Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 42. Kata Hati.


__ADS_3

Alhamdulillah, Author Up lagi. Maaf sekali lagi. Terimakasih pembaca setia Author masih setia hingga di bab ini. Jika masih ada kekurangan dalam penulisan, mohon pembaca setia Author memakluminya. Tangan ini mengetik sudah maksimal dan Netral ini sudah berusaha memeriksa dari kata demi kata dan ternyata masih TYPO, sekali Author minta Maaf. pembacaku akan menyempurnakan. 😊😊😊πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


****


Inayah pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak dimengerti olehnya. Ujian hati terus datang padanya. Amira terkejut dengan Inayah yang terisak masuk di dalam rumah dan memeluk dirinya.


Amira membiarkan sejenak Inayah memuaskan diri untuk menumpahkan segala kesedihannya. Setelah Inayah sudah cukup tenang. Amira Pun memberikan satu gelas Air putih untuk Inayah.


Untungnya Raka belum pulang dan Ibu Fatimah juga masih di rumah Ummi Humairah. Sore itu Hanya Amira dan anaknya yang masih bayi di rumah.


"Minumlah! Semoga segelas air itu bisa mencairkan hatimu yang sedang lara."


Inayah duduk di meja makan dan menerima segelas air putih dari Amira sambil mengucap Terimakasih.


Amira tersenyum penuh kelembutan. Dia teringat bagaimana dulu Amira pernah merasakan kesedihan yang begitu mendalam.


"Dek, katakan pada kakak. Ada apa?"


Inayah menceritakan pertemuannya dengan Ibu Hanum hingga Pertemuannya dengan Aditia.


"Jadi Aditia melamarmu? Lalu apa jawabanmu?"


"Aku tidak menjawabnya."


"Apa kau juga memiliki perasaan yang sama?" Amira bertanya seputar perasaan Inayah sesungguhnya.


Diamnya Inayah, Amira mengerti. wanita seperti Inayah sangat sulit mengakui perasaannya sendiri.


"Aditia itu sebenarnya pria yang sangat menghargai wanita. Dia orang paling tidak bisa melihat wanita bersedih. Bila dia mencintai seseorang sulit untuk berpaling. Bahkan dia rela mengorbankan perasaannya sendiri demi seorang wanita yang dicintainya." Amira menceritakan masa lalunya agar Inayah mempertimbangkan.


"Maafkan kakak bila membahas masa lalu. Jangan salah paham. Raka merupakan orang yang aku cintai sekarang. Dan Aditia hanyalah masa laluku." Amira ikut duduk di depan meja makan tepat berhadapan dengan Inayah.


"Kehidupan Aditia dulu tidak secerah sekarang. Bahkan aku bisa melihat kehidupan baru di matanya saat datang bertamu di rumah ini. Aku melihat dia penuh harapan darimu. Kegagalan cinta pertamanya bersama Marina, Adalah pengalaman terpahit dalam hidup Aditia. Hingga suatu hari ia sudah menganggap bahwa tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita lain. Hingga aku bertemu dengannya dan kembali kisah pahitnya terulang." Amira menggenggam tangan Inayah.


"Bila kau juga memliki perasaan yang sama, mengapa tidak mengikuti kata hatimu. Pilihan hidup ada padamu. Jangan menutup hatimu, Inayah."


Inayah semakin terisak. Amira kembali berbicara. "Jangan mengatakan kamu tidak pantas. Menjadi seorang janda bukan kemauan kita, Tapi memang karena sudah ketentuan. Pria maupun wanita yang telah menikah kemudian berpisah, baik disebabkan karena perceraian maupun kematian adalah berstatus sama. Yang disayangkan, banyak memberi kesan negatif kepada janda daripada duda. Kaum janda seringkali ditempatkan sebagai wanita pada posisi yang rendah, lemah, tidak berdaya dan membutuhkan belas kasih."

__ADS_1


Inayah semakin terisak mendengar penuturan Amira.


"Namun, Aditia ternyata tidak memandang itu. Dia Benar-benar mencintaimu, Inayah," jelas Amira.


"Menjadi seorang janda bukanlah sebuah cita-cita, keinginan atau pun kemauan dan harapan seorang wanita. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan menyandang status janda, bahkan mungkin status janda merupakan status sangat ditakutkan oleh seluruh wanita di dunia ini." lanjut Amira menatap Inayah dengan penuh kasih.


"Aku tidak tahu, kak. Aku takut saja," Aku takut akan kembali mengulang hal yang sama."


"Akan lebih menyesal dirimu jika kau membohongi dirimu sendiri. Jika hati bisa bersatu mejadi halal, mengapa tidak. Kau berhak menentukan kebahagiaanmu. Memendam rasa itu sangat menyakitkan dan mengecewakan, Inayah." Amira menatap Inayah.


Amira kembali tersenyum. Menarik nafas dalam. Dengan sangat berhati-hati, Amira kembali berujar,


"Hidup ini adalah ujian Inayah. Semuanya adalah ujian. Kamu tahu hal itu. Disinilah kita berperang melewati lika liku kehidupan ini. Apa salahnya kamu mencoba membuka hatimu. Allah Maha Tahu dan dia pemilik hati. CintaΒ telah hadir sejak zaman Nabi Adam diciptakan dan dipertemukan dengan pasangan hidupnya, Siti Hawa. Tanpa keberadaan cinta, orang-orang akan merasa hampa. Mencintai lawan jenis itu Fitrah."


