Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 52. Rindu


__ADS_3

"Jaga dirimu. Aku mencintaimu, Inyah."


Inyah teremenung seorang diri di depan balkon kamarnya. Villa itu mejadi saksi Inayah sebagai istri Aditia sepenuhnya.


"Mas, Adit. Aku akan menunggumu." Tatapan Inayah lurus ke depan. Baru satu minggu perpisahan itu, rindu pada sang suami tidak lagi Inayah bisa elakkan. Inayah kembali mengingat semua. omen indah yang sudah dilewati bersama Aditia.


Sebisa Inayah mengembalikan perasaannya. Ibu sumi melihat Inyah menyandarkan kepalanya di dekat kaca jendela dengan tatapannya ke depan. Riak ombak seakan menghibur Inyah untuk bersabar.


"Nona, apa nona tidak ingin jalan-jalan?" tanya Bibi Sumi memutuskan masuk ke dalam kamar Inayah.


"Bibi, apa bibi sering di temapt ini?" tanya Inayah pada Bibi Sumi.


"Tidak, Nona. Namun, dulu tuan muda pernah lama di sini," kata Bibi Sumi yang masih berdiri di debelakang Inayah. "Ketika tian muda dalam kejenuhan, Tuan pasti keluar kota dan menuju di tempat ini." Bibi Sumi mengingat cerita tuannya.


"Ayo Nona, berdirilah. Tidak baik nona duduk melantai seperti ini."


Inayah tersenyum. "Malam itu kami duduk di sini bercerita sambil tertawa, Bibi. Hingga Mas Aditia... ah, lupakan Bibi." Inayah menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


"Apa Nona bahagia dengan Tuan Muda?" tanya Bibi Sumi yang ikut duduk bersila di dekat Inayah sambil melihat keluar ombak bergulung yang tidak jauh dari villa tersebut.


"Pertemuan pertama kami dengan Mas Aditia telah merebut sebagian hatiku, Bibi. Setelah menikah dia menguasai sepenuhnya hati ini." Inayah jadi salting sendiri mengingat pertemuannya dengan Aditia, suaminya. "Aku sangat bahagia bersamanya, Bibi."


"Apa Nona tahu, Tuan muda juga sangat mencintai Nona. Karena cintanya tuan muda pada Nona Inayah, tuan merelakan Nona dengan orang lain saat Nona memutuskan keputusan Nona hari itu. Hingga tuan muda memutuskan keluar negri," Bibi Sumi mengingat bagaimana frustasinya tuan mudanya hari itu.


Inayah terdiam yang membuat Bibi Sumi merasa bersalah. "Maafkan saya, Nona jika...."


"Tidak mengapa Bibi. Aku hanya sangat merindukan dia. Bibi, coba ceritakan semua tentang Mas Aditia."


"Tuan Muda tidak memiliki cerita yang begitu menarik, Nona. Masa kecil tuan di penuhi derita, karena tuan harus selalu menyaksikan pertengkaran tuan besar dan Nyonya. Hingga tuan muda saat itu hanya menutup kedua telinganya,"


"Terus, Bibi, apa lagi yang terjadi?" Inayah semakin penasaran.


Bibi Sumi kembali mengingat masa lalu tuan mudanya. "Hari itu tuan muda hanya diam. Hingga tuan muda tumbuh dewasa dan tuan besar masih hal yang sama. Bahkan pernikahannya dengan Nona...."


"Marina?" Inayah menyambung kalimat Bibi Sumi.


"Nona tahu tentang Nona Marina?"


"Mas adit sudah menceritakan semuanya. Jika, Mas Aditya dan Marina hari itu batal menikah di sebabkan Nona Marina selingkuh hingga hamil," ungkap Inayah. "


"Benar Nona, bahkan hari pesta mereka hancur belur atas amarah tuan muda memuncak. Padahal tuan muda saat itu sangat mencintai Nona Marina. Namun ternyata, kebaikan tuan hanya di manfaatkan hingga tuan muda tidak percaya yang namanya cinta sejati hari itu."


"Ujian suamiku dari kecil hingga sekarang tiada hentinya." Inayah semakin merindukan suaminya.

__ADS_1


Bibi, bagaimana jika kita menjenguk mas Adit."


"Tapi, Nona, tuan muda sudah berpesan. Dan saya juga tidak tahu alamatnya, Nona. Dan maaf Nona, aku sudah berjanji di atas materi dengan tuan, jika aku tidak akan makan pengaruh dari Nona Inayah mengajak untuk menjenguk, Tuan. Jika aku melanggar, aku akan di pecat, Nona."


Inayah tidak habis pikir dengan suaminya. segala cara dia bisa lakukan untuk menghentikan dirinya. 'Inikah caramu menunjukkan kasih sayangmu, Mas Adit?'


***


"Bagaimana kabar Inayah, Raka? Apa dia baik-baik saja di sana?"


"Ibu, bisa tidak, Ibu jangan terlalu menghwatirkan Inayah. Dia akan baik saja, ibu."


