
"Mas, Aku tidak apa-apa. Aku tahu semua masa lalumu. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Apa pun yang terjadi kita hadapi bersama. Yang aku hanya takutkan perusahaan ini akan berdampak.
"Iya, Aku juga takut berita ini akan sampai pada Ayah dan ...." Belum selesai ucapan Aditia, Panggilan dari sang ayah sudah masuk.
"Siapa, Mas?"
"Ayah." Aditia kemudian menjawab telepon dari Tuan Subari.
"Adit, mengapa berita itu bisa tersebar?"
"Apa maksud ayah? Berita apa?"
"Jangan bohongi ayah. Coba kamu lihat siaran TV dan di media sosial. Cepat telusuri siapa dalang dibalik semua ini! Perusahan Garuda akan berdampak jika hal ini di biarkan."
Teo datang tiba-tiba dan memperlihatkan berita yang sudah tersebar di media sosial. "Semua karyawan kantor sudah membicarakan hal tersebut."
"Mas, tetap tenang. Jangan sampai terpancing. Untuk Rayyan tenang saja, Mas."
Aditia memeluk Inayah. "Aku tidak tahu lagi jika kamu tidak ada di sisiku, Sayang."
"Jadi, bagaimana tuan Direktur? Apa yang akan kita lakukan?"
"Untuk saat ini aku minta kau telusuri pemberitaan itu dan stop kan semuanya. Bayar ganti ruginya."
"Biklah."
"Teo, tunggu!"
Teo berhenti dan berbalik badan.
"Terimakasih," ujar Aditia dan di angguki oleh Teo.
Sebenarnya Teo diminta untuk memegang sebuah tanggung jawab sebagai direktur bagaian hotel milik ayah mertua, akan tetapi Teo lebih memilih menjadi sekretaris Aditia. Dirinya sudah mencintai pekerjaannya. Alina, juga mendukungnya.
"Sayang, hari ini aku ada undangan. Apa kamu akan ikut?"
"Tidak Mas. Aku akan menunggumu di rumah."
"Baiklah aku akan mengantarmu pulang."
Aditia mengantar Inayah untuk pulang. Semua karyawan kantor menatap keduanya penuh tanda tanya.
"Benar tidak, sih berita itu? kalau memang benar, bagaimana Istri direktur baik-baik saja. Iya tidak?" seperti itulah perdebatan mereka.
Aditia tidak peduli hal tersebut. begitu juga dengan inayah dan Rayyan di gandeng oleh Aditia sedangkan Inayah menggandeng lengan suaminya.
kemesraan itu semakin nampak yang membuat seseorang terlihat marah. Berita yang dia sebarkan tidak mampu menggoyahkan hubungan suami istri tersebut.
Sejujurnya Aditia sangat penasaran. Bahkan dirinya cukup curiga dengan Zaki yang akan melakukannya, akan tetapi tidak mungkin jika Zaki yang melakukannya.
Tiba di rumah, Ponsel Aditia berdering dan melihat nomor baru di sana. Dengan cukup ragu Aditia mengangkat panggilan itu.
"Dengan Tuan Aditia?"
"Kamu siapa?! Jawab!" teriak Aditia dibalik percakapan telepon itu. Hingga beberapa detik, suara pria tersebut berubah mejadi suara seorang wanita.
"Aku bisa saja menghancurkan perusahaan milikmu bahkan aku bisa menghancurkan keluargamu jika saja aku mau." Ancamnya.
"Kamu siapa? Apa maumu? Jangan menyentuh keluargaku!"
__ADS_1
"Ternyata, Aditia yang dulu masih sama. Ketika mencintai seseorang akan mempertahankannya. Namun cepat juga melupakan." ledeknya.
"Jika kamu ingin tahu, tanyakan pada ayahmu. Siapa aku. Dialah yang telah menghancurkan mimpiku. Dialah yang telah merebut kebahagiaan aku." geramnya. Temui aku di hotel Garuda.
"Suara seorang wanita? siapa dia mas?" tanya Inayah sebelum mereka turun dari mobil.
Aditia geleng kepala. Aditia mulai berfikir. Satu nama yang ia ingat. MARINA.
"Aku harus menemui ayah. Ayah harus menjelaskan dengan tuntas."
"Apa maksud, Mas?"
Aditia menggendong tubuh Rayyan yang sudah pulas dan membawanya masuk kamarnya.
"Mas, bicarakan dengan baik bersama ayah. Jangan pakai emosi." pesan Inayah setelah keluar dari kamar Rayyan.
Aditia menarik tangan inayah untuk bertemu dengan Ayahnya, Tuan Subari. Aditia ingin Inayah tahu semua masa lalunya.
"Ayah?" panggil Aditia.
Tuan Subari menoleh.
"Kita bicara wanita ini." tunjuk Aditia mengambil Foto Marina yang selama ini masih ada tersisa. yang sebelumnya Aditia sudah membakar kenangan Marina hari itu. Namun entah mengapa, foto itu masih ada yang tersisa.
Flashback Tuan Subari melihat Foto Marina.
Aditia begitu bahagia dihari pernikahannya. Sebentar lagi ia akan menikah dengan gadis pujaan hatinya. Namun, tepat saat akan ijab qabul dimulai Marina berdiri dan berkata,
"Pernikahan ini batal!" Marina melihat ke arah ayah Aditia. Ada rasa takut dalam dirinya.
"Sayang, apa kau sadar?" Aditia tidak percaya dengan perkataan Marina hari itu.
