Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 7. Frustasi


__ADS_3

"Jujur, aku takut dia akan kembali melakukan hal kotor itu."


Raka memeluk istrinya. Begitu mereka menoleh, Inayah sudah berdiri di depan pintu kamar mereka yang sedari tadi tidak tertutup.


"Inayah?" lirih Amira.


"Aku hanya kemari mengembalikan tas milik kakak yang beberapa hari lalu aku pinjam," ujar Inayah menutup pintu kamar Amira dan Raka menatap kepergian sang adik.


Amira kembali terlihat bersedih mengingat masa lalunya. Raka yang melihat istrinya kembali bersedih membuatnya seakan ingin melenyapkan Aditia andai membunuh itu tidak berdosa.


'Breng*** kamu Aditia! Sekarang adik aku lagi yang kamu dekati. Aku tidak akan membiarkan kamu dengan Inayah. Tidak akan!' batin Raka mengepalkan tangannya. Aditia hanya bisa marah dalam hati.


Raka tidak menyangka bisa bertemu kembali degan Aditia setelah kejadian yang hampir melecehkannya Amira beberapa bulan lalu setelah kejadian tersebut. Raka benar-benar dilema sambil mengusap lembut punggung istrinya, Amira yang kini dalam dekapannya.


Amira terus meratap dan merasa jijik mengingat wajah Aditia. Amira masih sangat trauma dengan masa lalunya.


***


Ummi Humaira yang sedari tadi penasaran hubungan Raka, Amira dan Aditia serta Inayah mencoba mencari tahu dengan bertanya seputar kejadian yang menimpa Tuan Aditia.


"Ibu, apa yang terjadi dengan tuan Aditia?"


Ibu Hanum terdiam sejenak. Tidak ada salahnya sedikit mengeluarkan kesedihannya. Ibu Hanum pun berujar, "Beberapa bulan lalu sebuah tragedi menimpa putraku. Hingga harus kehilangan memorinya secara total dan juga mentalnya sedikit terganggu," papar Ibu Hanum terlihat jelas raut wajah sedihnya.


"Dan senyumnya kembali setelah dia bertemu dengan Inayah. Kalau boleh tahu siapa Inayah? Dan apa hubungannya dengan Amira?" tanya balik Ibu Hanum pada Ummi Humairah yang sedari tadi ternyata juga penasaran.


Ummi Humairah tanpa sedikit curiga pun menjelaskan. "Inayah anak tiri saya. Putri dari istri kedua suami saya. Dia anak yang baik dan sopan. Dan Amira adalah kakak ipar Inayah, istri dari nak Raka. Dan Raka adalah saudara kandung Inayah," jelas Ummi Humaira.


Deg!


Ibu Hanum sungguh tidak percaya dengan penjelasan Ummi Humaira, selaku pengelola panti asuhan Permata Bundaku tempatnya selalu menyalurkan bantuan. Tidak pernah terpikir dan tidak terduga olehnya tentang Inayah. Sungguh ketakutan semakin membuatnya sedikit cemas. Ibu Hanum menoleh kerah putranya. Dan Aditia terlihat sedikit bisa mencerna perkataan ummi Humaira.


Merasa cukup. Ibu Hanum pun pamit dengan perasaan yang menyakitkan baginya. Ibu Hanum meneteskan air mata memikirkan nasib putranya yang terlanjur mencintai Inayah. Sungguh perkara yang sulit bagi ibu Hanum.


Di mobil. Aditia terlihat banyak diam. Aditia selalu terpikir oleh Inayah. Dirinya kembali teringat setiap kata yang keluar dari bibir Raka sebelumnya, kakak Inayah. Aditia ingat betul bagaimana perlakuan kakak Inayah padanya. rasa tidak suka sangat jelas. Raka sangat membencinya. Siapa Raka? pikir Aditia. Tatapan terlihat kosong. sesekali, Teo melihat tuannya. pandangan itu menatap keluar jendela mobil.


Aditia menoleh pada ibunya. lalu, berkata, "Ibu, aku tidak ingin jauh dari Inayah. Aku mencintainya. Aku ingin Inayah selamanya di sisiku. Namun, aku tidak mengerti mengapa kakak Inayah membenciku? dan kakak iparnya yang bernama Amira, seperti aku pernah mengenalnya. Jelaskan padaku, ibu. Apa yang terjadi sebelumnya?"


Ibu Hanum sudah menduga, jika Aditia akan bertanya seputar masa lalunya. Ibu Hanum tetap berusaha tetap tenang agar Aditia juga tenang.

__ADS_1


"Nak, akan kamu tahu suatu hari nanti. Jika bisa ibu minta, jangan terlalu berharap lebih pada Inayah."


"Apa maksud ibu? Itu tidak mungkin, ibu. Aku berjanji pada Inayah akan menemui kedua orang tuanya setelah saya mampu menjadi imam yang baik untuknya," Jelas Aditia menolak permintaan ibunya. "Maafkan Adit, Ibu. Tapi, aku mencintai Inayah. Sungguh. Aku tidak ingin kehilangan Inayah. Namanya seakan sudah terukir di sini, Ibu." Aditia menunjuk dadanya.


"Itu tidak mungkin Adit. Kau tidak akan mengerti karena kau tidak mengingatnya. Inayah tidak akan pernah mau denganmu, jika saja dia sampai tahu semuanya!" bentak ibu Hanum yang membuat Aditia terdiam.


