
Di kantor menjulang tinggi Aditia terlihat kurang sehat hingga Teo menegurnya. "Tuan direktur, sehat? Sepertinya tuan direktur kurang sehat. Apa Tuan direktur butuh sesuatu?"
"Aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya ingin cepat kembali." Aditia kembali fokus dengan laptopnya.
Teo tersenyum mendengar Tuan direkturnya. Lalu, Teo memberikan beberapa dokumen pada Aditia.
"Bagaimana kontrak kerja dengan Tuan Zaki?" Aditia kembali menatap Teo.
"Sudah selesai Tuan. Hari ini ada pertemuan dengan Tuan Zaki."
"Apa masih lama?"
"Tuan Zaki sudah dalam perjalanan, Tuan." Teo mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani oleh Aditia.
"Kalau begitu aku akan istirahat ... Tuan Zaki?" Aditia yang hendak akan beranjak dari tempat duduknya tertunda, kerena Zaki sudah tiba.
"Mari duduk, Tuan!" Teo mempersilahkan Zaki untuk duduk.
"Sepertinya anda kurang sehat, Tuan Aditia? Apakah mataku salah penilaian?"
Tawa Aditia terdengar. "Sepertinya sakitku mungkin menular dari anda, Tuan."
"Apakah anda menuduh saya pembawa virus corona?" ledek Zaki mengeluarkan sebuah dokumen kontrak kerja mereka.
"Bisa jadi," timpal Aditia. "Aku melihat Tuan Zaki terlihat berbeda hari ini." ledek kembali Aditia. "Jangan sebarkan virus cintanya kemari. Saya tidak butuh." Tawa Aditia seketika.
Zaki tersenyum bagaimana dirinya mulai bucin dengan Sifa. Hingga pagi sebelumnya dirinya tidak ingin menemui Aditia di sebabkan Zaki tidak ingin jauh dari Sifa Walau Sifa belum tahu perasaannya.
"Apa benar yang aku katakan, Tuan Zaki?" Aditia melirik Zaki sambil memeriksa dokumen yang diberikan Zaki.
"Aku akui, Aku mulai menyadari perasaanku padanya," jujur Zaki pada akhirnya.
"Sudah kuduga. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Siapa sebenarnya Sifa bagimu, Tuan?" Aditia menyerahkan kembali dokumen itu pada Zaki untuk di tandatangani kerja sama yang sudah selesai.
Zaki tersenyum. "Dia wanita paling berharga dalam hidupku selama ini."
"Kalau begitu, bersiaplah merebut kembali hati Sifa yuang sudah terlanjur kecewa dengan keputusan Anda dari sejak awal." Aditia ikut berdiri dari tempat duduknya.
Zaki pamit dan berkata, "Tunggu saja kemesraanku bersama istriku di depan matamu, Tuan Aditia. Bila perlu, mari kita doble date."
"Akan aku tunggu!" Aditia menerima uluran tangan Zaki bersalaman tanda kontrak kerjasama mereka selesai hari itu.
Zaki berlalu dengan wajah tersenyum. Ia ingin cepat kembali menemui Sifa.
__ADS_1
Sifa terkejut dengan kedatangan Zaki kembali dari kantor begitu cepat. Begitu juga dengan Ummi Humairah.
"Ummi, Hari ini aku akan kembali ke kota J. Ada urusan kantor harus saya selesaikan." ujar Zaki menoleh kearah Sifa yang sedang membantu Ummi Humairah memasak.
"Apa yang sedang kamu masak, Sayang. Mengapa baunya tidak enak!" Zaki menutupi hidungnya. Semenjak Sifa Hamil, Zaki kerap mual dan tidak suka aroma makanan tertentu bahkan nafsu makan pun mulai menurun.
Kata Sayang yang dari bahasa Zaki untuknya, Sifa anggap itu hanya memperdengarkan di depan Ummi Humairah.
Sifa mengangkat gorengannya dan mengambil satu. Lalu di bawakan Zaki. "Aku menggoreng ikan."
"Sifa, tolong jauhkan ikan itu!" Zaki menepis tangan Sifa agar Ikan yang dibawa Sifa di simpan kembali.
Sifa semakin menjadi dan membawa satu piring ikan goreng itu didekat Zaki. Sifa mulai menghitung. Tepat hitungan ke 3 Zaki masuk kamar mandi dan Sifa tertawa.
"Sifa? tidak boleh seperti itu! Susul Zaki." Ummi Humairah tidak habis pikir kelakuan Sifa yang kerap mengerjai Zaki. ada apa dengan mereka?
Zaki keluar kamar mandi dan lihat Sifa di depan pintu. Zaki pun memeluk Sifa dan berkata, "Rasa mualku hilang ketika aku memeluk dirimu," ungkap Zaki sejujurnya.
"Sifa, Aku mencintaimu."
