Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 6. Luka Terkuak Kembali


__ADS_3

"Sekarang, kau sudah tahu mengapa aku menyewa kamu untuk berpura-pura sebagai istriku. sekarang, ikut denganku!" Aditia berdiri dari tempat duduknya.


"Sekarang? tidak." Tolak Amira.


"Kenapa? kau sudah menerima uangnya. itu artinya, kau harus menuruti keinginanku."


"Aku harus kembali ke rumah untuk menyelesaikan administrasi ayahku, agar operasinya segera terurus."


"Aku akan mengantarmu, Nona Amira. Jangan membantah. sebentar malam kau harus ikut denganku ke rumah. Aku tidak mau semua rencanaku gagal."


"Baiklah, tapi setelah aku dari rumah sakit."


Amira dan Aditia pun menuju rumah sakit. Namun, tidak di sangka, keluarga Amira berkumpul di sana. Ibu Amira terlihat Begitu terpukul. seluruh tubuh terlihat gemetar menahan tangis.


Amira yang melihat itu langsung berlari dan bertanya. "Paman, Apa yang terjadi?"


Paman Amira hanya terdiam menatap ponakannya. Amira pun melipir dan melihat Ayah tercinta sudah tidak bergerak sama sekali. kedua mata itu sudah tertutup dan sekujur tubuhnya terlihat kaku.


"Ayah, apa kau bercanda denganku? Ayah, Ayah! Ayah! Jangan tinggalkan Amira! Maafkan Amira Ayah. Maafkan aku! Ayah tidak boleh pergi!" jeritan itu sampai ditelinga Aditia.


Aditia hanya bisa menatap sendu wanita yang baru beberapa jam di kenalnya. Namun sepertinya, wanita itu mampu mengorek hati Aditia. Jeritan itu semakin terdengar membuat hati Aditia seakan teriris.


Tidak paham dan tidak mengerti kenapa hatinya ikut nyeri ketika mata indah itu menjatuhkan Lara. Saat luka yang datang mendera, namun yang merasakan sesat ada di dalam dada.


Apakah itu bisa di sebut cinta? Atau hanya rasa iba melihat gadis berhijab bermata sayu tidak berdaya akan kehilangan sosok yang berarti dalam hidupnya yang menciptakan duka menghampiri?


"Biarkan aku ikut membantumu. temanilah orang tuamu. Aku akan mengurusnya hingga pemakaman selesai," tawar Aditia melihat Amira akan pergi mengurus segala administrasi ayahnya sebelum mayatnya di bawah pulang


Amira yang di dekap duka hanya mengangguk pasrah. Toh sudah terlanjur semua. Amira hanya ingin yang terbaik buat ayahnya.


***


keesokan harinya. Aditia kembali mengunjungi rumah Amira. Semua berjalan degan lancar berkat bantuan bantuan Aditia. Proses pemakaman selesai. Amira pun menghampiri Aditia yang berdiri terlihat gaya angkuhnya dengan pakaian serba hitam dengan kacamata yang bertengger di sana.


kaca mata itupun di lepas olehnya melihat Amira datang menghampiri. Amira angkat bicara.


"Terimakasih, Tuan. Berkat dirimu pemakaman ayahku selesai."


"Tidak ada yang gratis, Nona Amira. Semua ada imbalannya." ucapan terdengar angkuh. Tadinya, Amira begitu simpati.


"Apa maksudmu, Tuan?"


Aditia menatap wajah ayu wanita berkerudung putih itu dan berkata, "Jadilah istriku yang sesungguhnya." Belum sempat Amira berkata, Aditia kembali berujar. "Aku tidak peduli statusmu sebagai janda."


"Darimana tuan tahu?"

__ADS_1


"Suamimu berselingkuh. Dan aku yakin kamu belum terjamah. kamu masih gadis. Jangan tanya, semua aku tahu tentang dirimu."


Apa yang di katakan Aditia itu benar. 3 hari setelah pernikahan karena perjodohan itu, suami Amira pergi meninggalkannya karena menganggap Amira hanyalah beban untuknya. Wanita miskin tidak memiliki apa-apa dan hanya tamatan SMA.


"Jangan bahas itu. Kita fokus dengan perjanjian kita sebelumnya. Aku tidak akan ingkar janji." Amira berusaha menghindari pembahasan paling menyakitkan itu.


"Tapi aku ingin membahas tentang kita."


"Kita?" ulang Amira.


Adit mengangguk. "Ya kita. kau dan aku. Aku tidak pernah bermain dengan ucapanku, Amira. Menikalah denganku."


***


Waktu berjalan, Aditia berencana akan melamar Amira. Namun pada kenyataannya, Tuan Subari menolak hal baik itu.


"Sampai kapan pun, Aku tidak pernah merestui hubungan kalian. Siapa dia, dia hanya seorang janda miskin. Bukan tanpa alasan suaminya meninggalkan dirinya, Adit!"


"Ayah, Aku tidak peduli, ayah merestui aku atau tidak. Amira akan aku nikahi." Aditia begitu kecewa pada ayahnya.


"Berapa kau butuhkan uang agar kau menjauhi putraku. Katakan saja!" Bentak Tuan Subari pada Amira.


"Ayah, Amira tidak sehina itu. Ayah jangan menilai dia dengan uang!"


