Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 88. Tanda Tanya


__ADS_3

"Tuan, tuan harus bisa mewujudkan keinginan Nyonya besar secepatnya. Jangan ditunda lagi. Biar urusan tuan dan nyonya besar cepat selesai."


Lagi-lagi Zaki tidak menghiraukan perkataan Martin.


"Apa yang sedang dia lakukan di sana. chat atau telpon kemari. apalah." kesal Zaki terus bergumam sendiri.


"Tuan saya sedang membicarakan Nyonya besar," sela Martin yang mendengar Zaki bergumam.


"Tuan?" tegur Martin beberapa kali Yang membuat Zaki terperanjat.


"Tuan, sedari tadi tuan terus menatap ponselnya. Kenapa bukan tuan saja yang menelpon Nona Sifa lebih dahulu." senyum Martin membuang muka takut Zaki melihatnya.


"Aku tidak sedang memikirkannya. jika pun aku memikirkan dia, aku memikirkan cara... Sudahlah." Zaki meninggalkan tempatnya dan menuju hotel tempat mereka bermalam untuk beberapa hari.


***


Setelah Inayah dan Aditia kembali, Sifa pun sama dengan Zaki. Sifa melihat ponselnya berharap ada panggilan atau kabar tentang Zaki.


"Mengapa aku berharap dia menghubungiku? heran." Sifa meletakkan ponselnya di atas nakas dan melihat pantulannya di cermin.


"Apa benar aku kelihatan gemuk? masa, sih." Sifa baru sadar jika selama ini sebelum menikah dirinya memakai baju berukuran M dan sekarang dirinya sudah tidak muak baju seukuran itu.


"Apa benar aku hami?" Sifa mencoba ingat terakhir kali dirinya datang tamu.


Ponsel Sifa berdering juga. Terlihat di layar Tuan Zaki video call. Sifa dengan wajah sedikit malas menjawab panggilan itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan? apa sedang semedi? kenapa lama sekali menjawabku?"


"Tuan Zaki yang terhormat, kalau hanya menghubungiku mau marah-marah, aku akan matikan!"


"Hei, siapa yang suruh matikan." Zaki menatap Sifa ada yang tidak beres. "Kenapa wajahmu terlihat asam? Apakah kamu habis makan Kecombrang?" ledek Zaki tertawa dibalik layar. Zaki menelpon Sifa rindu ingin melihat tawa Sifa kesal.


"Tuan!" teriak Sifa.


"Sifa?" tegur Ummi Humairah yang kebetulan kamar Sifa tidak tertutup. "kamu sedang bicara dengan siapa, sifa?"


Terlihat Zaki dibalik layar setengah mati menahan tawa melihat Sifa langsung diam saat mendapatkan teguran dari Ummi Humairah.


Sifa memberi kode pada Zaki dengan mata geram. Sebelum Sifa membalas ucapan Ummi Humairah.


"Tidak kok, Ummi."


"Ya sudah. Pintu kamarnya ditutup. Jangan lupa dikunci." Ummi Humairah berlalu.


Melihat Ummi sudah pergi, Sifa kembali menatap layar ponselnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan dikamar?" tanya Zaki di ujung telepon.


"Tidak, sedang tidur saja."


"Kamu pasti rindu akan diriku, Kan?" Zaki mengedipkan matanya pada Sifa.


"Kenapa tuh... Mata? kelilipan?" tawa Sifa.


"La ini anak. Tidak peka." gumam Zaki di balik layar ponsel.


"Apa, tuan?" sifa tidak jelas apa yang diucapkan Zaki.


"Tidak ada. Zaki terlihat sedang mengerjakan sesuatu.


"Tuan, bolehkah aku bertanya? Tapi tolong jawab dengan jujur, ya?"


Zaki berbinar. Zaki mengira Sifa akan bertanya tentang hati dan perasaan.

__ADS_1


"Tuan, apakah benar aku gemuk?"


Zaki terlihat kecewa dengan pertanyaan Sifa.


"Kata ibu aku gemuk, apakah benar. Jika benar ini semua karena dirimu, Tuan Zaki yang terhormat. Aku tidak mau gemuk."


"Ya bagus, kan, kalau kamu gemuk. Tidak lagi seperti wanita yang terlihat seperti gizi buruk." canda Zaki sambil terkekeh di balik layar.


"Tuan Zaki!" geram Sifa.


"Ya Maaf. Aku hanya bercanda. Kalau dilihat, Sih. Pipi memang naik. yang itu juga naik." tunjuk Zaki pada sesuatu yang tidak seharusnya Zaki tunjuk yang membuat Sifa membulatkan matanya.


"Dasar mes**!"


"Hei, maksud aku badan kamu juga naik." Zaki menatap Sifa berbeda dan Sifa tidak paham maksud tatapan itu.


Zaki merasa terhibur dengan melihat wajah kesal Sifa. dan Sifa merasa juga terhibur dengan Zaki menghubungi nya.


"Tuan, bagaimana jika aku hamil?"


Zaki langsung menghentikan pekerjaannya dan meraih ponselnya. Lalu memperhatikan Sifa.


"Kamu hamil, Sifa?"


"Aku belum tahu, Tuan." Sifa menatap Zaki.


"Tunggu aku. kita akan memeriksakan kandunganmu."


"Sifa hanya mengangguk seperti tidak ada semangatnya.


"Tuan, aku sudah mengantuk. Mataku sudah sipit."


