Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 79. Pertemuan Sifa dan Yolanda


__ADS_3

Berbeda dengan Sifa yang kini sudah tiba di kediaman Zaki. Zaki adalah merupakan orang terkaya di kotanya. Ternyata sebelumnya, Sifa dan Zaki langsung terbang ke kota kelahiran Zaki.


"Ada banyak keluargamu di sini. Mengapa aku gugup. Siapa wanita di dekat nenek Sofia? Dia siapa?" bisik Sifa yang berjalan menuju arah nenek Sofia.


"Itu adik aku. Adik yang kehilangan putranya. Suaminya pergi membawa anaknya entah kemana." Zaki terlihat serius. wajahnya terlihat berubah menjadi datar.


"Lalu, boneka yang di bawahnya itu...."


"Itu, dia anggap anaknya," timpal Zaki lagi.


Sifa seakan bertanya dalam dirinya maksud dari ucapan Zaki. Seakan Sifa mengerti dari tujuan pernikahannya. Nenek Sofia begitu bahagia menyambut kedatangan mereka.


Yolanda di bawah masuk oleh dua pria berbadan besar dengan paksa. Sifa bisa melihat hal itu. Apa tidak ada cara lembut bisa dilakukan pada wanita tersebut?


"Nenek, biarkan Sifa istirahat. Jangan di paksa untuk duduk menemanimu bercerita. Kami baru saja tiba."


"Zaki, apa salahnya nenek jika Aku ingin mengajak Sifa dan kamu makan bersama."


"Cukup nenek, Ada Martin yang akan menemanimu makan. Martin, temani nenek makan." Zaki menarik tangan Sifa untuk ikut dengannya.


"Tuan, Ini sakit. lepaskan aku! Ada apa, sih?" Sifa melihat tangannya memerah setelah masuk di dalam kamar Zaki yang terlihat begitu luas. Hanya terdapat Foto Zaki begitu besar di dinding kamar dengan wajah maskulin.


"Di dalam lemari ini ada pakaian kamu. Sudah lengkap."


"Bagaimana bisa Tuan tahu ukuran tubuhku? Apa itu muak atau kebesaran mungkin." ledek Sifa membuka lemari.


Sifa cukup takjub dengan isi lemari yang penuh dengan pakaian pas dengan ukurannya. Terlihat juga aneka hijab pasang kesukaan Sifa dan pasmina. Semua ada. Sifa juga melihat ada banyak pakaian da** yang terlihat cocok untuknya.


"Bagaimana Anda tahu ukuran itu?" tunjuk Sifa yang membuat Zaki ingin tertawa. Raut wajahnya Zaki sangat berbeda saat di hadapan nenek Sofia sebelumnya. Ada apa dengan Zaki?


"Tidak sulit memecahkan ukuran kamu."


"Dasar Mesum."


"Aku suamimu. Walau aku belum menjamahnya, aku bisa menebaknya, Nona Sifa." Zaki terlihat santai mengatakan hal tersebut sementara Sifa sudah sangat malu dengan pria di depannya.


Sifa menutupi dadanya dengan kedua tangannya yang sudah tertutupi dengan hijab yang dikenakan olehnya.


Zaki tertawa hingga perutnya terasa sakit melihat raut wajah Sifa yang tidak bisa ditafsirkan. Ingin rasanya Sifa memberinya pelajaran pada pria itu.


"Sudahlah, kamu mau berganti, di sana kamar ganti. Persiapkan dirimu sebentar, Nona Sifa," bisik Zaki memberikan Asifa sebuah per bag.


Begitu Sifa membuka paper bag dan melihat isinya di depan Zaki, seketika Sifa membelalakkan matanya. Sifa berteriak dan melemparkan baju li** itu tepat di wajah Zaki.


Zaki tertawa puas melihat Sifa sangat muak dengannya. Sifa menuju balkon kamar dan melihat Yolanda sedang bermain dengan bonekanya di taman belakang.


"Itulah alasanku mengapa aku harus menikahimu. Dengan memenuhi keinginan nenek memiliki cucu. Anak yang kamu kandung nantinya harus kamu serahkan padaku. Setelah itu kita akan berpisah," Zaki ikut melihat Yolanda mencium bonekanya.


"Mengapa kamu begitu yakin aku bisa hamil? Bagaimana jika aku tidak bisa memberi keturunan, Tuan. Apa tuan pernah memikirkan perasaan saya? Saya tidak pernah berharap seperti ini." Sifa menoleh ke arah Zaki. wajah keduanya cukup dekat.


"Anda tidak akan pernah mengerti dengan perasaan wanita. Anda telah menghancurkan mimpi saya. mimpi seorang wanita menikah dengan orang yang bisa memberinya cinta yang tulus dan Anda menjebak saya dalam pernikahan seperti ini."

__ADS_1


"Apa karena Arjuna?" tanya Zaki yang ingat tentang Arjuna.


"Dia bukan siapa-siapa saya. Saya dan Arjuna tidak ada hubungan sama sekali," bantah Sifa.


