Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab. 44 Denyut Jantungku


__ADS_3

Jangan lupa beri ulasan untuk buku ini, Ya. Sebenarnya Author belum terlalu sehatπŸ€’πŸ€’πŸ€’. Namun ada tangung jawab harus di penuhi. Makasih doa dan supportnya.🌹🌹🌹


*****


"Inayah, aku berjanji padamu akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kamu duga." Aditia terus bergumam dengan foto Inayah yang terpasang di layar ponselnya. "Kau adalah denyut jantungku, Inayah."


Kembali Aditia terus menatap Foto itu. Menghayalkan yang belum halal memang tidak seharusnya. Segera Aditia tepis dan beranjak dari tempatnya.


"Jangan cemburu padaku ya Rab, jika cintaku melebihi pada hambamu. Ampuni diri hamba."


Sudah hampir satu jam matanya tidak bisa terpejam. Hingga pada akhirnya memutuskan untuk kembali bangun. Aditia duduk di tepi ranjang cukup lama. Rambut yang hitam dan lurus dibiarkan terurai.


Melihat ponselnya dan bergumam, "Apa jam seperti ini Inayah sudah tidur?"


Kembali Aditia berfikir untuk menghubungi Inayah. Tangannya mulai meraih ponsel tersebut.


"Jika aku menghubunginya jam seperti ini, akan menganggu tidurnya, baiknya tidak usah." Jantung Aditia kembali berpacu. ponsel itu di letakkan kembali pada tempatnya.


Hingga pada akhirnya Aditia memutuskan keluar dari kamarnya menuju dapur. Alina yang kebetulan bangun menggunakan. masker di wajahnya.


Begitu Aditia berbalik setelah menutup pintu kulkas, alangkah terkejutnya dengan penampilan Alina.


"Kak, ini Alina!"


Segera Aditia menarik napas kemudian menyentil dahi Alina.


"Sakit, kak. Apa kakak pikir ini batok kelapa? Sakit tahu. Emang kenapa sih, kak, menghayal di depan kulkas? Aku perhatikan ya, kak. Dari tadi semenjak kak Aditia pulang dari panti asuhan, kakak terlihat uring-uringan, lo. Setelahnya senyum tidak jelas lagi... Ada apakah? Ibu dan ayah aku tanya mereka juga diam. Ada apa, sih?


Semua keluarga memang merahasiakan pada Alina tentang lamaran Aditia telah melamar Inayah. Mereka ingin memberikan kejutan pada Alina.


"Besok kau akan tahu," jawab Aditia berlalu menyisakan Alina kesal.


"Kenapa mesti tunggu besok. Kenapa tidak tidak dijawab sekarang, kak!" teriak Alina dan segera menutup mulutnya. Sadar suaranya meneriaki kakak laki-lakinya terlalu besar. Apalagi sudah larut.


Aditia masuk kembali ke kamarnya dan membuka sebuah laci lemari dan mengambil sebuah kertas yang isinya merupakan goresan pena Almarhum Adam.


"Adam, seakan Inayah hanya persinggahan sementara. Seakan Inayah hanya kau jaga untukku. Dibalik setiap kejadian, inikah maknanya?" Aditia bergumam.


Dirinya ingat saat menyerah dan memutuskan untuk hijrah. Bahkan mencari ilmu agama hingga sampai di kairo. Namun namanya manusia biasa, Aditia masih banyak kekurangan dalam hal tersebut.


***


Inayah sendiri berdiri di balkon kamarnya melihat bintang bertebaran di atas angkasa. Sama dengan Aditia. Dirinya juga merasakan hal yang sama. Hatinya begitu gelisah.


kegelisahan dalam dirinya sungguh sangat menyiksa. Berulangkali mencoba untuk melupakan pria yang tadi siang melamarnya, akan tetapi tetap saja, wajah pria itu terus mengganggunya.


"Mengapa tengah malam seperti aku harus mengingat orang itu."


Inayah tidak bisa pungkiri bahwa rasa yang hampir hilang pada Aditia kembali bersemi di hatinya semenjak pertemuannya hari itu di rumah Adam.


Hingga saat lamaran itu. Hati Inayah kembali direbut sepenuhnya oleh Aditia. Mengingatnya Inayah malu sendiri.

__ADS_1


"Ya Allah, di saat aku berusaha mencoba melupakannya kamu kembali mendekatkan dia dariku. Bahkan kata-katanya yang kuanggap adalah godaan terus terngiang di benakku. Wahai pemilik kalbu, tenangkan hati ini.


lebih Anehnya lagi dalam diri Inayah mengapa dirinya menuggu pesan masuk di ponselnya dari Aditia.


"Ini tidak beres." Inayah menyimpan ponselnya di dalam laci sekaligus ponsel tersebut di non aktifkan.


Mencoba memejamkan matanya kembali dirinya teringat saat ijab kabulnya dengan Adam. Hari itu Adam mengungkapkan isi hatinya. Bahkan malam pertama yang harusnya milik mereka berdua hanya sampai bibir saja.


Malam pertamanya bersama Adam meminta untuk menyatukan hatinya. Segera Inayah menepis masa lalunya. Tidaklah baik baginya mengingatnya kembali. bukankah Adam dan dirinya saat itu sudah saling memaafkan? Tiada lagi guna mengingat kepahitan yang sudah berlalu.


***


Wajah tampak berseri sang direktur membuat mata karyawan saling melempar tatapan dan di penuhi tanda tanya.


Apa yang membuat sang direktur murah senyum? ini sangat langka? itulah komentar mereka dalam hati. Asifa yang mengetahui perubahan itu hanya memilih diam. dan Alina yang baru tahu dari Asifa ingin rasanya sujud syukur. Alina begitu bahagia mendengar kabar tersebut.