"Tidurlah, aku akan menemanimu." Zaki serius menatap Sifa di balik layar.


***


Hingga saat Sifa berbalik badan tepat jam 02 malam, Sifa merasa ada yang aneh di belakangnya.


Penciuman Sifa tampak tidak asing dengan bau parfum itu. ketika Sifa bergerak, Tangan kokoh itu semakin memeluknya.


'Sejak kapan dia datang? bukan pintu kamar aku kunci? lantas dia masuk lewat di mana?' Sifa terus bergumam sambil melihat tangan Zaki memeluknya. Sifa tersenyum. "Bukankah dia masih diluar kota?"


Sebenarnya, Zaki memutuskan kembali ketika Sifa mengatakan dirinya hamil. Zaki penasaran dan akan mengajak Sifa periksa kandungan.


"Jangan bergerak, Sifa. Apa kamu mau si ucup bangun? jika kembang ucup bangun, maka kamu harus kembali memenangkannya," bisik Zaki.


"Ucup?" Sifa tidak mengerti dan terdengar suara parau seperti berbisik ditengah malam.


"Iya, Apa kamu merasakan ucup berkembang."


Sifa kini paham siapa yang dimaksud ucup oleh Zaki.


"Tuan, bisakah tidak terlalu dekat?"


"Tidak bisa. Biarkan seperti ini. tidurlah?"


Sejujurnya denyut jantung Sifa tidak bisa dia elak. Begitu juga dengan Zaki. Mereka bertanya dalam diri Masing-masing. Seperti apa perasaan mereka.


"Tuan, lepaskan aku. Aku sedikit tidak bisa bernapas."


"Sifa, biarkan seperti ini. tidurlah! aku tidak akan mengganggumu. Aku sangat lelah." Hingga mata Zaki terpejam.


***

__ADS_1


Pagi sekali, Zaki bangun dan merasa mual. Dirinya benar-benar merasa terganggu. Hingga Sifa dari dapur dan mendengar ada seperti orang mual di kamar. mandi.


"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Sifa cukup panik. "Tuan, buka pintunya."


Zaki keluar dengan wajah lesu. "Perutku sangat tidak enak, Sifa. Bolehkah aku minta gula merah?"


Sifa ingin tertawa mendengar Zaki meminta gula merah.


"Tuan sahat, kan? tumben minta gula merah. Memangnya tuan makan apa di sana?"


"sudah, Sifa, aku malas meladenimu sekarang. Cepat ambilkan aku gula mer..." Zaki kembali mual dan segera berlari masuk kamar mandi.


"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Sifa membatu Zaki memijit tengkuk Lehernya. Zaki berbalik dan memeluk Sifa.


"Tu... tuan, bi... bisa kamu melepaskan aku?"


"Biarkan seperti ini, Sifa. Aku merasa baikan jika seperti ini. Balas pelukanku, Sifa." Zaki meraih tangan Sifa agar tangan Sifa melingkar di pinggang Zaki. Sama seperti Zaki melakukannya pada Sifa.


"Tuan, baiknya kita keluar. Aku membuatkan untukmu air gula." Sifa membantu Zaki dan duduk di atas kasur setelah keluar dari kamar mandi.


Zaki terbaring. Zaki menutupi wajahnya dengan tangannya.


"Ada apa dengannya? Sakitkah?" batin Sifa.


Sifa dengan pelan memegang kening Zaki.


"Tuan, apa benar tuan Sakit? apa yang tuan rasakan?"


"Terimakasih sudah perhatian padaku, Sifa."


"Wajar saja aku perhatian. ini dirumah Ibu. Bukankah kita sudah berjanji di perjanjian kontrak bahwa kita harus saling memperhatikan ketika berada di tengah keluarga?"


Ketika Sifa akan beranjak. Zaki kembali menarik Sifa hingga kedua insan itu menyatu. Sifa tidak bisa menolak dengan rayuan dan permintaan Zaki kerana Sifa sudah merasa terikat perjanjian Hingga pagi itu momen itu berubah mejadi pagi yang indah buat Zaki. walau sejujurnya Sifa pun sama.


Keduanya keluar dari kamar dengan wajah terlihat segar. Ummi Humairah tersenyum menatap keduanya.


"Kenapa ummi senyum-senyum?" ujar Sifa.


"Tidak," elak Ummi Humairah. Ayo nak Zaki makan."


Dimeja makan, Zaki hanya menatap makanan yang tersaji di atas meja makan yang membuat Ibu Fatimah heran.


"Nak saki, sehat?"


"Dia mual, Ummi. Sedari tadi mual." kata Sifa cuek. Terlihat Sifa begitu lahap.


Sifa mencolek Zaki. "Makan."


"Aku gak nafsu makan."


"Lalu?" bisik Sifa.


"Aku hanya ingin kamu." bisik Zaki dan langsung Sifa menginjak kakinya yang membuat Zaki meringis dan ibu Fatima heran dengan dua manusia di depannya.


"Nak Zaki kenapa?"


"Ada harimau, Ummi." canda Zaki yang membuat Ummi Humairah geleng kepala.


"Sifa, ambilkan Zaki nasi di piringnya. Apa kamu tidak melihat, suamimu seperti kurang sehat?"


Sifa menoleh dan Zaki kembali mengedipkan matanya kearah Sifa.


"Tapi Ummi. Dia..."

__ADS_1


"Sifa?" potong Ummi Humairah.


__ADS_2