
Pagi cerah menyapa lewat dua insan saling bergandengan tangan. Aditia menemani Inayah jalan pagi. Kata orang tua dulu, bila sudah dekat umur bulan untuk melahirkan harus banyak bergerak.
Senyum Aditia pada ibu-ibu komplek begitu ramah menyapa. Seorang wanita dengan kulit putih bersih lewat di samping mereka. Gadis itu tersenyum ke arah Aditia dengan tulus dan Inayah melihat hal itu.
"Mas jaga mata! Aku juga bisa seperti itu. Mas mau?" ujar Inayah berhenti melihat wanita dengan pakaian olahraga yang dikenakan cukup menarik perhatian.
"Jangan dong. Tubuh istriku tidak boleh dilihat oleh orang lain." Aditia kembali menoleh ketika seorang wanita menyapanya.
Inayah kembali berdeham. "Siapa itu?"
"Anaknya pak RT, Sayang."
"Body bagus, juga cantik. Iya kan?" pancing Inayah ingin mendengar tanggapan Aditia.
"Biasa saja." kata Aditia.
"Benarkah?"
Aditia berhenti dan berkata, "Semua yang dimiliki istriku sangat sempurna."
"Gombal!" Inayah melepaskan sandalnya, Lalu berjalan meninggalkan Aditia.
"Kau tidak percaya?" Aditia merebut sandal Inayah dari tangannya.
"Mas, biarkan aku yang membawa sandal aku!"
"Biarkan aku. Setelah ini, kita akan mau kemana?"
"Mas tidak ke kantor?" tanya Inayah dan tiba-tiba memegangi perutnya.
"Sayang, Kau kenapa?"
"Tidak, aku baik saja," ujar Inayah tiba di depan pintu pagar rumah mereka.
"Dulu waktu Rayyan, Apa kamu sering jalan pagi?"
"Ya, Jalan bersama Bibi." Tiba-tiba Inayah kembali seperti merasakan sakit.
"Inayah, Apa kau baik-baik saja? Apa kita ke rumah sakit?"
"Aku baik saja, Mas." ucapnya.
"Perkiraan dokter aku melahirkan tiga minggu lagi, Mas." jelas Inayah mengingat penyampaian dokter Alea.
Inayah masuk dalam rumah dan melihat Bibi Sumi terlihat bahagia.
"Ada apa Bibi?"
"Ada telepon dari rumah sakit untuk Nona. Katanya, Nona Sifa sudah melahirkan. Anaknya kembar."
"Apa? Sifa melahirkan anak kembar? Alhamdulillah. Akhirnya Sifa sudah melahirkan juga. Mas, ayo kita ke rumah sakit!"
"Sayang, apa kamu yakin mau ke rumah sakit? lihatlah dirimu. Kamu yakin?"
"Aku tidak apa-apa, Mas. Ayo, Mas! Aku akan mandi dan bersiap!" Inayah tampak girang mendengar anak Sifa lahir kembar. Dirinya sangat penasaran ingin melihat anak kembar Sifa.
"Pasti sangat lucu mereka, Mas!"
__ADS_1
"Sayang, Hati-hati! jangan tergesa-gesa!" Aditia takut Inayah terpeleset.
"Ayo, Mas! kamu harus berganti sebelum aku keluar dari kamar mandi!"
"Sayang, aku ini belum mandi. Masa iya aku ke sana tidak mandi."
"Astaga, Mas! Kan, bisa pinjam kamar mandinya Rayyan mandi. Iya, gak?" kata Inayah sebelum masuk kamar mandi.
"Ayo, Mas! tunggu apa lagi. Kita harus cepat sampai di sana!"
"Sayang, anak Sifa tidak akan kemana-kemana! Dia akan menunggumu."
"Pokoknya aku keluar, Mas sudah selesai mandi."
"Ini semua kerena Bibi Sumi. Repot, kan jadinya?" gumam Aditia.
"Mas, jangan banyak mikir."
"Bagaimana kalau madi bersama?" goda Aditia."
"Tidak! Sana mandi sendiri dikamar Rayyan." Inayah menutup pintu kamar mandi.
Begitu Inayah keluar dari kamar mandi tampak Aditia sudah siap. Usai memakai baju, Inayah kembali mengambil sesuatu di kamar mandi. Namun, begitu Inayah akan melangkah, kakinya terpeleset yang membuat Aditia langsung meloncat menyelamatkan istrinya.
"Inayah!" Teriak Aditia.
"Mas!"
Jika saja Aditia sedikit terlambat entah apa yang akan terjadi. Sontak perut Inayah langsung bereaksi.
"Mas sakit!
Aditia segera mengangkat tubuh Inayah. Semua terasa ringan.
Sebelumnya Inayah sudah memakai baju
Bibi Sumi terlihat mengatur napasnya dan melihat Aditia menggendong Inayah.
"Cepat Bibi, buka pintunya!"
Aditia dengan segera membawa Inayah menuju rumah sakit.
"Ini sangat sakit, Mas!" rintihan Inayah.
"Bibi telepon semua orang. katakan kita menuju rumah sakit."
"Baik, Tuan." Bibi Sumi menutup pintu mobil itu kemudian masuk kembali ke dalam rumah setelah Inayah dan Aditia berlalu.
"Bibi, kenapa Bunda? Mengapa ayah terlihat panik?"