Deg!
Sifa terkejut dengan ungkapan Zaki secara tiba-tiba.
"Jangan seperti ini, Tuan."
Zaki pun seketika membuat Sifa melebarkan matanya. Zaki menunjukkan keseriusannya pada Sifa.
"Itu keseriusan saya padamu, Sifa. Bersiaplah kita pulang." Zaki melepaskan Sifa dan membantu Sifa untuk bersiap kembali ke kota J.
***
Berbeda dengan Aditia yang tampak mencari Inayah entah di mana.
"Tuan, Nona pergi ke pondok setelah mengantar Tuan Muda kecil ke sekolah tadi pagi. Apa Nona tidak mengirim pesan?" Bibi Sumi meninggalkan Aditia kembali ke dapur setelah menyampaikan pesa dari Inayah.
Aditia tersenyum membaca chat Inayah. 'Mas, aku ke pondok. Bila mas pulang dari kantor jemput aku di rumah Ibu. Rayyan rindu dengan Habibi.'
"Bibi, Saya pergi jemput Inayah dulu."
***
Tiba Di rumah Ibu Fatimah, tidak ada orang. Aditia mulai bingung mencari di mana Inayah. Ponsel Inayah tidak aktif.
__ADS_1
Aditia mengetuk pintu dan tidak ada yang menjawab. Mencoba menelpon Raka juga tidak ada jawaban.
"Apakah signal hilang?" Aditia memeriksa ponselnya.
"Apa ke rumah Ummi Humairah?" kembali hal yang sama. Aktif tapi tidak ada yang menjawab. Aditia kembali berfikir. Tidak biasanya ponsel Inayah tidak aktif.
"Mengapa ponsel mereka tidak ada yang bisa dihubungi? Apa karena IPhone ini terlalu murah hingga tidak bisa menembus jaringan?" Aditia memaki ponselnya sendiri padahal ponselnya merupakan IPhone termahal.
Aditia memutuskan untuk ke rumah ibunya. Berharap Inayah ada di sana.
***
tiba di kediaman Tuan Subari, Aditia melihat rumah tampak sepi. Berulang kali klakson mobil terdengar bersahutan-sahutan agar pintu gerbang di buka, akan tetapi tidak ada pergerakan.
"Kemana dirimu, pak Wawan?" Kesal Aditia sudah merasa lelah. Seharian otaknya bergelut dengan pekerjaan kantor.
Mau tidak mau Aditia turun dari mobil dan membuka sendiri pintu gerbang tersebut.
"Awas saja kamu mulai lalai mengerjakan tugasmu, pak wawan." Pria datar itu menggerutu. Lihat saja, aku potong gajimu. Apa dia tidak lihat aku lelah seperti ini?" Lagi-lagi Aditia menggerutu, pada satpam ayahnya.
Semua gaji karyawan memang Aditia yang membayar mereka. Tuan Subari tidak tahu menahu lagi masalah itu. Perusahaan pun Aditialah yang sepenuhnya bertanggung jawab bersama Alina sebagai keturunan dari Tuan Subari.
Memarkirkan mobilnya, menarik napas kasar, menoleh ke belakang tidak melihat tanda-tanda pak Wawan, sang satpam datang.
"Kemana dia? kau sudah betul lalai dalam tugasmu, Pak wawan."
Adita tidak habis pikir kemana perginya pak wawan? Apa dia pulang kampung?
Aditia mulai membuka pintu gerbang tersebut. Lalu, memasukkan mobilnya. Turun dari mobilnya, lalu melangkah mendorong kembali pintu gerbang itu. Setelah memastikan pintu gerbang tertutup, Aditia pun melanjutkan langkahnya.
Rasa penat betul-betul begitu terasa. Ia pun melonggarkan dasinya yang tidak sempat tadi berganti di rumahnya dikarenakan sudah ingin bertemu dengan istrinya.
Tidak biasanya pintu rumah yang otomatis terbuka sendiri ketika tuan rumah datang dan kali ini, kembali Aditia harus ribet memencet bel rumah.
"Apa pengenal wajah rumah ini habis di rubah? Apa Ibu mengeluarkan aku dari daftar wajah pengenalan pintu ini?" Aditia kembali geleng kepala menuduh Ibunya tidak-tidak.
"Ke mana semua sih, penghuni rumah ini? Apa Pak Samsul juga lalai di depan komputer?"
Pintu rumah sebelumya sudah dijadikan otomatis. Dan pak Samsul-lah yang bertanggung jawab atas hal itu.
"Kalian sudah mulai bermain denganku?" Kembali Aditia menggerundel.
✍️✍️✍️✍️✍️ Terus dukung Author. Cuss... makasih dukingan penuhnya wahai pembaca setia Author. masukkan dalam daftar favorit buat dapat pemberitahuan up Author, ya....
__ADS_1