
Inayah tidak dapat membendung kesedihan mendengar jatuhnya pesawat yang ditumpangi Aditia.
"Mas, Adit....!
ibu Fatimah pun mendekap dengan lembut Inayah yang sedang saling menguatkan. Ibu Hanum dan Alina serta Tuan Subari datang.
"Inayah, kamu yang harus kuat. ini baru berita dan kepastian belum ada. ingat sayang di perutmu ada seseorang yang membutuhkan kamu!"
"Ibu, bagaimana aku bisa kuat!bagaimana bisa!" teriak Inayah.
Mas Adit...! Kembalilah untukku! Mas!"Inayah bangun dari tidurnya.
"Hei, aku disini! Inayah, Sayang!Hei sadar!"
Inayah menoleh dan melihat Aditia sudah disampingnya. Seketika inayah langsung memeluk Aditia tidak melepaskannya.
"Ini benar kamu, Mas?" Inayah masih memeluk Aditia yang bingung.
"Iya, ini saya. Kenapa? Apa kamu mimpi buruk?"
Inayah melepaskan pelukannya. "Astaghfirullah." gumam Inayah kemudian berdoa.
Aditia menggenggam tangan Inayah yang masih dingin, lalu memberinya air minum.
"Katakan padaku, kamu mimpi apa?
Bukannya Inayah menjawab pertanyaan Aditia, justru dirinya heran sejak kapan Aditia tiba dari perjalanan dinasnya.
"Mas, datang jam berapa? Kenapa tidak membangunkan aku? Kenapa tidak memberi aku kabar?"
"Aku pikir aku masih lama dan ternyata siangnya semua sudah rampung," jelas Aditia. "Katakan padaku, kamu mimpi apa?"
"Aku memimpikan pesawat kamu jatuh dan kamu tidak ditemukan. Jika mengingat mimpi itu ingin rasanya aku...."
"Sayang, lupakan itu. Aku disini." Aditia memeluk Inayah.
"Kata Bibi Sumi, semalam kamu hanya makan buah. Apa itu benar?"
"Iya, Entah mengapa aku selalu merasa kenyang."
"Kamu tidak ingin makan sesuatu?"
Aditia menawarkan makanan pada Inayah.
"Tidak, Mas. lagian ini masih larut."
"Katakan saja. Aku akan memasak untukmu."
Inayah dan Aditia menuju dapur. Aditia akan memasakkan mie untuk Inayah tentu mie buatan sendiri yang sudah di siapkan oleh Bibi Sumi atas permintaan Inayah sendiri.
"Kata Bibi, siang tadi kamu mau makan mie, lalu tiba-tiba tidak jadi. kenapa?"
"Aku merindukan suamiku... Aku ingin suamiku terus di dekatku. Jangan pernah pergi lagi. lebih baik aku yang meninggalkan."
__ADS_1
Aditia yang tengah serius memasak mie untuk Inayah seketika berhenti dan menoleh.
"Jika kau pergi meninggalkanku, aku akan menyusul. Kita akan terus bersama. Aku minta dalam setiap doaku agar aku dan istriku selalu bersama selamanya. hingga sampai di surganya."
Aditia selesai memasak dan menghidangkan pada Inayah yang sebelumnya sudah didinginkan sebentar.
Mendengar ada yang ribut di dapur, Bibi Sumi mengintip dan diam-diam Bibi Sumi mengambil gambar momen itu. Dimana Aditia tengah menyuapi Inayah degan sabar. Bibi Sumi tersenyum dan kembali menutup pintu kamarnya.
Usai shalat sepertiga malam setelah menikmati masakan suaminya, Inayah mau pun Aditia kembali masuk dalam dunia mimpi.
***
Waktu terus berjalan seakan mesin waktu begitu cepat berlalu. Inayah tidak sengaja bertemu dengan Sifat di rumah sakit. kebetulan Inayah ditemani oleh Alina memeriksa kandungannya yang kini sudah mau memasuki bulannya.
"Kak Inayah?"
"Sifat? kapan kamu datang di kota ini? di mana Tuan Zaki?"
"Sebenarnya sudah lama rencana akan pindah kemari, kak. Namun kak Zaki mengurus urusan Yolanda. Dan kakak Zaki tadi akan ke parkiran mengambil ponselnya yang ketinggalan.
"Lalu, Bagaimana kabar adik iparmu?"
"Yolanda sudah menemukan kembali kebahagiaannya bersama suami dan anaknya."
"Alhamdulillah.lantas, kamu akan tinggal disini? berpenduduk disini?"
"Iya Nona. Kami akan tinggal di kota ini. Di mana Tuan Aditia. mengapa Nona Alina yang mengantar?"
"Siapa dokternya, Sifa?" tanya Inayah.