"Tuan muda, sepertinya Bunda akan melahirkan adiknya Rayyan.
"Benarkah? Lalu kapan kita melihat Bunda.
"Kita tunggu kabar," ucap Bibi Sumi.
***
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju rumah sakit cukup macet.
"Sayang bertahanlah."
Inayah tidak lagi menyahut. Dirinya hanya bisa merintih dalam hati Damanik terus berzikir, sementara Aditia terlihat perasaannya kalang kabut.
Aditia menggenggam tangan Inayah menunggu lampu hijau.
Suara klakson mobil di belakang, menyadarkannya, ternyata sudah lampu hijau. Segera aditia kembali dalam dunianya dan menancap gas mobilnya.
Inayah terus menyebut ketika rasa sakit itu kembali datang. Bisikan itu seakan memberinya kekuatan. Kekuatan untuk berjuang menahan rasa sakit. Inayah berbalik dan kembali tersenyum setelah rasa sakit itu kembali hilang entah kemana.
Begitu rasa sakit itu kembali berulang lagi yang sekian kalinya, Inayah langsung meremas tangan Aditia hingga kuku-kuku Inayah tampak begitu tajam mengenai permukaan kulit Aditia. Aditia membiarkan hal itu. Cakaran Inayah belumlah seberapa dengan rasa sakit yang dirasakan wanita terkasih.
ponsel milik Aditia sedari tadi berdering dan tidak menghiraukan. Entah sudah berapa kali ponsel IPhone itu terus memangil. Bukan tidak ingin mengangkatnya, akan tetapi saking fokusnya Aditia menyetir ia tidak lagi ada waktu menjawab panggilan.
Rasa sakit terus berulang-ulang mendera tubuh wanita itu. Suara ponsel pun tak mampu lagi Inayah dengar. Suara bising-bising lainnya seakan menganggu ketenangannya.
Aditia sambil menyetir terus berusaha menciptakan suasana yang tenang dengan memutarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Sejenak terlihat Inayah meresapi. Dan Aditia berusaha juga untuk tenang dan fokus.
Hingga mobil mereka sampai di rumah sakit. Dokter Alea sedari tadi menunggu kedatangan mereka. Sebelumnya Aditia sudah menelpon. Dokter Alea yang menangani Inayah tidak percaya jika apa yang dirasakan Inayah
Inayah merupakan kontraksi. Bisa jadi, apa yang dirasakan Inayah hanya kontraksi bohongan.
Memeriksa kondisi Inayah dengan seksama dan menunggu beberapa jam. Dokter Alea pun angkat bicara. Akan tetapi pertanyaan lebih dahulu dilontarkan oleh Aditia yang terlihat tidak tenang.
"Bagaimana, dok? Sudah pembukaan berapa?"
Tampaknya Aditia begitu berpengalaman. Ya tentu saja. Sebelumnya Aditia sudah pernah belajar saat Rayyan dulu walau kala itu dirinya masih dalam masa hukuman hingga teman-teman meledek Aditia. dan setelah kehamilan kedua, diam- diam kembali Aditia membeli buku seputar ibu hamil tanpa diketahui siapa pun. Saat waktu luang di kator, Aditia membaca buku panduan seputar ibu hamil tersebut.
"Kita tunggu beberapa jama kemudian. Semoga saja bukan kontraksi bohongan."
"Baik, dok."
Aditia melihat dokter Alea keluar dari ruangan. Hingga rasa sakit kembali mendera. Inayah beranjak dari tempat duduknya. Begitu rasa sakit itu kembali menyerang, kembali Inayah berucap.
"Mas, Ini sangat sakit!" Keringat mulai bercucuran. Sura rintihan terdengar. Yang membuat membuat Aditia terlihat sadar betapa besar perjuangan seorang wanita. Aditia hanya bisa mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Mas, ini sakit!" Suara Inayah disertai mimik menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.
Aditia dengan sabar mengusap perut Inayah dan memintanya memeluknya. Inayah berbalik dan berpegangan dikedua bahu Aditia.
Ketika rasa sakit itu tidak lagi datang, Inayah kembali menarik napas.
"Mas aku haus?"
Aditia langsung memberikan satu botol air minum. Para suster terus memantau perkembangan Inayah di rumah bersalin tersebut.
"Aw... Mas! Sakit!"
"Teruslah tenangkan hatimu, Sayang." Aditia kembali meminta Inayah untuk bergerak sesuai permintaan dokter sebelumnya.
"Mas, Adit!" Teriaknya. Rasa sakit yang di rasakan Inayah bertambah. Duduk saja tak mampu, berbaring pun tak sanggup. Inayah bertumpu di dinding kamarnya dengan kedua tangannya ia tumpukan di dinding dan pandangannya mengarah ke bawah melihat lantai dengan mimik muka merem, karena menahan sakit.
Tangan kokoh Aditia mengusap lembut perutnya. "Maafkan aku, Sayang," bisik-nya. Bisikan itu seakan memberinya kekuatan. Kekuatan untuk berjuang menahan rasa sakit. Inayah berbalik dan kembali tersenyum setelah rasa sakit itu kembali hilang entah kemana.
Aditia meneteskan air mata melihat betapa perjuangan Inayah dulu berjuang seorang diri tanpa dirinya.
__ADS_1
✍️✍️✍️✍️Semangat Inayah. Itulah bentuk jihad seorang wanita.