
"Inayah, Aku datang serius ada hal penting yang aku akan katakan padamu."
"Aku terima," kata Inayah yang membuat Aditia tidak berkedip.
"Maksud kamu? kamu mauโ"
Ucapan Aditia segera di jawab oleh Inayah. "Aku mau bekerja sama denganmu. Aku menerima tawaran kamu siang tadi. Masalah kontrak kerja."
Aditia langsung terlihat kecewa. Ternyata dirinya salah paham maksud ucapan Inayah.
"Kenapa? Apa aku terlambat?" tanya Inayah melihat raut wajahnya Aditia tidak bisa Inayah prediksi.
"Tidak sama sekali. Baiklah, temui aku besok di kantor."
"Aku akan besok ke kantormu," ujar Inayah.
Sebelum Inayah datang. Aditia bersemangat untuk mengutarakan semua yang ada di dalam hatinya. Namun, melihat Inayah terlihat gusar, Aditia menurunkan niatnya.
'Baiklah, Aku masih perlu bersabar mengejarmu, Inayah,' batin Aditia.
"Ini ponsel milikmu. Aku menemukan di ruangan Alina." Aditia menyerahkan ponsel milik Inayah.
Inayah sedikit curiga. Melihat Inayah menatapnya aneh, Aditia kembali berkomentar.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu curiga padaku? Aku hanya mengambil fotomu di bagaian layar," elak Aditia berdiri dari tempatnya.
"Aku pamit, Nona Inayah. Apa kamu tidak mau mengantar tamumu untuk pulang?"
Aditia meninggalkan tempat dan di antar oleh Inayah sebagai bentuk Inayah memuliakan tamunya.
"Aku bayangkan ketika aku dan kamu sudah... dan kamu mengantarku seperti ini akan pergi bekerja."
"Turunkan hayalanmu, Tuan."
"Aku berdoa untuk itu. Selalu. Bila kata tak mampu berucap, cukup dengan doa," timpal Aditia.
Inayah kembali membulatkan matanya mendengar lelucon Aditia lagi.
"Jangan suka marah-marah, Nona Inayah. Wajahmu nanti akan berkerut. Andai kita sudah halal aku ingin menggodamu lebih dari ini. Namun, aku masih membatasi diriku," imbuh Aditia lagi.
"Getaran dan tarikan sebelum halal memang menggoda. Akan tetapi, aku akan bersabar menunggu waktu itu," bisik Aditia di telinga Inayah. "Untuk bisa menghapus semua lukamu," lanjut Aditia berbisik kembali di telinga Inayah.
"Kamuโ" Inayah tidak habis pikir mengapa Aditia suka sekali membuatnya kesal.
Sebelum masuk di dalam mobilnya, Aditia kembali berujar,
"Nona Inayah, Kita ketemu besok di kantor. Aku janji akan memberikan kontrak sesuai keinginanmu. Bahkan jika kontrak kerja sama lain yang kamu inginkan aku juga sudah siapkan. Siap untuk aku ... dan kamu ... menandatanganinya."
Aditia berlalu dengan tersenyum penuh kemenangan. Inayah geleng kepala melihat kepergian Aditia. sebelum mobil Aditia keluar dari lingkungan rumah Inayah, Aditia sengaja menyoroti Inayah degan lampu mobilnya.
"Wajahmu memang selalu menyilaukan," gumam Aditia tersenyum melihat Inayah tampak kesal atas perbuatannya. Kemudian, membunyikan klakson mobil sebelum pergi.
Inayah menutup pintu rumahnya dan hendak akan masuk kamar. Langkah itu terhenti ketika suara Raka memanggilnya.
"Inayah, Kakak tahu posisimu dan perasaan kamu sekarang. Namun, jangan menutupi dirimu bila kebaikan datang untukmu."
Inayah menatap Raka sebentar. Kemudian, masuk di dalam kamarnya. Inayah memeriksa ponselnya dan melihat ada banyak foto-foto Aditia di sana.
Sebuah chat masuk. Siapa lagi kalau bukan Aditia.
