Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab. 25 Mengikuti kemauan Ibu


__ADS_3

Hai, Salam Author. Terimakasih atas kesetiaannya membaca karya Author. Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan juga, jangan lupa masukkan dalam daftar favorit. Biar dapat informasi up terbaru Menemukan Hatiku Yang Hilang. 😍😍😍😍☺☺☺☺ Terimakasih. Salam Author.


Yuk Follow IG Author, Anihijab15


***


Ibu Hanum tersenyum melihat Aditia sudah siap menemui gadis pilihannya. Ibu Hanum yakin Aditia akan tertarik dengan gadis pilihannya.


Aditia melihat wajah Ibu Hanum begitu bahagia melihat dirinya sudah siap. Aditia hanya geleng kepala melihat tingkah ibunya saat merapikan kemeja yang dikenakan olehnya.


"Ibu, sudah deh. Jangan terlalu berlebihan."


"Tunggu! Kamu harus bisa lebih sempurna lagi," ujar Ibu Hanum lagi mengingat Aditia yang dulu. Aditia yang sangat peduli dengan penampilan.


"Ibu, sudah deh," Tegur Aditia lagi dan melihat sang ibu begitu sibuk memilihkan parfum untuknya.


Tuan Subari lewat dan geleng kepala melihat aksi istrinya yang begitu bersemangat.


"Semoga saja lulus ujian," ledek Tuan Subari pada istrinya.


Ibu Hanum berbalik badan dan berkacak pinggang.


"Iya. Ayah akan tutup mulut," ujar Tuan Subari mengambil remote TV.


Aditia tersenyum melihat ayah dan ibunya yang sudah banyak perubahan. Tidak henti-hentinya Aditia mengucap syukur dalam hati. Lalu, kembali berujar.


"Ibu, jam berapa kita akan menemui gadis pilihanmu bila terus mendandaniku tiada habisnya. Apa ibu mau aku batalkan pertemuan ini? Ibu sudah terlalu banyak mengambil waktuku. Malam ini aku akan menemui kolega bisnis ayah yang sangat penting untuk membahas pekerjaan.


"Aduh Adit, bisa tidak, nak, kamu serius dulu memikirkan masa depanmu. Lupakan sejenak masalah pekerjaan."


"Ya tidak bisa dong, ibu. Bisnis sudah mendarah daging dalam diriku."


Beberapa menit kemudian, Ibu Hanum dan Aditia berangkat. Siang itu juga setelah Aditia pulang dari jumat, Ibu Hanum sudah menyiapkan segalanya.


Sampai di restoran, Ibu Hanum mencari sosok yang yang dimaksud. Alangkah terkejutnya Aditia melihat wanita yang akan dikenalkan dengannya malam itu.


Aditia terlihat malas setelah bertemu dengan wanita pilihan ibunya. Aditia mengira wanita yang akan dikenakan untuknya wanita sesuai kriterianya.


"Ibu tidak salah dengan gadis pilihan ibu?" bisik Aditia melihat penampilan Dea yang bagi Aditia sangat berlebihan. Aditia mengira gadis pilihan ibunya mengenakan jilbab dan ternyata diluar ekspektasi Aditia.


"Memangnya kenapa? Dea cantik," imbuh Ibu Hanum balik berbisik.


"Bukan masalah cantiknya, Ibu," kata Aditia dengan berbisik kembali.

__ADS_1


"Dea, kenalkan ini putra tante."


Dea tersenyum menatap Aditia. pandangan pertama, mampu menarik Dea dengan wajah rupawan yang dimiliki Aditia. Dea mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Namun, Aditia tidak menyambut tangan Dea yang membuat Dea terlihat kecewa dan menarik tangannya kembali.


"Aku Aditia. Maaf aku tidak biasa hal terebut. Kita bukan mahram."


Dea merasa malu sendiri. Tidak mengira putra Ibu Hanum yang diceritakan olehnya ternyata sedikit agamis. Aditia terlihat terus menghindari pandangannya dari Dea. Terlihat Aditia acuh tak acuh. saat di tanya, Aditia hanya menjawab apa adanya yang membuat Dea tertantang.


"Ayo kita duduk." Ibu Hanum mencairkan suasana. Beberapa menit setelah makan siang, Ibu Hanum mencari alasan meninggalkan Aditia dan Dea berdua.


Belum sempat Ibu Hanum mencari alasan, Aditia lebih dahulu berdiri dari tempatnya dan memperlihatkan pada Ibu Hanum siapa yang menelpon dirinya.


"Kolega bisnis ayah sudah menelponku. Aku harus pergi. Aku permisi." Aditia berlalu.


"Adit! Dasar tuh anak. Benar-benar."


"Biar aku mengantar tante untuk pulang," imbuh Dea melihat kepergian Aditia.


"Maafkan anak tante. Tante yakin Aditia akan menemuimu lain kali. Anak itu memang sedikit bandel."


"Tidak mengapa," ujar Dea tersenyum penuh kemenangan. Siapa tidak menginginkan Aditia selain tampan juga tajir. Itu yang ada dalam pikiran Dea sekarang.


Sementara Aditia sendiri, merasa merdeka lepas dari cengkeraman harimau. Ayahnya memang hebat telah membantunya. Sebelumnya Aditia dan Tuan Subari sudah menyusun rencana.


"Maafkan Aditia Ibu," gumam Aditia mencari cara agar ibunya tidak diantar oleh Dea.