Inayah Tersenyum dan memeluk kakak iparnya itu. "Terimakasih, kak."


***


Aditia pulang ke rumah dengan perasaan berkecamuk dalam hatinya akibat rencana ibunya yang tidak masuk akal.


"Apa maksud Ibu mengajak Ziya dan mempertemukan Inayah, Ibu? Mengapa Ibu sangat berbeda dengan Ibu yang dulu. Ada apa dengan Ibu?"


Aditia menoleh ke arah ibunya. "Apa masud Ibu?"


"Ibu lelah melihatmu terus seperti ini.Maka dari itu, Ibu minta tolong sana Ziya untuk membantu Ibu. Kesempatan sudah terbuka lebar. Mengapa kamu masih menyembunyikan perasaanmu pada Inayah? Jika hubungan itu bisa di halalkan mengapa tidak."


Ibu Hanum terlihat bersedih dan kembali berkata,


"Selama ini apa kamu tahu Aditia, Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, Nak. itu saja." Ibu Hanum duduk dengan air mata yang tak mampu lagi dibendung olehnya.


"Hingga Ibu lakukan yang mana menurut ibu Baik. Ternyata apa yang Ibu lakukan tidak membuatmu bahagia. Sejak dulu putra Ibu tidak pernah menemukan kebahagiaannya. Lalu, apa salahnya Ibu membantumu menemukan kebahagiaanmu, Nak."


"Maafkan Aditia, Ibu. Akan tetapi cara Ibu yang salah. Tidak harusnya seperti ini, Ibu. Jangan memaksakan keinginan Ibu. Maafkan Aditia."


"Jangan meminta Maaf, Nak. Kamilah yang salah selama ini," sahut Tuan Subari.


"Kamu berhak bahagia, Aditia. Ibumu mengundang Ziya untuk mengorek perasaan Inayah sebenarnya sampai di mana. Ibumu berpura-pura mengenalkan Ziya pada Inayah sebagai calon tunangannu," lanjut Tuan Subari.

__ADS_1


"Ibu bisa melihat kesungguhan Inayah, Inayah memiliki perasaan yang begitu besar terhadap dirimu, Adit. Ibu yakin itu," sambung Ibu Hanum lagi.


"Tidak seharusnya Ibu dan Ayah melakukan itu pada Inayah. Inayah butuh waktu, Ibu. Ibu tahu sendiri seperti bagaimana keadaan Inayah setelah bercerai dari pernikahan pertamanya dengan Adam."


"Kalau begitu, mengapa kamu tidak menyembuhkan luka itu, Adit," imbuh Ibu Hanum lagi.


"Ibu, aku sudah berusaha dengan caraku. Aku ingin Inayah tidak merasa terpaksa. Aku ingin Inayah bisa merasa nyaman. Jodoh tidak akan pernah tertukar, Ibu." Aditia menarik napas dalam. Lalu menghembuskan dengan pelan.


"Kita Hanyalah "pelakon", sedangkan Allah adalah sutradara paling baik dalam kehidupan. Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan: Doanya akan segera dikabulkan, atau akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad).


Aditia menatap wajah kedua orang tuanya. "Aku yakin, Skenario Allah jauh lebih baik dari pada apa yang kita inginkan."


Ibu Hanum memeluk putranya. Aditia meyakinkan Ibunya jika dirinya bahagia.


"Aku bahagia, Ibu. Jangan khawatirkan aku. Berjanjilah padaku, Ibu, ibu tidak lagi menangisi hal ini."


Aditia melepaskan pelukan Ibu Hanum dan berkata, "Ibu adalah kekasih hatiku. Jangan pernah lagi Ibu bersedih."


mendengar suara mobil Alina. Semua mata menoleh ke arah pintu menunggu pemilik suara mobil masuk.


Langkah Alina terhenti ketika melihat semua orang menatapnya. Alina masuk di dalam rumah dengan wajah baru.


Ibu Hanum cukup terkejut melihat Alina dengan penampilan barunya.


Alina berhijrah mengenakan hijab. hijab syar'i yang dikenakan Alina terlihat begitu anggun.


"Aku hanya melaksanakan kewajibanku sebagai wanita muslimah, ayah, ibu, kak," ujar Alina melihat semua orang menatapnya. "Tidak ada lagi kata pacaran dalam daftar diaryku. Aku baru tahu, hal itu hanya menjerumuskan aku Ke lembah yang tidak aku harapkan dalam hidupku."


Alina berdiri di depan pintu sambil kedua tangannya memainkan pakaiannya. Alina tidak mengerti tatapan orang-orang di depannya.


Kembali suara Alina terdengar. Berbicara pelan dan lirih


"Apakah ada yang salah? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


"Tidak ada yang salah. Kecantikan adiknya kakak semakin bertambah. Terimakasih telah membantu Ayah dan ibu meringankan tangung jawabnya," timpal Aditia tersenyum.


Ibu Hanum memeluk putrinya. Tangis keduanya pecah.

__ADS_1


"Terimakasih Ya Rab, kau Hadirkan Inayah hingga aku mengenalnya. Melewati dia, Kau merubah segalanya. Namun aku tidak pernah tahu, akankah Inayah adalah jodoh untukku." Aditia melangkah masuk di dalam kamarnya.


__ADS_2