
Bagaimana Aditia tidak terkejut, penampilan Marina sangat berbeda. Rambut panjang miliknya kini terlihat seperti seorang pria.
"Selamat datang. Akhirnya anda datang memenuhi panggilan aku. Masuklah." Marina dengan penampilannya cukup membuat pria bisa saja menerkamnya. Sebagai pria normal Aditia sebisa mungkin melawan hal itu.
"Katakan saja di sini. Apa yang ingin kamu katakan. Aku tidak punya banyak waktu. Apa tujuanmu dengan semua ini, Marina?"
Marina tertawa. "Mas Adit, baiknya kita bicarakan di dalam. Masuklah! Kau sangat berubah Mas Aditia. Semenjak hari itu, kita tidak bertemu lagi. Aku dengar istrimu sangat cantik. Bagaimana bisa mereka mengatakan istrimu cantik, jika... tidak pernah dilihat karena... Aku tidak yakin." ledek Marina.
Aditia menanggapi perkataan Marina dengan kepala dingin. "Itulah keistimewaan istriku. Semua yang ada dalam dirinya cukup untuk suaminya, Nona Marina."
Marina kembali tertawa dan seketika berubah dengan raut wajah sedihnya. "Andai bukan ayahmu, semua tidak seperti ini. Aku masih menginginkan dirimu. Kau tidak ingat bagaimana dulu kita saling mencintai, Adit." Marina mengenang kembali masa lalunya.
"Kau bahkan tidak peduli hari itu. Kau melupakan aku seketika." Marina berjalan menuju arah Aditia sambil tangan Marina ia letakkan di kedua bahu Aditia.
"Bahkan bau parfum milikmu hingga sekarang aku masih ingat, Adit."
"Turunkan tanganmu, Nona." Aditia menepis tangan Marina cukup kasar.
Namun detik kemudian, Marina mendorong dengan keras tubuh Aditia di tembok.
"Apa kata istrimu, jika aku membuat sebuah kebohongan jika kau pernah melakukan lebih padaku."
"Jagan ucapan kamu, Marina!"
"Bagaimana dengan Amira, Adit! Dan istrimu bisa menerima hal itu. Kau tidak adil padanya. Wanita suci mendapat pria seperti dirimu! Lucu." Tawa Marina sengaja menghasut pikiran Aditia. "Aku tidak yakin sebelum menikahi percaya kau masih perjaka tingting."
Aditia begitu geram dengan pendapat Marina tentang dirinya. Kalau masalah agama, Aditia akui dirinya memang masih minim.
"Harusnya, Inayah mendapatkan pria yang sepadam dengan agamanya. Bukan seperti dirimu, Mas Adit," bisik Marina.
Marina menawarkan minuman dingin pada Aditia juga terdapat di sana minuman memabukkan.
"Ayo, berpesta-lah denganku. jika kamu menolaknya, Maka hari ini juga perusahan kamu akan hancur. Aku tidak pernah bermain dengan ucapanku. Pilih mana, kamu yang hancur atau perusahaan milikmu."
"Apa maksudmu, Marina? apa sebenarnya yang kamu inginkan."
"Kembalilah padaku, Adit. kita kembali seperti dulu."
__ADS_1
Aditia tertawa dan berkata, "Aku tidak akan pernah melakukannya."
"Kau akan melakukannya." Marina terlihat tersenyum.
Aditia sedikit curiga dengan Marina. Untungnya Aditia membawa sebuah alat untuk ia jadikan bukti jika sesuatu tejadi. Aditia bisa menebak akal busuk Marina untuk mencapai tujuannya.
"Apa yang akan kamu lakukan Marina?" tegur Aditia ketika marina akan merobek pakaiannya.
Namun, pintu kamar hotel itu tiba-tiba saja terbuka begitu Marina sudah merobek bajunya.
"Inayah?" Aditia tidak menyangka akan kedatangan Inayah.
"Bagaimana bisa Anda mau menjebak suamiku, Nona. Anda seorang perempuan. Harusnya Anda bisa menjaga kehormatan Anda sendiri. Bukan seperti ini, Nona."
"Diam! Kau telah merebut dia dariku. kau dan Amira sama saja!" teriak Marina begitu emosi dengan hadirnya Inayah yang sangat dibenci olehnya.
"Nona, Tidak ada yang merebut siapa di sini. Harusnya Anda malu mengatakan itu. Suamiku tipe pria setia. Namun kesetiaannya, di Andalah yang menghancurkan sendiri kepercayaannya."
Marina tertawa. "Kau wanita bo***, Inayah. Aditia harusnya mendapatkan wanita yang sama dengannya. Bagaimana bisa wanita sepertimu mendapatkan pria sepertinya. Kau bisa menemukan seorang ustaz, Inayah."
Inayah melangkah. Aditia begitu takut melihat Inayah. Aditia tahu seperti apa Marina.
Marina menatap mata indah milik Inayah. Dirinya begitu penasaran dengan wajah Inayah. Mata Marina menilai Inayah dari ujung kaki hingga kepala semua tertutup.