Marina menahan perkataannya. Ia tidak mungkin jujur pada Aditia, jika pernikahan mereka batal karena keinginan Ayah Aditia sendiri. Bukan hanya itu, jika marina berani menentang, maka nyawa kedua orang tuanya jadi taruhan.
"Karena apa, Marina?"
"Karena, aku mencintai orang lain." Tubuh Marina bergetar menjawab pertanyaan Aditia.
Aditia terlihat geram melihat Marina. "Apa aku tidak salah dengar?"
Kata Aditia dengan suara pelan, namun terlihat wajahnya merah karena menahan emosi. "Marina, kau tidak serius, 'kan?" Jawab!"
Marina menggelengkan kepalanya dengan menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Katakan padaku, Marina. Katakan! Aku tidak percaya, jika kau setega ini. Tidak!" Teriak Aditia.
Braak!
"Cukup, Adit!" teriak Marina.
Semua para tamu undangan bubar melihat Aditia menghancurkan semua yang ada di dekatnya.
"Cukup!" Teriak Marina lagi.
Aditia menoleh kearah Marina yang berteriak.
"Berikan aku alasan!" Kata Aditia dengan tatapan tajamnya." Marina, jangan hanya diam. Jelaskan!"
Marina diam dia tidak bisa berkata. Aditia menoleh pada ayahnya, karena dia tahu ayahnya menentang hubungannya dengan Marina entah apa alasannya?
__ADS_1
"Ayah, apakah ini semua rencana-mu?"
Tuan Subari pun mengangguk dan berkata, "Tanyakan padanya. Mengapa ayah menentang hubungan kalian?"
Aditia kembali menoleh kearah Marina dan berkata, " Jelaskan padaku, Marina?"
"Aku ... Aku hamil." Jawab Marina dengan tegas."
Bagaikan disambar petir, Aditia mundur dan berteriak.
Lalu, kembali mendekat. "Kau penghianat, Marina!" Teriaknya.
"Maafkan aku, Adit." Marina bersujud di hadapan Aditia berharap Aditia memaafkannya. "Aku khilaf."
"Aku kecewa denganmu, Marina! Kau penghianat!"
Aditia meninggalkan pesta itu dengan mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celananya.
Dengan penuh rasa kecewa Aditia mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
Matanya begitu merah mengingat penjelasan calon istrinya. 'Aku hamil' berulang kali Aditia memukul setir mobilnya.
"Kau penghianat!" Teriaknya lagi.
Tiba di sebuah club malam, Aditia menyerahkan Blue Card miliknya pada petugas yang berjaga didepan pintu Klab Diving itu. Aditia pun masuk menemui teman-temannya yang sering datang di tempat itu.
"Tumben bro, di mari? Angin apa yang menggiring kamu ke tempat ini?" sahut temannya kaget dengan kedatangan Aditia. Orang yang dulu paling anti mengunjungi tempat tersebut.
Aditia tidak peduli cemoohan teman-temannya. Ia begitu menikmati suasana ramai di klab itu. Suara musik DJ mengalun hebat ditelinga Aditia. Bahkan Aditia dan teman-temannya menari di Dance Floor itu, berlanjut duduk di bar sambil minum-minum.
Semenjak hari itu Aditia sering pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk. Ia tidak peduli dengan ocehan ibu atau ayahnya.
Bahkan setiap saat, ibunya selalu mendengar pertengkaran hebat antara putranya dengan sang suami.
"Lihat didikanmu! Mau jadi apa dia, jika kerjanya hanya mabuk setiap saat. Taunya hanya menghamburkan uang saja!"
Sakit memang mendengar perkataan suaminya, namun itu kenyataan. Sebagai seorang ibu Ia terlalu egois dan merasa marah ketika sang putra harus mendapatkan penghinaan ayahnya sendiri. Bahkan selalu dibandingkan dengan putra selingkuhan suaminya.
Andai bisa memilih biarkan dirinya yang marah pada putranya jangan suaminya. "Sakit"
Ibu Hanum melihat putranya membawa tasnya. " Nak, kamu mau kemana?"
"Biarkan dia pergi kalau itu maunya. Dasar anak tidak tau diuntung. Harusnya kamu berterimakasih karena gagal menikah perempuan penipu itu. Dan lebih serius mengurus perusahaan."
"Mengurus usaha ayah? Bahkan ayah tidak pernah menghargai kinerja saya. Setiap yang aku lakukan ayah selalu merasa aku tidak becus mengurus perusahaan ayah. Bahkan ayah membandingkan aku dengan anak tiri ayah yang sok suci itu."
"Adit. Cukup!" bentak ayahnya.
Alina hanya bisa menangis melihat kakaknya kembali bertengkar dengan ayahnya. Sementara ibunya hanya bisa menangis.
Menyaksikan kembali pertengkaran suami dan anak itu, Ibu Hanum segera mendekat kearah putranya.
"Aditia, ayahmu sangat marah. Pergilah nak, ibu tidak mengusir kamu. Tapi, mungkin ini yang terbaik, sayang. Ibu tidak sanggup melihat pertengkaran kalian." Isak ibu Hanum.
Aditia memeluk ibunya, lalu pamit. Ia tidak peduli lagi dengan amarah ayahnya yang memuncak.
Flashback berakhir.
Inayah benar-benar tidak menyangka Kegagalan cinta pertama suaminya. Aditia pernah menceritakan hanya sebatas tahu Mantan cinta pertamanya adalah Marina.
__ADS_1
Tuan Subari terlihat berat untuk mengatakan sesuatu. "Ayah jelaskan semuanya." pinta Aditia memohon.