"Nak, bagaimana bisa Ibu tidak


kefikiran dengan adikmu, dia dari dalam perut Ibu. Selama 9 bulan ibu mengandung kalian. walau kalian sudah memiliki pasangan, Ibu tetap Ibu. Naluri seorang Ibu tidak akan pernah berbohong! lalu, kamu...."


"Maafkan Raka, Ibu," Raka langsung memeluk Ibu paru baya itu. "Jangan menangis, Ibu. Jangan sampai kekecewaa yang terbersit dalam hati Ibu disertai linangan air mata, mampu membuat ananda nantinya tidak bisa menghadapai sakaratul maut, Ibu. Maafkan Raka."


Ibu Fatimah memeluk kembali putranya dan Amira diam seribu bahasa. Diamnya Amira seakan ingin mengatakan sesuatu. Ada apa dengannya?


"Kita akan mengunjungi Inayah secepatnya, Ibu. InsyaAllah. Namun, aku menyelesaikan hingga anak-ana di pondok usai semester," kata Raka yang kemudian meminta Ibu Fatimah untuk duduk.


"Semoga urusanmu di mudahkan, Nak. Ibu mendoakan kalian semua selalu di mudahkan dalam segala hal."


***


"Ayah, mengapa aku tidak terima kesaksian Amira."


"Kita harus menerimanya, Ibu. Karena Aditia juga hanya diam saat Amira bersaksi. Itu artinya, Apa yang dikatakan Amira benar adanya."


"Bagaimanakah kabar anak dan mantu saya, Ayah. Aku akan pergi besok menjenguknya. Aku tidak bisa seperti ini. Bila perlu aku akan menemani anak mantu saya."


"Ibu tidak bisa pergi dulu sebelum semua kembali normal. perusahaan sekarang membutuhkan kita. Alina belum terlalu berpengalaman. Dia masih butuh bimbingan," lanjut Tuan Subari yang barusan pulang dari kantor ikut serta menyaksikan Alina memipin perusahaan.


"Baiknya Alina carikan jodoh saja."


"Astaga, Ibu. Anakmu itu perempuan."


"Tidak ada salahnya, Ayah. Minta saja dia mencari pasangan, Ayah. jika tidak mau kita yang akan carikan langsung."


"Astaga, Ibu. Mengapa Ibu seperti ini? Dulu waktu Alina belum hijrah Ibu juga marah-matah tidak jelas."


"Itu dulu, Ayah, kan ada tuh ibu lihat temannya Raka yang cocok untuk Alina. Siapa tahu pria itu mau. kan bisa tuh, bantu ayah di perusahaan."

__ADS_1


"Sudahlah, Bu, Ayah cape. Ayah mau istirahat."


Ibu Hanum menatap suaminya hingga tuan Subari tidak nampak dari balik pintu kamar.


***


"Teo, apa serumit ini pekerjaan kak Adit?" tanya Inayah pada Teo yang matanya mengarah ke meja Asifa.


"Teo, kau dengar aku?" tanya Alina yang mengikuti arah pandangan Teo.


"Jaga matamu, Teo. Jangan coba-coba memandangi sahabatku seperti itu. Kau sudah punya pacar, kak Teo." Alina memukul Teo dengan dokumen yang di pegangnya. terkadang memang Alina memanggil Teo dengan panggilan kakak.


"Sakit, Nona." Teo meringis dan mengusap bahunya. Sementara Asifa terlihat serius dalam menyelesaikan hasil desainnya.


"Makanya, itu mata di jaga! Dasar playboy kadal!"


Alina meninggalkan Teo karena masih ada pertemuan di sebuah hotel miliknya. Teo pun segera mengikuti Alina.


Tiba di sebuah hotel, Alina langsung mengecek semua karyawan terlebih dahulu. Klien yang ditunggunya ternyata belum juga tiba sehingga Alina dan Teo pun menuju restoran yang ada di hotel tersebut.


"Kamu, Kan, yang malam itu?" tanya Alina pada seorang pria yang pernah di temui olehnya makan di mana acara resepsi Aditia dan Inayah berlangsung.


"Oh, jadi namamu, Arjuna?" kata Alina lagilagi melihat nama tertera di pakaian Arjuna sebagai pelayan restoran.


"Nona mau makan apa?" tanya Arjuna karena sadar bahwa Alina adalah merupakan putri dari pemilik hotel tersebut.


Teo bisa melihat makna tatapan Alina terhada Arjuna.


"Aku mau makan, akan tetapi, kamu yang memasak untukku."


"Tapi, Nona, saya bukan di bagian itu." Arjuna heran dengan putri bosnya.


"Pokoknya aku tidak mau tahu." Alina ngotot masakan Arjuna.


"Baiknya kamu turuti perintahnya. Akan ribut jika kamu menolaknya." bisik Teo pada Arjuna.


"Baik, Nona, akan saya usahakan." Arjuna pun berlalu.


"Katanya hijrah, tuh mata kenapa?" ledek Teo. Teo memang sangat akrab dengan Alina. Teo sudah menganggap Aluna adiknya sendiri begitu juga dengan Alina. bersama Teo dia seperti bersama Aditia, kakaknya.


***


Hadiah buat Author mana. komentar sepi....

__ADS_1


__ADS_2