
Semua keluarga tampak bahagia mendengar kemajuan kondisi Aditia. Tuan Subari dan Ibu Hanum sujud syukur dengan keadaan Aditia yang makin hari mengalami kemajuan.
"Ayo, Mas, makan lagi. ini enak loh." Inayah meminta Aditia agar mau makan banyak.
"kemari piringnya. Kita makan bersama. Aku tidak mau istriku kurus seperti ini kembali ke indonesia."
"Siapa yang kurus. Tubuhku memang sudah seperti ini, Mas."
Aditia meminta Inayah membuka mulutnya. Tuan Subari dan Ibu Hanum ikut bahagia melihat Anak mantunya kembali seperti dulu.
"Mas, aku harap aditia setelah ini tidak ada lagi ujian lagi untuk mereka."
"Ibu, hidup itu memang penuh ujian. Dan ujian itu adalah untuk meningkatkan iman seseorang. Mau naik kelas saja di sekolah, ujian, kan?"
Ibu Hanum membenarkan perkataan suaminya. ponsel Ibu Hanum berdering. Sebuah panggilan group keluarga tampak di sana.
"Bagaimana kabar anak-anak di sana, Ibu Hanum?" tanya Ibu Fatimah dan terlihat semua kelurga bergabung dalam panggilan group tersebut.
"Ini berkat doa ibunya Inayah. kini Aditia semakin mengalami kemajuan dan Alhamdulillah Inayah juga baik-baik," jelas Ibu Hanum.
"Ibu, jadi kapan pulang?" tanya Alina dengan Rayyan di sampingnya.
"Tergantung keadaan kakak kamu, Alin. Bagaimana kabar cucu oma. Rayyan sehat?"
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya dan dijawab oleh Alina. "Baik oma. Rayyan sangat baik."
Inayah kini kembali ke ruang inap Aditia di mana Ibu Hanum tampak sedang asik berbincang. Inayah baru kembali dari menemani Aditia melakukan sebuah pemeriksaan.
Terlihat Rayyan di layar asyik dengan dunianya. Inayah tidak mampu menahan rasa rindunya pada putranya itu.
"Tenang, kak. kami akan membawakan Rayyan dekat ini. Aku masih menunggu kak Teo dulu untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor," kata Alina dengan Teo di sampingnya bermain dengan Rayyan.
"Alin, apa kamu sudah..." Ibu Hanum tersenyum. Ucapan Ibu Hanum mengundang tawa semua penghuni group yang ikut dalam panggilan video call itu.
Terlihat Teo merasa malu degan pertanyaan Ibu mertuanya. Alina pun begitu. Alina sangat malu bila mengingat hal itu.
Alina seketika keluar dari panggilan group itu yang membuat Aditia maupun Inayah geleng kepala dengan Ibu Hanum. Hingga pada akhirnya setelah Inayah berbicara dengan ibunya dengan yang lainnya, percakapan mereka pun selesai.
__ADS_1
"Apa hasil pemeriksaanmu hari ini, Adit?
"Seperti yang ibu lihat. Semua sudah ada kemajuan, Ibu." jawab Aditia yang kini duduk di bad pasien dengan dibantu oleh Inayah.
Ibu Hanum begitu iba melihat kondisi putranya. Rambut lurus Aditia kini sudah menjadi gundul. bahkan tubuh putranya terlihat kurus. Ibu Hanum benar-benar bersyukur Inayah mejadi istri dari putranya.
"Ada apa Ayah dan Ibu menatap kami?" tanya Inayah dan Aditia menggenggam tangan Inayah.
"Ibu sangat berterimakasih padamu, Inayah. Kau merawat Aditia dengan baik. Kau begitu setia menjadi istrinya. Apa jadinya putraku jika seandainya memiliki Istri yang...."
"Inayah, Ibu kami ini hanya salut padamu, Nak." potong Tuan Subari.
"Ayah, Ibu. Sebagai istri kak Aditia. inilah baktiku pada suamiku. Merawat suamiku sejauh yang mampu aku lakukan. Bukan hanya dalam keadaan sehatnya.
Sakit bisa menjadi kebaikan bagi seorang kita jika kita bersabar. Maka sudah selayaknya kami saling menerima keadaan pasangan, baik saat sehat maupun sakit." Inayah menoleh ke arah Aditia yang sedari tadi menatap Inayah.
Aditia menatap istrinya tiada henti dan kembali menggenggam tangan Inayah.