***


Sudah satu minggu pula, Inayah tinggal bersama kedua orang tuanya tanpa kabar dari Adam. Bahkan telepon Adam pun tidak nampak. Begitu Inayah hendak akan keluar menebus obat Abanya, Adam datang menjenguk ayah mertua.


"Mas baru datang?" ujar Inayah basa basi dan terlihat kecewa dengan sifat Adam yang makin hari, Adam makin memperlihatkan ketidak keseriusannya. "Mas, ini jelas-jelas rumah sakit tempat mas bekerja. Apa Mas begitu sibuk?"


"Maafkan Mas. Mas baru kembali dari seminar."


"Oh. Lalu, apa aku tidak penting bagi Mas? Kabar pun tidak ada."


"Maaf. Aku juga.... "


"Sudahlah, Mas. Aku paham. Kamu sibuk menyiapkan pernikahanmu degan Karin, kan?" kata itu mampu membuat Adam bungkam. Seakan itu ledekan baginya.


Inayah berlalu mengambil obat untuk sang Aba. Sementara Adam masuk menemui Aba Abdullah yang terlihat sudah sedikit membaik.


Melihat kedatangan Adam, Ibu Fatimah berdiri dari tempatnya menghampiri Adam.

__ADS_1


"Sebaiknya Nak Adam kembali saja. Aba belum siap mendengar pengakuanmu."


"Ibu, biarkan saja. Duduklah." Aba Abdullah melihat ke arah Adam yang terlihat kaku.


Adam pada akhirnya duduk di samping Aba Abdullah. Aba Abdullah masih sangat jelas mengingat bagaimana kesungguhan Adam menerima dan berjanji padanya.


"Nak Adam, jelaskan apa maksud semua ini?"


Inayah datang dengan obat di tangannya tepat Adam akan menjelaskan. Inayah segera menghentikan Adam dengan mencairkan suasana.


"Aba harus minum obat dulu. Mas Adam masih ada kunjungan siang ini, Aba."


Inayah melihat ke arah Adam. Adam paham maksud tatapan Inayah, jika Inayah meminta untuk tidak menganggu Aba dulu mengingat kesehatan Aba Abdullah masih belum terlalu stabil.


Aba Abdullah menatap putrinya. Setiap kali Aba Abdullah melihat Inayah, Aba Abdullah di penuhi sesak. Diam-diam, Aba Abdullah mengusap tetesan di pinggir matanya.


Ibu Fatimah pun begitu. Ibu Fatimah terlihat tidak sanggup membayangkan pernikahan yang akan di jalani Inayah.


Inayah pamit setelah Memberikan obat pada Abanya dan mengikuti Adam. Inayah harus bisa menguasai dirinya di depan kedua orang tuanya.


"Mas akan mengantarmu pulang. kita pulang ke rumah."


Inayah hanya mengangguk. ketika Adam hendak berkata lagi, Inayah angkat bicara.


"Jika ada yang ingin Mas sampaikan, baiknya kita bahas di rumah. Aku tidak ingin semua pegawai rumah sakit ini tahu masalah rumah tangga kita dan menyebarkan Fitnah untuk kita."


Inayah berjalan beriringan dengan Adam. Berharap, Inayah tidak bertemu dengan Karin di saat pikirannya tidak stabil.


'Ya Allah, semoga saja kau terus memberiku kekuatan untuk melawan bisikan yang ada. Aku tidak tahu sampai di mana aku mampu untuk bertahan. Berikan solusi terbaik dari setiap masalah yang aku hadapi, Ya Allah,' doa Inayah.


Tak akan pernah tahu, kemana mata hati melangkah dan berpijak. Sosokmu hanya bayang semu di hati. Abadilah asa bersama mimpiku.


"Jangan menyentuhku, Mas," Inayah menipis tangan Adam yang hendak meraihnya masuk dalam pelukan Adam.


"Kemana dirimu beberapa hari ini? hari itu aku berharap kau menghentikan aku di bawah pergi oleh Kak Raka, akan tetapi apa Mas! Mas Adam diam saja. Mas Adam membiarkan aku pergi. Sekarang pertanyaanku, Apa maumu sebenarnya? Belumkah cukup kau menyakitiku?" Inayah sudah tidak mampu untuk tidak meluapkan emosinya.


Ternyata sebelumnya, Adam sudah menikah sirih dengan Karin. Satu minggu setelah Adam menikah dengan Inayah.


"Hal ini tidak terjadi jika saja Mas sadar batasannya," singgung Inayah. "Mas tidak jujur dalam diri Mas sendiri. Aku lelah Mas."


"Iya, Aku memang masih mencintai Karin. kami masih saling mencintai. Seperti yang aku katakan aku akan penuhi janjiku pada Karin untuk menikahinya."


Inayah tersenyum, "Mas Adam memang tidak bisa jujur," imbuh Inayah meninggalkan Adam yang berdiri mematung menuju masuk kamar, lalu menguncinya. Inayah membuka penutup wajahnya, lalu menangis sejadinya atas kebohongan Adam. "Mengapa tidak jujur, Mas?"

__ADS_1


Alhamdulillah, Up tiga bab dalam sehari. Wahai pembaca setiaku bisakah memberiku Hadiah? ☺☺☺☺. Biar besok bisa kembali Up banyak.


kopi hangat mungkin. 😘😘😘


__ADS_2