Ibu Hanum merasa menyesal sudah membentak putranya. Ibu Hanum tidak tega melihat Aditia kembali sakit hati yang kesekian kalinya. Menurut ibu Hanum, lebih baik Aditia melupakan Inayah untuk selamanya, dari pada terus berharap yang pada akhirnya juga akan menyakiti.


"Ibu, coba ceritakan padaku, seperti aku dimasa lalu, seperti apa diriku ibu?Apa aku pria jahat? Ingatkan aku ibu. Ceritakan padaku yang sejelas-jelasnya. Siapa aku sebelumnya dan bagaimana aku sebelumnya? Dan mengapa kakak Inayah terlihat membenciku? Apa aku mengenal mereka sebelumnya? Jawab ibu." bujuk Aditia menggenggam tangan Ibu Hanum.


"Maafkan ibu, nak. Maafkan ibu." Ibu Hanum mengusap air matanya yang lolos begitu saja.


Mobil mereka memasuki pekarangan rumah bak layaknya istana. Ibu Hanum langsung meminta Teo, sekretaris pribadi Aditia untuk mengantar dan menemani putranya.


"kamu boleh pulang, Teo. Aku ingin sendiri."


"Tapi, Tuan. ini masih jam kerja saya."


"Yasudah, itu urusanmu. kalau kamu tidak mau pulang pergilah memancing di kolam renang!" judes Aditia.


Ingin rasanya Teo tertawa mendengar ucapan Tuan mudanya.


Aditia berbalik menatap tajam Teo.


"Anggap saja ada Teo. isi ikan di sana. Terserah kamu, mau lomba berenang dengan ikan di sana. terserah kamu yang jelasnya aku mau sendiri."


Teo paham maksud tuannya. hingga akhirnya Teo keluar dari kamar tuan mudanya setelah memberikan obat yang sering Aditia konsumsi selama ini.


melihat Teo keluar dari kamar kakaknya. Alina pun memanggil Teo.


"kak Teo!"


"Ah, ketemu lagi dengan si cerewet," gumam Teo yang berbalik hendak kabur. Namun, jas yang dikenakan Teo tertarik oleh tangan Alina.


"Kak Teo mau kabur? Tidak akan! Hari itu, Kak Teo sudah berjanji padaku untuk mengantarkan aku ke Toko buku. Sekarang antar aku!"


"Tapi, Nona muda. Aku benar-benar tidak bisa hari ini. Tuan memintaku membelikannya mie bakso.


Alina mengerutkan keningnya. "sejak kapan kak Aditia suka bakso pakai mie? jangan ngaco, deh, kak."

__ADS_1


"Sejak... hari... detik ini."


Namun, Alina sangat pintar. dia pun menarik Teo ke kamar Aditia.


"Masuk!" Terdengar suara Aditia dari dalam kamar yang duduk di atas kasur terlihat rambutnya basah dengan menggunakan baju kaos putih.


Alina bisa menebak, jika kakaknya itu barusan habis mandi sore. Sementara Teo sendiri, berusaha memberi kode pada Aditia yang Aditia tidak faham maksud mata Teo yang berkedip ke arahnya.


"Kak Teo kenapa matanya begitu?" tanya Alina yang melihat dua cowok di depannya.


"Oh, ini Nona muda, mata saya kelilipan akibat debu.


"Mana ada debu di dalam kamar saya, Teo. Kamu tahu, saya paling alergi dengan debu. jadi tidak masuk akal hal itu." Aditia marah dianggap kamarnya berdebu.


Teo hanya bisa memukul jidatnya. Kali ini dirinya pasti tidak bisa lagi menghindar dari nona cerewetnya.


"Kak, apa benar kamu meminta Kak Teo membelikan mie bakso?"


"Tidak. Sejak kapan?"


Alina tersenyum dan langsung menarik tangan Teo keluar dari kamar itu dan Teo hanya bisa pasrah dengan langkah terlihat lesu mengikuti Alina.


***


Hingga malam tiba. Aditia duduk termenung mencoba mengingat ucapan Raka sebelumnya. "Siapa diriku? Apa aku mengenal Raka? siapa Amira, Apa sebelumnya aku pernah berteman degan mereka?"


"Akh! Kenapa satu pun tidak ada yang bisa aku ingat. kenapa?!" Aditia frustasi sendiri.


Tak mampu membendung perasaannya, Aditia pun keluar mencari angin dengan menyetir seorang diri. secara tidak sengaja, netranya tertuju pada seorang wanita yang selalu menganggu pikirannya.


"Inayah?" panggil Aditia.


Inayah menoleh dan melihat Aditia di seberang jalan. Sedikit heran bagaimana bisa Aditia sampai di tempat itu. bukannya ini sudah larut.


"Inayah, tunggu!" cegah Aditia yang menahan Inayah untuk pergi. Belum sempat Inayah masuk dalam mobilnya, Aditia sudah menarik ujung jilbab yang di kenakan olehnya.


"lepaskan aku, kak. Ini sudah larut dan aku ingin pulang," ujar Inayah. sebelumnya Inayah keluar untuk membeli kebutuhannya. tidak di sangka olehnya bertemu dengan Aditia.


"Inayah, katakan padaku kalau kau juga mencintaiku."

__ADS_1


__ADS_2