"Seorang ustadz pernah mengatakan, 'banyak orang yang tidak memaknai musibah adalah bagian dari sebuah rencana Allah untuk mengangkat derajat dan kedudukan orang tersebut. Selalu musibah dimaknai dengan kesedihan, kesusahan, keterpurukan, dan ketidaknyamanan.' Itulah yang pernah aku baca." ungkap Inayah.
"Dan ia juga menuliskan jika 'Harus bahasa cinta dan kasih sayang, dorongan dalam batiniahnya adalah ibadah dan keikhlasan. Sebab merawat orang sakit tidak main-main, kesabaran kita diuji, terlebih yang sakit adalah suami pemimpin sekaligus pencari nafkah keluarga,' seperti itu dalam tulisannya." Inayah meneteskan air mata mengucapkan hal itu.
"Kak Aditia sebagai suamiku yang kini sedang sakit adalah ujian untuk aku sebagai istrinya. Allah mengujiku dengan banyak hal. Namun, tidaklah aku harus menyerah. Aku yakin, Allah menurunkan ujian ini adalah bentuk cintanya pada kami, Ibu." Inayah kembali netes kan air matanya. "Allah pasti sudah mengatur sangat indah skenarionya dalam rumah tanggaku antara aku dan Mas Aditia. Iya kan, Mas."
"Cukup, Sayang. InsyaAllah janna untukmu." Aditia memeluk Inayah dan mengecup kening istrinya.
Ibu Hanum dan Tuan Subari cukup lama terdiam mendengar dan mencerna setiap kalimat yang Inayah ucapkan. Tua Subari menggenggam tangan Ibu Hanum dan berkata, "Maafkan semua yang pernah aku perbuat padamu." Tuan Subari memeluk istrinya.
Aditia dan Inayah hanya tersenyum melihat kedua orang tua mereka makin hari Aditia melihat ayahnya benar-benar banyak sekali perubahan.
"Siapa yang menelpon, Sayang?" tanya Aditia melihat panggilan masuk di ponsel Inayah.
"Asifa." kata Inayah.
Tuan Subari mengangkat kepalanya. 'Sifat pasti ingin curhat masalah Zaki'. pikir Tuan Subari tersenyum.
Melihat suaminya tersenyum setelah mendengar nama Sifa di sebut, Ibu Hanum ikut tersenyum.
__ADS_1
***
Disaat Sifa melakukan percakapan telepon dengan Inayah, Ummi Humairah mengetuk pintu Sifa.
"Sifa, Ada tamu nak."
"Siapa ummi?!" tanya Sifa memutuskan panggilannya dengan Inayah.
"Nak Zaki."
"Apa?! Dia lagi?"
"Memangnya ada hubungan apa kamu dengan Zaki, Sifa?" tanya Ummi Humairah makin penasaran.
"Tidak ada kok, Ummi. Benar. hanya saja, Tuan Zaki memang sering ke kantor kak Adit kerena Tuan Zaki salah satu pemegang saham di kantor itu," jelas Sifa.
"Baiklah. Temui dulu Nak Zaki. tidak baik tamu datang bertamu ke rumah dan kita sebagai tuan rumah mengabaikan," pesan Ummi Humairah sebelum masuk ke dapur.
Dengan rasa malas untuk bertemu Zaki, Sifa pun pada akhirnya keluar.
"Silahkan duduk." kata Sifa. "Kenapa tuan datang lagi kemari? Tidak ada barang aku tertinggal lagi, kan, di mobil tuan?" ledek Sifa.
"Ada. Perjanjian kontrak kerja kita."
"Sejak kapan aku memiliki kontrak kerja dengan, Tuan?"
"Sejak hari ini. kau harus mau." Tatapan Zaki pada Sifa berharap sifa mau menikah dengannya.
Sebenarnya cara Zaki yang salah memperlakukan Sifa.
"Apa maksud tuan. Apa ini?" Sifa mulai membaca surat perjanjian yang sudah ditandatangani olehnya tanpa Sifa ketahui sejak kapan dia setuju.
"Saya tidak pernah menandatangani ini, Tuan. Anda jangan mengarang, Ya?" kesal Sifa. seakan kepalanya bertanduk. Dirinya tidak percaya dengan barusan ia lihat.
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh ini! Sudah berapa kali aku katakan. Aku ingin menikah pada pria yang mencintaiku. Bukan pada pria seperti anda, Tuan."
Zaki tertawa melihat wajah kesal Sifa.
__ADS_1
"Baiklah, tidak mengapa. Tapi, jangan salahkan aku jika sampai Ummi tahu dengan ini." Zaki berdiri dari tempatnya mengancam Sifa untuk memperlihatkan kertas perjanjian kontrak itu.