Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 59. Permintaan Inayah


__ADS_3

Aditia hanya meneteskan air mata melihat perjuangan istrinya lewat Video dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat air mata Inayah dan bagaimana perjuangan Inayah melahirkan putranya. Aditia kembali terisak.


Hatinya diselimuti amarah dan kecewa tidak bisa memeluk langsung kekasih halalnya. Seakan takdir terus memisahkan mereka berdua. Sungguh Ujian Cinta yang luar biasa untuknya.


Sama seperti Inayah, ditengah orang berbahagia untuknya justru dirinya memilih diam. Silih berganti menggendong malaikat kecil itu yang baru berapa jam setelah dilahirkan dan diberi nama RAYYAN ATTAQI


"Dia sangat lucu," kata Asifa.


"Iya benar. Juga ada mirip ayah dan ibunya," tambah Alina.


"Jelaslah, Alina. Tidak mungkin dia mirip dengan kamu. Makanya cepat cari calon suami biar kamu juga punya baby seperti Rayyan," sahut Ibu Hanum.


Alina membulatkan matanya dan Asifa hanya tersenyum. Sementara Inayah, Hanya sesekali terlihat tersenyum itu pun terlihat hanya dipaksakan.


Asifa dan Alina menyadari hal itu segera menghampiri Inayah. Inayah tersenyum dan merentangkan tangannya agar kedua gadis itu memeluknya.


"Kak, Akan indah pada waktunya. bersabarlah," kata Alina dan Asifa menghibur Inayah.


Ummi Humairah, Ibu Fatimah dan Ibu Hanum salin tukar pandang. Baby Rayyan kini berada dalam gendongan Ibu Hanum dan mengusap wajah mungil bayi tersebut.


"Ada telepon untukmu," kata Ibu Hanum menyembunyikan kesedihannya. Ingin bercerita pada Inayah, namun belum waktunya.


Cukup lama Inayah menatap nomor baru yang terlihat di layar.


"Ini dari siapa, Ibu?" Tanya Inayah pada Ibu mertuanya.


"Jawablah. Kamu akan tahu jawabannya," ujar Ibu Hanum lagi menoleh melihat Ibu Fatimah dan Ummi Humairah.


Dengan pelan, Inayah mendekatkan benda pipih tersebut di telinganya.


"Sayang, Selamat untukmu."


Seketika tangis Inayah pecah. Bibirnya terlihat gemetar. Semua orang yang di ruangan itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Aku minta maaf, Sayang." terdengar suara Aditia terisak. Sekali lagi terimakasih telah berjuang untuk anak kita."


"Mas, kenapa baru menghubungi aku, Mas? Apa mas tidak merindukanku! Mas tega padaku. lantas, mengapa Mas Adit tidak melakukan panggilan video saja, Mas. Aku ingin melihat wajahmu, Mas." Kembali Inayah terisak.


"Aku merindukanmu, Mas. Apa Mas Adit tahu, Selama hamilkan Rayyan wajahmu terus terbayang. Aku merindukan suamiku ada di sampingku. walau hanya sejenak Mas," lanjut Inayah.


"Sayang, di sini penuh aturan. Aku juga merindukan wajahmu, Inayah. Namun, itu tidak mungkin. Mendengar suaramu cukup bagiku, Sayang."


"Tapi aku tidak, Mas! Katakan padaku kapan kamu menemuiku? tidakkah bisa aku mengunjungimu? Aku mohon, Mas. Berikan Izin untuk aku bisa menemuimu!"


"Sayang, bukannya aku tidak ingin kamu menemuiku. Namun, untuk saat ini tidak mungkin, Sayang."


"Katakan alasannya, Mas Adit? Aku tidak mengapa, Mas. Asalkan aku bisa menemui suamiku. Aku Mohon, Mas!"


Inilah Aditia takutkan Inayah akan meminta untuk membesuknya. sesuatu yang tidak mungkin untuk Aditia.


"Lihatlah anak kita, Mas. dia sangat mirip denganmu," kata Inayah di balik panggilan telepon tersebut.


Inayah maupun Aditia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan itu. lebih-lebih Aditia sangat sakit mendengar suara isak tangis istrinya. Seketika panggilan itu di pustus sepihak oleh Aditia.


"Mas, Halo... Mas, apa kau masih di sana? Mas Aditi!" Inayah serasa ingin gila.


Ummi Humairah langsung memeluk Inayah.

__ADS_1


"Mengapa Mas Aditia tega padaku, Ummi. katakan padaku?" Tangis Inayah kembali pecah.


"Sayang kendalikan dirimu. Kasihan Rayyan akan ikut merasakan kesedihan kalian. Istiqomahlah. Saat tiba masa akan indah pada akhirnya. Tidaklah baik kalian seperti orang berputus asa. jika salah satu dari kalian lemah yang satunya harus menguatkan."


Selama ini Inayah tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya. Namun sekarang, Inayah sudah benar-benar tidak bisa lagi menahannya.


"Menangislah, jika itu membuatmu bisa lebih tenang." Ummi Humairah mengelus lembut punggung Inayah.


Raka yang sedari tadi mendengar kesedihan adiknya tak sanggup lagi membendung air matanya.


"Ini semua kerena aku, Mas," sesal Amira.


"Tidak, Sayang. Kita sudah menjelaskan dan sudah berdamai dengan keadaan. Namun takdir kembali menguji cinta mereka."


"Benar, Amira," sahut Tuan Subari yang kini ikut duduk di depan ruang inap Inayah.


Amira beranjak dari tempatnya setelah Amira melihat Inayah dari luar sudah cukup tenang. Terlihat Inayah sudah bisa mengendalikan dirinya.


