
Seiring berjalannya waktu, Aditia kembali seperti dulu dan hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Inayah dan keluarga lainnya.
"Mas sudah akan ke kantor?" Inayah heran melihat suaminya tampak telah rapi ketika Inayah sudah terbangun. Inayah pun mengumpulkan nyawanya kemudian duduk dengan masih wajah malas.
"Saya harus pergi, Sayang. perusahaan akan melaunching produk terbaru dan Teo sangat mengharapkan kehadiranku di sana. Setelahnya kita akan kembali berbulan madu." tukas Aditia sibuk dengan penampilannya.
Mendengar kata bulan madu Inayah rasa ingin tertawa lepas. dan Aditia melirik istrinya tersenyum. Namun, tawa itu tertunda karena Inayah Benar-benar tampak terlihat kurang bersemangat pagi itu.
"Sayang kamu sakit?" Aditia menoleh dan duduk di samping Inayah sambil tangannya di letakkan di kening sang istri.
"Siapa yang sakit, Mas? Ini semua karena ulah kamu," bawel Inayah yang kembali teringat kelakuan suaminya setelah usai shalat subuh.
Aditia berdiri dan tertawa di depan cermin sambil melihat pantulan Inayah dan kembali bersuara, "Sayang, itu namanya balas dendam."
kembali Aditia berbalik sambil mengedipkan matanya. "Aku hitung klender dan kamu tidak lama lagi datang tamu. Apa salahnya aku ambil bagian. Tapi tahu tidak, kamu cukup...."
"Mas, jangan mulai lagi!"
"Baiklah. Cepat bangun. Atau aku gendong masuk kamar mandi," ancam Aditia yang mengecup kening Inayah dan kemudian sibuk mengancing baju kemeja yang dikenakan olehnya.
Inayah melihat hal itu segera beranjak dari tempat tidur dan langsung membantu Aditia bersiap.
"Sudah." ujar Inayah usai membantu Aditia bersiap.
Tumben jagoanku belum masuk menganggu. Kemana Boy, Sayang?" Aditia menanyakan keberadaan Rayyan yang biasanya masih subuh sudah nongol. Namun kali ini, Rayyan belum tampak oleh Aditia.
"Mungkin dengan ibu, Mas."
"Rayyan disini, ayah, Ibu! Rayyan diminta Oma panggil ayah dan ibu ikut sarapan." Rayyan datang sambil berlari dan langsung digendong oleh Aditia. Makin hari umur Rayyan makin bertambah dan semakin lincah.
"Woi, Boy! tumben baru nongol." sapa Aditia dengan panggilan sayang pada Rayyan. Justru panggilan itu, Rayyan paling tidak suka.
"Ayah, jangan panggil aku Boy!" Rayyan kesal tidak Terima namanya di panggil Boy.
"Tapi, aku suka panggil kamu Boy."
Rayyan menutup mulut Aditia yang membuat Inayah tertawa melihat kelakuan Aditia dan Rayyan.
"Ayah, ayah mau kemana? Apakah Rayyan boleh ikut?"
"Rayyan, ayah mau ke kantor. Rayyan di rumah saja, ya." Inayah tidak berharap Aditia mengabulkan permintaan Rayyan.
"Bunda, paman sama Aunty juga mau ke kantor. Mengapa Bunda tidak ikut juga kekantor seperti Aunty?" tanya Rayyan lagi.
"Rayyan, Aunty itu mau pergi kerja. kalau Bunda hanya di rumah menunggu ayah. Kerena tugas Ibu hanya... " Aditia kembali menggoda istrinya dan Inayah paham apa maksud suaminya.
"Mas?" tegur Inayah mengingatkan suaminya.
***
__ADS_1
Usai sarapan bersama, Teo, Alina dan Aditia pamit untuk ke kantor. Aditia dikagetkan saat akan masuk mobil. Rayyan sudah duduk manis di dalam mobil dengan pakaian rapi.
"Boy, kenapa kau di sini? Astaghfirullah."
Rayyan tertawa sambil mengedipkan matanya. Inayah, Teo dan Alina tertawa dengan kelakuan Rayyan.
"Ayah, biarkan aku menemanimu bekerja. Dan ibu di sini saja. temani Oma di rumah," oceh Rayyan.
Aditia menoleh ke arah Inayah meminta pendapat dengan kegigihan Rayyan mau ikut ke kantor.
"Bunda, biarkan Rayyan ikut, Ya. Rayyan janji tidak akan nakal. Ayah, boleh, ya."
"Biarkan saja, Mas, dia ikut." bisik Teo. "Apa Mas tidak kasihan melihat wajah imutnya memohon?" Teo masuk dalam mobilnya dengan Alina menyusul.
