
ย โCinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya cinta adalah cinta kepada sesama. Ulurkan cintamu karena Tuhanmu dan tariklah cintamu karena Tuhanmu, kamu tentu tak akan kecewa.โ
****
Adam pulang mendapati Inayah tertidur di sebuh kursi. Melihat Inayah pulas, Adam tidak tega membangunkan Inayah. Adam duduk di sisi Inayah menatap sendu wanita tersebut. kulit mulus, Alis hitam, bulu mata melentik.
"Subhanallah. Allah menciptakan wanita sholeh seperti dirimu Inayah. Aku pria bodoh yang tidak akan pernah mendapat maaf darimu," imbuh Adam.
"Apa yang harus aku lakukan, Inayah. Aku terlanjur mencintaimu. Maafkan aku. Aku telah menyakitimu."
Adam pun mengangkat tubuh Inayah. Inayah yang setengah sadar melihat Adam. Inayah tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Adam dan membenamkan wajahnya di dada bidan milik suami terkasih.
"Kau sudah bangun?" tanya Adam yang terus mengangkat tubuh Inayah hingga sampai di kamar mereka. Dengan pelan tubuh Inayah di turunkan oleh Adam.
"Kenapa tidak membangunkan aku," ujar Inayah yang menahan tubuh Adam hingga posisi Adam terus membungkuk deru napas keduanya saling bertukar.
"Aku melihatmu begitu pulas. maaf sudah membuatmu menunggu," ungkap pada pada akhirnya. Teramat dalam rasa sesal di hati Adam.
Adam menatap Inayah. Seketika tubuh Adam beraksi. Malam yang sendu dengan angin menusuk masuk lewat celah-celah jendela. Tembok seakan menjadi saksi hanya sebatas bermain.
"Kenapa, Mas?" ada raut kecewa dalam diri Inayah. "Mengapa kamu berhenti, Mas. Aku sudah siap dalam segala apa pun. Aku siap
hidup bersamamu, Mas. Hingga maut memisahkan kita."
"Maafkan aku, Inayah," hanya itu yang terucap dari bibir Adam yang membuat Inayah kecewa.
Inayah diam dan membelakangi Adam.
"Maafkan aku, Inayah," kata Adam berikutnya menatap punggung Inayah.
Ingin meraih Inayah, Namun tangan Adam tak mampu. Adam merasa sangat bersalah telah menyakiti wanitanya. Adam tidak tahu. Adam siap akan menjelaskan bila Inayah akan bertanya suatu saat.
Inayah memilih diam. 'Jika pasanganmu sedang marah, maka kamu harus tenang. Karena ketika satu di antaranya adalah api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi air yang bisa meredam amarah tersebut.'
"Ya Allah, Seperti ini rasanya di kecewakan?" Inayah berusaha untuk tetap tenang dan tegar walau dada terasa sesak. Inayah akui, sangat menyakitkan.
Inayah merasa malu pada diri sendiri seakan mendapat penolakan yang cukup menyayat hati dan jiwa.
***
"Inayah!" Aditia terbangun dari mimpinya. Ternyata dirinya lelap dalam tidur dan melihat jam sudah siang.
Aditia pun bangkit dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Zuhur. Selama Aditia berhijrah dirinya tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Bahkan shalat sepertiga malam Aditia lakukan secara rutin.
Biarlah doa tetap terucap meski kata tak mampu terungkap. Dalam shalatnya Aditia menitipkan doa untuk Inayah agar bahagia dengan kehidupan barunya.
ponsel Aditia berdering dan Ibu Hanum menelpon putranya dan menanyakan kabar Aditia.
__ADS_1
"Nak, kapan kamu akan kembali? Apakah kamu tidak merindukan Ibu? Ibu ingin mengenalkan kamu dengan seseorang."
"Ibu, aku bosan mendengar setiap hari ibu selalu menggodaku dengan hal itu." Aditia tidak mengerti apa yang sebenarnya ibu paruh bayah itu lihat dalam dirinya.
"Aditia, Sampai kapan kamu menutup dirimu, nak?" Ibu Hanum merasa kecewa dengan penuturan Aditia.
"Ibu, jika waktunya sudah tiba, tanpa Ibu minta aku akan katakan. Tolong ibu, jangan menyiksaku dengan permintaan Ibu yang tidak bisa aku penuhi." Aditia menatap ibu paruh bayah itu di balik layar.
"Baiknya kita bahas yang lain ibu. bagaiman kuliah Alina. Apa masih malas seperti dulu.
"Alina begitu dekat dengan Asifa," ujar Ibu Hanum mengingat Alina dan adik tiri Inayah merupakan sahabat yang tidak terpisahkan. Bahkan setiap waktu Alina selalu berkunjung ke rumah Asifa sekedar bermain.
"Asifa?" ulang Aditia.
"Iya, adik tiri Inayah," jawab Ibu Hanum menyebut nama Inayah dengan wajah tidak bisa Aditia gambarkan.
"Kenapa wajah ibu seperti itu menyebut nama Inayah. Kenapa, ibu?"
"Sudahlah. Ibu tidak ingin membahas Inayah," wajah Ibu Hanum berubah dingin.
"Apa yang ibu ketahui tentang Inayah sampai wajah ibu terlihat tidak suka?"
Ibu Hanum terdiam. Malam resepsi Adam, Ibu Hanum tidak menyangka jika gadis yang dinikahi Adam, Sahabat Aditia adalah Inayah yang sama. Begitu pun dengan Inayah, malam itu keduanya hanya saling tidak percaya. pertemuan tak terduga itu menyisakan kesan tidak baik bagi Ibu Hanum. kecewa.
