Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 69. Merajuk Bahagia


__ADS_3

"Kak, Teo, kenapa diam? Apa yang ingin kak Teo katakan. sejujurnya ... aku apa?" tanya balik Alina menelisik wajah pria yang kini sudah menjadi suaminya.


Alina mendekat. Teo mundur. Alina kembali maju hingga tubuh pria itu tidak bisa lagi mundur. Alina menjinjit, jantung Teo berpacu.


Alina tersenyum melihat ekspresi Teo. Lalu, Alina mendekatkan telinganya tepat di dada bidang milik Teo.


"Alin...?" panggil Teo.


Alangkah bahagia hati Alina saat nama panggilan itu lolos keluar dari bibir Teo.


"Kenapa kak Teo gugup? Aku bisa mendengar detak jantungmu. Kenapa kamu tidak ingin jujur padaku?"


"Alina, berhentilah seperti ini." Teo tidak bisa berbuat apa-apa saat Alina semakin memeluknya.


"Aku mencintaimu, Suamiku."


Teo terdiam saat kata itu lolos juga terucap dari bibir Alina. Alina melepaskan Teo dan berkata, "apa jawabanmu?"


Teo tidak menjawabnya. Namun, teo melakukan dengan kontak fisik hingga membuat Alina membelalakkan matanya dengan apa yang terjadi. Jauh dari lubuk hati, Teo dan Alina akhirnya menyatukan cinta mereka.


Alina malu sendiri, ternyata semua hanya dalam khayalannya. "Ah... kenapa aku begini?"


"Nona, baik-baik saja?" Teo melambaikan tangannya pada Alina.


Alina malu sendiri. "Tidak mungkin aku yang mengatakan duluan. dasar suami tidak peka benget, sih!" lirih Alina menatap Teo.


"Sudahlah, aku malas." Alina marah pada dirinya dan pada diri Teo.


"Tidak peka!"


"Maksudnya?" Teo jadi uring sendiri.


"Bisa tidak, Sih. kak Teo jangan tidak memanggil aku... Nona! Aku ini istrimu, kak. Apa aku harus..." Alina diam.


"Sudahlah!" Alina marah dan memilih membaringkan tubuhnya.


Teo jadi serba salah. Teo duduk di atas kasur dan membelakangi Alina. Begitu juga dengan Alina yang sedang berbaring sambil membelakangi Teo. Semua usahanya sia-sia, karena Teo yang tidak peka dengan penampilannya.


'Apa aku kurang menarik,' batin Alina.


"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud membuatmu... "


'Dasar cowok tidak peka, katanya pernah pacaran. Tapi, dengan istri sendiri gak ada romantisnya,' batin Alina sangat kesal.


"Nona, Aku hanya tidak terbiasa memanggil namamu. Mungkin aku butuh waktu untuk hal ini."


Alina terdiam mendengar ungkapan Teo.


"Apa kak Teo sudah makan malam?" tanya Alina yang kemudian bangun dengan Teo masih posisi yang sama.


"Belum," jawab singkat Teo.


"Baiklah, aku akan meminta bibi. kita makan bersama." Alina harus cukup sabar akan posisi Teo.

__ADS_1


"Apa.... " Teo segera menepis kata NONA. "Apa kamu akan keluar dengan pakaian seperti itu?"


"Memang kenapa? Apa tidak boleh?"


Teo mengangguk. Alina kembali merasa mendapatkan perhatian.


"Aku akan menggantinya." Alina berbalik dengan Teo meliriknya.


Pria mana tidak tergoda dengan pakaian istrinya yang terlihat menarik. Alina. kemudian membuka lemari pakaian.


"Aku akan keluar," kata Teo saat Alina hendak akan berganti.


Alina kembali tertawa melihat kelakuan suaminya. "Benar-benar lucu."


Alina keluar dnegan pakaian tertutup dan Teo sudah menunggunya.


Alina lalu menyendokkan nasi di piring Teo. Perhatian kecil Alina mampu membuat Teo terpana. Teo sesekali memperhatikan Alina. Entah mengapa Teo merasakan Alina sangat cantik. Bukankah Alina memang cantik? Bukankah dirinya setiap hari bertemu dengan Alina? Lalu, mengapa dirinya baru menyadari hal tersebut.


"Nasinya di makan, kak."


"Iya," timpal Teo.


"Bagaimana keadaan kantor hari ini?" tanya Alina.


"Semua berjalan lancar. Aku harap besok ... no... maksud saya besok datanglah untuk acara launching."


Alina tersenyum. "Benar ya. tidak bisa panggil istri dengan kata sayang, Honey, atau apalah. Semacam panggilan Sayang, begitu?" Alina tersenyum dan terus melanjutkan makan malam mereka.


Teo dan Alina menemui Rayyan di kamarnya. Ternyata usai makan malam, Rayyan langsung tertidur karena tidak tidur siang sebelumnya.


