Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 93. Jangan Pergi


__ADS_3

Sinar pagi mulai menyapa masuk ke dalam celah-celah tirai kamar yang masih tertutup. Dengan gerakan malas. Inayah membuka matanya melihat keadaan di sekelilingnya.


"Hmm ... ini sudah pagi, waktunya untuk bangun." Netranya masih terasa pedas akibat semalaman dia tidak bisa tidur. Perasaannya selama hamil selalu merasa panas, padahal ruang ber-AC.Ternyata usai shalat subuh dirinya tertidur kembali.


Inayah beranjak dan kembali netra itu tertuju pada pantulan wajahnya di cermin. Sudah cukup lama dia tidak memperhatikan dirinya. Selalu terburu-buru jika melakukan sesuatu, bahkan tidak punya waktu untuk sekedar mematut diri di depan cermin. Padahal dulu, dia bisa berlama-lama berdiri di depan benda persegi itu.


Inayah mengusap perutnya sambil memandang dirinya di pantulan cermin. Inayah tidak percaya saja, Allah kembali memberinya, amanah. sebuah kepercayaan berharga.


"Ya Allah, terimakasih," gumam Inayah.


Inayah terus tersenyum memandangi dirinya di depan cermin dengan umur kehamilan sudah masuk tiga bulan.


Dirinya juga ingat bagaimana Aditia dulu terus menggoda dirinya saat belum menjadi suami istri dan masih hilang ingatan. Namun, waktu telah menjawab, Aditia ternyata jodohnya. Makin hari membuat semrawut wajahnya selalu merona di buat oleh pria itu dengan semua perhatian tercurahkan untuknya.


"Nak, kelak kau lahir jadilah pribadi anak yang sholeh," gumam Inayah yang terus melihat  dirinya dalam pantulan cermin.


'Adakalanya cinta datang tiba-tiba. Adakalanya cinta datang walau hanya sesaat. Adakalanya cinta datang hanya di bibir saja. Tapi cintaku untuk selamanya, dan namamu terukir di lubuk hatiku. Mas Aditia.' Inayah membaca Beranda yang lewat di ponselnya dan nama suaminya kebetulan sama.


Senyum terus mengembang diwajahnya. "Mengapa aku sebucin ini padamu, Mas Adit." gumam Inayah lagi. Makin besar kehamilannya, ia merasa makin bertambah pula perasaan cintanya pada suaminya.


"Bisa jadi, itu pembawaan, nona." Bibi Sumi membawakan Inayah segelas susu ibu hamil dengan varian rasa vanila dan menyimpan susu tersebut di atas meja atas perintah Aditia. Sementara Aditia sendiri, tengah sibuk diruang kerjanya.


"Lalu, di mana tuan, Bibi? Kenapa aku tidak melihatnya." Inayah ikut keluar dari kamar dan mencari Aditia. "Dan Rayyan, apakah sudah di antar ke sekolah?"


"Sudah, Nona. Tuan muda kecil sudah di antar oleh pak Didit. Hari ini adalah hari terakhir ujian Tuan Muda kecil. Dan tuan ada di ruang kerjanya." lapor Bibi Sumi menyiapkan sarapan pagi untuk tuan dan nyonyanya.


"Maksud Bibi Sumi, Tuan ada di ruang kerjanya? Apa tuan tidak ke kantor?" tanya Inayah lagi sambil duduk meneguk satu kali susu khusus ibu hamil itu dan langsung habis.


"Mau, kok bunda. Ini baru mau bersiap. Kenapa mencariku pagi-pagi, ham?" Aditia datang membawakan vitamin untuk Inayah konsumsi pagi itu.


"Kupikir Mas Adit sudah berangkat ke kantor. Kenapa tidak membangunkan aku, Mas?"


"Aku lihat kamu sangat pulas. lelah, ya?"

__ADS_1


"Tidak perlu di tanya. Apa Rayyan bawah bekal?" tanya Inayah.


"Putraku sudah malu bawah bekal ke sekolah. Dia menganggap dirinya sudah cowok."


"Jangan terlalu memanjakan Rayyan dengan memberinya uang jajan lebih, Mas."


"Tidak. Dia sangat mendengar perkataan bundanya. Aku beri uang seratus ribu, dia menolak. Dia hanya minta uang jajan lima belas ribu. Katanya ada ada sedekah di sekolahnya."


"Benarkah?"


"Iya. Ayo konsumsi vitaminnya!" Aditia menyodorkan obat Vitamin untuk Inayah setelah mereka sarapan.


"Kamu sudah sarapan, Sayang?" tanya Aditia setelah Inayah mengambil vitamin itu dari tangan Aditia.


"Belum. Aku tidak punya selera makan. Mengingat, jadwal berangkat kamu sudah besok menuju singapura. Aku tidak mau kau pergi. Andai aku bisa egois, batalkan saja hari keberangkatan kamu. Aku tidak mau, kau pergi meninggalkan aku dalam keadaan hamil besar seperti ini. Aku tahu, kamu hanya 3 hari di sana, tapi bagi aku, itu waktu sangatlah lama," tutur Inayah dengan nada manjanya. entah mengapa dirinya egois.