Malam resepsi Adam dan Inayah, Ibu Hanum bisa menggambarkan wajah Inayah malam itu terlihat sangat bahagia. Bagaimana wajah Inayah tersenyum menyambut tamu yang hadir.
"Ibu, ada apa?" tanya Aditia melihat raut wajah ibu Hanum di balik layar.
"Ibu tidak mengapa. Pikirkan apa yang ibu katakan sebelumnya." Ibu Hanum pun memutuskan vidio call mereka.
Aditia menatap layar ponsel nya. tidak terasa sudah satu minggu Adam meninggalkan kotanya setelah memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan Inayah untuk sementara. Sampai hati Aditia bisa menerima kenyataan yang ada.
***
Waktu terus berlalu. semenjak kejadian malam itu, Inayah berusaha untuk mengalah walau hatinya terasa sakit. Inayah menghargai Adam sebagai suaminya.
Mejalani rumah tangganya dengan lapang dada karena Inayah percaya Tuhannya masih ada. Allah tidak memberinya ujian di luar batas kemampuannya.
'Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.'
"Mas, sarapannya sudah siap. Hari ini aku akan berkunjung ke rumah ibu. Aba juga memintaku untuk datang ke pondok." belum sempat Adam menjawab, inayah kembali melanjutkan perkataannya, "Tidak usah menjemput aku dan jangan khawatirkan aku."
"Inayah, kamu marah? maafkan aku."
"Tidak Mas. Mas sibuk, kan. Aku mengerti."
"Biarkan aku mengantarmu," tawar Adam.
__ADS_1
Inayah mengangguk. Inayah tidak ingin masalah rumah tangganya yang kurang baik di ketahui oleh keluarganya. Inayah tidak ingin melihat keluarganya kecewa. Biarlah waktu yang menjawab semuanya hingga jelas.
Setelah bersiap. Adam pun membukakan pintu mobil untuk Inayah. Namun, sebelum Inayah masuk dalam mobil, Adam memeluknya dengan penuh kasih. Sebisa mungkin Inayah menahan air matanya. Inayah tidak menyangka Adam melakukan itu padanya. Inayah sudah salah menilai kepribadian Adam.
"Semua sudah terlanjur, Mas."
Inayah pun masuk dalam mobil. Setelah Inayah duduk dengan baik, Adam pin menutup pintu mobil itu kemudian menyusul menuju kemudi.
Sesekali Adam melirik Inayah. Penyesalan yang tidak akan mungkin bisa mengembalikan keadaan. Hanya ada dua pilihan perceraian atau poligami akan di jalani. Apakah Inayah setuju atau tidak.
Inayah berbalik ke jendela mobil menatap keluar. Penderitaanku adalah bayangan gelap bagi dirimu, saat kesetiaan menjadi alasan untuk mencampakanku!
Apakah arti cinta jika tidak saling mengerti satu sama lain. Jika keegoisan yang muncul, itu bukanlah cinta. Seseorang tak akan pernah menyadari dalamnya rasa cinta sampai tiba saat perpisahan.
Inayah mengusap bulir bening yang lolos begitu saja. "Ya Allah, kembali engkau menguji keimananku."
Adam terus merasa bersalah. sudah beberapa hari ini, keduanya saling diam setelah malam itu. mobil pun berhenti tepat di depan pintu gerbang pondok pesantren Al-hikmah.
Sebelum turun, Inayah meraih tangan suaminya dan Adam pun mengecup kening Inayah. Inayah menerima itu dengan senyum walau hati berkata lain dan Adam mengeri hancurnya perasaan Inayah sekarang atas keegoisannya.
"Hati-hati di jalan, Mas," kata Inayah.
Adam mengangguk. Belum sempat Inayah menutup pintu mobil, panggilan telpon kembali masuk di ponsel Adam. Inayah hanya pura-pura tidak tahu dan memilih melanjutkan langkahnya.
"Ibu ustazah Inayah!" girang para santri wati melihat kedatangan Inayah pagi itu. Mereka berlari menyambut Inayah.
Inayah tersenyum menyambut mereka. setelahnya, Inayah menoleh melihat Adam yang masih menerima telepon. hingga mobil Adam berlalu.
"Ibu Ustazah?" panggil mereka membuyarkan pandangan Inayah.
"Apa Husna?"
"Ibu ustazah, pasti tidak percaya mendengar kabar baik ini?" kata Husna tersenyum bahagia.
"Katakan Husna, apa Yang terjadi?"
"Ibu ustazah, Olimpiade kemarin, kita dapat peringkat satu tingkat provinsi dan kami juga mendapat banyak kiriman buku-buku yang sangat menarik untuk dibaca. Akan tetapi, kami tidak tahu siapa pengirimnya."
"Maksudnya? Apa itu hadiah?" tanya Inayah memperjelas.
"Bukan. tetapi buku-buku itu sudah tiba setelah kami kembali dari kegiatan kemarin," ujar santri lainnya.
"Lantas, Apa pimpinan pondok tahu?" tanya Inayah.
"Kami tidak tahu jelas. Namun, Beliau mengizinkan kami menata buku-buku itu di perpustakaan. Mungkin Ibu ustazah mau melihatnya?"
Inayah pun mengangguk dan mengikuti mereka menuju perpustakaan. Alangkah terkejutnya Inayah membaca siapa pengirim buku tersebut.
__ADS_1
Hai, Salam Author. Terimakasih atas kesetiaannya membaca karya Author. Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan juga, jangan lupa masukkan dalam daftar favorit. Biar dapat informasi up terbaru Menemukan Hatiku Yang Hilang. ๐๐๐๐โบโบโบโบ Terimakasih. Salam Author.
Yuk Follow IG Author, Anihijab15