
Inayah harus berhadapan dengan orang tua Husna di sebabkan karena sudah satu minggu Husna tidak masuk belajar dan memilih berdiam diri di asrama.
"Ibu, kami sangat menyayangkan Husna yang terbilang anak yang pintar. Maaf sebelumnya, ibunya Husna. kalau boleh tahu, Apakah benar jika Husna akan di jodohkan dengan seseorang?"
Ibu Karmila diam dan kemudian berkata, "Iya. Kami rencana akan mempertemukan mereka. Bila keduanya saling setuju, maka akan kami nikahkan."
Inayah terdiam sejenak. Mengingat bagaiman dirinya mengalami hal yang sama.
"Bunda, jika boleh kami sarankan, cobalah bicara dengan Husna dari hati ke hati. Jangan sampai perjodohan itu, justru membuat Husna semakin berprilaku menyimpang," ujar Inayah menggenggam tangan Ibu Karmila selaku orang tua Husna.
"Pernikahan itu sakral, Bunda. kita tidak pernah tahu hati seseorang. Alangkah baiknya jika mereka menikah dengan sebuah komitmen yang baik. Perjodohan atau ta'aruf tidak salah. Yang salah adalah yang menjalani. Untuk itu, kami pesankan, agar Husna ataupun prianya nanti benar-benar seiya sekata. Bukan karena terpaksa."
"Baiklah, saya akan bicara dengan Husna. Namun, saya juga meminta izin untuk membawa Husna Bertemu dengan pria itu. Siapa tahu setelah melihat pria itu, Husna setuju."
"Silahkan, Bu. kami tidak akan menghalangi. Namun, jika boleh kami sarankan, seandainya Husna setuju perjodohan ini, biarlah Husna menamatkan dulu sekolahnya. Sayang sekali bila sekolah Husna tidak sampai tamat."
"Apakah tidak bisa setelah menikah, Husna kembali sekolah?"
"Maaf, Bu. Hal itu tidak berlaku dalam aturan pondok kami. Maka dari itu, kami ingatkan memang dari sekarang. Pernikahan dini banyak terjadi di zaman sekarang. entah itu di jodohkan atau karena hal lain. Untuk itu, kami sangat berharap sebagai orang tua Husna agar bisa mengerti keadaan Ananda. Maaf Bunda, jika saya lancang. Saya sebagai guru wali Husna hanya memikirkan sekolah ananda," ungkap Inayah dari hati yang paling dalam.
Husna datang dan mendengar semua pembicaraan Inayah, dan Ibunya. Husna sebenarnya tidak ingin di jodohkan dan masih ingin melanjutkan studinya. Husna juga takut, bila pernikahannya nanti bernasib sama dengan temannya yang tinggal pergi satu bulan setelah pernikahan.
...****************...
Sepenjang perjalanan pulang, Inayah terus terpikir oleh Husna hingga di lampu merah Inayah dikagetkan dengan sebuah mobil rush berwarna silver menabrak mobilnya.
Bruk! Trak!
Inayah sontak begitu terkejut dan semua pengendara menoleh apa yang terjadi. Inayah turun dari mobilnya dan melihat mobil bagian belakang sudah hancur.
"Oh astaga. Mobilmu, Nona. Hancur. Cobalah untuk melihatnya," kata seorang pengendara motor.
Inayah tidak percaya dan turun dari mobilnya.
"Oh Astaga!" pekik Inayah tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua sudah terlanjur.
Sementara pengemudi mobil rush silver tersebut, masih berada di dalam mobilnya. Dirinya juga terkejut dengan apa yang dilihat olehnya.
"Bagaimana aku ceroboh seperti ini?"
Turun dari mobilnya dan berdiri tepat di belakang Inayah.
"Nona, Maaf saya tidak sengaja."
Inayah mendengar bahasa itu seakan darah putihnya naik hingga di kepala.
"Tapi tenang saja, Nona. Saya akan bertanggung ja... wab," kata Aditia yang baru sadar siapa wanita di depannya. Begitu juga dengan Inayah.
"Inayah?" lirih Aditia tidak menyangka pertemuannya dengan Inayah.
Denyut jantung berdebar menatap mata indah itu. dan Inayah segera memutus kontak dengan Aditia dan berkata, "Tidak perlu bertanggung jawab atas kerusakan mobilku. Permisi."
__ADS_1
"Tidak! Aku akan membawa mobilmu. Bawalah mobilku," kata Aditia.
"Bagaimana bisa saya akan membawa mobil anda. Sementara mobilku di sini. Apa maksudnya?"
"Aku akan membawa mobilmu ke bengkel dan bawalah mobilku."
"Tidak," tolak Inayah.
"Suamimu tidak akan marah, kan? katakan saja padanya jika mobilmu rusak olehku dan aku akan memperbaikinya."
Seketika inayah diam. Mendengar kata SUAMI, Inayah sadar bahwa dirinya adalah seorang janda.
"Aku akan menjelaskan pada suamimu agar tidak salah paham."
Melihat jalan macet, Inayah tidak ingin memperpanjang masalah, dan bertukar mobil dengan Aditia pada akhirnya.