Ibu Fatimah duduk di samping Inayah dan berkata, "Makan dulu, Nak, Ibu memasakkan kamu sup ayam."


Melihat Ibu Fatimah menyodorkan makanan untuknya, Inayah pun akhirnya buka mulut. Melihat Inayah makan semua kembali tersenyum.


Usai makan, Inayah angkat bicara. "Mengapa aku merasa ada yang kalian sembunyikan dariku." Inayah menatap satu persatu orang yang di dalam ruangan itu.


Tiba-tiba seorang suster masuk dengan dokter Eka di belakangnya. Dokter Eka tersenyum.


"Hai Ibu baru? bagaimana keadaannya siang ini setelah proses bersalin tadi pagi? Ada keluhan?"


"Tidak ada, Dok. saya merasa sudah lebih baik," ucap Inayah tersenyum.


"Sebagian ibu yang baru melahirkan terkadang juga bisa merasakan keluhan nyeri atau susah BAB setelah melahirkan normal. Namun, Ibu Inayah tak perlu khawatir, karena kondisi ini akan membaik sendiri seiring berjalannya proses pemulihan setelah persalinan," lanjut dokter Eka.


"Baik, dok."


"Agar memperlancar hal itu, Ibu Inayah bisa mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah, sayuran, serta kacang-kacangan, dan minum air putih yang cukup. Bila diperlukan, juga bisa menggunakan obat pelancar, namun harus dengan resep dokter."


Setelah panjang lebar berkonsultasi Dokter Eka pun pamit. Inayah tidak lagi melanjutkan seputar pertanyaannya pada Ibu Fatimah. Inayah memilih mengistirahatkan tubuhnya setelah memberi Asi ekslusif untuk Rayyan.


***


Esok Hari, Inayah sudah di perbolehkan pulang dan hal itu membuat semua keluarga menyambut kedatangan Rayyan sebagai keluarga baru di tengah mereka.


Waktu terus berjalan, Inayah tampak menikmati perannya sebagai seorang ibu. Sungguh luar biasa menjadi seorang Ibu.


"Hai Rayyan? Aunty mau pamit. Aunty harus kembali. Rayyan baik, sayang, jangan rewel." Alina mencium pipi Rayyan yang sudah sedikit berisi setelah beberapa mereka tinggal di sana dan beralih memeluk Inayah.


"Alina, Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku sangat baik, kak."


"Tapi aku merasa kamu tidak baik saja."


"Dia menolakku, Kak."


Inayah tersenyum. "Jika dia jodohmu. Akan ada waktunya." kata Inayah pada Alina.


Berbeda dengan Sifa. Sifa terlihat menikmati kebersamaannya dengan Rayyan. kebetulan Sifa juga harus pulang begitu juga dengan lainnya. Yang tersisa Ibu Hanum dan Tuan Subari masih tinggal untuk sementara waktu.

__ADS_1


Asifa masuk kembali ke kamarnya dan mengambil semua barang-barangnya. Namun, kebetulan tetangga Inayah yang bernama Zaki berhadapan langsung Kamar yang ditempati Sifa, sehingga tidak sengaja kedua mata itu bertemu.


"Kau melupakan sesuatu, Nona." Kata Zaki dari balkon kamarnya yang melihat Sifa kebetulan mencari sesuatu di balkon kamarnya.


Apa kau mencari ini?" kata Zaki mengangkat tangan kanannya dengan selembar kertas.


Sifa melihat kertas penting yang di jemurnya hilang. dan sekarang berada di tangan pria tidak dikenalnya.


"Kok sama anda?"


"Ambilah."


"Mana bisa, tuan. Jarak rumah ini cukup jauh.


"Kamu bisa melompat," canda Zaki.


"Tuan, tolong jangan dibaca."


"Sudah aku baca. Mana aku tahu ini rahasia. Apakah sepenting itu?"


"Jika anda meneruskan membaca itu, aku sumpahin tidak kawin-kawin seumur hidup anda." ancam Sifa pada Zaki.


"Jika aku tidak kawin, maka aku akan mencarimu dan meminta menikahi aku." Tawa Zaki di balkon kamarnya.


Sifa semakin kesal oleh Zaki. Dan Zaki semakin tertawa melihat di sebelah rumah yang tengah berhadapan dengan dirinya melebarkan matanya.


"Ok. ambil milikmu. Aku menunggumu di depan rumahku." Zaki tersenyum. Asifa pun berlari.


"Sifa, mau kemana?" tanya Alina yang tengah sibuk menyiapkan barangnya.


"Ada urusan sebentar dengan pria resek."


Setiba di depan rumah Zaki, Sifa langsung dibukakan pintu pagar oleh satpam di sana. Zaki sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Masuklah, Nona."


"Mana kertasku. Aku tidak perlu masuk," tolak Sifa.


"Ok. Akan tetapi tinggalkan nomor ponselmu di sini."


"Aku tidak bisa. Suamiku akan marah jika mengetahui."


"Sayangnya aku tidak percaya. buktinya ini apa? Jika kamu tidak mengikuti kemauanku. Aku akan menceritakan isi kertas ini pada sahabatmu, Alina. jika kamu.... "


"Ok. aku sebut anda tulis."


"Tulis di tanganku." Zaki melebarkan telapak tangannya.


"Aku tidak bisa menyentuh tanganmu. Kita bukan mahram," ucap Sifa.


Bibi Surti pembantu Zaki tertawa. dan Martin berbisik. "Tuan, sepertinya nona ini bisa membuatmu tertawa."


Zaki merotasikan matanya ke arah Martin. "Martin, berikan ponselku padanya."


Usai menulis nomor Sifa. Sifa pun akan pamit.


"Ku harap ini pertemuan terakhir kita." Sifa berlalu. Zaki tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2