawa Inayah telah keluar dari pekarangan rumah milik mertua.
'Kak Adam, cintamu benar-benar hanya palsu untukku.' Inayah terisak di balik cadarnya.
Rasa bersalah Raka melihat Inayah terpuruk di balik kaca spion. Hingga Raka berkata, "Jangan tangisi pria seperti itu."
Inayah semakin tidak mampu menahan rasa sesak yang sedari tadi tertahan.
"Maafkan aku, Inayah," kata Raka
"Kak, jangan bawah aku pada Aba. Aku takut penyakit jantung Aba kambu bila mengetahui hal ini."
"Tidak mungkin Aba tidak tahu. Dia harus tahu, Inayah."
__ADS_1
Terimakasih dukungannya. Karya ini tidak berarti apa-apa tanpa dukungan dari kalian. jangan lupa beri like, dan tambahkan dalam daftar favorit biar dapat up terbarunya. eits! tinggalkan komentar di bawah kolom komentar. Biar Author tahu seberapa gergetnya kalian dalam karya ini. jika ada saran Author Terima lapang dada. Author siap menerima saran koreksi dari
kalian. Salam manis dari Author buat pembaca setiaku. 😍😍😍🥰🥰🥰😘