"Pergilah, aku akan menyusulmu," ujar Aditia lagi.
Entah mengapa ada rasa bahagia melihat Inayah sedekat itu. Aditia segera menepis perasaan itu dan sadar diri bahwa Inayah sudah bersuami. Bagaimana bisa dirinya masih berharap. Tidak seharusnya.
***
Inayah sampai di rumahnya dan Raka cukup heran dengan mobil yang di bawah Inayah.
"Mobil siapa ini?" tanya Raka.
"Seseorang menabrak mobilku dan membawanya ke bengkel. Dia akan datang kemari menjemput mobilnya."
"Bagaimana bisa begitu mudah percaya dengan orang? Dasar aneh!" kata Raka yang meledek pemilik mobil yang di bawah Inayah.
Raka memeriksa mobil tersebut dan melihat DN yang melekat di sana. Raka baru ingat siapa pemilik mobil tersebut.
"Aditia?" ujar Raka dan menoleh ke arah Inayah yang hendak masuk di dalam rumah.
"Kamu bertemu dengan Aditia?"
"Tidak sengaja dia menabrak mobilku."
"Lantas, mobilmu dia yangβ"
"Seperti yang tadi saya jelaskan, kak. Mobilku di bawah olehnya dan akan mengantarnya kemari setelah memperbaikinya. Tadinya aku menolak." Inayah pun masuk di dalam rumah setelah menjelaskan pada Raka.
***
Sementara Aditia sendiri terus menatap mobil Inayah. Mobil tersebut mengingatkan dirinya di masa lalu saat Inayah mengantarnya karena tidak tahu jalan pulang. Bagaimana tersiksanya Aditia kala itu saat masih kehilangan memorinya.
Panggilan telepon membuyarkan lamunannya dan Ibu Hanum memanggil.
"di mana kamu? kami sudah menunggumu di sini," omel Ibu Hanum di ujung telepon.
"Ibu, ada kecelakaan sedikit yang mungkin aku tidak bisa datang. Maafkan saya."
__ADS_1
"Apa?" Ibu Hanum merasa kecewa. "Jangan katakan kamu tidak mau datang lagi kemari. Adit, jangan bikin malu Ibu."
"Ibu, ini tidak mungkin aku tinggalkan. Jadi, batalkan saja pertemuan ini. Aku tidak bisa datang." kata Aditia.
"Kamu harus datang. Bila kamu tidak datang makaβ"
"Ok Ibu. Tunggu saja. Aku akan menemuimu."
Hingga beberapa jam kemudian, Aditia pun mengantar mobil Inayah ke rumah orang tua Inayah sesuai perjanjian. Aditia di penuhi tanda tanya mengapa Inayah tinggal bersama orang tuanya? di mana suaminya?
Inayah turun dari lantai atas setelah Raka memanggilnya. Inayah memeriksa mobilnya dan tidak menemukan cacat sedikit pun.
"Tenang saja. Mobilmu sudah kembali seperti semula. Bahkan sudah tampak seperti baru." Nada Aditia sedikit terdengar angkuh di telinga Inayah.
"Mana kunci mobilku?" tanya Aditia seakan baru mengenal Inayah.
Inayah masuk mengambil kunci mobil Aditia. Aditia tersenyum setelah Inayah berlalu.
Inayah keluar dan memberikan kunci mobil milik Aditia. "Terimakasih," kata Inayah.
"Sama-sama," jawab Aditia.
"Aku pulang."
Inayah mengangguk. Namun, langkah Aditia terhenti.
"Kenapa?" tanya Inayah.
"Inayah, bolehkah aku bertanya?"
"Apa itu?"
"Di mana suamimu. Mengapa kamu tinggal di sini?" Maaf jika aku lancang."
"Suamiku keluar kota. Jadi, aku di sini."
Aditia hanya mengangguk dan kembali lagi menoleh.
"Inayah?"
"Kenapa, Tuan?"
"Kunci mobilmu." Aditia memberikan kunci mobil Inayah yang sedikit terbawa lagi olehnya.
"Aku pamit," pamit Aditia pada akhirnya.
Terasa berat langkah kaki Aditia untuk meninggalkan Wanita itu. Namun, Inayah bukan lagi wanita yang bisa dimilikinya. Aditia seakan kembali berperan dengan perasaannya. Dan Aditia sadar diri bahwa Inayah tidak lagi sendiri.
Raka melihat mereka dipenuhi rasa bersalah. 'Apa yang akan kamu lakukan bila kamu tahu Inayah adalah seorang janda, Adit?' batin Raka yang melihat Inayah dan aditia dibalik jendela.
Terus ikuti jalan cerita mereka. Dan jangan lupa beri like, komentar, dan Vote untuk Author. Serta berikan penilaian kalian pada buku ini di ujung kiri paling atas di bawah profil yang bertuliskan PENILAIAN. Dan bagi kamu yang mau masuk
__ADS_1
group. Boleh klik group chat yang ada di gambar profil bertuliskan AYO CHAT
TERIMAKASIH WAHAI PEMBACA SETIAKU. πππππππππππππππππBERSAMBUNG....