"Teo, cansel semua rapat hari ini."


Teo mendongak dan segera berjalan ke samping tuannya


"Tapi kenapa, Tuan?"


Aditia yang di tanya malah tersenyum dengan tangan kanannya di masukkan di saku celana sambil berjalan dengan langkah begitu cepat.


Teo pun mengikuti langkah tuannya dan di tangan kanannya sedang menenteng tas kerja kerja milik tuannya. Teo semakin penasaran di buat oleh tuannya yang terlihat lebih ceria.


'Mengapa tuan aditia terlihat berbeda hari ini? Apa tidak salah minum obat?'


"Kau sudah melakukannya?" tanya Aditia setelah memasuki ruangannya.


"Baiklah. Hari aku akan keluar fitting baju. Kau urus segalanya urusan kantor hari ini. sepulang dari fitting baju aku akan ke hotel memantau karyawan di sana. Aku akan menunggumu di sana."


"Maksud tuan?" Teo masih bingung


Aditia berbalik. Teo bingung dengan tatapan itu. Teo mundur hingga tubuhnya bersabar di tembok.


"Tuan? Apa tuan sehat? Aku masih normal, Tuan?" kata Teo yang menutup bibirnya."


"Apa kamu pikir aku berminat dengan bibirmu?" Aditia menyentil kepala Sekretarisnya dan berkata, "Aku telah melamar Inayah, Teo. dan kamu tahu apa jawabannya?"


Teo kembali mengikuti di belakang tuannya. Aditi tersenyum menatap pemandangan kota dari ruangannya.


"Apa Jawabannya, Tuan?"


"Apa Kira-kira jawabannya, Teo. Ayo tebak!"


"Melihat dari raut wajahmu, Tuan. Nona Inayah menerima lamaran, Tuan?"


Aditia mengangguk. Kembali Teo berkata, "Selamat Tuan. Akhirnya perjuangan tuan tidak sia-sia. Apa yang harus aku lakukan, Tuan?"


"Carikan aku tema pernikahan yang tidak akan pernah Inayah lupakan seumur hidupnya. Dan carikan aku tempat bulan madu yang paling romantis."

__ADS_1


"Baik,Tuan. Serahkan pada saya. Saya akan mencarikan tempat yang tentunya tidak akan mengecewakan."


Telepon masuk dari ibu Hanum. Aditia menjawabnya. Teo bisa melihat raut wajah itu.


"Teo, aku akan pergi. Urus semua di belakang. dan pantau terus kinerja Alina."


"Tenang, Tuan. Kerja Alina minggu ini sudah hampir sempurna."


"Bagus, Teo." Aditia memegang pundak Teo."


****


"Hai, calon bidadariku," bisik Aditia di belakang Inayah yang sedang melihat gaun pengantin yang cocok untuknya. Jantung Inayah kembali berpacu.


"Aditia, Berhenti menggoda Inayah." tegur Ibu Hanum dan mendorong Aditia untuk melihat pakaian yang cocok untuknya.


Ziya datang di tempat yang sama.


"Tante Hanum?"


Ibu Hanum menoleh. "Ziya?"


"Iya Tante. Aku dengan Ibu kemari." kata Ziya yang melihat Inayah menatapnya. Ziya datang juga untuk fitting baju persiapan pernikahannya dengan pujaan hati satu minggu ke depan.


"Hai Inayah? Selamat untukmu. Kamu mengambil keputusan yang tepat."


"Apa maksudmu, Nona?" tanya Inayah bingung.


"Andai kau tidak menerima lamaran ini, aku pastikan kau tidak akan pernah lagi melihat Aditia." Ziya tersenyum dan menggenggam tangan Inayah.


"Aku tidak mengerti." Tatapan Inayah mengarah pada Aditia yang terlihat serius mencoba pakaian yang akan dikenakan dihari bahagianya.


Sementara Ibu Hanum terlihat begitu bahagia berbincang pada Ibu Sofia, Ibu Ziya yang juga melihat ke arah Inayah.


"Apa kamu melihat senyum mereka, Inayah?" tanya Ziya.


"Itu artinya mereka sangat mendambakan dirimu, Inayah. Sebelum Aditia datang melamarmu, Dia sudah mempersiapkan diri akan pergi jauh dari kehidupanmu. Hingga tante Hanum hari itu benar-benar mencoba untuk tegar."


"Lantas, hari dimana kamu menemuiku, Itu apa?" tanya Inayah.


"Aku dan Aditia tidak ada hubungan apa-apa. Semua rencana tante Hanum untuk mengujimu. Maafkan aku Inayah." kata Ziya. "Bahagiakan Aditia, Inayah."


Inayah melihat kearah Aditia. yang terlihat sesekali memegangi kepalanya. Hal yang sama yang Adam lakukan.


"Aditia sangat mencintaimu, Inayah. jangan sia-sia kan kesungguhannya, Inayah."


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan." Inayah tidak suka berbelit.


"Bantu Aditia menemukan ingatannya secara sempurna."


Tatapan Inayah kembali mengarah ke Aditia. Ada rasa takut dalam diri Inayah. Apakah Aditia benar-benar mencintainya?

__ADS_1


Hai, Maafkan Author. bukan niat menggantung pembacaku. Dua hari ini kurang sehat Author nya. Terimakasih masih setia membaca Karya Author."😊😊😊😊


Terus dukungannya. komentar dan like setahun votenya sangat membantu motivasi Author. Semangat Untuk AuthorπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2