"Apa sekretaris barumu tidak bisa menggantikan dirimu,Mas?"


"Sayang, ini tidak bisa di wakilkan. Aku janji, InsyaAllah, aku usahakan hanya sehari di sana. Semoga saja urusannya cepat Usai. " Aditia ikut duduk di samping Inayah.


Aditia pun ikut menaikkan anak jarinya dan berkata, "berdoalah, semua urusanku di permudahkan."


"Amin," ucap Inayah.


Usai Sarapan pagi, Inayah masuk kamar menyiapkan pakaian kantor Aditia dan mengambilkan jas yang cocok. Terlihat di lemari khusus pakaian kantor Aditia tergantung.


Arloji pun begitu. Ada banyak aneka arloji dengan merek yang berbeda tentu dengan harga fantastis.


"Mas, mau kemana?" tanya Inayah melihat Aditia memakai baju kokoh.


"Duha dulu, Sayang." Aditia berlalu menuju mushallah kecil yang ada di rumahnya.


Senyum Inayah menggambarkan rasa Syukur. Namun, menjadi orang kaya tidaklah menjamin hidup tenang. Akhir-akhir ini perusahaan miliknya kerap mendapat guncangan yang membuat Aditia hampir tidak tidur semalam.

__ADS_1


Untungnya Inayah sebagai istri mampu menenangkan pikiran suaminya dengan memberinya solusi. Inayah berdiri dan kembali melihat dirinya di pantulan cermin.


"Kau mempermasalahkan bentuk tubuhmu, Sayang ?" Aditia berbisik yang memperlihatkan perut Inayah yang terus mengelus lembut perutnya setelah kembali duha.


Apa aku terlihat gemuk?" Inayah berbalik menatap Aditia.


"Kau terlihat seksi. Dan bagi aku, istriku tetap cantik, bahkan berkali lipat cantiknya semenjak kamu hamil. Dan wajar saja, Sayang, tubuhmu seperti itu, kamu kan hamil?"


"Cantik mana? lihat pipi aku tembem seperti ini dan leher aku berlapis dua," ujar inayah lagi.


"Tapi, aku tidak masalah dengan bentuk tubuhmu. Aku termasuk pria egois, jika aku menuntut istriku harus tampil sempurna dan itu tidak adil bagimu, sebab istriku telah berkorban untuk aku, yakni akan melahirkan anak-anak sholeh dan sholeha untukku." Aditia mengusap wajah istrinya dengan lembut sambil menatap kedua manik nan indah itu.


Aditia berdiri dari tempat duduknya dan memegang kedua bahu Inayah dan melihat pantulan mereka di cermin dan berkata, "Sayang, cantik itu relatif, maka kita tidak perlu membanding-bandingkan semua itu dari luar. Cantik natural itu lebih baik dari pada cantik yang dibuat buat. Kecantikan yang tidak disertai dengan iman dan budi pekerti, bagai bunga yang indah, namun tiada harum."


"Cinta bukan berarti, kamu harus terlihat sempurna di depan aku atau di depan semua orang, melainkan berani untuk tampil apa adanya. Percayalah, dan ingat. Jangan pernah kamu berfikir untuk diet. Aku akan marah." Aditia mengecup tempat  favoritnya yang berwarna merah mawar itu, lalu melipir masuk masuk kamar mandi.


Inayah mematung di tempat, seakan suaminya mendengar kata hatinya yang sempat terlintas di benaknya untuk melakukan diet setelah melahirkan nanti. "Apa yang dikatakan Aditia benar. Nak, ibu cinta kamu" Utami mengelus lembut perut besarnya sambil tersenyum.


Hingga beberapa menit kemudian, Aditia keluar dari kamar mandi dan melihat Inayah sudah menyiapkan pakaian kantor miliknya.


"Tidak perlu menyiapkan seperti, Sayang. Kau bukan pembantuku. Tapi, kau istriku. Cukup ...."


"Mas, sudah! Sana cepat bersiap!" usir Inayah.


"Kau juga belum mengkonsumsi vitaminmu, jangan seperti ini saat aku tidak ada. Ingat, jaga telat makan, jangan malas."


Inayah terdiam dan terus memperhatikan Aditia memakai pakaian kantornya.


"Ayo aku temani kamu makan vitaminnya" ajak Aditia setelah rapi.


Inayah juga heran dengan dirinya, dia sangat tergantung dengan Aditia sekarang. Apa-apa Aditia yang dilibatkan. 'Ada apa denganku? Mengapa aku berlebihan seperti ini? Apakah karena dulu saat Rayyan mas Adit tidak di sampingku?'


"Mengapa, sayang?" Aditia menatap istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang selalu merepotkan-mu." Inayah membalas tatapan Aditia yang memegang kedua lengannya.


"Aku adalah milikmu sepenuhnya. Kau jangan berkata seperti itu. Aku suka kau merepotkan aku. Ini yang aku tunggu untuk membalas kesendirian kamu saat Rayyan dulu. Ternyata, seperti inilah dulu dirimu saat hamilkan Rayyan. lelah sendiri, susah sendiri, bangun tengah malam seorang diri, Sungguh, Sayang, perjuangan saat Rayyan dulu, luar biasa! Maafkan aku.


__ADS_2