"Katakan! Bila perlu aku akan memberimu cek dan tulis sendiri nominal yang kamu inginkan agar kamu mau menjauhi Aditia." cerca Tuan Subari lagi.


"Amira, jangan dengarkan. Tutup telingamu. Aku mencintaimu, Amira.


"Adit, jangan melawan orang tuamu. Biarkan aku pergi," kata Amira yang kemudian berjalan menuju Arah Tuan Subari.


Tuan Subari pun memberikan cek pada Amira. Amira mengambil cek itu dan berkata." Simpan uang anda, Tuan. Tanpa anda membayar saya, saya akan meninggalkan putra anda. Saya masih punya harga diri."


Amira merobek cek yang di berikan Tuan Subari, lalu menghamburkan di depan Tuan Subari membuat Tuan Subari terlihat begitu garang.


Amira menoleh sebentar ke arah Aditia. Walau menyakitkan, Amira berusaha untuk kuat. Di saat menemukan hati yang sedang hilang, harus lagi terhalang restu. lalu, Amira menatap ibu Hanum, ibu dari Aditia yang sedari tadi hanya diam. Setelahnya, Amira berlalu. Aditia tidak terima kembali harus patah hati yang kedua kalinya semua berawal karena ayahnya.


"Amira! Kembalilah!" teriak Aditia dan mengejar Amira. Namun Amira sudah berlalu.


Amira sudah lelah menghadapi semua kenyataan yang ada dan memilih meninggalkan Aditia dan melupakan semua yang pernah mereka lalui.


***


Enam bulan setelah kejadian itu. Tidak sengaja, Aditia mendapat kabar, jika Amira sudah di lamar dengan seorang Pria. Tidak terima, Aditia pun di butakan mata hatinya dan mencari cara agar Amira menjadi miliknya.


Aditia mendatangi tempat Amira mengajar. Aditia menunggu hingga Amira pulang. Ke cemburuan itu semakin menggelapkan hatinya mendengar Amira menyebut nama seorang pria di balik percakapannya. yaitu Raka.

__ADS_1


"Iya mas Raka, aku sudah pulang. ini lagi siap-siap" ujar Amira di balik percakapan mereka.


Amira tidak sadar, jika seorang Pria tengah menahan gejolak amarahnya. Amira begitu terkejut mendapati Aditia dengan wajah yang tidak bisa Amira gambarkan. sekujur tubuh Amira terasa dingin seperti tercekam dengan perasaan takut.


"Adit? ka ... kamu di ... di sini? Bagaimana ... kabarmu?"


Aditia bukannya menjawab langsung menyeret Amira masuk dalam mobilnya.


"Adit, lepaskan aku! ada apa denganmu? Adit, kau tidak bisa melakukan ini padaku!"


"Apa yang tidak bisa. jika memilikimu dengan ini, maka akan aku lakukan."


"Adit, ada apa denganmu?!"


Adit yang sudah di lumpuhkan api amarahnya tidak menggubris ucapan Amira, mantan kekasihnya.


"Kau pergi dariku dan akan menikah dengan pria lain. wow! bagus. Kau tidak lain sama saja dengan wanita itu!"


Aditia mengunci pintu mobilnya dengan Amira sudah berada di bawah belengguannya. Hijab yang selama ini di kenakan olehnya dan dijaganya, terlepas paksa yang membuat Amira begitu membenci pria itu. Tangan Aditia mulai beraksi.


"Adit, jangan lakukan ini padaku! Aku mohon, Adit! Sadar!" Teriak Amira berusaha untuk lepas dari Aditia. Sunyi-nya tempat itu, membuat Amira tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa.


Amira terus berteriak. "Tolong! Adit jangan lakukan ini padaku, aku mohon!" berulang kali dia meminta tolong. Namun, nihil. "Raka, tolong aku!"


"Panggil dia! panggil! Aku yakin setelah ini,dia akan mencampakanmu, Amira." tawa Aditia dan merebut paksa *** man Amira.


Seluruh pakaian Amira sudah tidak karuan. Aditia membentak Amira dan itu pertama kalinya. Begitu akan melakukan aksinya, Raka datang dan membuka paksa mobil Aditia. Entah dengan cara apa, kaca mobil Aditia pecah.


Amira menangis sejadinya. Raka dengan segera membawa Amira dan menutupi tubuh molek Amira dengan jaketnya. Sebagian dari gamis yang di kenakan Amira sudah robek.


Beberapa menit kemudian, Aditia baru sadar dari pukulan yang diberikan oleh Raka menggunakan sebatang kayu pada tengkuk lehernya. Aditia menyesali semua perbuatannya yang harus tidak di lakukan olehnya.*


...****************...


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Raka masuk kamar mengagetkan istrinya dari lamunan panjangnya."


Amira mengusap air matanya. dan berkata, "Iya aku baik-baik saja.


"Jangan lagi kamu ingat hal itu. Sekarang ada aku, aku akan selalu menjagamu dari pria bej*** itu. Aku pastikan, Aditia tidak akan pernah bisa menggapaimu.


"Jujur, aku takut dia akan kembali melakukan hal kotor itu."


Raka memeluk istrinya. Begitu mereka menoleh, Inayah sudah berdiri di depan pintu kamar mereka yang sedari tadi tidak tertutup.


"Inayah?" lirih Amira.

__ADS_1


__ADS_2