"Tapi Arjuna terlihat berharap darimu, Nona."


"Tapi aku tidak. karena aku..."


"Aku apa? apa ada pria lain di hatimu?"


Sifa berbalik badan dan menatap lurus dengan Zaki berdiri di samping Sifa. Sifa berkata, "Aku mau mandi."


Sifa meninggalkan Zaki seorang diri. Zaki melihat kepergian Sifa. "Siapa pria itu Sifa?"


***


Lain halnya degan Alina. Teo sibuk dengan permintaan Aneh Alin yang tengah mengidam. Alina ingin. mandi di baskom besar.


"Alin, kan ada kolam. Kenapa, sih mau mandi di baskom besar. Apa tidak ada permintaan yang lain?"


"Kak Teo, ini permintaan anakmu. sudahlah. Penuhi saja!"


"Alin, mana bisa kamu muak." Teo tidak bisa habis pikir dengan keanehan Alina.


Hingga Aditia datang dari kantor dan melihat suami istri itu tengah berdebat karena kamar mereka saling berhadapan. Dan pintu kamar Alina tidak tertutup.


"Hei, kalau mau berdebat pintunya di tutup."


Aditia menatap Teo dan tertawa. "Apa? Teo, bagaimana bisa istrimu mengidam seperti ini? ada-ada saja. Bumil biasanya mengidam mangga muda."


"Kak!" teriak Alina dan masuk kamarnya dan disusul oleh Teo dengan sabar.


Mendengar pintu tertutup begitu keras, Inayah keluar dari kamarnya.


"Apa yang terjadi, Mas?"


"Tuh sebelah. lagi mengidam mau mandi di baskom katanya." Tawa Aditia.


"Mas, Gak boleh begitu, ah. orang hamil itu berbeda-beda."


"Sayang, apa disini belum ada adiknya Rayyan."


"Sepertinya belum ada. Buktinya ini lagi..." Inayah terlihat santai menyatakan hal tersebut dengan kata bercanda.


"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" tanya Inayah mengambil tas kerja Aditia dari tangannya.


"Itu artinya aku gagal lagi? Apa karena aku sudah tua?" ujar Aditia menatap dirinya di cermin.


"Sepertinya suamiku memang sudah tua. Lihatlah wajahnya suamiku sudah tampak ada kerutan." Inayah menahan tawa di belakang Aditia yang sibuk menatap wajahnya di cermin.


Aditia membuka kemeja yang dikenakan olehnya dan memperhatikan otot-ototnya.

__ADS_1


"Sayang, apa benar aku sudah tua?" tanya Aditia lagi.


"Menurut mas sendiri bagaimana? Kalau aku sih, Mas sudah cukup tua. Sudah seperti Tuan Subari." ledek Inayah tertawa hingga memegangi perutnya.


Aditia menoleh dan menangkap Inayah. "Apa kamu bilang, Aku sudah tua seperti Tuan Subari? kamu pikir aku sudah lemah. begitu, ha? Aku akan menghukum kamu saat ini."


Seketika tubuh Inayah seperti melayang ke udara.


"Mas, turunkan aku! Ibu sudah menunggu untuk ditemani ke arisan."


"Biarkan saja dia menunggu hingga kering dibawah. Aku tidak peduli. Kamu harus dihukum. Siapa suruh mengatakan aku sudah tua."


"Mas, aku sudah rapi. Ibu sudah menungguku!"


"Diamlah."


Tidak ada lagi kata yang keluar dari bibir Inayah atau pun Aditia. Hingga terdengar suara ketukan pintu. Suara Bibi Sumi memanggil Inayah.


"Kasi tahu nyonya kamu, Bibi. Sedikit lagi. Nona Inayah akan menyusul. Nona Inayah ada tugas penting!" teriak Aditia pada Bibi Sumi dibalik pintu.


"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan." Bibi Sumi segera mungkin meninggalkan kamar tuannya menuju Ibu Hanum yang sedang menunggu menantunya.


"Mana Inayah, Bibi?"


Bibi hanya memberi kode yang membuat Ibu Hanum tidak habis pikir dengan putranya.


"Apa dia bilang, bibi?" Ibu Hanum penasaran.


"Tuan muda berkata, Nona ada tugas penting."


Ibu Hanum tertawa mendengarnya. Tuan Subari datang dan melihat istrinya tertawa.


"Ada apa ini, Bibi?"


Ibu Hanum kembali menceritakan apa yang terjadi. Tuan Subari ikut tertawa.


"Tugas penting apa?"


"Masa Ayah tidak paham maksudnya." tawa masih tampak di wajah Ibu Hanum.


"Lebih baik ayah saja menemani Ibu ke arisan. Mau, ya? Inayah pasti lama, ayah. Kamu tahu sendiri putramu bagaimana."


Tuan Subari pun akhirnya tunduk juga yang awalnya menolak.


***


Bersambung ✍️✍️✍️✍️✍️


Tetap ikuti cerita Author hingga tamat, ya... Makasih dukungannya hingga saat ini. 😍😍😍


Parah Aditia. 😄😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2