"Aditia, apa yang indah dalam diri wanita ini. Semua serba tertutupi. Aku heran denganmu Aditia."
"Marina, Jangan pernah kau ....!"
"Aku tidak mengapa, Mas. Aku akan memberikannya pertanyaan." Inayah menoleh ke arah Marina.
langkah Inayah begitu anggun menuju arah Marina. "Nona, Aku punya dua permen di sini. Satu bungkusnya sudah aku buka. dan satunya masih terbungkus rapi. Rasa permen ini mungkin sama."
"Mengapa nona memberiku permen. untuk apa? Aku tidak butuh permen itu," tolak Marina heran.
"Anda harus memilihnya, Nona. Anda pilih yang mana?" tantang Inayah.
"Kamu pikir aku mau memilih permen yang tidak ada bungkusnya. oga. aku." Marina mengambil permen yang masih terbungkus rapi.
__ADS_1
mengapa memilih yang masih terbungkus, nona?" tanya Inayah.
"Yaialah aku memilih yang ada bungkusnya. Terjamin masih bagus." kata Marina.
"Tahu Mengapa Permen yang terbungkus begitu berharga?" tanya Inayah.
"Tentu saja, permen yang terbungkus tentunya masih terjaga dan masih terlindungi. Aku tidak mengatakan bahwa aku berharga, nona." ujar Inayah sebelum Marina salah paham maksudnya.
"Umpamakan permen disini adalah wanita dan bungkus permen adalah hijabnya. Orang berhijab tentunya akan lebih terlindungi, dan akan lebih terjaga. Tidak semua orang bisa melihatnya dengan jelas, dan tidak semua orang bisa bebas memandangnya, ia hanya akan memberikan dirinya yang berharga, kepada mahramnya saja, seperti suaminya misalnya. Hanya suamiku Mas Aditia yang bisa memandang tubuhku. Aku tidak peduli pendapat orang lain tentang diriku." lanjut Inayah.
Marina terus menatap Inayah. dengan tatapan tidak bisa digambarkan.
"Wanita yang berhijab disini adalah mereka yang benar-benar menjaga dirinya dengan hijab yang sesuai dengan syariat. Aku hanya berusaha menjaga diriku degan caraku berpakaian. Memakai hijab pun tentunya ada aturan dan ajarannya, bukan hanya asal memakai hijab, atau yang penting memakai hijab. Tentunya semua ada aturan dan cara pakainya bagaimana memakai hijab dengan benar dan baik menurut syariat."
Inayah berjalan mengelilingi Marina.
"Mungkin begitulah perumpamaan nya, bisa kita lihat begitu berharganya seorang wanita, betapa mahalnya seorang wanita, sehingga di anjurankan dan bahkan diwajibkan untuk menutup dirinya yang berharga agar terlindungi dan terjaga. Silahkan nona dengan jalannya, aku dengan jalanku sendiri. Mengapa harus protes masalah pakaian seseorang?" Inayah kembali menatap Marina.
"Kita sudah diberikan akal untuk berfikir. gunakan saja akalnya. Bukankah hidup ini pilihan, Nona?Aku menyampaikan apa yang pernah aku baca sebagai pelajaran untuk diriku, Nona. Aku hanya membela diriku atas apa yang barusan Anda protes tentang pakaianku. Dan masalah cadarku, wajahku memang bukan aurat."
Inayah yang hendak berbalik seketika mungkin cadarnya ditarik oleh Marina hingga wajah cantik ayu itu terlihat jelas oleh Marina. Marina mematung di tempat. dirinya begitu terpana melihat wanita yang hampir sempurna.
Segera mungkin Aditia menutupi wajah inayah dengan Tissue yang ada di atas meja. Lalu, membenamkan kepala Inayah dalam pelukannya.
"Cukup! cukup dengan apa yang kamu perbuat terhadap istriku. Jangan pernah coba-coba mengusik ketenangan keluargaku, Marina." Aditia meraih penutup wajah Inayah dari tangan Marina.
Marina melihat dengan jelas bagaimana Aditia memperlakukan Inayah bak bagaikan ratu. Aditia memasangkan penutup wajah itu pada Inayah, istrinya.
"Wajar saja kau begitu mencintainya, Aditia." ungkap Marina ketika Aditia akan meninggalkan tempatnya.
"Aku memang bukan wanita seberuntung dirimu, Inayah! Kau terlalu sempurna untuknya!" Marina terisak.
"Aku bahkan iri padamu. Kau memiliki segalanya! Sementara aku... ! Hanya penghinaan yang terus aku dapatkan dari Orang-orang terdekatku!"
Hati dan perasaan Inayah ikut tercabik dengan ungkapan Marina. Sebagai perempuan, Inayah paham akan perasaan Marina.
"Nona, tidak perlu kamu iri padaku. Kau tidak melihat saja kekuranganku. Itu hanya pandanganmu. Berprasangka baiklah pada dirimu sendiri."
__ADS_1
Inayah dan Aditia meninggalkan kamar hotel itu menyisakan Marina kembali meneteskan air mata.