Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 62. Penyemangat Aditia


__ADS_3

Tiba di kediamannya, Aditia turun dari mobil dengan di bantu oleh Teo. Inayah mengambil alih dan mendorong kursi roda suaminya masuk di dalam rumah. Setelahnya, Teo pamit untuk kembali ke apartemen miliknya.


Sementara Rayyan di bawah oleh Suster Ira masuk di kamarnya kerena sudah tertidur. Tuan Subari serta Ibu Hanum juga menuju kamar mereka.


"Kau suka rumah ini, Sayang?" tanya Aditia setelah mereka berada di dalam rumah dan Inayah melepas sepatu suaminya dan menyimpannya.


"Ini lebih dari suka, Mas. Sebaiknya Mas Aditia istirahat dulu." Inayah langsung mendorong kursi roda suaminya.


Inayah di penuhi tanda tanya mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Aditia bisa membaca benak istrinya.


"Mengapa menatapku seperti itu, Mas?" tanya Inayah stelah memperbaiki seprei tempat tidur.


"Kau tidak pernah berubah, Inayah."


Inayah terhenti dari membersihkan tempat tidur mereka. Inayah tersenyum mendapat pujian dari suaminya.


"Sebaiknya Mas istirahat dulu." Inayah akan membantu Aditia, akan tetapi Aditia mencegahnya.


"Aku tidak lumpuh, Sayang. Hanya saja kedua lututku bergetar jika berdiri lama." Aditia berdiri sendiri dan berjalan menuju tempat tidur.


"Aku akan membuatkan makanan kesukaanmu?" ujar Inayah.


Aditia menarik lengan Inayah. "Aku belum lapar."


"Sayang, kamu harus banyak makan. lihatlah tubuhmu, Mas. Kamu sedikit kurus." Inayah terlihat prihatin dengan kondisi suaminya yang sekarang.


"Dan untungnya rambutku belum botak," jawab Aditia menyela.


"Bagiku, suamiku tetap tampan. Seperti bagaimana pun suamiku, aku tidak peduli." Inayah menatap wajah suaminya. "Mas makan, ya?"


"Aku belum lapar, Sayang." tolak Aditia lagi.


"Tapi, kamu belum makan, Sayang." Inayah tidak sadar panggilan itu ditujukan pada Aditia sudah berulang kali.


"Duduklah dulu. Aku akan menjelaskan semuanya."


"Makanlah dulu, Mas." Inayah menatap dua manik mata suaminya.


"Biklah.Terserah Bundanya Rayyan saja."


Inayah tersenyum. Aditia melihat semua momen Inayah dari sejak pertama mengetahui dirinya hamil, mengidam hingga Inayah melahirkan. Bahkan foto-foto Rayyan mulai dari umur satu bulan hingga umurnya yang sekarang. Inayah dokumentasikan.


Usai melihat Foto-foto dalam album, Aditia menyimpannya. Inayah datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan makan siang untuk Aditia. Aditia menyambut Inayah.


"Ayo, Makan dulu."


"Tidak perlu menyuapi aku, Sayang. Aku akan makan sendiri. lebih baik kamu membersihkan dirimu. Kamu juga pasti lelah," ujar Aditia.


"Baiklah. Aku akan berganti dulu."


Aditia menikmati makanannya hingga tanpa sisa. Sejak tadi Aditia memperhatikan Inayah hingga keluar dari kamar mandi.


Aditia merasa marah dalam dirinya karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Inayah bisa melihat suaminya diam.


"Mas, Aku yakin semua akan kembali seperti dulu.' Inayah menatap suaminya sambil berhias.

__ADS_1


"Sebenarnya. Amira mencabut tuntutannya tepat masuk tiga bulan. Dan kabar beredar di kantor tentang penyakit itu adalah benar." Aditia terdiam sejenak.


"Aku tidak berharap akan tuntutan itu dia cabut dan menjelaskan pada pihak hukum kebenarannya. Aku hanya meminta dia menjelaskan kebenarannya padamu," jelas Aditia dengan terlihat sudut matanya berair.


"Siang malam aku memikirkan nasib keluargaku selama aku dalam masa hukuman. Aku benar-benar telah membodohi diriku membuat dirimu ikut tersiksa, Inayah."