"Dokter Alea, kak."
"Wow! kalau begitu berarti dokter kita sama."
"Kaka tahu siapa dokter Alea? Manatan Tuan Zaki yang terhormat," ujar Sifa menatap Zaki.
"Dia sudah bersuami, Sayang." sela Zaki yang melihat wajah cemburu Istrinya.
Inayah terlihat bersyukur melihat Sifa dan Zaki terlihat mesra. Jauh sangat berbeda sebelumnya. sambil menunggu dokter, Alina dan Sifa tampak serius.
Zaki terkejut begitu bahunya disentuh oleh seseorang.
"Bagaimana kabar, Tuan Zaki? lama kita tidak bertemu dan pertemuan kita tenyata ditakdirkan di hari ini di rumah sakit."
Aditia datang bersama Teo yang kebetulan dari melihat langsung pemotretan untuk produk terbarunya.
Zaki dan Aditia saling menyapa. Zaki menimpali Aditia. "Kabarku baik dan bisa lihat sendiri. Bahkan aku sangat baik."
"Terlhat Anda sangat baik, Tuan."
ujar Aditia.
Tiga pria itu seakan menjadi pusat perhatian oleh ibu hamil lainnya yang sedang ambil antrian.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Zaki, sepertinya saya harus duluan. kita bertemu kembali lain waktu." Aditia membantu Inayah untuk berdiri dan masuk memeriksakan kandungannya.
***
Pulang dari rumah sakit Inayah meminta berkunjung ke makam aba Abdullah. Setiba di sana Inayah bertemu dengan Raka dan Amira.
"Kak, kaka di sini?"
"Hei, kenapa bumil bisa sampai di sini? Apa kamu baik saja, dek?" Raka bertanya dan melihat Aditia dibelakang Inayah
"Kami dari rumah sakit dan Inayah meminta berkunjung kemari." ujar Aditia.
"Kenapa, dek? Apa yang kamu lihat?" tanya Raka heran Inayah terlihat melihat sekeliling pemakaman.
"Tidak Mas, aku hanya menyadari bahwa semua manusia akan mati. Semua yang bernyawa pasti merasakan mati. Mungkin saat ini kita yang sering mengunjungi makan Aba. Namun, ajak tidak yang tahu. Besok atau lusa justru kita yang di kunjungi."
"Inayah apa yang kamu katakan, Sayang? Sudahkah ayo kita kirimkan doa untuk Aba." ajak Aditia.
"Benar, mari kita memanjatkan doa untuk Aba," ajak Raka.
Sejenak mereka terlihat khusyuk. Inayah meneteskan air mata mengingat bagaimana Aba Abdullah selalu memberinya Cinta yang begitu tulus.
"Sayang, Aba sudah tenang. Aba sedang menunggu kita. Ayo kita pulang." Aditia meminta Inayah untuk pulang. Mengingat kandungan Inayah disa menunggu hari akan melahirkan.
"Hei, kenapa bumil menangis. Harusnya kamu harus bersemangat. Tidak lama lagi penerus kedua Aditia akan lahir." timpal Amira tersenyum.
"Iya kak, doakan." Inayah pun pamit lebih dahulu.
melihat Ingah Aditia berlalu, Raka sedikit heran dengan sikap Inayah.
"Bisa saja itu hormon kehamilannya, Mas. Ayo kita pulang."
Sementara Inayah dan Aditia kembali mengunjungi tempat pertemuan pertama mereka. Inayah menatap birunya air laut di depannya.
"Sayang, mengapa kamu mengajakku kemari? Baiknya kita kembali ke rumah. Lain waktu kita ke tempat ini."
"Mas, Biarkan aku sebentar saja menikmati terpaan angin ini. Tempat inilah menjadi saksi pertemuan pertama kita. Apa mas Adit masih ingat saat itu?"
"Jelas aku masih ingat. Dimana kamu menabrak aku. Dan pada pandangan pertama aku jatuh cinta padamu. Hingga saat aku menemukan ingatanku dan menyadarinya bahwa aku benar-benar mencintaimu."
"Mas, Aku mencintaimu."
Inayah memeluk Aditia dan Aditia membalas pelukan istrinya.
"Baiknya kita kembali. ini sudah sore. Rayyan pasti sudah menunggu."
"Baiklah." ujar Inayah menatap Aditia.
Keduanya saling bergandengan tangan meninggalkan tempat tersebut yang merupakan tempat bersejarah bagi Inayah dan Aditia.
✍️✍️✍️✍️✍️🙏🙏🙏🙏🙏
terus berikan dukungannya, kak. Terimakasih banyak atas pembaca setia Author. love you, love you🥰🥰🥰🥰🥰✍️
__ADS_1