Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 67. Rencana Aditia dan Inayah


__ADS_3

Sifa tertawa mendengar penuturan Zaki dengan menutup mulutnya menggunakan hijab yang dikenakan olehnya. Terlihat kedua mata itu tidak nampak.


"Sifa?" tegur Ummi Humairah heran melihat putrinya tertawa hingga tidak bisa menahannya.


"Astagfirullah." Sifa sadar akan sikapnya.


Zaki ikut menoleh melihat wanita paruh baya sedang menatap putrinya.


"Maafkan anak Ummi, Nak. Sifa memang seperti itu orangnya."


'Apa Ummi Sifa mendengar semuanya?' batin Zaki.


Merasa sudah cukup lama, Zaki pamit. Sifa mengantar Zaki hingga ke depan.


"Nona Sifa, aku menunggu keputusan darimu."


"Tuan, jangan menunggu. Aku tidak mau. Sudah aku katakan, aku akan menikah hanya pada orang yang benar-benar mencintaiku. Dan maaf, Tuan. Menikah bukan tujuan utama memproduksi keturunan, ya. Ingat itu, Tuan. Anda ini lucu sekali. Aku heran dengan orang kaya. Maaf." Akhir kata Sifa.


"Sana pulang! Aku mengusir anda. Aku mau istirahat."


Zaki kembali tersenyum dengan cara Sifa mengusirnya.


"Sudah, sana pulang! Jangan umbar senyum. Aku tidak akan terpesona," ujar Sifa lagi.


Martin sekretaris Zaki sedari tadi mengantuk menunggu tuannya di dalam mobil. Martin benar-benar tidak mengerti dengan pikiran tuannya.


"Tuan, bagaimana?" tanya Martin melihat Tuannya datang dengan wajah lesu.


"Dia menolak aku."


Martin tertawa. Zaki melebarkan matanya hingga tawa Martin terhenti seketika.


"Tuan, sepertinya nona Sifa bukanlah wanita yang memandang uang. Seperti itu yang aku lihat."


"Benar. Aku suka pembawaannya. dia apa adanya," ujar Zaki melihat rumah sifa yang sudah menutup pintunya.


***


Di kediaman Tuan Subari tampak Sibuk mempersiapkan pernikahan Alina. karena secara tiba-tiba Aditia mengambil keputusan untuk segera keluar negri. Dari pemeriksaan terakhir, Aditia diminta untuk tidak menunda jadwal keberangkatannya.


"Inayah, jika aku yang mendahuluimu pergi, apa kau akan menikah?"


Seketika Inayah berbalik dan melihat Aditia duduk dibatas kasur sambil menatapnya.


"Umur tidak ada yang tahu, Mas. bisa saja kamu yang sakit, tapi akau yang mendahuluimu, Mas." Inayah berlutut di depan Aditia.


kedua tangan Aditia merengkuh wajah wanita yang merupakan ibu dari anaknya, Rayyan.


"Siang malam aku meminta pada Allah, Mas. Agar Allah memberiku kesempatan menua bersamamu. Apa pun yang terjadi padamu atau pada diriku. Kita tetap besama. Apa kau tahu, Mas telah berhasil merebut hatiku sepenuhnya." Inayah meneteskan air mata sambil terisak.


Begitu juga dengan Aditia. "Inayah, berjanjilah padaku. Kau selalu ada di sisiku. Benar, apa yang kau katakan bahwa umur tidak ada yang pernah tahu."


Inayah mengangguk. Bibir Inayah terlihat gemetar menahan isaknya sambil tersenyum menatap sang suaminya.

__ADS_1


Aditia mengusap sisa air mata itu. Lalu beralih mengecup kening Inayah. Hingga, beralih pada bibir ranum milik istrinya.


"Aku punya sesuatu untukmu."


"Apa itu, Mas?"


"Ada deh. Tutup matamu," pinta Aditia.


Inayah menuruti kemauan Aditia. Aditia mengeluarkan sebuah aksesoris hijab terlihat mewah yang di pesan khusus oleh Aditia. Bahan utama dari berlian dengan memiliki juntai sederhana.


"Bukalah matamu! Dan ini kalung untukmu. Aku ingin kamu memakainya. Cukup aku yang melihatnya."


"Ini sangat indah, Mas. dan aksesoris hijab ini sangat imut, tapi, sangat mewah, Mas.


"Sini aku bantu pasangkan. Jangan pernah kamu melepaskan kalung ini." Aditia menyibak rambut istrinya terlihat leher putih Inayah.


"Mas, jangan mulai lagi deh." ujar Inayah merasakan ada sentuhan halus di bagian lehernya.


Usai memasangkan kalung itu, Aditia meminta Inayah duduk di pangkuannya.


"Mas, aku berat, loh."


Aditia tetap saja meminta Inayah duduk di pangkuannya.