Inayah terdiam di tempat. dan Aditia melanjutkan ucapannya.


"Saat aku masih dalam masa hukuman, penyakit ini datang menyerang hingga aku tidak sadarkan diri dan aku dibawah ke rumah sakit. Dan dokter mengatakan jika aku mengidap penyakit kanker otak. Aku berusaha untuk sembuh... karena aku ingat, ada seseorang menungguku."


"Lantas, Mengapa aku dirahasiakan dari semua ini, Mas!" Tiba-tiba suara terdengar marah dengan isak tangis kembali terdengar.


"Aku tidak mau kau bersedih, Inayah. Aku sudah merencanakan akan keluar negri berobat hari itu. Namun, Tiba-tiba saja kamu datang."


"Dan Mas akan pergi seorang diri di sana?! Kamu egois, Mas! Aku istrimu dan sejak pertama kita menikah aku sudah mengatakan untuk saling terbuka, bukan main rahasiakan seperti ini!" suara Inayah begitu marah dan kecewa.


Aditia paham dan mengerti. wajar saja inayah marah dan kecewa padanya.


"Jika kamu marah seperti ini. wajahmu akan menjadi jelek, Sayang," goda Aditia menghibur dirinya sendiri dan Inayah.


"Mas Adit tahu, lalu kenapa melakukannya? Apa mas tidak menganggap aku sebagai istri?"


Aditia menarik tangan Inayah dan langsung menjatuhkan Inayah dalam pelukannya.


"Siapa bilang? Jangan berkata seperti itu lagi. Aku mempertimbangkan semuanya. Coba pikir, dalam keadaan hamil jika kamu tahu kebenarannya, aku tidak yakin kandunganmu akan tidak berpengaruh. itu sebabnya aku merahasiakan darimu," jelas Aditia.


"Karena aku tidak bisa mendampingimu hari di mana kamu membutuhkan aku, aku meminta Marno memantaumu setiap waktu bahkan kamar ini dan seluruh sisi rumah ini aku minta di pasangkan CCTV agar aku bisa melihat setiap aktivitasmu. Dan itu cukup membantu aku bersemangat untuk segera sembuh dari penyakit ini, Inayah."


Inayah masih posisi yang sama. Keduanya saling merasakan denyut jantung mereka.


"Jadi, Semua yang aku mau, Mas Aditia yang memesannya hari itu? dan semua tulisan tangan itu benar darimu, Mas?"


"Maafkan aku, Mas."


Kedua insan yang saling menatap cukup lama. Rasa rindu yang tertahan kini saling menyembuhkan dengan caranya. Cinta yang halal sungguh begitu indah. Setiap yang dilakukan bernilai ibadah. Allah menganugerahkan cinta pada hambanya tidak lain agar mereka bersyukur.


***


Bibi Sumi, di mana Inayah dan Aditia?" Ibu Hanum keluar dari kamarnya setelah beristirahat siang dan kini jam menunjukkan 16.11. Ibu Hanum menanyakan putra dan menantunya.


Bibi hanya memberi kode dengan matanya mengarah pada kamar Anak dan mantu Ibu Hanum.


"Baiklah, Bibi. Lalu, Rayyan di mana?"


"Rayyan di sini nyonya." Rayyan di gendong oleh Suster Ira yang terlihat sudah segar.


"Cucu nenek sudah mandi?" tanya Ibu Hanum dan mengambil cucunya dan menggendongnya.


Tiba-tiba kamar Inayah terbuka. Ibu Hanum menoleh dan melihat Aditia terlihat segar dari sebelumnya. Tentu dengan masih memakai kursi roda.


"Sini Rayyan, Ibu." Aditia merentangkan tangannya agar Rayyan mau bersamanya. dan benar saja, tangan Rayyan bergerak untuk pergi dengan ayahnya. Celotehannya yang menjadi hiburan tersendiri.


Ibu Hanum tersenyum penuh makna yang membuat Aditia mengerutkan keningnya. Aditia paham maksud senyum ibunya dan membiarkan hal itu mengalir apa adanya.


"Kau sudah meminum obatmu siang ini?"