"Tuan Aditia pasti akan sembuh." kata Teo. "Maksud saya, Ayahnya Rayyan pasti akan secepatnya kembali."


"Apa kamu pernah berfikir sebelumnya akan seperti ini, Kak Teo? Kita tiba-tiba saja langsung menikah. Apa tidak ada... "


"Alina, Bukan aku tidak ... aku hanya memposisikan diriku. Harusnya aku yang bertanya...." Ucapan Teo terpotong dengan ujaran Alina.


"Bagaimana jika ... mengatakan bahwa aku... juga memiliki perasaan... pada... kak Teo." Alina mengusap kepala Rayyan.


Teo meraih tangan Alina. "Apakah benar apa yang ..."


Alina mengangguk. Teo tersenyum. Hingga mata keduanya kembali bertemu. wajah mereka hampir bertemu.


"Nty..." Rayyan mengigau.


Alina dan Teo seketika terhenti dengan hal yang hampir membuat mereka terbawa suasana.


***


Aditia sadar dari beberapa bulan tidak membuka matanya yang membuat semua keluarga tidak percaya degan kondisi Aditia yang memburuk. Aditia mengusap kepala Inayah dengan lembut.


Inayah merasakan ada pergerakan dan mengangkat kepalanya. "Mas Adit."


"Hai, bagaimana kabar istriku? mengapa kamu tertidur di sini? Apakah semalam kamu tidak tidur?"

__ADS_1


"Mas, Aku sangat bahagia ketika kamu seperti ini."


"Katakan padaku? Apa yang terjadi, Sayang?"


"Mas tidak ingat? Beberapa bulan ini Mas tidak sadarkan diri."


"Hei, mengapa istriku menangis seperti ini? Maafkan aku yang terus membuat kamu khawatir.


Sepertinya aku sudah merasa baik sedikit dari beberapa hari yang lalu. Aku merindukan Rayyan, bagaimana kabarnya?" Aditia langsung mengingat putranya.


"kemarin aku sempat melakukan video call dengannya, Mas. Rayyan sudah semakin aktif. Dia sangat mirip denganmu, Mas." Inayah dalam sekejap mengecup suaminya.


"Kamu sudah mulai nakal, Ya?"


"Makanya, Mas cepat sembuh. aku merindukan Mas Aditia yang dulu," tutur Inayah.


"Mendekatlah disini," pinta Aditia agar Inayah lebih dekat lagi dengannya.


Inayah mendudukkan tubuhnya di atas bad pasien. Aditia memeluk perut Inayah.


"Apa yang kamu lakukan selama aku tidak sadarkan diri?"


"Aku... hanya memikirkan dirimu, Mas."


"Benarkah? Apa tidak ada pria lain yang menggodamu?" Aditia masih terus memeluk istrinya.


"Mataku melihat tidak ada yang pria yang sempurna selain suamiku. Yang ada sekarang memenuhi pikiranku hanya suamiku," Inayah tidak mampu untuk tidak menjatuhkan bulir bening itu dan menenggelamkan kepalanya tepat pada dada Aditia.


"Hei kenapa menangis lagi, Sayang. Aku baik-baik saja. Secepatnya kita kembali dan memulai hidup baru."


"Berjanjilah padaku, Mas. Kamu akan segera sembuh."


Aditia mengangguk. Inayah tersenyum.


"Mungkin ini semua berkat doa sepertiga malam istriku. Aku mendengar semua doamu, Sayang. Namun, hari itu aku tidak mampu membuka mataku. Kesabaranmu benar-benar kuar biasa, Sayang," lanjut Aditia.


Seorang dokter datang niat untuk mengecek kondisi aditia dan merasa bahagia ternyata Aditia sudah sadarkan diri.


"Dokter," Inayah merasa malu karena kepergok dengan seorang dokter yang menangani Aditia selama ini yang datang bersama Dokter Zain dan beberapa suster lainnya.


"Ternyata, Istri tuan Aditia sudah melupakan sesuatu." ledek Dokter Zain ikut bahagia dengan kembalinya Aditia membuka matanya.


"Aku sudah lebih baik dokter." ujar Aditia mendapat pemeriksaan.


"Ternyata, nona Inayah mampu membangunkan Tuan dari koma. Dan sangat terlihat anda begitu bersemangat, Tuan."


"Di nafasku, Dokter." Aditia meraih tangan Inayah yang sedang berdiri di sampingnya.


Dokter Carles tersenyum dan pamit setelah memeriksa Aditia.


"Melihat kondisi tuan, sepertinya ada kemajuan besar. Terus doakan suaminya, Nona." kata Dokter Zain sebelum keluar bersama Dokter Carles dari ruangan itu.


"Kamu bahagia mendengar perkataan dokter? Mereka mengatakan ada kemajuan."

__ADS_1


Inayah kembali duduk di bad pasien dan memeluk suaminya. Aditia mengusap lembut kekasih halalnya degan penuh cinta.


__ADS_2