"Jangan menghapus Foto itu. Maaf bila aku melampaui batas telah membuka sandi ponselmu."
Inayah hanya geleng kepala melihat kembali chat Aditia berikutnya dengan stiker orang memohon ampun dan stiker babak belur.
__ADS_1
Kembali Inayah geleng kepala. Inayah menyimpan ponselnya. pikirannya saat ini sedang kalut.
"Jika bukan Ummi yang membutuhkan uang aku tidak akan berhubungan denganmu, kak Aditia. Karena aku sadar diri." Inayah bergumam dan menyimpan ponselnya di atas nakas.
***
Aditia menuju rumah sakit mengunjungi Alina, adiknya dan menghubungi Teo.
"Tao, Siapkan kontrak kerja. Sekarang!"
"Astaga, Tuan. Aku baru membaringkan tubuhku setelah sibuk di kantor sebelumnya di tambah Tuan memintaku naik taksi. dan apa Tuan tahu, Mobilnya macet di tengah jalan dan mengharuskan aku jalan kaki karena uang cash di dompetku habis, Tuan," omel Teo yang memijit seluruh badannya.
"Aku tidak mau dengar keluhanmu. Ini sangat penting."
"Tuan, biarkan aku dulu beristirahat. Besok pagi akan aku akan kerja."
"Sekarang, Teo. Aku tidak mau menunggu hari besok. Atau kamu memilih makan dengan lauk hanya tempe dan tahu?" ancam Adtia di balik percakapan telpon.
'Oh tuhan... nasib-nasib. Mengapa, sih Tuan Subari mengangkatmu jadi direktur, Tuan. Aku juga, kan yang susah.' Omel Teo dalam hati melihat ponselnya.
"Jangan mengomel dalam hati. Sana kerja tugas yang aku berikan," lanjut Aditia yang terus Fokus mengemudi. Bayangan Inayah kembali menari-nari dalam benaknya.
Sementara Teo, terlihat malas bangun. Begitu akan kembali menimpali perintah tuan direkturnya, ponsel itu sudah dimatikan secara sepihak.
"Dasarnya Tuan bucin!"
***
Perusahaan permata Garuda, Inayah turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobi di tempat parkir perusahaan tersebut.
Menjulang tinggi perusahaan di depannya. Inayah sedikit ragu untuk masuk. Sebelum masuk, Inayah membesarkan hatinya.
"Maaf ada yang bisa kami bantu?" tanya Resepsionis bagaian informasi.
"Maaf dengan siapa?"
"Saya, Inayah Sita Renata Abdullah," jawab Inayah.
Spontan semua menoleh. Sebelumnya Aditia mengumpulkan karyawan mereka dan menyampaikan bahwa akan ada tamu dengan wanita bercadar. Tamu itu penting baginya.
Pada saat itu, Semua karyawan kantor saling bertanya. Siapa wanita itu? Dan ada hubungan apa dengan tuan direkturnya.
"Nona, mari saya antar," kata resepsionis tersebut masuk di lip khusus direkturnya.
'Jika dia datang, antar langsung menemui saya menggunakan lip khusus.'
Resepsionis itu terus menatap Inayah. 'Mata yang indah," pujinya dalam hati.
"Nona, mengapa Anda menatapku?" Inayah cukup heran
wanita di sampingnya terus menatap dirinya sedari tadi.
"Tidak, Nona."
Inayah kembali diam. Setelah sampai di lantai 10 pintu lip pun terbuka. Inayah cukup kagum dengan tingkat kebersihan kantor tersebut juga penataan ruang yang begitu rapi.
Sepasang pakaian terpasang di patung dan Inayah bisa melihat jika hasil produksi tersebut adalah hasil desainnya. Inayah betul-betul di uji kesabaran. Bagaimana bisa direktur itu memproduksi hasil desainnya tanpa persetujuan.
Teo masuk dan melihat Tuan direkturnya begitu sibuk mengetik.
"Kenapa lagi, Teo?"
"Ada yang ingin bertemu, Tuan."