__ADS_1


"Sudah Ibu." jawab Inayah dari belakang aditia dan memeluk suaminya dari belakang. lalu, mengecup pipi tembem Rayyan yang kini duduk dipangkuan sang ayah.


Melihat kebahagiaan mantu dan putranya, Ibu Hanum berharap Aditia segera sembuh seperti dulu.


"Ibu, Aku berencana akan keluar negri berobat." kata Aditia.


"Lantas. Inayah?"


"Dia akan menemaniku. Aku akan membawa mereka."


"Baiklah. lalu, apa kalian berangkat dari sini?" sahut Tuan Subari yang tiba-tiba muncul dan duduk di sofa.


"Kami semua akan ikut dengan kalian besok ke kota. Inayah merindukan keluarganya dan akan berkunjung ke makam Aba. setelahnya, baru kami akan merencanakan hari keberangkatanku menuju luar negri. Aku dan dokter Zain sudah janjian."


"Apa baiknya Rayyan dengan kami saja?" ujar Ibu Hanum.


"Tapi, Rayyan masih butuh aku, Ibu," ujar Inayah.


"Tidak usah bahas dulu tentang Rayyan, Ibu. Biarkan waktu yang akan menjawab seperti bagaimana. Mereka, kan, baru merencanakan akan ke sana. Kenapa sih, ibu, takut sekali jauh dari cucunya."


"Ya jelaslah, Ayah. Rayyan satu-satunya cucuku. Andai Alina sudah kawin dan juga memiliki anak selucu Rayyan, rumah kita kan, jadi ramai, ayah," ungkap Ibu Hanum.


"Beginilah ibu kamu. Banyak maunya. Setelah punya cucu, nantinya mau cicit lagi," kata Tuan Subari tersenyum.


"Rayyan, kamu jangan cepat besar. nenek kamu terlalu cerewet," canda Tuan Subari hingga mengundang tawa semua orang yang ada di sana.


Melihat keluarganya tertawa, Tuan Subari menyadari satu hal bahwa bahagia itu sederhana. Inayah pun mendorong kursi roda suaminya menuju taman belakang.


"Sayang, di samping rumah ini milik siapa? Seingat saya waktu membeli rumah ini, di sebelah belum ada bangunan berdiri."


"Namanya Tuan Zaki," jawab Inayah sambil bermain degan Rayyan yang berada di atas pangkuan Aditia.


"Apa dia sudah memiliki istri? Apa dia mengenalmu?" terdengar pertanyaan seperti menginterogasi.


Timbul ide Inayah dan berkata, "Ya. Dia seorang pria lajang Dan aku pernah mengenalnya."


"Sayang, Kamu mengenalnya? Apa kalian akrab?" tanya Aditia lagi. tumbuh rasa cemburu dalam dirinya.


"Ia. K ami satu kuliah dulu." Inayah menertawakan suaminya dalam hati. Terlihat wajah Aditia menahan cemburu.


Aditia sudah membayangkan jika istrinya dan Zaki begitu dekat dan itu hanya dalam khayalannya. Inayah melirik suaminya. Inayah bisa menebak jika saja suaminya pasti sudah membayangkan yang bukan-bukan.


"Di larang su'udzon, Mas."


"Tidak," elak Aditia. "Ia, kan, Rayyan?"


Rayyan kembali berceloteh seakan mengerti apa maksud ayahnya.


"Rayyan saja menebaknya jika ayah cemburu. iya, kan, kakak?"


Rayyan tertawa dengan suara khasnya dan menunjuk kucing anggora milik Aditia yang bernama Muezza.


"Sayang, kamu membawa Muezza kemari?" tanya Aditia setelah Muezza duduk di pangkuan Inayah dan Rayyan menjentikkan jari mungilnya ke arah Muezza.


"Iya. Muezza sangat menghibur aku."

__ADS_1


Aditia langsung mengecup kening istrinya. Rayyan terkekeh melihat ke atas.


Ternyata dari lantai atas Zaki bisa melihat kebahagiaan terpancar dalam keluarga tersebut dan melambaikan tangannya pada Rayyan. Aditia dan Inayah tidak sadar jika Rayyan tertawa karena Perbuatan Zaki, tetangga mereka.


__ADS_2