"Inayah, Aku mencintaimu."


"Aku juga, Mas." Inayah menatap suaminya.


Keputusan keduanya akan berangkat dan tidak membawa Rayyan. Di umurnya 8 bulan Rayyan sudah tampak semakin lincah. Tampak Rayyan juga sudah merangkak serta mencoba menarik diri ke posisi berdiri sambil berpegangan pada furniture sekitarnya.


"Nona, mungkin tuan muda kecil haus. Aku mencoba memberinya susu formula, Akan tetapi di tolak olehnya."


"Ma... ma... "


"Ayo, kemari, sayang. Rayyan haus?"


Suster Ira pamit dan Inayah membawa masuk putranya.


"Mas, apa aku mampu berpisah dengan Rayyan?"


"Aku mana saja."


Inayah cukup lama berfikir. Namun, pengobatan Aditia untuk saat ini sangat membutuhkan dirinya.


***


Hari tiba, Alina dan Teo sudah siap untuk melakukan ijab qabul. Semua para tamu undangan telah tiba. Ada begitu banyak tamu undangan yang menghadiri hari pernikahan itu. Terlihat Teo sangat gugup.


Walau keduanya belum ada yang saling mengungkapkan perasaan, akan tetapi terlihat keduanya begitu bahagia.


Acara pun dimulai. Teo mulai mengambil alih dengan Tuan Subari juga sudah mengambil alih untuk menikahkan keduanya.


Hening. Jantung Alina berdenyut cepat dengan Sifa menemaninya.

__ADS_1


"Aku sangat gugup." Alina meremas tangannya.


Sifa Menggenggam tangan Alina. Alina menoleh. "Sifa, aku yang mau menikah, kenapa tanganmu yang dingin?"


"Masa, Sih."


Alina memeriksa tangannya dan berkata, "itu perasaan kamu saja. tidak kok." elak Sifa.


Beberapa menit kemudian terdengar suara dari para tamu


Sah!


Sah!


Teo mengusap pelu-nya. Satun hari satu malam dirinya berguru mengucap ijab qabul dengan bimbingan Aditia dan akhirnya berjalan lancar sesuai pengharapan.


"Selamat untukmu. Jaga Alina baik-baik." Aditia menepuk bahu Teo yang kini berubah status sebagai adik iparnya.


Alina dengan di antar oleh Sifa dan salah satu keluarga dari Teo duduk di samping Teo. Teo menghadapkan dirinya dan menyematkan cincin itu di jari manis Alina. Alina tersenyum.


"Kenapa kak Teo menatapku seperti itu?" lirih Alina.


"Kau cantik, Nona."


"Kau masih memanggilku Nona? Sudahlah lupakan."


Teo dan Alina berdiri. Mereka beranjak untuk meminta doa restu pada kedua orang tua mereka. Teo sendiri meminta doa restu pada Nenek Dan kakeknya. sebelahnya, bergantian dengan Alina.


Hingga puncak acara berlangsung sampai malamnya. Sifa berperan sebagai penjemput tamu undangan. Tiba-tiba saja Zaki mengejutkannya dengan bersama seorang wanita sudah cukup berumur di gandeng oleh Zaki.


"Tuan, pacar anda cantik juga." bisik Sifa lalu memberinya sebuah sovenir pernikahan pada Zaki.


"Benarkah. Terimakasih pujiannya. karena kamu menolakku, apa salahnya aku mencari yang lebih tua." bisik kembali Zaki.


"Baguslah."


"Kau tidak cemburu?" bisik Zaki sambil menunggu orang di depannya usai menulis daftar nama mereka di sebuah buku album.


"Apa hal aku cemburu? aneh."


Terlihat wanita tua itu melihat Sifa. Sifa yang sadar di tatap memilih tersenyum.


"Kau sudah bertemu dengan wanitanya?" bisik nenek Sofia pada cucunya.


"Maksud nenek?"


Tunggu di situ. Aku akan menemui Tuan Subari dan meminta mempertemukan aku dengan gadis itu setelah acara selesai.


"Nenek, aku sudah katakan pada nenek. Aku belum mau menikah. Betapa repotnya orang menikah." kata Zaki menyampaikan pendapatnya.


"Andai bisa memberimu cucu tanpa menikah, aku akan lakukan, nenek. Namun, tidak mungkin hal gila itu aku lakukan," jelas Zaki.


Zaki bisa saja menemukan wanita yang mau dibayar dan memberinya keturunan. Namun, tidak mungkin hal terlarang itu dia lakukan. di mana akal dan pikirannya?

__ADS_1


Nenek Sofia mencubit pinggang cucunya dan duduk pada kursi yang sudah tersedia bagian paling depan. Ternyata, Tuan Subari dan Nenek Sofia saling mengenal baik. Tuan Subari dan almarhum kedua orang tua Zaki dulunya teman baik.


__ADS_2