__ADS_1
"Katakan padanya aku sibuk. pekerjaan ini harus selesai sebelumโ" Aditia melihat ke arah Teo.
Teo melebarkan matanya dan memperbaiki kacamata miliknya. Teo sudah bisa menebak makna pandangan yang dilemparkan tuannya ke arahnya.
"Kalau melapor jangan setengah-setengah. Inayah, kan maksud kamu? Cepat suruh masuk! Bawakan minuman dua gelas kemari lengkap dengan cemilannya," perintah Aditia membenahi pakaiannya takut di depan Inayah memalukan.
Inayah masuk degan gaun serba pink. Perasaan Aditia kocak.
'Ah, jantung tidak bisa juga di kompromi. Apa kamu mau membuatku malu?" gumam Aditia pada dirinya sendiri yang memegang dadanya.
"Tuan, baik-baik saja?" tanya Inayah yang melihat Aditia memegang dadanya.
"Tentu saja, Nona. Duduklah."
Aditia menelpon salah satu karyawan wanitanya masuk di ruangannya. Aditia paham dengan Inayah. Inayah paling tidak suka berbicara dengan lawan jenisnya hanya berduaan.
Suara ketukan pintu terdengar. Aditia kembali berujar, Masuk!" perintahnya.
"Duduk di sana," perintah Aditia lagi pada karyawan wanitanya. Tentunya Mila heran.
Teo masuk membawa pesanan direkturnya.
"Kamu juga duduk di sana! Tutup telinga kalian. Keluar dari sini sebentar tutup mulut kalian."
Jelas Teo dan Mila saling lempar tatapan. Mila hanya menuruti keinginan tuannya dan Teo berbalik tersenyum. Inayah juga diam-diam menyinggung senyum di balik penutup wajahnya. Merasa lucu.
"Tuan, aku datang di sini untuk membicarakan kerja sama kita." Inayah memulai pembicaraan mereka.
"Minumlah dahulu. kamu pasti haus."
"Tidak, terimakasih."
"Apa aku minta Teo menggantinya?" tanya Aditia melihat minuman kus di atas meja.
"Tidak perlu. Bukan itu masud saya."
" Lantas?"
"Aku sedang berpuasa daud."
"Puasa?" Aditia akan kembali bertanya dan segera Inayah mengalihkan perhatian Aditia.
Inayah bisa menebak jika Aditia ingin lagi bertanya seputar puasa daud itu.
"Kita bahas segera kerja sama kita. Aku masih ada urusan," ujar Inayah.
"Ok. Tanda tangan disitu. Bila mau di baca dahulu. Silahkan."
Mila Dan Teo menyaksikan keduanya. Pertama kalinya mereka menyaksikan tuannya terlihat gugup. Tentu Mila bisa menebak jika wanita bercadar itu merupakan wanita spesial bagi tuan direkturnya.
"Kontrak seumur hidup? Apa maksudnya, Tuan?"
SEMANGAT PAGIII ๐๐๐
Nah, aku hadiahkan lagi buat pembacaku keseruannya Aditia dan Inayah. hehehe๐๐๐๐. Buatkan komentar di kolom komentar, ya. akan berlanjut episode berikutnya. Maaf ya Author sibuk dulu nih persiapan ujian. โบโบโบ
Berikutnya akan Author buatkan yang seru lagi jika banyak yang memberi komentar dan vote serta like lagi. ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Eits! jangan lupa beri ulasan di bawah yang tertulis ulasan. Agar buku ini bisa masuk rangking. ๐๐๐ berharap. ๐คญ๐คญ๐คญ๐คญ๐คญ Author malu sendiri. Cieee Author penuh harap, ya....
Sudah bersyukur sekali kalian masih setia dengan Author. Makasih. Semoga catatan di atas ini tercapai." Amiin. PENUH HARAP YA. cie ... Author maluโบโบโบ
Semua akan tercapai berkat kalian wahai pembaca setia Author.๐๐๐๐LOVE YOU SEMUA....
__ADS_1