Panggilan Teo sudah berubah untuk Aditia. Walau sebenarnya panggilan itu, Teo rasa tidak pas. dirinya paling suka memanggil Aditia dengan sapaan TUAN dan memanggil Inayah dengan sapaan NONA.
"Baiklah, Boy. kau boleh ikut." Aditia meminta persetujuan pada Inayah.
Rayyan begitu girang krena keinginannya terwujud. Melihat Rayyan begitu bersemangat, Inayah pun mengalah.
"Baiklah, Mas, nanti aku menyusul," kata Inayah mengantar Aditia pergi ke kantor.
***
Seperti dulu, Aditia disambut oleh para karyawannya degan penuh hormat dan masuk kantor tanpa senyum. Namun, mata mereka tertuju degan asisten kecil yang mengikuti Aditia. Siapa lagi kalau bukan Rayyan Attaqi yang mejadi pusat perhatian. kangkanya begitu serius mengikuti gaya ayahnya.
Alina di belakang sudah setengah mati menahan tawa. Begitu juga dengan para karyawan yang tampak gemas degan Rayyan.
"Boy, kau di sini. Jangan buat tingkah? Kamu paham?"
"Ayah, namaku Rayyan. Bukan Boy." bantah Rayyan yang mengundang tawa karyawan lain.
Aditia merasa bangga dengan banyak yang memuji Rayyan anak yang pintar dan tampan.
"Rayyan, tunggu di sini ayah ada pertemuan. Nona Mai tolong jaga Boy untukku."
"Jangan khawatir, Taun direktur. kami akan menjaganya," ucap Mai dan karyawan lainnya.
"Tuan direktur, cetakannya tampan sekali juga pintar. Tuan direktur pasti bangga sama Rayyan."
Aditia tersenyum mendengar pujian itu dan teringat dengan Inayah dan berkata, "Siapa dulu ibunya Rayyan."
"Rayyan, ayah tinggal. Jangan ganggu mereka. Rayyan paham?" pesan Aditia.
"Ok, ayah. Ayah tenang saja."
"Baiklah, Ayo tinggi lima." Ajak Aditia melebarkan tangannya. dan Rayyan menepuk telapak ayahnya. "Sekali lagi."
Setelah Aditia tidak terlihat, beberapa karyawan mengerumuni Rayyan.
__ADS_1
"Kau tampan sekali. Juga imut." itulah kata mereka secara bergantian. Rayyan hanya tersenyum mendapat perlakuan manis dari para karyawan kantor ayahnya.
"Paman sini!" Rayyan memanggil salah satu karyawan laki-laki dan berjongkok di depan Rayyan yang sedari tadi duduk di kursi.
Rayyan mengusap rambut pria itu dan berkata, "Pantas saja ayah suka memeluk Ibu."
Semua karyawan kantor tertawa.
Maira datang dan mengusir mereka agar kembali bekerja. Maira duduk di kursinya dengan Rayyan menatapnya.
"Putra Tuan direktur sangat pintar." puji karyawan lainnya sebelum meninggalkan Rayyan.
Rayyan menoleh dan menatap Nona Maira. Tante, Siapa namamu?" tanya Rayyan dengan gaya bahasanya karena Nona Maira terlihat cuek padanya.
"Aku, Namaku Nona Maira, sering dipanggil Nona Mai." jawab Mai serius bekerja. Berbeda dengan karyawan lainnya tampak gemas dengan Rayyan.
"Nona Mai cantik," puji Rayyan sambil membuka buku album yang ada di depan Mai.
"Terimakasih, pujianmu tuan kecil," timpal Maira dan kembali fokus dengan komputernya.
"Akan tetapi sayangnya... Bundaku lebih cantik, Nona." Tawa Rayyan.
Mai menghentikan pekerjaannya tidak percaya seumuran Rayyan begitu lincah berbicara. Melihat mata Maira melototinya Rayyan kembali berbicara.
"Maaf, Tante Maira."
"Saya bukan Tantemu." Maira melirik Rayyan yang menundukkan wajahnya.
Maira tersenyum dalam hati melihat Rayyan ciut.
"Tante, apa tante punya pacar?"
"Kalau belum kenapa?" tanya Maira.
"Pantas saja saja tante tidak punya pacar. Tante galak." Rayyan tertawa.
"Rayyan?" Inayah datang.
"Ibu." Rayyan langsung diam begitu Inayah menegurnya.
"Maafkan dia." kata Inayah tidak enak hati pada Maira.
"Tidak mengapa, Nona. Dia masih kecil."
"Ibu, apakah ibu kemari mau menjemputku?"
"Iya. Ayo kita keruang ayah."
"Tapi, ayah tidak ada, Ibu. Ayah pergi. Ayah menitipkan aku di sini."
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang ada ibu. Jadi, amanah ayah pada Nona Maira sudah selesai. Ayo. kita tunggu ayah di ruangannya." Inayah pamit pada Maira.